Penjual Balon
Gambar ilustrasi hasil generated AIMatahari belum juga condong ke barat, tapi tenggorokan Lilis sudah kering seperti tanah yang lama tak disentuh hujan. Ia berdiri di tepi jalan dekat lampu merah, di antara asap knalpot dan bunyi mesin kendaraan yang saling bersahutan, menggenggam belasan tali balon yang menari-nari ditiup angin. Warna-warni balon itu merah, kuning, hijau, biru seolah mengejek keadaannya sendiri yang begitu muram.
Lampu merah menyala. Deretan motor dan mobil berhenti, mesin-mesin menderu pelan seperti napas yang tertahan. Lilis melangkah cepat, menyodorkan balon ke kaca jendela yang tertutup rapat.
"Balonnya, Pak, Bu. Buat anaknya di rumah," ucapnya, suaranya serak, nyaris tenggelam oleh riuh kendaraan.
Tak ada yang menoleh. Kaca-kaca itu memantulkan wajahnya sendiri, kulit yang menghitam karena matahari, kerutan halus di sudut mata yang datang terlalu dini untuk usia tiga puluh tujuh tahun. Lampu berganti hijau. Ia mundur ke tepi jalan, dadanya naik turun menahan lapar yang sudah pindah menjadi perih di ulu hati.
Sudah tiga jam ia berdiri di sana, dan baru dua balon yang laku.
***
Rumah petak yang ia sewa hanya berupa satu ruangan berdinding papan, beratapkan seng yang berbunyi seperti tabuhan genderang tiap kali hujan turun. Di situlah Lilis membesarkan Rian dan Sari, dua anaknya, sejak sebelas tahun lalu, sejak Sofyan, lelaki yang dulu ia panggil suami, pergi tanpa pernah menoleh ke belakang.
Lilis hanya tamatan sekolah dasar. Dulu, waktu Sofyan datang dengan kata-kata manis dan janji akan menikahinya baik-baik, Lilis percaya. Sofyan bilang menikah siri cukup, nanti kalau sudah mapan mereka akan menikah lagi di depan penghulu, katanya, biar sah semua-muanya. Lilis, yang waktu itu baru dua puluh tahun dan sudah lelah ditanya tetangga kapan kawin akhirnya mengangguk saja. Ia tak tahu, atau mungkin tak mau tahu bahwa Sofyan sudah beristri di provinsi seberang.
Dua tahun kemudian, Sofyan menghilang seperti asap balon yang pecah. Yang tersisa hanya dua anak kecil dan surat nikah yang tak pernah bisa dibawa ke kantor mana pun, karena sejak awal tak pernah tercatat di negara.
Malam itu Rian, anak sulungnya yang duduk di kelas enam, pulang membawa selembar kertas dari sekolah. Wajahnya berbinar, jarang sekali ia terlihat seceria itu.
"Mak, ada beasiswa buat lanjut SMP. Bu Guru bilang aku bisa daftar, katanya nilai-nilaiku bagus." Ia menyodorkan kertas itu dengan kedua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang amat berharga.
Lilis menerimanya dengan tangan yang masih bau karet balon. Ia membaca pelan-pelan, mengeja tiap kata karena hurufnya kecil-kecil dan matanya sudah mulai kabur. Di antara syarat-syarat itu ada satu baris yang membuat dadanya seketika sesak “melampirkan fotokopi akta kelahiran”.
"Kenapa, Mak?" tanya Rian, menangkap perubahan di wajah ibunya.
"Nggak apa-apa," Lilis buru-buru tersenyum, menyimpan kertas itu di balik dinding papan, di sela-sela yang biasa ia jadikan tempat menyimpan uang receh. "Besok Emak urus."
Tapi ia tahu, jauh di dalam hatinya, bahwa itu bukan perkara yang bisa diurus besok, atau bahkan bulan depan.
Esoknya Lilis pergi ke kelurahan, meninggalkan lapaknya sejak pagi. Petugas di balik meja memandangnya dengan tatapan yang sudah ia hafal luar kepala, tatapan orang yang lelah menjelaskan hal yang sama berkali-kali kepada orang-orang seperti dirinya.
"Nikahnya kapan, Bu? Ada buku nikah?"
"Nikah siri, Pak. Sama Pak Penghulu kampung, bukan yang di KUA."
Petugas itu menghela napas, seolah sudah menduga jawaban itu sejak awal. "Kalau begitu susah, Bu. Untuk bikin akta anak, harus ada surat nikah resmi dari KUA, atau minimal ada penetapan dari pengadilan agama. Itu pun prosesnya panjang, butuh biaya, butuh saksi. Bapaknya masih ada?"
"Sudah sebelas tahun nggak ketahuan rimbanya, Pak."
"Ya, susah, Bu. Kalau nggak ada bapaknya, tambah rumit lagi urusannya."
Lilis pulang dengan kaki yang terasa berat sebelah, seperti menyeret sesuatu yang tak kelihatan. Sepanjang jalan ia menghitung-hitung, andai pun proses itu bisa ditempuh, dari mana ia harus mendapatkan uang untuk mengurus semuanya, sementara untuk makan sehari-hari saja ia harus menjual balon dari pagi sampai lampu jalan menyala.
***
Malam itu, setelah Rian dan Sari tertidur berhimpitan di atas tilam yang sudah tipis dan apak, Lilis duduk sendirian di depan pintu papan yang tak lagi rapat. Ia memandangi tumpukan balon kempis yang belum sempat ia tiup untuk esok hari, teringat kertas beasiswa yang kini tersimpan sia-sia di balik dinding.
Ia teringat wajah Sofyan. Betapa mudahnya dulu ia percaya pada tangan yang menggenggam tangannya, pada kata-kata yang meyakinkannya bahwa menikah siri tak akan jadi soal, bahwa cinta lebih penting daripada selembar surat. Ia, yang waktu itu hanya tamatan SD dan tak paham betul apa artinya sebuah pengesahan negara, percaya begitu saja.
"Bodoh," bisiknya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh derik jangkrik di luar. "Bodoh kau, Lilis."
Ia menangkupkan wajah ke kedua telapak tangan yang kasar oleh getah karet dan matahari bertahun-tahun. Bukan Sofyan yang paling ia sesali malam itu, lelaki itu sudah lama tak lagi ia pikirkan sebagai manusia, hanya bayang-bayang yang meninggalkan bekas. Yang paling ia sesali adalah dirinya sendiri. Keputusan singkat di suatu sore bertahun silam, yang ternyata harus dibayar oleh anak-anaknya, oleh cita-cita mereka, oleh selembar kertas yang seharusnya sederhana bagi anak-anak lain namun menjadi tembok tinggi bagi anak-anaknya sendiri. Ia merasa sedang berjalan di atas kerikil-kerikil tajam yang ia taburkan sendiri di jalan hidupnya, dan kini anak-anaknyalah yang ikut melangkah tanpa alas kaki di atasnya.
Malam itu ia menangis tanpa suara, supaya Rian dan Sari tak terbangun.
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, meski sesuatu di dalam diri Lilis terasa berbeda, seperti balon yang perlahan kempis meski tak ada yang melubanginya. Ia masih berjualan di lampu merah yang sama, di antara asap knalpot yang sama, menyodorkan balon ke kaca-kaca mobil yang sama pula.
Rian tak pernah lagi bertanya soal beasiswa itu. Mungkin ia sudah mengerti, dengan caranya sendiri yang diam, bahwa ibunya tak bisa mengurusnya. Kertas itu masih tersimpan di balik dinding papan, semakin lusuh oleh kelembaban.
Suatu sore, sepulang sekolah, Rian dan Sari datang ke perempatan itu mengambil beberapa ikatan balon digenggaman Lilis. Mereka berdiri di sisi ibunya, menyodorkan balon-balon itu ke kaca-kaca mobil yang lewat, meniru persis cara Lilis menawarkan dagangannya.
"Biar cepat laku, Mak. Kita bertiga," kata Rian, tersenyum kecil, seolah itu bukan sesuatu yang perlu disesali.
Lilis memandangi kedua anaknya berdiri di tepi jalan, di antara deru kendaraan yang tak pernah henti, dan ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, menahan sesuatu yang mendesak naik ke tenggorokannya.
Lampu merah menyala lagi. Tiga bayangan berjalan berdampingan di antara mobil-mobil yang berhenti, menyodorkan balon warna-warni ke kaca-kaca yang kadang terbuka, kadang tetap tertutup rapat. Angin sore meniup tali-tali balon itu hingga bergoyang-goyang, seolah melambai kepada siapa saja yang mau menoleh.
Tak ada yang benar-benar berubah. Beasiswa itu tak pernah terurus, akta kelahiran itu tetap tak ada, dan Lilis tetap seorang penjual balon di lampu merah yang sama. Hanya saja kini, setiap sore, ada dua anak kecil yang ikut berdiri di sampingnya, menggenggam tali-tali balon dengan tangan mungil mereka, seakan-akan warna-warni itu cukup untuk menutupi apa yang sesungguhnya hilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar