Jumat, 16 Juni 2023

Pendidikan dan Kebudayaan untuk Revolusi Karakter Bangsa dan Kebinekaan

 Pendidikan dan Kebudayaan untuk Revolusi Karakter Bangsa dan Kebinekaan


Pendidikan memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan adalah

aset penting bagi kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, terciptalah sumber daya manusia yang

mumpuni baik dari pengetahuan akademik maupun kemampuan nonakademik. Selain berfungsi

memperluas pengetahuan dan pemikiran, melalui pendidikan kita dapat menyerap nilai-nilai

luhur lewat pengenalan sejarah dan budaya. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses

pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan

manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Tentunya pendidikan tidak hanya berkutat

pada ilmu pengetahuan atau gelar yang didapat seseorang, namun hakikat pendidikan adalah

membangun karakter manusia yang baik.

Hakikat pendidikan yang membangun karakter manusia yang baik tentu tidak terlepas

dari kebudayaan. Melalui pendidikanlah kebudayaan dapat diajarkan dari generasi ke generasi,

misalnya budaya menghormati orang yang lebih tua, budaya bersikap dalam masyarakat,

budaya mencintai negara, dan masih banyak lagi budaya lain yang dapat membangun karakter

seseorang. Budaya-budaya positif tersebut dapat diperoleh melalui proses belajar, proses

belajar juga merupakan sebuah pendidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat

bahwa kebudayaan adalah seluruh keseluruhan hasil kelakuan manusia yang teratur dari tata

kelakuan yang diperoleh dengan belajar.

Manusia yang mampu mendayagunakan akal budinya untuk senantiasa menciptakan

kebaikan, kebenaran dan keadilan adalah manusia yang berbudaya. Nilai budaya berfungsi

sebagai pedoman tertinggi bagi perilaku manusia. Sistem tata perilaku manusia yang berkaitan

dengan hukum dan norma-norma, semua berpedoman kepada sistem nilai budaya. Dalam


konteks kebudayaan justru pendidikan berperan penting sebagai media pengajaran nilai-nilai

budaya. Karena pada dasarnya pendidikan adalah proses pembentukan kualitas manusia

berdasarkan kodrat budaya yang dimiliki. Oleh karena itu, kebudayaan diturunkan kepada

generasi berikutnya melalui proses belajar.

Pendidikan nasional sebagaimana dinyatakan dalam Bab I Pasal 1 ayat (2) Undang-

Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) adalah pendidikan

yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap

tuntutan perubahan zaman. Pendidikan yang berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan

bangsa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat

bangsa, mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,

berkualitas dan mandiri sehingga dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan

bertanggung jawab atas pembangunan bangsa serta dapat mengimbangi diri dengan

perubahan zaman yang kian modern.

Berdasarkan uraian di atas, pendidikan dan kebudayaan memegang peranan yang

sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur kepada manusia. Sifat budaya yang dinamis

memerlukan peranan pendidikan yang bersifat fundamental, artinya pendidikan adalah dasar

pengajaran budaya bangsa kepada generasi berikutnya. Di dalam kebudayaan itulah proses

pendidikan.


Pendidikan yang terlepas dari kebudayaan berarti pendidikan yang menghilangkan

pedoman nilai luhur budi pekerti manusia, sebab kebudayaanlah yang membentuk seorang


manusia dalam bersikap sesuai dengan budaya bangsa. Apabila pendidikan terlepas dari

kebudayaan maka manusia akan tenggelam dalam dunia globalisasi yang tanpa arah. Manusia

akan tenggelam dalam arus globalisasi yang materialistik, mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan,

rakus, idealis, dan mementingkan kesenangan hidupnya sendiri. Hal ini tentu saja bertentangan

dengan asas Pancasila dan budaya bangsa bergotong-royong. Sebagai contoh, media sosial

merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi di era globalisasi, generasi saat ini cenderung

lebih mementingkan mengunggah kejadian-kejadian yang mereka saksikan atau alami ke media

sosial, misalnya saat terjadi kecelakaan lalu lintas mereka lebih sibuk memfoto untuk kemudian

diunggah daripada menolong korban tersebut. Perilaku seperti ini sebenarnya menunjukkan

sikap ketidakpedulian terhadap sesama, sebab dengan unggahan foto tersebut mereka

mendapat kesenangan karena banyak mendapat komentar ataupun like.

Pemisahan pendidikan dan kebudayaan akan menyebabkan hilangnya nilai-nilai luhur

kebudayaan nusantara, menyepelekan pendidikan budi pekerti, serta mengabaikan rasa

nasionalisme terhadap bangsa dan negara, masih banyak lagi sebab-sebab lain yang berkaitan

dengan budi pekerti dan karakter manusia. Contohnya, banyak generasi saat ini yang ribut saat

mengikuti upacara bendera, hal ini menunjukkan sikap kurangnya rasa nasionalisme dan

kecintaan terhadap negara, kurangnya minat generasi muda dalam mempelajari sejarah

perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan juga menjadi penyebab utama

ketidakpedulian mereka terhadap sikap disiplin saat upacara bendera, padahal sejarah juga

merpakan salah satu pembelajaran budaya dalam pendidikan. Berkaitan dengan itu Benni

Sinaga dalam artikel Sistem Pendidikan dan Kebudayaan untuk Revolusi Karakter Bangsa

mengatakan bahwa pendidikan nasional adalah secara sadar memanfaatkan kekayaan alam dan

budaya Indonesia yang bineka untuk menjadi prioritas yang dikembangkan demi kemajuan

bangsa Indonesia, sehingga dapat mengembangkan sesuatu yang berharga untuk kehidupan

global.

Jadi, penanaman nilai-nilai budaya dalam pendidikan merupakan hal penting dan

utama selain pengetahuan akademik, melalui nilai kebudayaan itulah kita dapat menciptakan

manusia yang berkarakter bangsa dan berbudi luhur. Manusia yang tangguh dalam menghadapi

arus globalisasi dengan ilmu, iman, dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 

Teori Sastra Feminisme

 Teori Sastra Feminisme


            Perempuan merupakan objek yang tidak pernah habis untuk dibahas. Perempuan sering kali dikaitkan dengan genre yang menajdi sebuah daya tarik sendiri untuk diceritakan, termasuk perempuan sebagai manusia dengan hak-haknya. Sastra Indonesia memandang peran perempuan menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah perempuan dilihat dari segi biologisnya sebagai istri, ibu, dan anak atau berdasarkan tradisi lingkungan. Kedua, perempuan sebagai makhluk individu
dan makhluk sosial. Perjuangan perempuan untuk mewujudkan persamaan hak dengan laki-laki
selaras dengan prinsip perjuangan feminis.
          Istilah feminis sering dikacaukan dengan istilah gender. Feminis adalah sebuah teori. Sedangkan gender adalah bentuk perlawanan ataupun pemikiran terkait persamaan hak antara perempuan dan laki-laki yang dapat dianalisis dengan teori feminis. Paham feminis lahir pada sekitar tahun 1960-an. Gerakan ini banyak memengaruhi aspek kehidupan perempuan. Menurut Ratna (dalam Al-Ma’ruf, 2017:116) teori feminis telah dimanfaatkan oleh kaum perempuan sebagai alat untuk memperjuangkan haknya yang berkaitan dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender.
          Teori feminisme berawal dari dasar perbedaan gender ketika perempuan sering diperlakukan berbeda dari laki-laki. Feminisme berasal dari kata femme yang berarti perempuan.Tujuan dari gerakan feminisme adalah tercapainya kesetaraan dan kesamaan hak serta kewajiban antara perempuan dan laki-laki. Jadi, teori feminisme adalah sebuah teori sastra yang yang fokus pada objek perempuan (tokoh perempuan) yang terdapat dalam sebuah karya sastra untuk dikaji ideologi, tindakan, atau hal-hal yang terkait perubahan sosial yang dialami oleh kaum perempuan.

Selasa, 06 Juni 2023

Guru Galak?

 

Oleh: Trisnawati, M.Pd.

Ingat, tidak semua siswa seperti yang kita harapkan. Ada yang pandai di bidang akademik seperti jago matematika, debat bahasa Inggris dan lain-lain. Ada pula yang pandai di bidang nonkademik, misalnya olahraga, melukis, dan menari. Ada yang pendiam, ada pula yang lincah tidak bisa diam. Ada yang penurut, ada juga yang suka melawan. Eh, banyak sekali tipe manusia yang dihadapi seorang guru ya? Eits, jangan mengeluh, ini baru sebagian.

Nanar adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan ketika menghadapi siswa dengan berbagai karakter. Ada yang suka berulah hal yang tidak menyenangkan, ada pula yang  nyeleneh ketika diberi pertanyaan. Lalu, apakah seorang guru boleh menjadi galak? Guru galak, seolah menjadi momok tersendiri bagi seorang siswa. Saya sempat berpikir, bahwa menjadi galak adalah pilihan paling tepat ketika menghadapi siswa yang sulit diatur. Tak jarang, saya memarahi siswa ketika mereka berulah. Lalu, apa yang saya dapatkan, mereka bukannya manut eh malah kabur sambil ngedumel.

Guru adalah seorang pendidik. Seorang pendidik adalah mendidik dengan memberikan contoh dalam bertutur dan berbuat. Hal ini senada dengan pendapat Dr. Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa mendidik dapat dilakukan dengan memberi contoh (suri tauladan).  Lalu, apa yang harus kita lakukan? Saya pun mulai berpikir, mencoba menyelami dan memahami kemauan siswa. Menjadi sahabat mereka, itulah pilihan saya.

 “Nak, ayo cepat berbaris!” terdengar lebih menyenangkan ketika memerintah siswa. Terbukti, ketika dipanggil atau diperintah menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang, dengan sigap  mereka turuti. Akhirnya, saya tak perlu mengeluarkan energi berlebihan yang menyebabkan dahi berkerut dan suara menjadi serak.

Bersahabat dengan siswa ternyata menimbulkan efek yang luar biasa, baik bagi psikologi saya maupun psikologi mereka. Menciptakan suasana bersahabat, membuat mereka merasa nyaman berada di dekat kita. Ternyata, strategi bersahabat lebih jitu, saya menjadi lebih mudah mengendalikan mereka.  Setiap siswa spesial, jadilah sahabat  agar kita tahu betapa spesialnya mereka.

Minggu, 30 April 2023

Surat

Bukan tak ada artinya, tapi cukuplah kehadiranmu yang melenyapkan percaya diriku. Cukuplah perkataanmu membunuh keinginanku untuk hidup. Bagaimana bisa kesempurnaanmu yang diberikan oleh Tuhan kau gunakan sebagai pisau? Lalu kau bubuhi dengan racun yang berasal dari lidahmu?

Sungguh aku tak percaya, di balik kesempurnaan kehidupan yang tampak di media sosialmu, semuanya hanyalah bayanganmu, yang meninggalkanmu di dunia nyata ini.

Bukan aku membencimu, tidak!

Aku hanya menyayangkan, bagaimana selama hidupku telah menganggapmu sebagai saudaraku, justru telah kau tikam aku dari depan dan belakang. 

Lalu, di mana letak kesalahan ini? 

Kesombongan. Kenaifan. Dan ketidakjujuran.

Terlalu amat menyakitkan menyadari ini semua. Terlalu menghempas batin. Kekeringan demi kekeringan menghantam, kemarau yang teramat panjang meluluhlantakan kehidupanku, yang percaya. 

Bahwa, kau tak akan menyakiti dengan perkataanmu yang tak bermoral itu. 

Hanyalah mimpi panjang yang membuatku tertidur selamanya di neraka yang hidup.

Selamat tinggal, Antonio. 

Angin Paris tak cocok untukku. 

Kutinggalkan musim dingin ini menuju musim semi yang lebih menghangatkan. 

Dari Isabell.

Selasa, 21 Maret 2023

Hei

Malam ini

Telah kusematkan luka

Telah kugantungkan cerita sedih kita

Pada sebatang pohon kering

Yang beberapa waktu lalu telah ia tinggalkan segala kemegahan janji nestapa

Bagaimana denganmu?

Apakah bahagia?

Apakah telah kau lalui dengan baik malam-malam penuh kesedihan itu?

Hei kau lupa?

Bahkan kau tidak bertanya

Bagaimana aku menangis?

Bagaimana aku runtuh?

Bagaimana aku bisa tumbuh?

Kau telah melupakan seonggok daging yang telah hancur

Di atas pisau janji dan harapmu


Hahahihi

Kerendahan hati macam apa yang tidak aku berikan? 

Dalam keangkuhanku, aku merendahkan diri dengan menerimamu kembali, lalu memaafkanmu. Tentu saja itu berat bagiku, mengingat segala rasa sakit dan kecewa yang pernah kujalani. 

Bagimu tentu cukup dengan permintaan maaf, tapi entahlah. 

Mungkin aku belum sepenuhnya menjadi tulus, setelah aku berhenti setahun yang lalu. 

Aku telah keluar dari ruang-ruang ketulusan itu. Ketulusan hanyalah harapan sia-sia. 

Bahkan jika dianalogikan, ia hanyalah fatamorgana di tengah padang pasir. 

Jika aku minta berhenti, mau kah kau berhenti?

Berhenti membuat luka pada sebuah hati, meski itu bukan aku?

Berhenti menanam harap pada tanah meski itu bukan tanah milikku?



Minggu, 22 Januari 2023

Praktik Baik (Best Practice) dengan Metode Star

 

LK 3.1 Menyusun Best Practices

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Peserta didik Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SMK Negeri 3 Sampit, Jalan Ir. H. Juanda

Lingkup Pendidikan

Sekolah Menengah Kejuruan

Tujuan yang ingin dicapai

1.   Meningkatkan kemampuan pendidik dalam menerapkan model pembelajaran yang inovatif.

2.   Meningkatkan kemampuan pendidik dalam membuat media yang bervariatif dan menarik dalam pembelajaran teks biografi dan teks puisi.

3.   Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi  dan menulis teks puisi

4.  Membudayakan peserta didik untuk tidak melakukan plagiat dalam menulis teks puisi.

Penulis

Trisnawati, S.Pd.

Tanggal

15 Desember s.d. 18 Januari 2023

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah

SMK Negeri 3 Sampit merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten  Kotawaringin Timur, beralamat di jalan Ir. Juanda. SMK Negeri 3 Sampit bukan sekolah yang notabenenya berada di dalam kota, namun berada di pinggiran kota tepatnya di desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Berdiri di tahun 2009, saat ini SMK Negeri 3 Sampit memiliki lima progam keahlian, yaitu Program keahlian Akuntansi dan Lembaga Keuangan, Desain dan Komunikasi Visual, Desain dan Produksi Busana, Tata Boga, Teknik Sepeda Motor. Jumlah rombel sebanyak 21 dan jumlah peserta didik sebanyak 706 orang. Pendidik yang mengajar di SMK Negeri 3 Sampit berjumlah 40 orang. SMK Negeri 3 Sampit masih dapat dijangkau oleh jaringan internet, dan sebagian besar peserta didik memiliki gawai untuk berkomunikasi sehari-hari.

Ada empat keterampilan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang harus dimiliki peserta didik yaitu membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Hal ini tercantum dalam Permendikbud No.24 Tahun 2016 Tentang KI dan KD 2013 Dikdasmen. Berdasarkan empat keterampilan tersebut, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai peserta didik. Menulis adalah kemampuan mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaan kepada orang lain melalui bahasa tulis. Ketepatan dalam mengungkapkan gagasan harus didukung oleh ketepatan dalam bahasa yang digunakan, kosa kata dan tata bahasa, serta ejaan. Tujuan dasar menulis adalah sebagai bentuk komunikasi dalam tulisan.

 Kompetensi Dasar mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi dan menulis teks puisi memerlukan keterampilan menulis. Namun, fenomena di lapangan ditemukan bahwa peserta didik belum mampu mengungkapkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Peserta didik yang kesehariannya terbiasa menggunakan gawai akhirnya memicu perilaku plagiat saat diminta untuk menulis teks puisi.

Berdasarkan fenomena di lapangan, ada dua faktor yang ditemukan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor  internal yaitu masih rendahnya keterampilan peserta didik dalam menulis. Setelah dilakukan observasi terhadap peserta didik kelas X SMK Negeri 3 Sampit pada semester genap tahun pelajaran 2021/ 2022, ditemukan bahwa peserta didik belum mampu mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi ke dalam bentuk tulisan sebab rendahnya minat membaca. Peserta didik belum mampu menggunakan kata-kata yang tepat dalam menulis puisi, sehingga tidak menimbulkan bunyi yang merdu yang mendukung efek kepuitisan sebuah puisi. Selain itu, ditemukan pula sebagian besar peserta didik menyalin teks puisi orang lain dari internet. Faktor eksternal yaitu pendidik belum menggunakan model dan media yang menarik dan inovatif, untuk mendorong kemampuan menulis peserta didik.

 

Mengapa praktik ini baik untuk dibagikan?

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan  tersebut, praktik baik (best practice) ini penting untuk dibagikan agar dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi pendidik di sekolah lain apabila mengalami permasalahan serupa, dengan penyelesaian menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning. Model pembelajaran ini akan melatih peserta didik untuk kreatif dan mandiri.  

 

Apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini?

Peran saya dalam praktik ini adalah sebagai pendidik yang menjadi fasilitator, sahabat, dan orang tua bagi peserta didik. Tanggung jawab saya adalah menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, LKPD, instrumen, dan media yang bersifat kontekstual, serta menarik peserta didik.

 

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat?

 

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan?

Berikut ini beberapa tantangan yang pendidik hadapi untuk mencapai tujuan, yaitu:

1.   Keterbatasan pengetahuan pendidik dalam menyusun perangkat pembelajaran serta menyiapkan media yang menarik;

2.   Pendidik cenderung menggunakan metode ceramah saat pembelajaran, sehingga peserta didik terlihat pasif;

3.   Minat membaca peserta didik kurang, sehingga sulit untuk mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi;

4.   Peserta didik cenderung melakukan plagiat di internet ketika diminta untuk menulis puisi.

 

Siapa saja yang terlibat?

1.      Pendidik, sebagai orang yang terlibat langsung menyiapkan perangkat pembelajaran.

2.      Peserta didik, sebagai objek yang mengalami langsung proses pembelajaran.

3.      Rekan sejawat, sebagai orang yang selalu memberikan saran maupun kritik saat penyusunan perangkat.

4.      Kepala sekolah, yang telah menyiapkan sarana dan prasarana di sekolah.

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini.

 

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah terkait permasalahan pembelajaran yang dihadapi serta solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

2.      Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.

3.      Menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning agar terselenggara kegiatan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

4.      Membuat media dan bahan ajar berbasis kontekstual agar peserta didik memiliki acuan dan referensi yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

5.      Melakukan koordinasi dengan wakil kepala sekolah bagian sarana prasarana terkait beberapa alat yang dibutuhkan, seperti LCD Proyektor, kamera, pengeras suara (speaker), serta ruang kelas yang memiliki daya listrik baik.

6.      Melakukan koordinasi dengan peserta didik terkait pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan.

 

Strategi apa yang digunakan?

1.    Pendidik menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi dalam bentuk tulisan, dan model Project Based  Learning untuk meningkatkan kemampuan menulis teks puisi peserta didik kelas X semester genap.

2.    Pendidik menggunakan metode penugasan, diskusi dan tanya jawab agar peserta didik aktif.

3.    Pendidik membuat media pembelajaran berbasis TPACK seperti video yang dibuat dari canva berbasis story telling, power point, gambar kontekstual, dan google form.

 

Bagaimana prosesnya?

1.    Proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning.

Peserta didik dihadapkan pada permasalahan yang berkaitan dengan butir-butir penting dalam teks biografi melalui sebuah video, untuk mengatasi permasalahan peserta didik yang kurang minat membaca, maka pendidik membuat media video dari canva yang berbasis story telling agar lebih menarik. Media dibuat kontekstual, yaitu dengan membuat video biografi tokoh-tokoh berjasa di Kalteng. Setelah peserta didik memahami konsep butir-butir penting dalam teks biografi, peserta didik kembali dipertontonkan sebuah video untuk dianalisis. Tahap terakhir, peserta didik mempresentasikan hasil kerjanya secara berkelompok, lalu peserta didik di kelompok lain memberikan tanggapan.

 

2.    Proses pembelajaran dengan model Project Based

 Learning.

Peserta didik diberikan penjelasan bahwa pembelajaran hari itu akan menghasilkan sebuah proyek menulis teks puisi. Di bagian orientasi, pendidik menampilkan contoh teks puisi. Di kegiatan inti, peserta didik menulis teks puisi berdasarkan gambar bencana banjir yang terjadi di Kalteng, agar kontekstual. Untuk mengatasi permasalahan peserta didik agar tidak melakukan plagiat saat menulis teks puisi, pendidik meminta peserta didik untuk menuliskan kata kunci yang berdasarkan unsur pembangun (tema, diksi, gaya bahasa, imaji, struktur, perwajahan) puisi, lalu mengembangkannya menjadi sebuah teks puisi utuh. Setelah menulis teks puisi, peserta didik membacakan di depan kelas, lalu peserta didik dari kelompok lain memberikan tanggapan.

 

 

 

Sumber daya atau materi yang diperlukan

Untuk melaksanakan kegiatan ini, diperlukan sumber daya agar kegiatan berjalan optimal dan sesuai dengan yang diharapkan. Sumber daya atau materi yang diperlukan di kegiatan ini adalah:

1.   Uang, digunakan untuk memfotokopi bahan ajar dan LKPD;

2.   Buku teks, digunakan sebagai referensi pembuatan bahan ajar;

3.   Peralatan seperti LCD proyektor, pengeras suara (speaker), printer, dan laptop.

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut.

 

Refleksi pembelajaran

Setelah melakukan kegiatan, refleksi yang saya rasakan adalah:

1.   Saya kurang memahami karakteristik peserta didik yang notabenenya mereka adalah generasi alpha yang dekat dengan penggunaan teknologi, setelah melaksanakan praktik baik ini, saya semakin memahami bahwa peserta didik akan mudah memahami pembelajaran apabila pendidik menggunakan media yang berbasis teknologi (TPACK);

2.   Melaksanakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning dan Project Based Learning sangat memudahkan pendidik, sebab pendidik tidak banyak melakukan ceramah;

3.   Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dan Project Based Learning membuat peserta didik lebih aktif dan kreatif;

4.   Pembelajaran yang saya laksanakan lebih menarik dan tidak monoton. Saya menjadi lebih kreatif karena saya berusaha membuat media sendiri menggunakan aplikasi Canva.

 

Dampak kegiatan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning

1.   Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning membuat peserta didik lebih termotivasi untuk belajar dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional yang selama ini sering digunakan. Hal ini terlihat dari indikator keaktifan peserta didik yang meningkat dibandingkan dengan sebelum menggunakan model Problem Based Learning dan Project Based Learning, walaupun masih ada tiga orang peserta didik yang masih tidak terlalu terlibat aktif dalam kegiatan diskusi kelompok

2.   Dampak menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning menggunakan media berbasis TPACK bagi pendidik dapat membantu pendidik menyampaikan materi lebih mudah dan kegiatan pembelajarannya tidak monoton.

3.   Peserta didik yang kurang minat dalam membaca dapat fokus sebab teks biografi disajikan dalam bentuk video yang berbasis story telling.

4.   Peserta didik yang terbiasa melakukan plagiat saat menulis teks puisi dapat diatasi, sebab pendidik melakukan monitoring langsung kegiatan diskusi. Terutama, terkait penulisan kata kunci dan penggunaannya di dalam teks puisi yang dibuat peserta didik.

5.   Pendidik dapat membuat media yang menarik dan inovatif menggunakan aplikasi canva.

 

Respon peserta didik

1.   Peserta didik lebih aktif dari sebelumnya saat pembelajaran dilakukan secara konvensional.

2.   Peserta didik fokus mengikuti pembelajaran, sebab pendidik menggunakan media audio visual yang menarik.

3.   Rasa percaya diri peserta didik meningkat, karena mereka terlatih melakukan presentasi.

 

Respon kepala sekolah dan rekan sejawat

1.   Kepala sekolah dan rekan sejawat merespon dengan positif terkait media yang dibuat oleh pendidik.

2.   Rekan sejawat guru mata pelajaran bahasa Indonesia dapat menggunakan media yang telah pendidik buat melalui kanal youtube.

 

Faktor keberhasilan dari strategi yang dilakukan

1.    Rencana pembelajararan yang disiapkan dengan maksimal, seperti membuat RPP, bahan ajar, media, instrumen, dan LKPD.

2.    Sarana dan prasarana yang mendukung, seperti jaringan internet, listrik yang memadai.

3.    Seluruh warga sekolah yang bersedia membantu kelancaran kegiatan, seperti pendokumentasian, menyiapkan alat dan lain-lain.

 

Faktor ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan

1.  Listrik yang terkadang padam di ruang kelas secara mendadak, sebab daya listrik kecil. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pendidik memilih ruang kelas yang tidak mudah padam mendadak. Pemadaman listrik sangat mengganggu proses pembelajaran, sebab pendidik menggunakan LCD proyektor sebagai alat penunjang.

 

Pembelajaran dari proses kegiatan

Setelah melakukan kegiatan ini, saya mampu merancang pembelajaran dan membuat media berbasis TPACK menggunakan model pembelajaran yang inovatif. Dampak penggunaan model pembelajaran inovatif dan penggunaan media berbasis TPACK dalam kegiatan pembelajaran sangat besar, yaitu dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik terhadap materi dan kegiatan pembelajaran yang diberikan, dengan menggunakan model dan media tersebut terbukti kegiatan pembelajaran terasa lebih menyenangkan. Menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning juga memudahkan pendidik, karena tidak banyak melakukan ceramah. Pendidik juga menjadi lebih kreatif, karena dituntut untuk membuat media inovatif dan menarik.

Mengupas Mitos Larangan Anak Gadis Duduk di Depan Pintu dan Relevansinya di Era Modern

Mengupas Mitos Larangan Anak Gadis Duduk di Depan Pintu  dan Relevansinya di Era Modern     Gambar ilustrasi generated AI "J angan dudu...