Sabtu, 06 Juni 2026

Cerpen malam lebaran

 


Malam Lebaran

Karya Trisnawati


Bulan telah merebak senyum di permukaan malam. Bayangnya memberikan pantulan cahaya indah pada remang malam di atas sungai yang mengaliri kampungku. Gemericik sungai yang tenang mengalunkan lagu-lagu syahdu pertanda kekuasaan-Nya yang begitu besar. "Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar...lailahaillallahuallahuakbar, Allahuakbar walillahilham". Gema takbir yang begitu merdu mampu menggetarkan seluruh jiwa yang mendengarnya. Yah, malam ini adalah malam Hari Raya Idul Fitri. Malam yang ditunggu-tunggu semua Umat muslim di belahan dunia mana pun. Tanpa terkecuali di kampung kecilku yang sederhana ini.

Obor yang dibuat dari bambu pun telah dipasang di depan-depan rumah kami, maklumlah di kampung kecil seperti ini hanya sebagian orang berlistrik. Itu pun menggunakan mesin dumping. Begitu juga dengan rumahku, hanya remang-remang yang terlihat karena memang kami tak berlistrik. cahaya pelitalah yang menemani malam-malam kami.

"Tari!" Ayah memanggilku, kulihat Ayah siap dengan koko putih lengkap dengan sarung berwarna hijau kotak-kotaknya. Tidak lupa peci hitam lusuh yang selalu melekat di kepalanya. Ayah kepala sekolah di kampungku. Ayah bertugas sejak 15 tahun lalu. Kerutan di dahi Ayah pertanda bahwa Ayah orang yang suka berpikir dan agak pemarah. Ayah juga tegas dalam mendidikku, itulah sebab aku sangat menghormatinya.

Malam ini, aku diajak untuk mengikuti pawai obor menyambut hari raya Idul Fitri, yang sudah menjadi kebiasaan di kampung setiap malam lebaran. Pawai ini diikuti seluruh siswa di sekolah tempat Ayahku mengajar. Tapi tidak denganku, sebelumnya aku sudah menolak untuk mengikuti pawai obor, padahal Ayah sudah membuatkan untukku sebuah obor bambu. Aku lebih memilih tidur dikeremangan kamar dari pada harus berjalan keliling kampung untuk menyambut lebaran besok. Ayah mengatakan bahwa lebaran harus disambut meriah dan suka cita. Walau terpaksa, Aku berangkat mengenakan busana muslim berwarna merah muda lengkap dengan kerudung yang menutup kepalaku. Busana ini sudah menggantung di bagian kaki dan tanganku, maklumlah di kehidupan kami yang sederhana ini, Ayah dan Ibu tak sanggup untuk mengganti baju anak-anaknya setiap bulan. Terkadang, Ibu membelikan baju untukku hanya setahun sekali, itu pun disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Takbir masih menggema di mesjid kampungku, tawa ceria warga dan anak-anak menambah semaraknya malam lebaran ini. Bulan mulai merambah di separuh langit. Cahayanya terang benderang di tengah kegelapan kampung. Jalan-jalan terang dengan cahaya obor bambu. Aku masuk dibarisan anak-anak yang ikut pawai obor. Ayah maju ke barisan depan untuk mengomando, kupegang erat obor bambu yang kubawa. Takbir menggema lewat suara Ayah. Warga yang duduk di tangga-tangga rumah ikut melantunkan takbir. Dari wajah mereka kutemukan arti kemenangan itu. Seringkali mereka memberikan kami sepotong ketupat." Oh, ternyata mengikuti pawai obor menyenangkan." Aku berbisik pelan, hatiku mulai senang mengikuti pawai obor ini. Ayah masih tetap memberikan komando sesekali tangannya diangkat seperti orang berdoa. Dan kami mengikutinya.

Angin malam mulai merasuk tubuhku, dingin merambat perlahan tapi takbir masih berkumandang di mesjid dan di jalan kampung, bulan masih bersinar ketika terdengar jeritan yang memecah kesyahduan takbir. Aku terperanjat, langkah-langkah terhenti seketika. Desas-desus ketakutan mulai membuatku resah. Kulihat Ayah mulai mencari-cari asal jeritan itu. Seorang warga menghampiri Ayah.

"Ada apa Pak Guru? Siapa yang berteriak?" tanyanya dengan wajah yang ketakutan.

"Saya tidak tahu pak, tapi arah suaranya dari sana. Mari kita cek." kata Ayah dengan berani. Kulihat Ayah berjalan dengan Pak Danan, diikuti beberapa warga lain.

Jantungku berdegup kencang, apa gerangan yang membuat orang itu berteriak. Siapkah orang itu? Pawai obor dihentikan karena jeritan itu. Tapi nyala obor bambu masih setia menerangi. Dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba Ayah berlari ke arahku dengan sangat cepat diraihnya obor bambu yang kupegang. "Untuk apa Ayah?" Aku bertanya dengan kebingungan sekaligus takut.

" Ada maling di sana!" kata Ayah dengan yakin. Aku masih penasaran.

"Lalu, bagaimana? Mana Pak Danan dan yang lain Ayah?" Tanyaku.

"Mereka masih di sana, malingnya berhasil ditangkap". Lalu Ayah berlalu dari hadapanku.

"Hati-hati Ayah!" aku berteriak sambil memandang tubuh Ayah yang semakin menghilang di kegelapan malam.

Warga kampung heboh mendengar ada maling di malam lebaran. Untuk apa dia mencuri di malam lebaran? Aku bertanya-tanya penuh heran. Ingin rasanya aku menyusul Ayah, aku khawatir. Orang-orang mulai berlari ke arah datangnya suara tadi. Semakin banyak, dan semakin banyak, diikuti suara-suara "Hajar dia, pukul...hajar!". Aku semakin khawatir. Aku berlari mengkuti warga yang ramai ke arah suara itu. Aku penasaran dengan yang terjadi, terlebih ada Ayah di sana. Kusibak kerumunan, kucari Ayah. Di mana Ayah? Kucari maling seperti yang dikatakan Ayah tadi, tapi tak ada. Di mana maling itu?

Mataku tertuju ke arah sosok laki-laki berbaju hitam, wajahnya tertunduk lesu. Kulihat pucat wajahnya di keremangan malam. Gemeretak lututnya seakan bisa kudengar dengan getaran celana hitam yang dipakainya. Oh, apakah dia maling yang ditangkap itu. Lalu kutemukan Ayah di sana sedang berbicara dengan laki-laki itu. "Fiuh..." aku mendesah lega. Ayah baik-baik saja. Aku mendekat perlahan, menguping pembicaraan mereka. Apa yang akan dilakukan terhadap maling di malam lebaran itu.

Kulihat kemarahan di mata warga, termasuk Pak Danan, mereka tidak terima dengan perilaku laki-laki berbaju hitam itu. Pak Danan mengutuk perbuatan tak terpuji di malam lebaran itu, malam yang seharusnya diisi dengan takbir indah malah diributkan dengan kehadiran maling. Aku pun merasa kesal pada Maling itu, besok lebaran, untuk apa dia mencuri? Apakah setelah mencuri dia akan meminta maaf pada korbannya? Begitu mudahnya tanpa memikirkan sanksi agama dan moral yang dia terima. Hal ini membuatku geram. Ayah menjadi penengah dalam hal ini, Ayah mengkhawatirkan keselamatan si Maling sebab beberapa warga menginginkan si Maling untuk dihakimi dengan kekerasan.

"Sudahlah Pak Guru, kenapa tidak kita beri saja dia pelajaran sekarang" kata Pak Danan.

"Betul, betul!" beberapa warga yang mendukung Pak Danan berteriak. Aku ketakutan, dalam hati aku merasa kasihan pada si Maling mungkin dia punya alasan kenapa hal ini dilakukan.

Seseorang berlari menemui Ayah lalu membisikkan sesuatu padanya. Ayah mengangguk tanda mengerti. "Pak Warto, kenapa Anda melakukan ini?" Tanya Ayah pada si Maling yang ternyata adalah Pak Warto warga kampungku juga. "Saya tidak berniat mencuri pak, Saya hanya ingin mengambil bambu yang ada di sebelah rumah Bu Minah, karena saya ingin membuat obor bambu untuk anak saya. Demi Allah." Jawab Pak Warto dengan terisak.

"Ah, persetan, tak perlu membawa nama Tuhan untuk membela diri dari perlakuan bejatmu itu Warto" Pak Danan geram. Matanya merah hampir keluar.

"Tenang Pak Danan, lebih baik kita tanyakan hal ini pada Bu Minah. Bu Minah, apakah Ibu melihat bahwa Pak Warto memang ingin menyelinap masuk ke rumah Ibu?" Tanya Ayah pada Bu Minah.

"Tentu saja, dia menyelinap di samping rumah saya, ya pasti dia ingin mencuri!" Bu Minah menjawab dengan kesal.

Ayah terlihat berpikir hingga menambah kerut di dahinya, "Baiklah, untuk membuktikan apakah benar Pak Warto mencuri. Mari kita lihat pohon bambu itu. Kalau pohon bambu yang dipotongnya hanya satu ruas, berarti Pak Warto benar hanya ingin mengambil bambu, tapi kalau tidak ada, berarti Pak warto memanfaatkan pohon bambu itu agar bisa memanjat ke jendela Bu Minah." Ayah, Pak Danan, dan beberapa orang warga serta tokoh-tokoh kampung melihat pohon bambu yang dimaksud. Aku menunggu dengan rasa penasaran. Beberapa warga juga berdesas-desus penasaran.

Beberapa menit kemudian Ayah kembali. Bapak ketua RT maju ke depan. Beliau berdehem untuk mengambil perhatian warga kampung yang penasaran. "Saudara-saudara, dalam hal ini, Pak warto tidak bersalah pohon bambu yang telah dipotongnya memang hanya untuk dibuat obor, ini buktinya." Pak RT menunjukkan seruas pohon bambu yang telah dipotong pendek, seperti obor bambu yang dibuat Ayah untukku. Kerumunan sedikit demi sedikit membubarkan diri. Aku berlari menghampiri Ayah dan pulang bersama warga yang telah membubarkan diri.

Pak Warto berterima kasih pada Ayah. Pak Warto bercerita bahwa anaknya yang berusia lima tahun merengek untuk dibuatkan obor bambu, Ia ingin mengikuti pawai obor bersama kami. Mendengar cerita Pak Warto, aku merasa malu, mengapa Aku menolak ajakan Ayah untuk ikut pawai obor menyambut lebaran? Sementara anak Pak Warto begitu suka cita ingin mengikutinya. "Sekarang aku mengerti Ayah, maafkan Aku yang tak ingin bersuka cita menyambut lebaran ini." Aku menyesal. Harusnya Aku turut bahagia mengikuti pawai obor ini. Kupegang tangan Ayah erat sekali, aku sudah tak sabar menyambut hari besok. Hari Raya Idul Fitri.


Sebuah Cerpen Tanya yang Diinginkan

 

Tanya yang Diinginkan

Karya Trisnawati

Diam-diam Mariani menangis lagi. Setiap kali ia berdiri di depan wastafel dengan tumpukan perabotan kotor yang beraroma basi dan busuk itu, ia tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Gorden merah muda di jendela dapur hari itu diam, hanya suara api kompor yang menyala, didih air di panci sayur bening, dan gemerisik minyak panas di tubuh ikan lele yang sedang digoreng. Mariani mengulurkan tangannya di keran air, memutar kenopnya, lalu cusss….air keluar membasahi perabot kotor di depannya. Semakin deras air jatuh, semakin deras pula air matanya.

“Jika begini, kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan yang harus serba bisa?” bisiknya.

Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi minyak mendesis dan aroma lele yang mulai gosong.

Mariani mematikan kompor. Ia berdiri diam di antara asap tipis yang mengepul, menatap noda kuning lemak yang mengeras di tepi wajan. Tangannya gemetar, bukan karena dingin. Di luar, dari balik dinding ruang tengah, terdengar suara tembakan dan ledakan dari layar ponsel Husin disertai sesekali gerutuan suaminya itu ketika kalah dalam permainan.

Malam itu Husin tidak bertanya apakah makan malam sudah siap. Ia tidak bertanya apakah Mariani sudah pulang dengan selamat. Ia bahkan tidak mendongak ketika Mariani lewat di depannya sambil membawa tas kerja yang masih tersandang di bahunya.

***

Mariani sudah sering berceramah di depan suaminya, Husin. Sebisanya, dengan bahasa yang paling halus dan baik. Mariani meminta kepada suaminya untuk berhenti bermain game dan mulai membantunya di rumah mengerjakaan pekerjaan domestik.

“Kita sama-sama kerja toh, Mas. Kamu capek, aku juga capek. Bedanya kamu capek bisa tiduran main game. Lah aku capek mesti ngurusin semua ini sendiri.”

Husin hanya diam, acuh, dan terus menggeram karena gamenya hampir kalah. Tak sedikitpun menggubris keluh kesah istrinya. Lagi-lagi Mariani hanya diam dengan gemuruh di dadanya. Lalu perlahan ia mulai mengerjakaan pekerjaan yang wajib untuk perempuan itu. Memasak, memandikan anaknya, membersihkan piring dan pakaian kotor, menyapu, hingga menyikat lantai WC dan kamar mandi. Di kala itulah Mariani mengingat tentang ibunya, seorang IRT yang mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Ibunya memasak tiga kali sehari, dibantu Mariani yang ketika itu telah beranjak remaja. Dari ibunya Mariani banyak belajar tentang pekerjaan rumah tangga.

“Kamu harus bisa mengurus rumah, karena kita tidak tahu kemana perjalanan hidup akan membawa langkahmu. Suatu saat bisa jadi kamu tinggal di rumah orang lain”. Begitu kata ibunya, Mariani yang masih polos tentu saja mengiyakan.

Tapi kini, tuntunan perempuan tidak hanya mengurus rumah. Bayangkan, ketika hanya menjadi IRT orang-orang akan bersenandung dengan sumbang tentangnya. Menyebut perempuan hanya bisa menghabiskan uang suami. Perempuan yang tidak produktif. Apalagi? Banyak. Semua dibebankan kepada perempuan. Lalu saat ia berkerja, beban itu tetap ada menggantung dipundaknya. Ia pun harus pandai mengurus rumah, memasak, merawat anak, dan lain-lain.

“Aku benci kesetaraan gender! Aku benci emansipasi!”

Di saat lelah memuncak, setelah pulang berkerja seharian dan pekerjaan rumah telah menantinya, Mariani semakin terdesak di dalam emosinya. Kemarahan dan kekecewaan itu tentu saja tak berarti apa-apa, karena kalau bukan dirinya siapa lagi? Siapa yang akan menjadi cahaya di rumah ini? siapa yang akan menjadi sandaran bagi buah hatinya yang semata wayang itu? Lagi-lagi Mariani menangis di dalam diam, di dalam sesak dadanya.

Ia pernah mencoba bercerita kepada ibunya, tiga bulan lalu, ketika ibunya berkunjung dan kebetulan melihat Mariani yang baru pulang kerja langsung masuk dapur sementara Husin duduk santai menonton televisi.

"Mar, lelaki memang begitu. Sabar. Yang penting suamimu tidak main perempuan, tidak mabuk, nafkah cukup."

Mariani diam. Ibunya yang mengajarkannya untuk kuat, kini mengajarkannya untuk diam. Dan Mariani tidak tahu melawan siapa lagi.

Lalu bagaimana dengan Husin, suaminya?

Husin, sejak kecil hidup bergelimang harta, ia dimanja dan tak tahu menahu tentang pekerjaan rumahnya. Ia punya babu yang mengerjakan urusan bersih-bersih, memasak, mencuci, dan lain-lain. Orang tuanya pejabat pemerintah, sibuk dengan pekerjaannya. Mana sempat mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Sedang Mariani yang sederhana, selalu diajarkan untuk bertanggung jawab belajar menjadi perempuan seperti yang orang-orang inginkan.

Sore itu, Mariani mendapati kembali Husin yang sedang bermain game. Belum melepas baju kerjanya, Mariani telah berjalan menuju wastafel dan menghidupkan keran. Ia mengambil pisau lalu membuka plastik bungkusan ayam potong yang dibelinya di pasar sebelum pulang. Ia diam sejenak, lalu menarik napas panjang. Rautnya tampak lelah, raganya ringkih karena seharian berkerja. Di saat itulah pikirannya berbicara, tapi tak satupun yang ia keluarkan.

“Ya Tuhan jika begitu melelahkannya hidupku, ambil aku Tuhan. Aku tak sanggup lagi. Suamiku mengacuhkanku, tak pernah menanyakan tentang keadaanku, kesakitanku, lelahku!”

Mariani menangis, menangis sangat keras. Tapi lagi-lagi hanya di dalam diamnya. Tangannya terus mencincang daging ayam di depannya.

Pletak…pletakk….cessss…” darah mengalir deras. Mariani terus mengacungkan pisaunya tanpa peduli. Namun rasa perih menyadarkannya, ketika itu jari telunjuknya telah terpisah dari tangannya. Mariani menjerit.

“Mas Husiinnnnnn, tolong…tanganku…!!!”

“Ada apa Mar? Astaga….Mar, kok kau teledor sekali!!!!”

Mendengar itu tangis Mariani semakin pecah. Bagaimana bisa? Suaminya masih menyalahkannya atas semua yang terjadi hari itu.

***

Mariani meraung-raung sambil memegang tangannya yang berdarah. Keringatnya mengucur, tak hanya air mata. Seluruh tubuhnya basah. Ia tersentak saat tubuhnya digoyang-goyang begitu hebat oleh seseorang.

“Mar, Mar, hei, sadar!!! Kenapa sih akhir-akhir kau sering mimpi buruk! Aku jadi tidak bisa tidur nyenyak gara-gara kau!”

Husin beranjak dari ranjang lalu keluar sambil membanting pintu kamarnya. Apa yang terjadi pada Mariani? Dia hanya bisa menangis menahan sesak di dadanya. Betapa buruknya mimpi itu, tapi lebih buruk lagi mendengar protes suaminya. Mariani teringat pada tokoh Yeong-hye di buku The Vegetarian yang pernah dibacanya.

“Apakah aku gila?”

Mariani berlari ke cermin. Ia menatap wajahnya yang semakin kisut dan tua. Warna hitam di bawah matanya semakin tebal. Ia ingat betul bagaimana wajahnya sepuluh tahun lalu pipi yang masih berisi, mata yang belum cekung, senyum yang tidak perlu diperjuangkan.

Mariani tak ingin hidupnya berakhir seperti Yeong-hye.

“Tidak, aku tak mau berakhir gila!

Mariani terisak, namun air matanya tak pernah jatuh. Ia kembali menatap wajahnya di cermin, ia menangis tanpa air mata. Mariani mengambil pensil alisnya, lalu menusukkannya berkali-kali ke mata kanannya. Perih di matanya tak mengucurkan air mata, tetapi cairan berwarna merah berbau amis seperti daging ayam yang dipotongnya, seperti ikan yang diiris-irisnya. Tak puas ia kembali menusuk mata kirinya. Hening, Mariani tak lagi memanggil nama suaminya, anak semata wayangnya, kini ia benar-benar merasa sendirian. Tak ada lagi cahaya, hanya kegelapan. Kini air mata pun telah berganti menjadi darah kekecewaan dan kehancuran. Ia mencium aroma, ya aroma dapur, aroma piring kotor, aroma pakaian kotor, aroma WC dan kamar mandi yang belum disikat, aroma debu di lantai yang belum disapu. Perlahan Mariani menarik sprei tempat tidurnya, di dalam kegelapan ia mengikatnya di ventilasi pintu, lalu menggantung dirinya sendiri.

Tamat

 

 

Selasa, 08 Juli 2025

 

TAMPUI

Karya Trisnawati

Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu siluet padam. Lampu menyalakan cahaya temaram, seolah senja yang berkepanjangan.

(Monolog dimulai dengan Inai memasuki panggung perlahan, memakai tas ransel di punggung, di tangan memegang sebuah foto yang tidak diperlihatkan kepada penonton. Di panggung terdapat tunggul-tunggul kayu yang telah ditebang)

Tampui, Tampui, Tampui, … sahabatku satu-satunya yang tersisa. Apakah kau masih di sini, ikut menyaksikan tanah leluhur kita perlahan menghilang. Apakah kau merasakan apa yang kurasakan? Sunyi yang menganga, menggantikan riuh rendah burung dan pekik kera?

(Ia menghela napas berat, melipat foto kembali dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu berjalan mengitari panggung dengan sedih seolah sedang mencari sesuatu)

Dulu… dulu di sini adalah surga. Hutan lebat membentang sejauh mata memandang. Pohon-pohon menjulang gagah, akarnya menghujam bumi, menjaga tanah kami tetap kokoh. Aku ingat betul, bagaimana… (matanya menerawang) …Umai berpesan kepadaku.

(Inai menyentuh tunggul pohon yang tersisa, meletakan tas ransel, lalu berubah menjadi Ibu Inai)

Inai anakku, Tanah ini… tanah leluhur kita. Di setiap jengkalnya mengalir darah nenek moyang. Hutan bukan sekadar tentang pohon. Ia adalah jantung kampung kita, penyeimbang kehidupan. Di balik setiap helai daun, di balik setiap kicauan burung, ada harmoni yang rapuh. Jika mereka merusaknya, kita akan kehilangan segalanya. Udara bersih, air jernih, tanah subur… semua akan pergi.

Aku berharap kau, Inai. Teguh menjaga warisan nenek moyang kita ini. Terutama Tampui, Inai. Jagalah Ia. Jagalah Inai.

(Ibu Inai berubah menjadi Inai kembali. Musik sedih mengalun. Inai menatap kosong ke arah penonton. Lalu mengambil kamera di dalam tasnya, memotret, memandang hasil potretnya dan menangis)

Maafkan aku Umai…Maafkan Aku…aku tidak bisa menemukan Tampui di sini Umai…Tampui menghilang Umai…

(Bunyi buldozer mencabik-cabik, suara-suara alat berat, mesin-mesin pemotong kayu terdengar memekakkan telinga. Inai berlari kesana-kemari ketakutan dan bingung. Inai berubah menjadi kontraktor perkebunan sawit)

(Berbicara di telepon) Ya Pak, beres!! Clear Pak! (Mematikan telepon) Tanah ini sudah kami beli! Cepat pergi, sebelum buldoser kami datang meratakan semuanya! Ini tanah produktif (Sambil memasukkan hp) Sawit akan tumbuh subur di sini, menghasilkan pundi-pundi uang yang jauh lebih besar.

(Inai Mengepalkan tangannya, namun suaranya tetap lirih)

Tanah ini… tanah leluhur kami. Di mana Tampui?  Kalian telah membunuhnya? Ia adalah jantung kampung kami, penyeimbang kehidupan.

(Kontraktor menghentakkan kaki, dan menatap tajam)

Omong kosong! Itu hanya mitos kuno. Dunia sudah berubah. Sekarang adalah era modern, era keuntungan. Hutan hanya menghalangi kekayaan yang terpendam di bawahnya. Emas, batu bara… semua akan kami gali untuk kemajuan! Tampuimu itu hanyalah sebuah penghalang!

(Inai mengerang, penuh amarah)

Manusia serakah… apakah telingamu tuli pada rintihan bumi? Apakah matamu buta pada air mata sungai yang mengering? Tampui adalah paru-paru kehidupan, kaki-kakinya adalah penahan dari amarah banjir. Jika kalian terus membunuhnya tanpa henti, keseimbangan akan hilang. Badai akan mengamuk, tanah akan longsor, dan kalian sendiri yang akan menuai bencana.

(Kontraktor tertawa mengejek)

Bencana? Itu hanya omong kosong! Kami punya teknologi, kami punya uang untuk mengatasi semuanya! Cepat atau lambat, semua hutan Kalimantan akan menjadi perkebunan dan tambang. Itu adalah keniscayaan! Dan Tampuimu hanya akan menjadi dongeng belaka.

(Musik tegang menyala. Inai mengeluarkan foto dari dalam tasnya.)

Ini, ini Tampui! Di mana kalian membuangnya. Dimana!!! (marah bercampur tangis putus asa) kembalikan dia.

(Inai mengais-ngais sisa-sisa tunggul pohon)

Kembalikan dia pada tanah ini. Tanah leluhur kami. Hutan adat kami.

(Inai putus asa karena tidak dapat mengenali Tampui lagi, dan tidak tahu di mana menemukan Tampui lagi. Lalu mengambil foto yang terjatuh di tanah)

Kau saksi bisu, Tampui. Kau melihat bagaimana mereka datang. Dengan janji-janji manis tentang kemajuan, tentang kehidupan yang lebih baik. Mereka bilang, tanah kami tidak produktif, hanya hutan belantara yang menghalangi kemajuan.

(Meletakkan foto kembali. Dengan nada marah)

Kemakmuran macam apa ini? Kemakmuran yang merenggut hutan kami? Kemakmuran yang menggusur rumah kami? Mereka datang dengan mesin-mesin raksasa, dengan suara bising yang memekakkan telinga, merobek-robek jantung bumi Kalimantan. Dalam sekejap, hutan yang kami jaga selama bergenerasi, rata dengan tanah.

(Inai terduduk di samping foto, air matanya mulai menetes. Suaranya bergetar memandangi foto yang lusuh)

Aku tidak bisa melindungimu, sahabatku. Kekuatanku sudah habis. Hatiku hancur berkeping-keping melihat kehancuran ini. Aku hanya bisa berduka di sini. Merasakan kesunyian yang mencekam, kesunyian yang akan menjadi teman setia tanah ini setelah kau tiada.

(Inai memeluk foto dengan erat.)

Kau adalah Tampui terakhir. Setelah kau pergi, tidak akan ada lagi yang mengingat manis asam buahmu, tidak akan ada lagi yang berteduh di bawah rindangnya daunmu. Kau akan menjadi legenda yang terlupakan, seperti hutan kami yang hilang ditelan kerakusan.

(Inai mengangkat kepalanya, menatap ke depan dengan tekad yang membara.)

Biarkan mereka membangun gedung-gedung tinggi mereka. Biarkan mereka menghitung keuntungan mereka. Tapi mereka tidak akan pernah bisa merampas apa yang ada di dalam hati kami. Mereka tidak akan pernah bisa mencabut akar yang telah tertanam begitu dalam. Selama aku masih bernapas, selama jantungku masih berdetak.

(Perlahan, foto diperlihatkan kepada penonton)

Dia adalah Tampui. Suara Tampui akan terus bergema di tanah ini. Suara perlawanan. Suara kehidupan.

(Suara gemuruh mesin tambang terdengar semakin dekat, bercampur dengan isak tangis Inai)

SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 03 Februari 2025

Kumpulan naskah monolog

 Pahuni

Karya Trisnawati

(SMK NEGERI 3 SAMPIT)

(TOKOH DI DALAM SILUET MENUNJUKKAN GESTURE YANG TEGANG DAN TAKUT)

(SETENGAH BERTERIAK) Aahhh….apa yang harus aku lakukan sekarang. (MENGGIGIT JARI-JARINYA, KARENA GUGUP) Aku tidak sengaja melakukannya. Rasanya aku sudah memperhatikan kendaraan lain yang melintas di jalan ini. Aku tidak ugal-ugalan…!!!! (SETENGAH BERTERIAK DAN KESAL)

(TOKOH KELUAR DARI SILUET.LEMAS. TERKULAI.)

Bagaimana kalau ada yang melihatku menabraknya? Lalu menyeretku ke ketua adat untuk membayar Jipen? Dan jika tidak mau, mereka akan menuntutku? Ahhhhhhhh…..(MENGERANG) ini benar-benar menakutkan!!!

Bagaimana kalau ayah dan ibuku tahu? Mereka pasti akan dimintai jipen karena perbuatanku. Lalu mereka marah, dan menyita sepeda motor plus handphone-ku!

(KARAKTER BERUBAH MENJADI IBU YANG PENUH AMARAH)

Lamiang…Lamiang…Kembalikan pada ibu handphone-mu! Kau tidak menjadi lebih pintar karena memilikinya! Justru menjadi sial! Kau tahu berapa banyak kita harus membayar Jipen karena kau menabraknya?

(CEMAS)

Apa yang aku pikirkan? Aku tidak bermaksud membunuhnya. Aku tidak sengaja. Benar-benar tidak sengaja.

(KARAKTER BERUBAH MENJADI MAHKLUK LAIN)

(MENGERANG) Ikau puna dia buah-buah, ikau mahapan sapeda motor sambal mausik HP-muh. Kilen ampi ikau tau mananture melai sakitarmu?? Hahahahahha

(TERKEJUT, KARAKTER BERUBAH MENJADI TOKOH)

Astgaaa…apa yang terjadi! Sial! Aku baru ingat, waktu itu…aku pulang dari sekolah dengan mengendarai sepeda motor sambil membalas pesan WA dari temanku di grup chat. Tiba-tiba…dia melintas, dan aku menabraknya!!!

(TOKOH MENANGIS TERSEDU-SEDU)

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana ia meregang nyawa.

Uuuuuu ik ik…(BERTINGKAH SEPERTI ANJING YANG SEKARAT)

Lalu aku menyembunyikannya, karena aku takut ada orang yang mengetahuinya.

(TERLIHAT BERPIKIR) tadi aku berkunjung ke rumah teman, setelah kami mengobrol, Neneknya menawariku untuk makan pulut dan minum kopi. Tapi aku menolaknya, karena aku sudah kenyang, dan ingin segera pulang. (KARAKTER BERUBAH MENJADI NENEK-NENEK TUA)

Esu, muse isut pulut dengan kopi tuh mangat dia pahuni!!!

(KARAKTER BERUBAH MENJADI TOKOH)

Apakah karena itu?

Jangankan menyicipinya, bahkan aku tidak menyentuhnya!! Apakah aku pahuni? Sehingga aku mengalami kesialan??? Tunggu sebentar, (MENGAMBIL HANDPHONE DARI DALAM TAS SEKOLAHNYA, DAN MENGETIK SESUATU)

Nah ini dia….(MEMBACA TULISAN DI HANDPHONENYA)

Pahuni atau kepuhunan adalah salah satu kepercayaan Dayak yang menjadi sebab seseorang mengalami penyakit atau kecelakaan. Biasanya pahuni terjadi apabila seseorang tidak mau memakan atau mencicipi makanan tertentu.

Ya…ya…dulu sepupuku, pernah hampir mati kecelakaan karena ia pergi saat ditawari makan.

Tapi, waktu itu dia yang hamper ditabrak. Bukan me..na….na..brak… (TIBA-TIBA WAJAHNYA BERUBAH MURUNG KEMBALI) tapi kan, ini juga didebut dengan kecelakaan!!!! AHHHHHHHH

Bagaimana kalau ia anjing jelmaan! Jangan-jangan, dia jelmaan bahuntai? Aapa?! Bagaimana kalau benar dia jelmaan bahuntai??

(KEMBALI MENGETIK SESUATU DI HANDPHONE-NYA)

Didalam kepercayaan Dayak Ngaju dikenal suatu roh yang berbentuk anjing disebut BA-HUN-TAI. Konon BAHUTAI ini dapat dipelihara oleh seseorang dengan syarat bahwa ia harus merawat dan memberi makan kepada Anjing ini.

Hah (TERKEJUT) tidak..tidak mungkin!

Aku tidak sengaja menabraknya. Bagaimana kalau pemiliknya, mengirimkan bahuntai yang lain untuk mencelakaiku. Ya Tuhan, ini sangat menakutkan!!

(BERJALAN KE ARAH KARUNG, DAN MENCOBA MEMBUKANYA, tapi tidak jadi)

Tidak!! Dia bukan jelmaan Bahuntai. Tapi…kalau misalkan bukan, aku pasti tetap akan dijipen! Ahhhhhh….ini membuatku gila!!!

Ya Tuhan, apakah ini hukuman untukku karena aku lalai dalam berkendara? Karena aku asyik bermain handphone sambil mengendarai sepeda motor? Apakah ini terjadi karena aku tidak mengindahkan nasihat orang tua tentang pahuni???

(DUDUK BERSIMPUH MENGHADAP PENONTON)

Aku mohon, jangan hukum aku?? Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengindahkan nasihat lagi, aku berjanji tidak akan bermain handphone sambil berkendara lagi. Tolong, jangan hukum aku. Maafkan lah aku.

Huuuuu…huuu…… (MENANGIS)

TAMAT

Keterangan terjemahan Bahasa Dayak di dalam naskah Pahuni.

1.Esu : Cucu

2.Pulut : Ketan

3.Pahuni: Sial

4.Ikau puna dia buah-buah, ikau mahapan sapeda motor sambal mausik HP-muh. Kilen ampi ikau tau mananture melai sakitarmu : Kau memang tidak berhati-hati, kau memaikan HP-mu saat mengendarai sepeda motor. Bagaimana bisa kau memperhatikan sekitarmu.

5.Esu, muse isut pulut dengan kopi tuh mangat dia pahuni: Cu, cicipilah sedikit ketan dengan kopi itu, nanti kau pahuni.

Kumpulan naskah monolog

 

Buaya

Karya Trisnawati, M.Pd.


Panggung berlatar di pinggir sungai dengan sebuah bangku. Musik menegangkan berbunyi. Seseorang muncul sambil berteriak histeris. Karena ia hampir dimangsa seekor buaya di Sungai Mentaya.

Buaya…Buaya….tolong…tolong… (panik dan hampir menangis ketakutan).

Tolong aku…ada…ada buaya…di Sanaa…(menangis histeris sambil menunjuk ke arah sungai).

Ya Tuhan…ini mengerikan. Ini sudah kejadian yang…ahhh aku lupa. Tapi seingatku, sudah sering terjadi peristiwa manusia dimangsa buaya di sini. Ya di desa ini. Entah bagaimana buaya-buaya itu muncul di Sungai Mentaya ini. (bergidik)

Seketika wajahnya berubah murung. Diiringi musik murung.

Sebenarnya, apa yang terjadi?? Beberapa tahun belakangan ini. Manusia sering dikejutkan dengan teror buaya. Bahkan, beberapa korban yang diserang buaya ada yang sampai meninggal dunia. Si Jagau, seorang santri yang tinggal di Desa Jaya Karet, mati diterkam buaya saat sedang mandi di sungai. Lalu, Ibu Harati, jenazahnya tidak pernah ditemukan lagi hingga sekarang.

Buaya-buaya itu benar-benar memakan manusia! (Keheranan dan bergidik)

Padahal, dulu ada mitos yang berkembang tentang manusia yang kawin dengan buaya, bernama Tambi Winei. Waktu itu aku masih kecil, tapi aku sudah dapat mengingat dengan jelas, bagaimana orang-orang di desa panik mencari Tambi Winei yang telah hilang 3 hari.

Winei…Winei…di mana kamu? Winei…Winei….di mana kamu?? Pulanglah Winei!!! Winei! Winei!

Setelah 3 hari, Tambi Winei ditemukan di atas pohon kelapa. Sejak kejadian itu Tambi Winei menjadi kuat dan sakti, bahkan ia bisa mengobati orang-orang yang sakit. Konon, Tambi Winei mendapat kesaktian dari suaminya yang berwujud buaya.

Oh Tambi Winei, bantulah aku menghentikan terror buaya itu? (sedih) Sudah berhari-hari aku tidak bisa mencari ikan. Hari ini, aku, hampir saja mati dimakan buaya itu.

Saat aku melemparkan jala, tiba-tiba buaya itu menyambarnya. Mungkin dia mengira jalaku adalah hewan yang terjatuh, mungkin dia pikir itu adalah seekor tupai, atau…kera. Aku panik, aku menarik jalaku sekuat tenaga. Tapi, dia menggigitnya begitu keras. Kupukuli kepalanya. Berkali-kali. Bersyukur aku menjala di tepi sungai dan berpegangan pada kayu-kayu di sana, seandainya aku berada di perahu, mungkin aku turut tercebur bersama jalaku.

Tokoh terlihat nampak berpikir. Sambil memperhatikan jalanya, lalu merapikannya.

Selain itu, di masyarakat Dayak juga berkembang mitos yang disebut firasat buaya. Yaitu mitos yang menandakan seseorang akan mati dimakan buaya. Katanya, firasat buaya ini bisa dihilangkan atau diobati.

Tapi, aku tidak percaya bahwa teror buaya saat ini  berhubungan dengan mitos-mitos itu.

Enam orang mati dimakan buaya dalam beberapa tahun ini. Dan empat puluh lainnya terluka.

Tiba-tiba tokoh seperti orang ketakutan, dia berteriak histeris seolah melihat buaya-buaya itu datang dan ingin memangsanya.

Aa…aapaa….tidak mungkin!!! Hei…pergi kalian dari sini. Hussh…huss….

Tolong…tolong aku….ada buaya…ada buaya di sini…jangan makan aku….aku hanya ingin mencari ikan…aku butuh makan…pergi…pergi dari sini….

Pergi kalian…pergi….bukan aku…bukan aku pelakunya…apa…hutan? hewan? makanan? Apa maksudmu?

(Terduduk lunglai) pergi dari sini….(menangis)

(Marah) Lihat…buaya-buaya itu…sudah tidak segan lagi menyerang manusia. Bagaimana aku dapat dengan tenang mencari ikan di Sungai ini? Orang tuaku sudah tua, dan aku tidak punya pekerjaan lain selain mencari ikan dan menjualnya untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolahku.

Sejak dulu masyarakat Dayak sangat bergantung dengan hasil alam. Mencari ikan di Sungai. Berladang di hutan. Mencari buah hutan yang dapat dimakan. Ayahku, pernah memanen buah hutan dan menjualnya. Ada banyak jenis buah hutan yang bisa dimakan di sini. Tapi kini…

Tokoh berubah menjadi Pimpinan Perusahaan Kelapa Sawit.

Hahaha…bakar lahan-lahan itu. Lalu tanami dengan kelapa sawit. Kita harus mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Dan satu lagi, buang limbah dari pabrik, alirkan ke perairan setempat.

Apa!! Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin mencemari sungai-sungai itu? Kalian akan membunuh ikan-ikan di sana. Jika ikan-ikan mati, buaya-buaya yang ada akan kehilangan makanannya.

 Limbah yang dibuang hanya sedikit, dan lahan yang dibakar akan diganti dengan Perkebunan sawit.

Tokoh berubah menjadi seekor monyet. Mendeskripsikan tentang bagaimana hewan-hewan di hutan yang telah kehilangan makanan alamiah mereka, hingga tempat tinggalnya.

Tolong, tolong, jangan bakar lahan itu, biarlah buah-buah hutan itu tumbuh di sana. Buah itu adalah makanan kami. Jangan cemari perairan kami. Kami minum di sana.

Tokoh menangis, sedih. Dan berbicara kembali dengan raut sedih dan kecewa.

Orang-orang itu telah merusak alam kami, hutan kami. Perkebunan sawit di mana-mana, pertambangan merajalela, pencemaran, pembuangan limbah di Sungai. Hutan semakin lama semakin tergeser. Buah-buah hutan telah langka, hewan-hewan entah kemana? Itulah sebabnya…Buaya-buaya itu meneror dan memangsa manusia. Karena mereka telah sulit menemukan makanannya.

Lalu, pada akhirnya, tidak hanya buaya, orang-orang yang hidupnya bergantung pada hasil alampun juga turut menelan akibatnya. (marah) Sementara, mereka, orang-orang itu kenyang menikmati uang dari hasil merusak alam.

Tokoh berubah murung dan sedih.

Bagi kami, suku Dayak. Hutan, bumi, tanah, dan Sungai adalah Injam Tingang. Pinjaman Ranying Hatalla. Sudah sepantasnya, kita merawat dan menjaganya.

Tokoh berjalan keluar panggung.

TAMAT

 

Terjemahan istilah atau kosakata Bahasa Dayak:

a. Tambi artinya Nenek

b. Injam tingang artinya titipan/ sementara

c. Ranying Hatalla artinya Tuhan yang Maha Esa

 

 

Naskah monolog kearifan lokal

 

HUTAN MUNGKU

By Trisnawati, S.Pd.

 

Bayangan seorang laki-laki sedang menebang pohon, diiringi suara erangan dan musik menegangkan.

“Aarrrghhhhh……” (Sesekali mengusap keringat di dahinya, lalu melanjutkan Kembali mengayun kapaknya ke batang pohon. lampu siluet padam)

Sosok tinggi besar muncul di balik siluet. Mengerang penuh amarah!

Ela ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku!! Gggrhhhhh!!!!  (lampu siluet padam)

Sosok Perempuan dengan lampu tembok di tangannya muncul. Dia berteriak memanggil anaknya, penuh kesedihan.

“Lamiang, Lamiang, di mana kamu Nak?? Pulanglah. Jangan tinggalkan Umai. Kau anakku satu-satunya.” (Semakin menangis terisak).

“Balaku dohop…” (seorang remaja putri berjalan tertatih keluar dari balik siluet. Terisak sambal menampakkan wajah ketakutan. Berjalan ke depan panggung, lalu berkeliling sambal melihat keadaan sekitar).

“Setelah anakku ditemukan, dia jadi sering berteriak-teriak meminta tolong seperti orang yang sedang ketakutan. Kami Sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari penyebab dan menyembuhkannya. Tapi, sampai sekarang belum membuahkan hasil” (Menatap kosong kepada penonton, dengan raut yang menyedihkan penuh kebingungan.)

“ Waktu itu, tiga hari ia menghilang. Kami pun melakukan ritual manajah antang agar diberikan petunjuk. (Tokoh mengambil property berupa ancak)

(Musik Dayak berbunyi)

Tokoh mulai melakukan gerakan tari yang mendeskripsikan sebuah ritual.  (musik berhenti, Tokoh tersungkur dilantai. Penuh kesedihan).

“Tulah? Yah Kata orang-orang anakku terkena tulah.” (menangis tersedu)

“Tapi, apa yang terjadi!?? Apa?”

“Umai, Umai, oh Umai, balaku dohop, aku…..umai….” (Meringis ketakutan sambil menatap pilu ke arah yang tidak menentu, tatapan mata liar penuh tekanan). “Waktu itu, aku ingat betul. Bapak datang diikuti sesosok tinggi besar” (meloncat-loncat ketakutan dengan tatapan nanar) “Di saat yang bersamaan dia berkata, jangan ganggu hutan adatku, jangan ganggu rumahku, arrhhhh…apa maksud bue? Aku, aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan”

“Aku kasihan melihatnya, setiap hari dia berteriak-teriak, selain mengucapkan tolong dia juga berteriak, kayu, kayu”

“Kayu, kayu, dohop aku. Dohop aku!” (Berteriak-teriak, lalu menangis, dan ketakutan)

(Tiba-tiba, berubah menjadi seorang nenek-nenek, terbatuk-batuk).

“Hutan Mungku(terdiam)

“Para leluhur sangat menjaga keberadaan hutan ini, sebagai penyeimbang ekosistem alam. Maka, kami menanam kayu-kayu. Suatu hari, kayu-kayu di hutan Mungku dicuri oleh Temanggung Buleng. Sejak saat itu, hutan Mungku dikutuk agar tidak ada lagi yang mencuri kayunya. Barang siapa yang mencurinya, maka akan diganggu oleh para roh penunggu hutan”

“Ahhhhh” (wajah terkejut)

“Aku ingat sekarang, beberapa tahun lalu, suamiku menebang kayu di hutan Mungku. Waktu itu, aku melarangnya untuk menebang kayu di hutan mangku. Tapi dia bersikeras”

“Ah, tidak apa. Kata siapa hutan itu dikutuk? Kau meada-ada saja! Hahaha (Tertawa lepas)

“Tapi….dia tetap melangkahkan kakinya, diiringi kabut pagi dan suara burung gagak yang bersahutan. Sorenya dia pulang membawa kayu kayu dari hutan Mangku. Entahlah, dalam penglihatanku, mukanya pucat seperti orang ketakutan, dan lututnya bergetar, sampai-sampai aku bisa mendengarnya di telingaku.”

“Ahhhh aku lelah, dan kakiku lemas sekali”

“Kau…kau….apa yang kau lakukan, kau menebang kayu dari hutan Mungku? Sudah kukatakan hutan itu dikutuk. Keluarga kita akan celaka jika kau nekat mengambil kayu di sana!!”

“Eweh, eweh toh!!Eweh ikau!!! Umaiii…..balaku dohop umaiiii” (ketakutan)

“Jangan engkau mengganggu rumahku, jangan engkau mengambil kayu di tanahku.” (nada marah)

(tersungkur ke lantai, sambil menangis dan ketakutan, lalu berjalan ke belakang siluet, mengambil sebuah bibit pohon, dan menanamnya lagi sambal bersenandung)

Ela ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku!!

Tamat

 

  Keterangan terjemahan Bahasa Daerah

a.      Balaku Dohop = meminta tolong

b.     Tulah = kualat

c.      Umai = Ibu

d.     Eweh ikau = Siapa kau

e.      Bue = Kakek

f.      Ela ikau manderuh humaku, ela ikau mangandu kayu melai petakku = jangan engkau mengganggu rumahku, jangan engkau mengambil kayu di tanahku.

 

 


Puisi tentang persamaan gender

 

Tentang Kita

Karya: Trisnawati

 

Bukan tentang siapa yang berkuasa

Bukan tentang siapa yang berani bersuara

Bukan tentang siapa yang superior

Atau inferior

Tapi tentang

Siapa yang peduli?

 

Ruang-ruang kehidupan telah banyak menjawab

Ada ribuan problematika yang tumbuh

Ada jutaan ketimpangan yang berakar

Menjalari setiap waktu

Detik-detik yang membayangi Perempuan

Ia yang disebut dengan patriarki,

Kesetaraan gender, kekerasan, diskriminasi

Adalah jelaga yang mesti dihapus

 

Bukan tentang siapa yang berkuasa

Bukan tentang siapa yang berani bersuara

Bukan tentang siapa yang superior

Tapi tentang kita

Yang pantang menyerah menabuh genderang

Kemajuan peradaban

Menyalakan lilin-lilin dalam pekat

Hingga disebut, inilah Cahaya

 

 

 

Cerpen malam lebaran

  Malam Lebaran Karya Trisnawati Bulan telah merebak senyum di permukaan malam. Bayangnya memberikan pantulan cahaya indah pada remang malam...