Kerendahan hati macam apa yang tidak aku berikan?
Dalam keangkuhanku, aku merendahkan diri dengan menerimamu kembali, lalu memaafkanmu. Tentu saja itu berat bagiku, mengingat segala rasa sakit dan kecewa yang pernah kujalani.
Bagimu tentu cukup dengan permintaan maaf, tapi entahlah.
Mungkin aku belum sepenuhnya menjadi tulus, setelah aku berhenti setahun yang lalu.
Aku telah keluar dari ruang-ruang ketulusan itu. Ketulusan hanyalah harapan sia-sia.
Bahkan jika dianalogikan, ia hanyalah fatamorgana di tengah padang pasir.
Jika aku minta berhenti, mau kah kau berhenti?
Berhenti membuat luka pada sebuah hati, meski itu bukan aku?
Berhenti menanam harap pada tanah meski itu bukan tanah milikku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar