HUTAN
MUNGKU
By
Trisnawati, S.Pd.
Bayangan seorang
laki-laki sedang menebang pohon, diiringi suara erangan dan musik menegangkan.
“Aarrrghhhhh……” (Sesekali
mengusap keringat di dahinya, lalu melanjutkan Kembali mengayun kapaknya ke
batang pohon. lampu siluet padam)
Sosok tinggi besar muncul
di balik siluet. Mengerang penuh amarah!
“Ela
ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku!! Gggrhhhhh!!!! (lampu siluet padam)
Sosok
Perempuan dengan lampu tembok di tangannya muncul. Dia berteriak memanggil
anaknya, penuh kesedihan.
“Lamiang,
Lamiang, di mana kamu Nak?? Pulanglah. Jangan tinggalkan Umai. Kau anakku
satu-satunya.” (Semakin menangis terisak).
“Balaku dohop…” (seorang
remaja putri berjalan tertatih keluar dari balik siluet. Terisak sambal
menampakkan wajah ketakutan. Berjalan ke depan panggung, lalu berkeliling
sambal melihat keadaan sekitar).
“Setelah anakku
ditemukan, dia jadi sering berteriak-teriak meminta tolong seperti orang yang
sedang ketakutan. Kami Sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari penyebab
dan menyembuhkannya. Tapi, sampai sekarang belum membuahkan hasil” (Menatap
kosong kepada penonton, dengan raut yang menyedihkan penuh kebingungan.)
“ Waktu itu, tiga hari ia
menghilang. Kami pun melakukan ritual manajah antang agar diberikan petunjuk. (Tokoh
mengambil property berupa ancak)
(Musik Dayak berbunyi)
Tokoh mulai melakukan
gerakan tari yang mendeskripsikan sebuah ritual. (musik berhenti, Tokoh tersungkur dilantai.
Penuh kesedihan).
“Tulah? Yah Kata
orang-orang anakku terkena tulah.” (menangis tersedu)
“Tapi, apa yang
terjadi!?? Apa?”
“Umai, Umai, oh Umai,
balaku dohop, aku…..umai….” (Meringis ketakutan sambil menatap pilu ke arah
yang tidak menentu, tatapan mata liar penuh tekanan). “Waktu itu, aku ingat
betul. Bapak datang diikuti sesosok tinggi besar” (meloncat-loncat ketakutan
dengan tatapan nanar) “Di saat yang bersamaan dia berkata, jangan ganggu hutan
adatku, jangan ganggu rumahku, arrhhhh…apa maksud bue? Aku, aku tidak mengerti
apa yang dia ucapkan”
“Aku kasihan melihatnya,
setiap hari dia berteriak-teriak, selain mengucapkan tolong dia juga berteriak,
kayu, kayu”
“Kayu, kayu, dohop aku.
Dohop aku!” (Berteriak-teriak, lalu menangis, dan ketakutan)
(Tiba-tiba, berubah
menjadi seorang nenek-nenek, terbatuk-batuk).
“Hutan Mungku(terdiam)
“Para leluhur sangat
menjaga keberadaan hutan ini, sebagai penyeimbang ekosistem alam. Maka, kami
menanam kayu-kayu. Suatu hari, kayu-kayu di hutan Mungku dicuri oleh Temanggung
Buleng. Sejak saat itu, hutan Mungku dikutuk agar tidak ada lagi yang mencuri
kayunya. Barang siapa yang mencurinya, maka akan diganggu oleh para roh
penunggu hutan”
“Ahhhhh” (wajah terkejut)
“Aku ingat sekarang,
beberapa tahun lalu, suamiku menebang kayu di hutan Mungku. Waktu itu, aku
melarangnya untuk menebang kayu di hutan mangku. Tapi dia bersikeras”
“Ah, tidak apa. Kata
siapa hutan itu dikutuk? Kau meada-ada saja! Hahaha (Tertawa lepas)
“Tapi….dia tetap
melangkahkan kakinya, diiringi kabut pagi dan suara burung gagak yang
bersahutan. Sorenya dia pulang membawa kayu kayu dari hutan Mangku. Entahlah,
dalam penglihatanku, mukanya pucat seperti orang ketakutan, dan lututnya
bergetar, sampai-sampai aku bisa mendengarnya di telingaku.”
“Ahhhh aku lelah, dan
kakiku lemas sekali”
“Kau…kau….apa yang kau
lakukan, kau menebang kayu dari hutan Mungku? Sudah kukatakan hutan itu
dikutuk. Keluarga kita akan celaka jika kau nekat mengambil kayu di sana!!”
“Eweh, eweh toh!!Eweh
ikau!!! Umaiii…..balaku dohop umaiiii” (ketakutan)
“Jangan engkau mengganggu
rumahku, jangan engkau mengambil kayu di tanahku.” (nada marah)
(tersungkur ke lantai,
sambil menangis dan ketakutan, lalu berjalan ke belakang siluet, mengambil
sebuah bibit pohon, dan menanamnya lagi sambal bersenandung)
“Ela ikau manderuh
humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku!!
Tamat
Keterangan
terjemahan Bahasa Daerah
a. Balaku
Dohop = meminta tolong
b. Tulah
= kualat
c. Umai
= Ibu
d. Eweh
ikau
= Siapa kau
e. Bue
=
Kakek
f. Ela
ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku =
jangan engkau mengganggu rumahku, jangan engkau mengambil kayu di tanahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar