Senin, 03 Februari 2025

Naskah monolog kearifan lokal

 

HUTAN MUNGKU

By Trisnawati, S.Pd.

 

Bayangan seorang laki-laki sedang menebang pohon, diiringi suara erangan dan musik menegangkan.

“Aarrrghhhhh……” (Sesekali mengusap keringat di dahinya, lalu melanjutkan Kembali mengayun kapaknya ke batang pohon. lampu siluet padam)

Sosok tinggi besar muncul di balik siluet. Mengerang penuh amarah!

Ela ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku!! Gggrhhhhh!!!!  (lampu siluet padam)

Sosok Perempuan dengan lampu tembok di tangannya muncul. Dia berteriak memanggil anaknya, penuh kesedihan.

“Lamiang, Lamiang, di mana kamu Nak?? Pulanglah. Jangan tinggalkan Umai. Kau anakku satu-satunya.” (Semakin menangis terisak).

“Balaku dohop…” (seorang remaja putri berjalan tertatih keluar dari balik siluet. Terisak sambal menampakkan wajah ketakutan. Berjalan ke depan panggung, lalu berkeliling sambal melihat keadaan sekitar).

“Setelah anakku ditemukan, dia jadi sering berteriak-teriak meminta tolong seperti orang yang sedang ketakutan. Kami Sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari penyebab dan menyembuhkannya. Tapi, sampai sekarang belum membuahkan hasil” (Menatap kosong kepada penonton, dengan raut yang menyedihkan penuh kebingungan.)

“ Waktu itu, tiga hari ia menghilang. Kami pun melakukan ritual manajah antang agar diberikan petunjuk. (Tokoh mengambil property berupa ancak)

(Musik Dayak berbunyi)

Tokoh mulai melakukan gerakan tari yang mendeskripsikan sebuah ritual.  (musik berhenti, Tokoh tersungkur dilantai. Penuh kesedihan).

“Tulah? Yah Kata orang-orang anakku terkena tulah.” (menangis tersedu)

“Tapi, apa yang terjadi!?? Apa?”

“Umai, Umai, oh Umai, balaku dohop, aku…..umai….” (Meringis ketakutan sambil menatap pilu ke arah yang tidak menentu, tatapan mata liar penuh tekanan). “Waktu itu, aku ingat betul. Bapak datang diikuti sesosok tinggi besar” (meloncat-loncat ketakutan dengan tatapan nanar) “Di saat yang bersamaan dia berkata, jangan ganggu hutan adatku, jangan ganggu rumahku, arrhhhh…apa maksud bue? Aku, aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan”

“Aku kasihan melihatnya, setiap hari dia berteriak-teriak, selain mengucapkan tolong dia juga berteriak, kayu, kayu”

“Kayu, kayu, dohop aku. Dohop aku!” (Berteriak-teriak, lalu menangis, dan ketakutan)

(Tiba-tiba, berubah menjadi seorang nenek-nenek, terbatuk-batuk).

“Hutan Mungku(terdiam)

“Para leluhur sangat menjaga keberadaan hutan ini, sebagai penyeimbang ekosistem alam. Maka, kami menanam kayu-kayu. Suatu hari, kayu-kayu di hutan Mungku dicuri oleh Temanggung Buleng. Sejak saat itu, hutan Mungku dikutuk agar tidak ada lagi yang mencuri kayunya. Barang siapa yang mencurinya, maka akan diganggu oleh para roh penunggu hutan”

“Ahhhhh” (wajah terkejut)

“Aku ingat sekarang, beberapa tahun lalu, suamiku menebang kayu di hutan Mungku. Waktu itu, aku melarangnya untuk menebang kayu di hutan mangku. Tapi dia bersikeras”

“Ah, tidak apa. Kata siapa hutan itu dikutuk? Kau meada-ada saja! Hahaha (Tertawa lepas)

“Tapi….dia tetap melangkahkan kakinya, diiringi kabut pagi dan suara burung gagak yang bersahutan. Sorenya dia pulang membawa kayu kayu dari hutan Mangku. Entahlah, dalam penglihatanku, mukanya pucat seperti orang ketakutan, dan lututnya bergetar, sampai-sampai aku bisa mendengarnya di telingaku.”

“Ahhhh aku lelah, dan kakiku lemas sekali”

“Kau…kau….apa yang kau lakukan, kau menebang kayu dari hutan Mungku? Sudah kukatakan hutan itu dikutuk. Keluarga kita akan celaka jika kau nekat mengambil kayu di sana!!”

“Eweh, eweh toh!!Eweh ikau!!! Umaiii…..balaku dohop umaiiii” (ketakutan)

“Jangan engkau mengganggu rumahku, jangan engkau mengambil kayu di tanahku.” (nada marah)

(tersungkur ke lantai, sambil menangis dan ketakutan, lalu berjalan ke belakang siluet, mengambil sebuah bibit pohon, dan menanamnya lagi sambal bersenandung)

Ela ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku!!

Tamat

 

  Keterangan terjemahan Bahasa Daerah

a.      Balaku Dohop = meminta tolong

b.     Tulah = kualat

c.      Umai = Ibu

d.     Eweh ikau = Siapa kau

e.      Bue = Kakek

f.      Ela ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku = jangan engkau mengganggu rumahku, jangan engkau mengambil kayu di tanahku.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...