Kehilangan
Ruang
Karya
Trisnawati, M.Pd.
Panggung
berlatar di pinggir sungai dengan sebuah bangku. Musik menegangkan berbunyi. Seseorang
muncul sambil berteriak histeris. Karena ia hampir dimangsa seekor buaya di
Sungai Mentaya.
Buaya…Buaya….tolong…tolong…
(panik dan hampir menangis ketakutan).
Tolong
aku…ada…ada buaya…di Sanaa…(menangis histeris sambil menunjuk ke arah sungai).
Ya
Tuhan…ini mengerikan. Ini sudah kejadian yang…ahhh aku lupa. Tapi seingatku,
sudah sering terjadi peristiwa manusia dimangsa buaya di sini. Ya di desa ini.
Entah bagaimana buaya-buaya itu muncul di Sungai Mentaya ini. (bergidik)
Seketika
wajahnya berubah murung. Diiringi musik murung.
Sebenarnya,
apa yang terjadi?? Beberapa tahun belakangan ini. Manusia sering dikejutkan
dengan teror buaya. Bahkan, beberapa korban yang diserang buaya ada yang sampai
meninggal dunia. Si Jagau, seorang santri yang tinggal di Desa Jaya Karet, mati
diterkam buaya saat sedang mandi di sungai. Lalu, Ibu Harati, jenazahnya tidak
pernah ditemukan lagi hingga sekarang.
Buaya-buaya
itu benar-benar memakan manusia! (Keheranan dan bergidik)
Padahal,
dulu ada mitos yang berkembang tentang manusia yang kawin dengan buaya, bernama
Tambi Winei. Waktu itu aku masih kecil, tapi aku sudah dapat mengingat dengan
jelas, bagaimana orang-orang di desa panik mencari Tambi Winei yang telah
hilang 3 hari.
Winei…Winei…di
mana kamu? Winei…Winei….di mana kamu?? Pulanglah Winei!!! Winei! Winei!
Setelah
3 hari, Tambi Winei ditemukan di atas pohon kelapa. Sejak kejadian itu Tambi Winei
menjadi kuat dan sakti, bahkan ia bisa mengobati orang-orang yang sakit. Konon,
Tambi Winei mendapat kesaktian dari suaminya yang berwujud buaya.
Oh
Tambi Winei, bantulah aku menghentikan terror buaya itu? (sedih) Sudah
berhari-hari aku tidak bisa mencari ikan. Hari ini, aku, hampir saja mati
dimakan buaya itu.
Saat
aku melemparkan jala, tiba-tiba buaya itu menyambarnya. Mungkin dia mengira
jalaku adalah hewan yang terjatuh, mungkin dia pikir itu adalah seekor tupai,
atau…kera. Aku panik, aku menarik jalaku sekuat tenaga. Tapi, dia menggigitnya
begitu keras. Kupukuli kepalanya. Berkali-kali. Bersyukur aku menjala di tepi sungai
dan berpegangan pada kayu-kayu di sana, seandainya aku berada di perahu,
mungkin aku turut tercebur bersama jalaku.
Tokoh
terlihat nampak berpikir. Sambil memperhatikan jalanya, lalu merapikannya.
Selain
itu, di masyarakat Dayak juga berkembang mitos yang disebut firasat buaya. Yaitu
mitos yang menandakan seseorang akan mati dimakan buaya. Katanya, firasat buaya
ini bisa dihilangkan atau diobati.
Tapi,
aku tidak percaya bahwa teror buaya saat ini berhubungan dengan mitos-mitos itu.
Enam
orang mati dimakan buaya dalam beberapa tahun ini. Dan empat puluh lainnya
terluka.
Tiba-tiba
tokoh seperti orang ketakutan, dia berteriak histeris seolah melihat
buaya-buaya itu datang dan ingin memangsanya.
Aa…aapaa….tidak
mungkin!!! Hei…pergi kalian dari sini. Hussh…huss….
Tolong…tolong
aku….ada buaya…ada buaya di sini…jangan makan aku….aku hanya ingin mencari
ikan…aku butuh makan…pergi…pergi dari sini….
Pergi
kalian…pergi….bukan aku…bukan aku pelakunya…apa…hutan? hewan? makanan? Apa
maksudmu?
(Terduduk
lunglai) pergi dari sini….(menangis)
(Marah)
Lihat…buaya-buaya itu…sudah tidak segan lagi menyerang manusia. Bagaimana aku
dapat dengan tenang mencari ikan di Sungai ini? Orang tuaku sudah tua, dan aku
tidak punya pekerjaan lain selain mencari ikan dan menjualnya untuk kebutuhan
hidup dan biaya sekolahku.
Sejak
dulu masyarakat Dayak sangat bergantung dengan hasil alam. Mencari ikan di
Sungai. Berladang di hutan. Mencari buah hutan yang dapat dimakan. Ayahku,
pernah memanen buah hutan dan menjualnya. Ada banyak jenis buah hutan yang bisa
dimakan di sini. Tapi kini…
Tokoh
berubah menjadi Pimpinan Perusahaan Kelapa Sawit.
Hahaha…bakar
lahan-lahan itu. Lalu tanami dengan kelapa sawit. Kita harus mendapatkan untung
sebanyak-banyaknya. Dan satu lagi, buang limbah dari pabrik, alirkan ke
perairan setempat.
Apa!!
Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin mencemari sungai-sungai itu? Kalian akan
membunuh ikan-ikan di sana. Jika ikan-ikan mati, buaya-buaya yang ada akan
kehilangan makanannya.
Limbah yang dibuang hanya sedikit, dan lahan
yang dibakar akan diganti dengan Perkebunan sawit.
Tokoh
berubah menjadi seekor monyet. Mendeskripsikan tentang bagaimana hewan-hewan di
hutan yang telah kehilangan makanan alamiah mereka, hingga tempat tinggalnya.
Tolong,
tolong, jangan bakar lahan itu, biarlah buah-buah hutan itu tumbuh di sana. Buah
itu adalah makanan kami. Jangan cemari perairan kami. Kami minum di sana.
Tokoh
menangis, sedih. Dan berbicara kembali dengan raut sedih dan kecewa.
Orang-orang
itu telah merusak alam kami, hutan kami. Perkebunan sawit di mana-mana,
pertambangan merajalela, pencemaran, pembuangan limbah di Sungai. Hutan semakin
lama semakin tergeser. Buah-buah hutan telah langka, hewan-hewan entah kemana?
Itulah sebabnya…Buaya-buaya itu meneror dan memangsa manusia. Karena mereka
telah sulit menemukan makanannya.
Lalu,
pada akhirnya, tidak hanya buaya, orang-orang yang hidupnya bergantung pada
hasil alampun juga turut menelan akibatnya. (marah) Sementara, mereka,
orang-orang itu kenyang menikmati uang dari hasil merusak alam.
Tokoh
berubah murung dan sedih.
Bagi
kami, suku Dayak. Hutan, bumi, tanah, dan Sungai adalah Injam Tingang. Pinjaman
Ranying Hatalla. Sudah sepantasnya, kita merawat dan menjaganya.
Tokoh
berjalan keluar panggung.
TAMAT
Terjemahan istilah atau
kosakata Bahasa Dayak:
a. Tambi
artinya Nenek
b. Injam tingang
artinya titipan/ sementara
c. Ranying Hatalla artinya
Tuhan yang Maha Esa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar