Selamat datang di ruang baca sastra, cahaya kecil di ruang imajinasi saya. Rumah bagi keresahan dan dialog pikir yang dingin dan biru.
Jumat, 12 Juni 2026
Cerpen Warung Soto Amang Ali
Sabtu, 06 Juni 2026
Cerpen malam lebaran
Malam Lebaran
Karya Trisnawati
Bulan telah merebak senyum di permukaan malam. Bayangnya memberikan pantulan cahaya indah pada remang malam di atas sungai yang mengaliri kampungku. Gemericik sungai yang tenang mengalunkan lagu-lagu syahdu pertanda kekuasaan-Nya yang begitu besar. "Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar...lailahaillallahuallahuakbar, Allahuakbar walillahilham". Gema takbir yang begitu merdu mampu menggetarkan seluruh jiwa yang mendengarnya. Yah, malam ini adalah malam Hari Raya Idul Fitri. Malam yang ditunggu-tunggu semua Umat muslim di belahan dunia mana pun. Tanpa terkecuali di kampung kecilku yang sederhana ini.
Obor yang dibuat dari bambu pun telah dipasang di depan-depan rumah kami, maklumlah di kampung kecil seperti ini hanya sebagian orang berlistrik. Itu pun menggunakan mesin dumping. Begitu juga dengan rumahku, hanya remang-remang yang terlihat karena memang kami tak berlistrik. cahaya pelitalah yang menemani malam-malam kami.
"Tari!" Ayah memanggilku, kulihat Ayah siap dengan koko putih lengkap dengan sarung berwarna hijau kotak-kotaknya. Tidak lupa peci hitam lusuh yang selalu melekat di kepalanya. Ayah kepala sekolah di kampungku. Ayah bertugas sejak 15 tahun lalu. Kerutan di dahi Ayah pertanda bahwa Ayah orang yang suka berpikir dan agak pemarah. Ayah juga tegas dalam mendidikku, itulah sebab aku sangat menghormatinya.
Malam ini, aku diajak untuk mengikuti pawai obor menyambut hari raya Idul Fitri, yang sudah menjadi kebiasaan di kampung setiap malam lebaran. Pawai ini diikuti seluruh siswa di sekolah tempat Ayahku mengajar. Tapi tidak denganku, sebelumnya aku sudah menolak untuk mengikuti pawai obor, padahal Ayah sudah membuatkan untukku sebuah obor bambu. Aku lebih memilih tidur dikeremangan kamar dari pada harus berjalan keliling kampung untuk menyambut lebaran besok. Ayah mengatakan bahwa lebaran harus disambut meriah dan suka cita. Walau terpaksa, Aku berangkat mengenakan busana muslim berwarna merah muda lengkap dengan kerudung yang menutup kepalaku. Busana ini sudah menggantung di bagian kaki dan tanganku, maklumlah di kehidupan kami yang sederhana ini, Ayah dan Ibu tak sanggup untuk mengganti baju anak-anaknya setiap bulan. Terkadang, Ibu membelikan baju untukku hanya setahun sekali, itu pun disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Takbir masih menggema di mesjid kampungku, tawa ceria warga dan anak-anak menambah semaraknya malam lebaran ini. Bulan mulai merambah di separuh langit. Cahayanya terang benderang di tengah kegelapan kampung. Jalan-jalan terang dengan cahaya obor bambu. Aku masuk dibarisan anak-anak yang ikut pawai obor. Ayah maju ke barisan depan untuk mengomando, kupegang erat obor bambu yang kubawa. Takbir menggema lewat suara Ayah. Warga yang duduk di tangga-tangga rumah ikut melantunkan takbir. Dari wajah mereka kutemukan arti kemenangan itu. Seringkali mereka memberikan kami sepotong ketupat." Oh, ternyata mengikuti pawai obor menyenangkan." Aku berbisik pelan, hatiku mulai senang mengikuti pawai obor ini. Ayah masih tetap memberikan komando sesekali tangannya diangkat seperti orang berdoa. Dan kami mengikutinya.
Angin malam mulai merasuk tubuhku, dingin merambat perlahan tapi takbir masih berkumandang di mesjid dan di jalan kampung, bulan masih bersinar ketika terdengar jeritan yang memecah kesyahduan takbir. Aku terperanjat, langkah-langkah terhenti seketika. Desas-desus ketakutan mulai membuatku resah. Kulihat Ayah mulai mencari-cari asal jeritan itu. Seorang warga menghampiri Ayah.
"Ada apa Pak Guru? Siapa yang berteriak?" tanyanya dengan wajah yang ketakutan.
"Saya tidak tahu pak, tapi arah suaranya dari sana. Mari kita cek." kata Ayah dengan berani. Kulihat Ayah berjalan dengan Pak Danan, diikuti beberapa warga lain.
Jantungku berdegup kencang, apa gerangan yang membuat orang itu berteriak. Siapkah orang itu? Pawai obor dihentikan karena jeritan itu. Tapi nyala obor bambu masih setia menerangi. Dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba Ayah berlari ke arahku dengan sangat cepat diraihnya obor bambu yang kupegang. "Untuk apa Ayah?" Aku bertanya dengan kebingungan sekaligus takut.
" Ada maling di sana!" kata Ayah dengan yakin. Aku masih penasaran.
"Lalu, bagaimana? Mana Pak Danan dan yang lain Ayah?" Tanyaku.
"Mereka masih di sana, malingnya berhasil ditangkap". Lalu Ayah berlalu dari hadapanku.
"Hati-hati Ayah!" aku berteriak sambil memandang tubuh Ayah yang semakin menghilang di kegelapan malam.
Warga kampung heboh mendengar ada maling di malam lebaran. Untuk apa dia mencuri di malam lebaran? Aku bertanya-tanya penuh heran. Ingin rasanya aku menyusul Ayah, aku khawatir. Orang-orang mulai berlari ke arah datangnya suara tadi. Semakin banyak, dan semakin banyak, diikuti suara-suara "Hajar dia, pukul...hajar!". Aku semakin khawatir. Aku berlari mengkuti warga yang ramai ke arah suara itu. Aku penasaran dengan yang terjadi, terlebih ada Ayah di sana. Kusibak kerumunan, kucari Ayah. Di mana Ayah? Kucari maling seperti yang dikatakan Ayah tadi, tapi tak ada. Di mana maling itu?
Mataku tertuju ke arah sosok laki-laki berbaju hitam, wajahnya tertunduk lesu. Kulihat pucat wajahnya di keremangan malam. Gemeretak lututnya seakan bisa kudengar dengan getaran celana hitam yang dipakainya. Oh, apakah dia maling yang ditangkap itu. Lalu kutemukan Ayah di sana sedang berbicara dengan laki-laki itu. "Fiuh..." aku mendesah lega. Ayah baik-baik saja. Aku mendekat perlahan, menguping pembicaraan mereka. Apa yang akan dilakukan terhadap maling di malam lebaran itu.
Kulihat kemarahan di mata warga, termasuk Pak Danan, mereka tidak terima dengan perilaku laki-laki berbaju hitam itu. Pak Danan mengutuk perbuatan tak terpuji di malam lebaran itu, malam yang seharusnya diisi dengan takbir indah malah diributkan dengan kehadiran maling. Aku pun merasa kesal pada Maling itu, besok lebaran, untuk apa dia mencuri? Apakah setelah mencuri dia akan meminta maaf pada korbannya? Begitu mudahnya tanpa memikirkan sanksi agama dan moral yang dia terima. Hal ini membuatku geram. Ayah menjadi penengah dalam hal ini, Ayah mengkhawatirkan keselamatan si Maling sebab beberapa warga menginginkan si Maling untuk dihakimi dengan kekerasan.
"Sudahlah Pak Guru, kenapa tidak kita beri saja dia pelajaran sekarang" kata Pak Danan.
"Betul, betul!" beberapa warga yang mendukung Pak Danan berteriak. Aku ketakutan, dalam hati aku merasa kasihan pada si Maling mungkin dia punya alasan kenapa hal ini dilakukan.
Seseorang berlari menemui Ayah lalu membisikkan sesuatu padanya. Ayah mengangguk tanda mengerti. "Pak Warto, kenapa Anda melakukan ini?" Tanya Ayah pada si Maling yang ternyata adalah Pak Warto warga kampungku juga. "Saya tidak berniat mencuri pak, Saya hanya ingin mengambil bambu yang ada di sebelah rumah Bu Minah, karena saya ingin membuat obor bambu untuk anak saya. Demi Allah." Jawab Pak Warto dengan terisak.
"Ah, persetan, tak perlu membawa nama Tuhan untuk membela diri dari perlakuan bejatmu itu Warto" Pak Danan geram. Matanya merah hampir keluar.
"Tenang Pak Danan, lebih baik kita tanyakan hal ini pada Bu Minah. Bu Minah, apakah Ibu melihat bahwa Pak Warto memang ingin menyelinap masuk ke rumah Ibu?" Tanya Ayah pada Bu Minah.
"Tentu saja, dia menyelinap di samping rumah saya, ya pasti dia ingin mencuri!" Bu Minah menjawab dengan kesal.
Ayah terlihat berpikir hingga menambah kerut di dahinya, "Baiklah, untuk membuktikan apakah benar Pak Warto mencuri. Mari kita lihat pohon bambu itu. Kalau pohon bambu yang dipotongnya hanya satu ruas, berarti Pak Warto benar hanya ingin mengambil bambu, tapi kalau tidak ada, berarti Pak warto memanfaatkan pohon bambu itu agar bisa memanjat ke jendela Bu Minah." Ayah, Pak Danan, dan beberapa orang warga serta tokoh-tokoh kampung melihat pohon bambu yang dimaksud. Aku menunggu dengan rasa penasaran. Beberapa warga juga berdesas-desus penasaran.
Beberapa menit kemudian Ayah kembali. Bapak ketua RT maju ke depan. Beliau berdehem untuk mengambil perhatian warga kampung yang penasaran. "Saudara-saudara, dalam hal ini, Pak warto tidak bersalah pohon bambu yang telah dipotongnya memang hanya untuk dibuat obor, ini buktinya." Pak RT menunjukkan seruas pohon bambu yang telah dipotong pendek, seperti obor bambu yang dibuat Ayah untukku. Kerumunan sedikit demi sedikit membubarkan diri. Aku berlari menghampiri Ayah dan pulang bersama warga yang telah membubarkan diri.
Pak Warto berterima kasih pada Ayah. Pak Warto bercerita bahwa anaknya yang berusia lima tahun merengek untuk dibuatkan obor bambu, Ia ingin mengikuti pawai obor bersama kami. Mendengar cerita Pak Warto, aku merasa malu, mengapa Aku menolak ajakan Ayah untuk ikut pawai obor menyambut lebaran? Sementara anak Pak Warto begitu suka cita ingin mengikutinya. "Sekarang aku mengerti Ayah, maafkan Aku yang tak ingin bersuka cita menyambut lebaran ini." Aku menyesal. Harusnya Aku turut bahagia mengikuti pawai obor ini. Kupegang tangan Ayah erat sekali, aku sudah tak sabar menyambut hari besok. Hari Raya Idul Fitri.
Sebuah Cerpen Tanya yang Diinginkan
Tanya yang Diinginkan
Karya
Trisnawati
Diam-diam Mariani menangis lagi.
Setiap kali ia berdiri di depan wastafel dengan tumpukan perabotan kotor yang
beraroma basi dan busuk itu, ia tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Gorden
merah muda di jendela dapur hari itu diam, hanya suara api kompor yang menyala,
didih air di panci sayur bening, dan gemerisik minyak panas di tubuh ikan lele
yang sedang digoreng. Mariani mengulurkan tangannya di keran air, memutar
kenopnya, lalu cusss….air keluar membasahi perabot kotor di depannya.
Semakin deras air jatuh, semakin deras pula air matanya.
“Jika
begini, kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan yang harus serba bisa?”
bisiknya.
Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi minyak mendesis dan aroma
lele yang mulai gosong.
Mariani mematikan kompor. Ia berdiri
diam di antara asap tipis yang mengepul, menatap noda kuning lemak yang
mengeras di tepi wajan. Tangannya gemetar, bukan karena dingin. Di luar, dari
balik dinding ruang tengah, terdengar suara tembakan dan ledakan dari layar
ponsel Husin disertai sesekali gerutuan suaminya itu ketika kalah dalam
permainan.
Malam
itu Husin tidak bertanya apakah makan malam sudah siap. Ia
tidak bertanya apakah Mariani sudah pulang dengan selamat. Ia bahkan tidak
mendongak ketika Mariani lewat di depannya sambil membawa tas kerja yang masih
tersandang di bahunya.
***
Mariani sudah sering berceramah di
depan suaminya, Husin. Sebisanya, dengan bahasa yang paling halus dan baik.
Mariani meminta kepada suaminya untuk berhenti bermain game dan mulai
membantunya di rumah mengerjakaan pekerjaan domestik.
“Kita
sama-sama kerja toh, Mas. Kamu capek, aku juga capek. Bedanya kamu capek bisa
tiduran main game. Lah aku capek mesti ngurusin semua ini sendiri.”
Husin hanya diam, acuh, dan terus
menggeram karena gamenya hampir kalah. Tak sedikitpun menggubris keluh kesah
istrinya. Lagi-lagi Mariani hanya diam dengan gemuruh di dadanya. Lalu perlahan
ia mulai mengerjakaan pekerjaan yang wajib untuk perempuan itu. Memasak,
memandikan anaknya, membersihkan piring dan pakaian kotor, menyapu,
hingga menyikat lantai WC dan kamar mandi. Di kala itulah Mariani mengingat
tentang ibunya, seorang IRT yang mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Ibunya
memasak tiga kali sehari, dibantu Mariani yang ketika itu telah beranjak
remaja. Dari ibunya Mariani banyak belajar tentang pekerjaan rumah tangga.
“Kamu
harus bisa mengurus rumah, karena kita tidak tahu kemana perjalanan hidup akan
membawa langkahmu. Suatu saat bisa jadi kamu tinggal di rumah orang lain”.
Begitu kata ibunya, Mariani yang masih polos tentu saja mengiyakan.
Tapi kini, tuntunan perempuan tidak
hanya mengurus rumah. Bayangkan, ketika hanya menjadi IRT orang-orang akan
bersenandung dengan sumbang tentangnya. Menyebut perempuan hanya bisa
menghabiskan uang suami. Perempuan yang tidak produktif. Apalagi? Banyak. Semua
dibebankan kepada perempuan. Lalu saat ia berkerja, beban itu tetap ada
menggantung dipundaknya. Ia pun harus pandai mengurus rumah, memasak, merawat
anak, dan lain-lain.
“Aku
benci kesetaraan gender! Aku benci emansipasi!”
Di saat lelah memuncak, setelah
pulang berkerja seharian dan pekerjaan rumah telah menantinya, Mariani semakin
terdesak di dalam emosinya. Kemarahan dan kekecewaan itu tentu saja tak berarti
apa-apa, karena kalau bukan dirinya siapa lagi? Siapa yang akan menjadi cahaya
di rumah ini? siapa yang akan menjadi sandaran bagi buah hatinya yang semata
wayang itu? Lagi-lagi Mariani menangis di dalam diam, di dalam sesak dadanya.
Ia pernah mencoba bercerita kepada ibunya, tiga bulan lalu,
ketika ibunya berkunjung dan kebetulan melihat Mariani yang baru pulang kerja
langsung masuk dapur sementara Husin duduk santai menonton televisi.
"Mar, lelaki memang begitu. Sabar. Yang
penting suamimu tidak main perempuan, tidak mabuk, nafkah cukup."
Mariani diam. Ibunya yang mengajarkannya untuk kuat, kini
mengajarkannya untuk diam. Dan Mariani tidak tahu melawan siapa lagi.
Lalu
bagaimana dengan Husin, suaminya?
Husin,
sejak kecil hidup bergelimang harta, ia dimanja dan tak tahu menahu tentang
pekerjaan rumahnya. Ia punya babu yang mengerjakan urusan bersih-bersih,
memasak, mencuci, dan lain-lain. Orang tuanya pejabat pemerintah, sibuk dengan
pekerjaannya. Mana sempat mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Sedang
Mariani yang sederhana, selalu diajarkan untuk bertanggung jawab belajar
menjadi perempuan seperti yang orang-orang inginkan.
Sore itu, Mariani mendapati kembali
Husin yang sedang bermain game. Belum melepas baju kerjanya, Mariani telah
berjalan menuju wastafel dan menghidupkan keran. Ia mengambil pisau lalu
membuka plastik bungkusan ayam potong yang dibelinya di pasar sebelum pulang. Ia
diam sejenak, lalu menarik napas panjang. Rautnya tampak lelah, raganya ringkih
karena seharian berkerja. Di saat itulah pikirannya berbicara, tapi tak satupun
yang ia keluarkan.
“Ya
Tuhan jika begitu melelahkannya hidupku, ambil aku Tuhan. Aku tak sanggup lagi.
Suamiku mengacuhkanku, tak pernah menanyakan tentang keadaanku, kesakitanku,
lelahku!”
Mariani
menangis, menangis sangat keras. Tapi lagi-lagi hanya di dalam diamnya.
Tangannya terus mencincang daging ayam di depannya.
“Pletak…pletakk….cessss…”
darah mengalir deras. Mariani terus mengacungkan pisaunya tanpa peduli. Namun
rasa perih menyadarkannya, ketika itu jari telunjuknya telah terpisah dari
tangannya. Mariani menjerit.
“Mas
Husiinnnnnn, tolong…tanganku…!!!”
“Ada
apa Mar? Astaga….Mar, kok kau teledor sekali!!!!”
Mendengar
itu tangis Mariani semakin pecah. Bagaimana bisa? Suaminya masih menyalahkannya
atas semua yang terjadi hari itu.
***
Mariani meraung-raung sambil
memegang tangannya yang berdarah. Keringatnya mengucur, tak hanya air mata.
Seluruh tubuhnya basah. Ia tersentak saat tubuhnya digoyang-goyang begitu hebat
oleh seseorang.
“Mar,
Mar, hei, sadar!!! Kenapa sih akhir-akhir kau sering mimpi buruk! Aku jadi
tidak bisa tidur nyenyak gara-gara kau!”
Husin
beranjak dari ranjang lalu keluar sambil membanting pintu kamarnya. Apa yang
terjadi pada Mariani? Dia hanya bisa menangis menahan sesak di dadanya. Betapa
buruknya mimpi itu, tapi lebih buruk lagi mendengar protes suaminya. Mariani teringat
pada tokoh Yeong-hye di buku The Vegetarian yang pernah dibacanya.
“Apakah
aku gila?”
Mariani berlari ke cermin. Ia menatap wajahnya yang semakin
kisut dan tua. Warna hitam di bawah matanya semakin tebal. Ia ingat betul
bagaimana wajahnya sepuluh tahun lalu pipi yang masih berisi, mata yang belum
cekung, senyum yang tidak perlu diperjuangkan.
Mariani
tak ingin hidupnya berakhir seperti Yeong-hye.
“Tidak,
aku tak mau berakhir gila!
Mariani terisak, namun air matanya tak pernah jatuh. Ia kembali menatap wajahnya di cermin, ia menangis tanpa air mata.
Mariani mengambil pensil alisnya, lalu
menusukkannya berkali-kali ke mata kanannya. Perih di matanya tak mengucurkan
air mata, tetapi cairan berwarna merah berbau amis seperti daging ayam yang
dipotongnya, seperti ikan yang diiris-irisnya. Tak puas ia kembali menusuk mata
kirinya. Hening, Mariani tak lagi memanggil nama suaminya, anak semata
wayangnya, kini ia benar-benar merasa sendirian. Tak ada lagi cahaya, hanya
kegelapan. Kini air mata pun telah berganti menjadi darah kekecewaan dan
kehancuran. Ia mencium aroma, ya aroma dapur, aroma piring kotor, aroma pakaian
kotor, aroma WC dan kamar mandi yang belum disikat, aroma debu di lantai yang
belum disapu. Perlahan Mariani menarik sprei tempat tidurnya, di dalam
kegelapan ia mengikatnya di ventilasi pintu, lalu menggantung dirinya sendiri.
“Bunda…kok
belum bobo?” suara halus dan setengah mengantuk menyadarkan Mariani dari
lamunannya. Pantulan wajah putrinya, Tika, muncul di cermin, Ia tiba-tiba berdiri di belakangnya.
“Sayang,
sini bobo bareng bunda.”
Mariani
meraih tangan Tika, keduanya berbaring di ranjang yang sejak tadi membisu. Tika
tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya yang kecil bergerak mencari, dan ketika
ia menemukan tangan ibunya, ia menggenggamnya erat. Di bawah lampu kamar yang
redup kekuningan itu, ia akhirnya menangis. Kali ini bukan di dalam diam. Tangisnya
pelan, hati-hati, agar tidak membangunkan siapapun. Tapi ia menangis sungguhan.
Air mata yang selama ini hanya bergolak di dalam dada akhirnya jatuh juga membasahi
bantalnya.
Mariani
tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan. Ia tidak tahu apakah Husin akan
pernah berubah, apakah ibunya akan pernah mengerti, apakah dunia akan berhenti
menuntut segala sesuatu darinya sekaligus.
Tapi
malam itu, Mariani memutuskan satu hal yang kecil saja: ia tidak akan pergi
malam ini. Ia akan tetap di sini, di sisi perempuan kecil yang menggenggam
tangannya bahkan dalam tidur.
Soal
besok, ia belum tahu. Tapi malam ini, cukup ini dulu.
Tamat
Mengupas Mitos Larangan Anak Gadis Duduk di Depan Pintu dan Relevansinya di Era Modern
Mengupas Mitos Larangan Anak Gadis Duduk di Depan Pintu dan Relevansinya di Era Modern Gambar ilustrasi generated AI "J angan dudu...
-
Buaya Karya Trisnawati, M.Pd. Panggung berlatar di pinggir sungai dengan sebuah bangku. Musik menegangkan berbunyi. Seseorang muncul...
-
HUTAN MUNGKU By Trisnawati, S.Pd. Bayangan seorang laki-laki sedang menebang pohon, diiringi suara erangan dan musik menegangkan. ...
-
Pahuni Karya Trisnawati (SMK NEGERI 3 SAMPIT) (TOKOH DI DALAM SILUET MENUNJUKKAN GESTURE YANG TEGANG DAN TAKUT) (SETENGAH BERTERIAK) Aahhh…...


