Senin, 03 Februari 2025

Kumpulan naskah monolog

 

Kehilangan Ruang

Karya Trisnawati, M.Pd.


Panggung berlatar di pinggir sungai dengan sebuah bangku. Musik menegangkan berbunyi. Seseorang muncul sambil berteriak histeris. Karena ia hampir dimangsa seekor buaya di Sungai Mentaya.

Buaya…Buaya….tolong…tolong… (panik dan hampir menangis ketakutan).

Tolong aku…ada…ada buaya…di Sanaa…(menangis histeris sambil menunjuk ke arah sungai).

Ya Tuhan…ini mengerikan. Ini sudah kejadian yang…ahhh aku lupa. Tapi seingatku, sudah sering terjadi peristiwa manusia dimangsa buaya di sini. Ya di desa ini. Entah bagaimana buaya-buaya itu muncul di Sungai Mentaya ini. (bergidik)

Seketika wajahnya berubah murung. Diiringi musik murung.

Sebenarnya, apa yang terjadi?? Beberapa tahun belakangan ini. Manusia sering dikejutkan dengan teror buaya. Bahkan, beberapa korban yang diserang buaya ada yang sampai meninggal dunia. Si Jagau, seorang santri yang tinggal di Desa Jaya Karet, mati diterkam buaya saat sedang mandi di sungai. Lalu, Ibu Harati, jenazahnya tidak pernah ditemukan lagi hingga sekarang.

Buaya-buaya itu benar-benar memakan manusia! (Keheranan dan bergidik)

Padahal, dulu ada mitos yang berkembang tentang manusia yang kawin dengan buaya, bernama Tambi Winei. Waktu itu aku masih kecil, tapi aku sudah dapat mengingat dengan jelas, bagaimana orang-orang di desa panik mencari Tambi Winei yang telah hilang 3 hari.

Winei…Winei…di mana kamu? Winei…Winei….di mana kamu?? Pulanglah Winei!!! Winei! Winei!

Setelah 3 hari, Tambi Winei ditemukan di atas pohon kelapa. Sejak kejadian itu Tambi Winei menjadi kuat dan sakti, bahkan ia bisa mengobati orang-orang yang sakit. Konon, Tambi Winei mendapat kesaktian dari suaminya yang berwujud buaya.

Oh Tambi Winei, bantulah aku menghentikan terror buaya itu? (sedih) Sudah berhari-hari aku tidak bisa mencari ikan. Hari ini, aku, hampir saja mati dimakan buaya itu.

Saat aku melemparkan jala, tiba-tiba buaya itu menyambarnya. Mungkin dia mengira jalaku adalah hewan yang terjatuh, mungkin dia pikir itu adalah seekor tupai, atau…kera. Aku panik, aku menarik jalaku sekuat tenaga. Tapi, dia menggigitnya begitu keras. Kupukuli kepalanya. Berkali-kali. Bersyukur aku menjala di tepi sungai dan berpegangan pada kayu-kayu di sana, seandainya aku berada di perahu, mungkin aku turut tercebur bersama jalaku.

Tokoh terlihat nampak berpikir. Sambil memperhatikan jalanya, lalu merapikannya.

Selain itu, di masyarakat Dayak juga berkembang mitos yang disebut firasat buaya. Yaitu mitos yang menandakan seseorang akan mati dimakan buaya. Katanya, firasat buaya ini bisa dihilangkan atau diobati.

Tapi, aku tidak percaya bahwa teror buaya saat ini  berhubungan dengan mitos-mitos itu.

Enam orang mati dimakan buaya dalam beberapa tahun ini. Dan empat puluh lainnya terluka.

Tiba-tiba tokoh seperti orang ketakutan, dia berteriak histeris seolah melihat buaya-buaya itu datang dan ingin memangsanya.

Aa…aapaa….tidak mungkin!!! Hei…pergi kalian dari sini. Hussh…huss….

Tolong…tolong aku….ada buaya…ada buaya di sini…jangan makan aku….aku hanya ingin mencari ikan…aku butuh makan…pergi…pergi dari sini….

Pergi kalian…pergi….bukan aku…bukan aku pelakunya…apa…hutan? hewan? makanan? Apa maksudmu?

(Terduduk lunglai) pergi dari sini….(menangis)

(Marah) Lihat…buaya-buaya itu…sudah tidak segan lagi menyerang manusia. Bagaimana aku dapat dengan tenang mencari ikan di Sungai ini? Orang tuaku sudah tua, dan aku tidak punya pekerjaan lain selain mencari ikan dan menjualnya untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolahku.

Sejak dulu masyarakat Dayak sangat bergantung dengan hasil alam. Mencari ikan di Sungai. Berladang di hutan. Mencari buah hutan yang dapat dimakan. Ayahku, pernah memanen buah hutan dan menjualnya. Ada banyak jenis buah hutan yang bisa dimakan di sini. Tapi kini…

Tokoh berubah menjadi Pimpinan Perusahaan Kelapa Sawit.

Hahaha…bakar lahan-lahan itu. Lalu tanami dengan kelapa sawit. Kita harus mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Dan satu lagi, buang limbah dari pabrik, alirkan ke perairan setempat.

Apa!! Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin mencemari sungai-sungai itu? Kalian akan membunuh ikan-ikan di sana. Jika ikan-ikan mati, buaya-buaya yang ada akan kehilangan makanannya.

 Limbah yang dibuang hanya sedikit, dan lahan yang dibakar akan diganti dengan Perkebunan sawit.

Tokoh berubah menjadi seekor monyet. Mendeskripsikan tentang bagaimana hewan-hewan di hutan yang telah kehilangan makanan alamiah mereka, hingga tempat tinggalnya.

Tolong, tolong, jangan bakar lahan itu, biarlah buah-buah hutan itu tumbuh di sana. Buah itu adalah makanan kami. Jangan cemari perairan kami. Kami minum di sana.

Tokoh menangis, sedih. Dan berbicara kembali dengan raut sedih dan kecewa.

Orang-orang itu telah merusak alam kami, hutan kami. Perkebunan sawit di mana-mana, pertambangan merajalela, pencemaran, pembuangan limbah di Sungai. Hutan semakin lama semakin tergeser. Buah-buah hutan telah langka, hewan-hewan entah kemana? Itulah sebabnya…Buaya-buaya itu meneror dan memangsa manusia. Karena mereka telah sulit menemukan makanannya.

Lalu, pada akhirnya, tidak hanya buaya, orang-orang yang hidupnya bergantung pada hasil alampun juga turut menelan akibatnya. (marah) Sementara, mereka, orang-orang itu kenyang menikmati uang dari hasil merusak alam.

Tokoh berubah murung dan sedih.

Bagi kami, suku Dayak. Hutan, bumi, tanah, dan Sungai adalah Injam Tingang. Pinjaman Ranying Hatalla. Sudah sepantasnya, kita merawat dan menjaganya.

Tokoh berjalan keluar panggung.

TAMAT

 

Terjemahan istilah atau kosakata Bahasa Dayak:

a. Tambi artinya Nenek

b. Injam tingang artinya titipan/ sementara

c. Ranying Hatalla artinya Tuhan yang Maha Esa

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...