Minggu, 22 Januari 2023

Praktik Baik (Best Practice) dengan Metode Star

 

LK 3.1 Menyusun Best Practices

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Peserta didik Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SMK Negeri 3 Sampit, Jalan Ir. H. Juanda

Lingkup Pendidikan

Sekolah Menengah Kejuruan

Tujuan yang ingin dicapai

1.   Meningkatkan kemampuan pendidik dalam menerapkan model pembelajaran yang inovatif.

2.   Meningkatkan kemampuan pendidik dalam membuat media yang bervariatif dan menarik dalam pembelajaran teks biografi dan teks puisi.

3.   Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi  dan menulis teks puisi

4.  Membudayakan peserta didik untuk tidak melakukan plagiat dalam menulis teks puisi.

Penulis

Trisnawati, S.Pd.

Tanggal

15 Desember s.d. 18 Januari 2023

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah

SMK Negeri 3 Sampit merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten  Kotawaringin Timur, beralamat di jalan Ir. Juanda. SMK Negeri 3 Sampit bukan sekolah yang notabenenya berada di dalam kota, namun berada di pinggiran kota tepatnya di desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Berdiri di tahun 2009, saat ini SMK Negeri 3 Sampit memiliki lima progam keahlian, yaitu Program keahlian Akuntansi dan Lembaga Keuangan, Desain dan Komunikasi Visual, Desain dan Produksi Busana, Tata Boga, Teknik Sepeda Motor. Jumlah rombel sebanyak 21 dan jumlah peserta didik sebanyak 706 orang. Pendidik yang mengajar di SMK Negeri 3 Sampit berjumlah 40 orang. SMK Negeri 3 Sampit masih dapat dijangkau oleh jaringan internet, dan sebagian besar peserta didik memiliki gawai untuk berkomunikasi sehari-hari.

Ada empat keterampilan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang harus dimiliki peserta didik yaitu membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Hal ini tercantum dalam Permendikbud No.24 Tahun 2016 Tentang KI dan KD 2013 Dikdasmen. Berdasarkan empat keterampilan tersebut, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai peserta didik. Menulis adalah kemampuan mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaan kepada orang lain melalui bahasa tulis. Ketepatan dalam mengungkapkan gagasan harus didukung oleh ketepatan dalam bahasa yang digunakan, kosa kata dan tata bahasa, serta ejaan. Tujuan dasar menulis adalah sebagai bentuk komunikasi dalam tulisan.

 Kompetensi Dasar mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi dan menulis teks puisi memerlukan keterampilan menulis. Namun, fenomena di lapangan ditemukan bahwa peserta didik belum mampu mengungkapkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Peserta didik yang kesehariannya terbiasa menggunakan gawai akhirnya memicu perilaku plagiat saat diminta untuk menulis teks puisi.

Berdasarkan fenomena di lapangan, ada dua faktor yang ditemukan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor  internal yaitu masih rendahnya keterampilan peserta didik dalam menulis. Setelah dilakukan observasi terhadap peserta didik kelas X SMK Negeri 3 Sampit pada semester genap tahun pelajaran 2021/ 2022, ditemukan bahwa peserta didik belum mampu mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi ke dalam bentuk tulisan sebab rendahnya minat membaca. Peserta didik belum mampu menggunakan kata-kata yang tepat dalam menulis puisi, sehingga tidak menimbulkan bunyi yang merdu yang mendukung efek kepuitisan sebuah puisi. Selain itu, ditemukan pula sebagian besar peserta didik menyalin teks puisi orang lain dari internet. Faktor eksternal yaitu pendidik belum menggunakan model dan media yang menarik dan inovatif, untuk mendorong kemampuan menulis peserta didik.

 

Mengapa praktik ini baik untuk dibagikan?

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan  tersebut, praktik baik (best practice) ini penting untuk dibagikan agar dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi pendidik di sekolah lain apabila mengalami permasalahan serupa, dengan penyelesaian menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning. Model pembelajaran ini akan melatih peserta didik untuk kreatif dan mandiri.  

 

Apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini?

Peran saya dalam praktik ini adalah sebagai pendidik yang menjadi fasilitator, sahabat, dan orang tua bagi peserta didik. Tanggung jawab saya adalah menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, LKPD, instrumen, dan media yang bersifat kontekstual, serta menarik peserta didik.

 

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat?

 

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan?

Berikut ini beberapa tantangan yang pendidik hadapi untuk mencapai tujuan, yaitu:

1.   Keterbatasan pengetahuan pendidik dalam menyusun perangkat pembelajaran serta menyiapkan media yang menarik;

2.   Pendidik cenderung menggunakan metode ceramah saat pembelajaran, sehingga peserta didik terlihat pasif;

3.   Minat membaca peserta didik kurang, sehingga sulit untuk mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi;

4.   Peserta didik cenderung melakukan plagiat di internet ketika diminta untuk menulis puisi.

 

Siapa saja yang terlibat?

1.      Pendidik, sebagai orang yang terlibat langsung menyiapkan perangkat pembelajaran.

2.      Peserta didik, sebagai objek yang mengalami langsung proses pembelajaran.

3.      Rekan sejawat, sebagai orang yang selalu memberikan saran maupun kritik saat penyusunan perangkat.

4.      Kepala sekolah, yang telah menyiapkan sarana dan prasarana di sekolah.

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini.

 

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah terkait permasalahan pembelajaran yang dihadapi serta solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

2.      Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.

3.      Menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning agar terselenggara kegiatan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

4.      Membuat media dan bahan ajar berbasis kontekstual agar peserta didik memiliki acuan dan referensi yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

5.      Melakukan koordinasi dengan wakil kepala sekolah bagian sarana prasarana terkait beberapa alat yang dibutuhkan, seperti LCD Proyektor, kamera, pengeras suara (speaker), serta ruang kelas yang memiliki daya listrik baik.

6.      Melakukan koordinasi dengan peserta didik terkait pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan.

 

Strategi apa yang digunakan?

1.    Pendidik menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi dalam bentuk tulisan, dan model Project Based  Learning untuk meningkatkan kemampuan menulis teks puisi peserta didik kelas X semester genap.

2.    Pendidik menggunakan metode penugasan, diskusi dan tanya jawab agar peserta didik aktif.

3.    Pendidik membuat media pembelajaran berbasis TPACK seperti video yang dibuat dari canva berbasis story telling, power point, gambar kontekstual, dan google form.

 

Bagaimana prosesnya?

1.    Proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning.

Peserta didik dihadapkan pada permasalahan yang berkaitan dengan butir-butir penting dalam teks biografi melalui sebuah video, untuk mengatasi permasalahan peserta didik yang kurang minat membaca, maka pendidik membuat media video dari canva yang berbasis story telling agar lebih menarik. Media dibuat kontekstual, yaitu dengan membuat video biografi tokoh-tokoh berjasa di Kalteng. Setelah peserta didik memahami konsep butir-butir penting dalam teks biografi, peserta didik kembali dipertontonkan sebuah video untuk dianalisis. Tahap terakhir, peserta didik mempresentasikan hasil kerjanya secara berkelompok, lalu peserta didik di kelompok lain memberikan tanggapan.

 

2.    Proses pembelajaran dengan model Project Based

 Learning.

Peserta didik diberikan penjelasan bahwa pembelajaran hari itu akan menghasilkan sebuah proyek menulis teks puisi. Di bagian orientasi, pendidik menampilkan contoh teks puisi. Di kegiatan inti, peserta didik menulis teks puisi berdasarkan gambar bencana banjir yang terjadi di Kalteng, agar kontekstual. Untuk mengatasi permasalahan peserta didik agar tidak melakukan plagiat saat menulis teks puisi, pendidik meminta peserta didik untuk menuliskan kata kunci yang berdasarkan unsur pembangun (tema, diksi, gaya bahasa, imaji, struktur, perwajahan) puisi, lalu mengembangkannya menjadi sebuah teks puisi utuh. Setelah menulis teks puisi, peserta didik membacakan di depan kelas, lalu peserta didik dari kelompok lain memberikan tanggapan.

 

 

 

Sumber daya atau materi yang diperlukan

Untuk melaksanakan kegiatan ini, diperlukan sumber daya agar kegiatan berjalan optimal dan sesuai dengan yang diharapkan. Sumber daya atau materi yang diperlukan di kegiatan ini adalah:

1.   Uang, digunakan untuk memfotokopi bahan ajar dan LKPD;

2.   Buku teks, digunakan sebagai referensi pembuatan bahan ajar;

3.   Peralatan seperti LCD proyektor, pengeras suara (speaker), printer, dan laptop.

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut.

 

Refleksi pembelajaran

Setelah melakukan kegiatan, refleksi yang saya rasakan adalah:

1.   Saya kurang memahami karakteristik peserta didik yang notabenenya mereka adalah generasi alpha yang dekat dengan penggunaan teknologi, setelah melaksanakan praktik baik ini, saya semakin memahami bahwa peserta didik akan mudah memahami pembelajaran apabila pendidik menggunakan media yang berbasis teknologi (TPACK);

2.   Melaksanakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning dan Project Based Learning sangat memudahkan pendidik, sebab pendidik tidak banyak melakukan ceramah;

3.   Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dan Project Based Learning membuat peserta didik lebih aktif dan kreatif;

4.   Pembelajaran yang saya laksanakan lebih menarik dan tidak monoton. Saya menjadi lebih kreatif karena saya berusaha membuat media sendiri menggunakan aplikasi Canva.

 

Dampak kegiatan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning

1.   Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning membuat peserta didik lebih termotivasi untuk belajar dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional yang selama ini sering digunakan. Hal ini terlihat dari indikator keaktifan peserta didik yang meningkat dibandingkan dengan sebelum menggunakan model Problem Based Learning dan Project Based Learning, walaupun masih ada tiga orang peserta didik yang masih tidak terlalu terlibat aktif dalam kegiatan diskusi kelompok

2.   Dampak menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning menggunakan media berbasis TPACK bagi pendidik dapat membantu pendidik menyampaikan materi lebih mudah dan kegiatan pembelajarannya tidak monoton.

3.   Peserta didik yang kurang minat dalam membaca dapat fokus sebab teks biografi disajikan dalam bentuk video yang berbasis story telling.

4.   Peserta didik yang terbiasa melakukan plagiat saat menulis teks puisi dapat diatasi, sebab pendidik melakukan monitoring langsung kegiatan diskusi. Terutama, terkait penulisan kata kunci dan penggunaannya di dalam teks puisi yang dibuat peserta didik.

5.   Pendidik dapat membuat media yang menarik dan inovatif menggunakan aplikasi canva.

 

Respon peserta didik

1.   Peserta didik lebih aktif dari sebelumnya saat pembelajaran dilakukan secara konvensional.

2.   Peserta didik fokus mengikuti pembelajaran, sebab pendidik menggunakan media audio visual yang menarik.

3.   Rasa percaya diri peserta didik meningkat, karena mereka terlatih melakukan presentasi.

 

Respon kepala sekolah dan rekan sejawat

1.   Kepala sekolah dan rekan sejawat merespon dengan positif terkait media yang dibuat oleh pendidik.

2.   Rekan sejawat guru mata pelajaran bahasa Indonesia dapat menggunakan media yang telah pendidik buat melalui kanal youtube.

 

Faktor keberhasilan dari strategi yang dilakukan

1.    Rencana pembelajararan yang disiapkan dengan maksimal, seperti membuat RPP, bahan ajar, media, instrumen, dan LKPD.

2.    Sarana dan prasarana yang mendukung, seperti jaringan internet, listrik yang memadai.

3.    Seluruh warga sekolah yang bersedia membantu kelancaran kegiatan, seperti pendokumentasian, menyiapkan alat dan lain-lain.

 

Faktor ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan

1.  Listrik yang terkadang padam di ruang kelas secara mendadak, sebab daya listrik kecil. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pendidik memilih ruang kelas yang tidak mudah padam mendadak. Pemadaman listrik sangat mengganggu proses pembelajaran, sebab pendidik menggunakan LCD proyektor sebagai alat penunjang.

 

Pembelajaran dari proses kegiatan

Setelah melakukan kegiatan ini, saya mampu merancang pembelajaran dan membuat media berbasis TPACK menggunakan model pembelajaran yang inovatif. Dampak penggunaan model pembelajaran inovatif dan penggunaan media berbasis TPACK dalam kegiatan pembelajaran sangat besar, yaitu dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik terhadap materi dan kegiatan pembelajaran yang diberikan, dengan menggunakan model dan media tersebut terbukti kegiatan pembelajaran terasa lebih menyenangkan. Menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning juga memudahkan pendidik, karena tidak banyak melakukan ceramah. Pendidik juga menjadi lebih kreatif, karena dituntut untuk membuat media inovatif dan menarik.

Jumat, 20 Januari 2023

Berkaca pada Fenomena

Seminggu yang lalu, saya dikejutkan dengan berita nasional tentang pembunuhan berencana yang dilakukan oleh dua orang remaja usia SMA terhadap seorang anak berusia 10 tahun. Pelaku yang ternyata masih di bawah umur ini, tentu mengejutkan banyak kalangan. Hal yang pertama kali muncul di benak saya, bagaimana bisa dia memiliki pikiran sekeji itu? tidak memiliki belas kasihan? usut punya usut, mereka tergiur oleh salah satu situs perdagangan organ di internet. Jadi, mereka berniat membunuh untuk menjual organ korban tersebut. Lebih mengejutkan saya lagi, bahwa ternyata mereka telah berencana sejak satu tahun lalu. 

Belum usai kaget saya kemarin, pagi ini kembali saya KAGET. Sebuah berita nasional yang muncul di kanal tik tok saya membuat saya pusing seperti terbentur tembok, dan mual seperti baru saja menaiki kora-kora. Tiga orang anak berusia 8 tahun memperkosa seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku TK. Saya mengulang-ulang video berita itu, berkali-kali. Seolah tak percaya dengan apa yang dibaca dan didengar melalui video itu. Bagaimana tidak? lagi-lagi pelaku adalah anak di bawah umur. Lebih mengejutkan lagi, perbuatan tak senonoh itu telah dilakukan sebanyak lima kali. 

Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2045, tentu hal ini menjadi keuntungan bagi bangsa kita. Jika persiapan demi persiapan optimal dilakukan untuk menyongsong hari itu. Contohnya saja, Tiongkok. Tiongkok yang telah merasakan kejayaan akibat bonus demografi di tahun 1990-an. Kenapa dikatakan demikian? sebab mereka melakukan persiapan dengan memberdayakan sumber daya manusia untuk membuat industri rumahan, selain itu mereka juga melakukan investasi besar-besaran di tahun yang sama. Lalu ada Korea Selatan, kita dapat melihat bagaimana majunya negara ini sekarang. Di tahun 1950-an  masih dinyatakan sebagai negara miskin. Namun, bonus demografi dapat membalikan keadaan, Korea benar-benar memanfaatkan momentum itu untuk kemajuan bangsanya. 

Indonesia sangat potensial untuk lebih baik jika dapat memanfaatkan momentum tersebut. Namun, hingga saat ini, kita masih mengalami banyak permasalahan di berbagai aspek. Misalnya, kemiskinan, pengangguran, dan baru-baru ini dapat saya katakan krisis generasi muda. Bukan karena punahnya generasi muda karena angka kelahiran menurun, namun generasi muda yang akan berperan sebagai agen of change. Saya tidak mengatakan tidak ada, hanya saja dua gambaran peristiwa yang sudah saya ceritakan sebelumnya, membuat saya bergidik. Cukup mengerikan jika generasi muda kita, di usia muda telah berurusan dengan polisi karena membunuh dan memperkosa. Berapa banyak di antara para pelaku yang terpaksa putus sekolah? dan berapa banyak di antara para korban yang pendidikannya terhenti karena diambil paksa, atau yang berhenti sekolah karena trauma dan malu dirinya menjadi korban pemerkosaan. 

Tentu saja, kita tidak menginginkan jika bonus demografi nanti justru lebih memperparah keadaan pengangguran dan kemiskinan yang sudah ada. Generasi muda harus diselamatkan mulai sekarang. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, salah satunya adalah melalui pendidikan. Pendidikan tidak hanya didapatkan dari sekolah, tapi juga lingkungan. Sebagai orang yang hidup dan memiliki lingkungan, kita dituntut untuk lebih peka terhadap permasalahan generasi muda ini dengan melakukan kegiatan-kegiatan kontekstual yang lebih mengena dan dibutuhkan oleh mereka. 

Bonus demografi memerlukan persiapan dan komitmen, tidak hanya pihak pemerintah. Tapi dimulai dari diri kita juga. Mulai dari lingkup kecil dan sederhana, seperti keluarga. Ayah dan Ibu yang selalu berperan sebagai orang tua, tutor, sahabat, dan pelindung bagi anak-anaknya. Lalu, ada guru yang menjadi pendidik untuk memberikan arah jalan pada kebaikan. Begitu juga sebagai masyarakat, untuk selalu memberikan lingkungan positif bagi anak-anak kita. Jadi, jika ingin menikmati hasil bonus demografi dengan kejayaan, selamatkanlah generasi muda. 

Sabtu, 25 Juni 2022

Selamat Malam

Aku tidak sedang baik-baik saja
Sekeras apapun tersenyum pada dunia
Bahkan hingga tawa menggema di langit kelabu
Takkan mampu memecah keheningan sunyi
Sebab kehilangan 
Dulu, 
Tawa kita bersatu dalam detak waktu
Obrolan kita? Tak pernah ada akhirnya
Semua serba mengasyikan kan?

Sekarang jamku telah bertemu pada titik waktunya
Sejak aku katakan, tak ada yang dapat menggantikanmu di hatiku
Aku cemburu pada setiap notif di handphoneku
Di mana, di sana ada gambar dirimu dengan sahabat barumu

Kehilangan? Tentu
Tapi tidak
Aku tak ingin egois
Bahkan sampai lirik ini aku tulis
Aku menerima semua aturan dunia
Tentang kehidupan yang berjalan
Bagaimana dia menghempas
Bagaimana dia membangkitkan

Kutitipkan doa pada Tuhan
Semoga kita tidak terluka 
Dalam segala hal

......

Jumat, 18 Maret 2022

Sastra Milik Kita

        Berbicara tentang sastra, sama halnya dengan berbicara tentang bahasa. Sastra hidup dan berkembang di masyarakat untuk masyarakat. Seorang penulis haruslah berinteraksi dengan bahan bacaan. Menulis harus memiliki bacaan yang kuat. Bagaimana semesta dapat menjadi inspirasi sastra? Berikut beberapa hal yang dapat membangun inspirasi karya sastra.

1. Menciptakan iklim dan ekosistem yang mendukung, yaitu orang-orang yang mengerjakan hal yang sama.

2. Menjadikan identitas lokal sebagai inspirasi dari karya sastra.

3. Menjadikan sastra bukan sebagai sesuatu yang eksklusif, yang hanya dapat dinikmati oleh kaum akademis saja. Sastra harusnya tumbuh dari kalangan "akar rumput", artinya sastra bertumbuh dan menyentuh semua kalangan, baik orang yang berpendidikan maupun tidak. 

       Proses penciptaan sebuah karya sastra memang tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya manusia. Oleh karena itu, sastra dinilai sebagai cerminan kehidupan masyarakat pada periode-periode tertentu. Sebut saja misalnya novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer yang berlatar sosial budaya di zaman kolonial. Gambaran kehidupan orang-orang pribumi di masa itu menjadi inspirasi lahirnya novel tersebut. Selain sebagai cerminan kehidupan, sastra juga acap kali menjadi inspirasi kritik sosial, banyak penulis yang menjadikan karya sastranya sebagai kritik sosial. Misalnya W.S. Rendra dengan beberapa sajaknya yang mengandung satire, seperti puisi Aminah, puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta. 

            Menciptakan iklim dan ekosistem yang mendukung sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk komunitas, mengikuti berbagai kegiatan menulis, serta menjaring relasi dengan dunia luar. Misalnya, berkomunikasi dengan para penulis lainnya. 

            Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya. Setiap daerah memiliki budaya, memiliki bahasa, memiliki pangan khas, memiliki filosofi hidup yang khas pula. Inilah yang disebut dengan identitas budaya. Hal ini dapat menjadi inspirasi dari karya sastra. Misalnya bagaimana masyarakat itu melakukan kebiasaan menanam padi, bagaimana mitos-mitos tumbuh di lingkungan masyarakat itu. 

                Sastra harus menyentuh semua kalangan. Paradigma bahwa sastra menjadi tanggung jawab kaum akademis, atau hanya dapat didiskusikan dan dinikmati oleh kaum akademis saja harus dihilangkan. Bagaimana sebuah karya sastra akan tumbuh jika sastra tidak berakar dari bawah. Kebanyakan masyarakat Indonesia bersastra dengan cara bertutur, misalnya syair atau pantun yang berkaitan dengan aktivitas berladang, mengambil air di sumur, menenun dan lain-lain.  Hal ini dapat menjadi inspirasi dari karya sastra jika sastra dapat merangkul semua kalangan. 

                Akhirnya, melalui karya sastralah segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, budaya, bahasa, mitos, dongeng, dan legenda dapat diabadikan. Sastra dapat dijadikan sebagai media untuk menyelamatkan sebuah peradaban dari kepunahan. Semesta bersastra adalah tentang bagaimana seorang penulis dapat merefleksikann sebuah kehidupan ke dalam sebuah tulisan. 

Senin, 07 Maret 2022

Cakrawala Senja

 “Prang” suara kaca pecah memekak telinga, kepingan yang tercerai memenuhi lantai. Beberapa tampak berkilauan karena sinar mentari pagi itu telah menembus ke dalam rumah. Sesosok lelaki paruh baya berdiri tertegun di depan jendela yang pecah itu, gemeretak tulang-tulangnya terdengar dalam keheningan, darah segar mulai mengucur deras, menetes di antara kepingan kaca. 

“Bapak, Bapak, maafkan aku. Maafkan aku, Pak.” 

Aku lunglai dan bersimpuh di kakinya, tampaknya getar jantung Bapak begitu terasa di nadi-nadi kakinya. Ia tetap mematung dan bergeming. Perih dan sesak menguasai napasku, dalam tangis dan rasa sakit aku berusaha menggapai tangannya, tapi Bapak tetap berlalu sembari mengambil kunci mobil yang tergantung pada tembok usang yang berwarna biru. Sebelum Bapak melangkahkan kakinya lebih jauh, ia kembali berdiri  dan berkata “Pelangiku telah hilang”. Bayangnya berlalu dalam sekejap. 

Sungai mengalir deras di mataku, bendungan itu telah runtuh. Segala pertahananku sebagai seorang putri dari seorang Ayah yang telah berjuang membesarkannya seorang diri, hancur dengan sekejap mata. Sejak Bapak dan Ibuku bercerai, aku tinggal bersama Bapak hingga dewasa. Tidak ada ruang yang tersisa lagi. Segala hal yang pernah Bapak ajarkan tentang harga diri dan kehormatan telah lenyap. 

Ayunan gontai tanganku mencoba menggapai tembok usang itu, napasku terasa berat, aroma ruangan itu hilang. Bumi terasa berputar begitu cepat, kulihat jam dinding seperti bergerak dari kanan ke kiri, lalu membentuk bayangan yang banyak, amat banyak. Lalu aku tak melihat apapun lagi. Semuanya gelap. 

"Aurora, bangun nak." 

Samar, aku mendengar isak tangis seorang wanita. Kelopak mataku begitu berat, seperti ada beban di atasnya yang tidak mampu aku geser. Tapi batinku terus mendorong, dan mendorong belenggu itu. Lagi-lagi, cairan hangat mengalir di lembah pipiku yang mulai cekung. Tadinya, lembah ini adalah sebuah keindahan, ranum dan suci. 

"Aurora....Aurora...."

Suara itu semakin jelas terdengar di telingaku. Lagi-lagi, aku terus mendorong belenggu itu agar terlepas. Ah....mataku perlahan terbuka. Cahaya terang di seberang sana memanah tepat pada korneanya. Putih, hanya warna putih yang kulihat. Aku berkedip satu kali, masih putih, kedua kali masih putih, dan ketiga kali sesosok bayangan muncul. "Ibu...." Bibirku ingin sekali mengucapkannya, tapi aku sudah tidak mampu lagi berkata. 

"Ibu, kau di sini? Bukankah kau..."

Ibu merangkul tubuhku yang terbaring lemah. "Anakku, pelangiku, apa yang terjadi"

"Ibu, Bapak pergi meninggalkan aku, maafkan aku ibu, aku bersalah, aku berdosa"

"Kau tetap anak kami, walaupun kau punya kesalahan besar"

"Tapi Bapak tidak memaafkanku ibu, dia pergi meninggalkanku, aku sendirian ibu, aku sendirian sekarang"

"Tidak nak, tidak, Ibu dan Bapakmu ada di sini"

"Di sini? Di mana ini Ibu? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Kenapa di sini hanya ada kegelapan, kemana cahaya yang tadi aku lihat ibu? Di mana?"

Ibu terisak, wajahnya pucat. Kulihat tangannya yang gemetar, dia berusaha menggapaiku, tapi tidak....ibu semakin menjauh, dan menjauh, ibu tersenyum padaku sembari meneteskan air mata. Ada apa ini? Apa yang kulihat? Aku di mana? 

"Jangan pergi bu, jangan pergi, jangan tinggalkan aku? Aku takut sendirian di sini bu, aku takut. Tolonglah ibu"

Tangisku pecah, mengingat Bapak telah pergi meninggalkanku, kini ibu pun beranjak untuk meninggalkanku. Aku bertanya kembali, ada apa ini?

"Aurora, Ibu terluka, Ibu kesakitan Aurora"

"Ibu kenapa?" 

Saat aku berusaha berdiri, cairan berwarna merah membasahi bajuku, mengalir di sela-sela kakiku, kutatap ibu yang perlahan menjauh penuh heran. 

"Apa ini Ibu? Aku mau pulang Bu, aku ingin pulang"

Dan pandanganku gelap kembali. Ibu sudah tak tampak lagi. Aku sendiri. Dalam pekat gelap.

"Aurora, bangun, nak. Maafkan Bapak. Bapak bersalah padamu."

Kembali aku membuka mata perlahan saat mendengar suara Bapak. Bapak mengelus kepalaku.

"Maafkan Bapak Aurora"

"Bapak, aku ingin pulang. Di sini gelap Pak. Ibu pergi, Ibu meninggalkanku" 

"Kita sudah pulang Nak, kita sudah di rumah, kau hanya bermimpi"

"Bermimpi? Sudah di rumah? Apa maksud Bapak"

 "Aurora sadar lah, sadar nak! Karena lelaki itu kau jadi seperti ini. Kau tidak hanya kehilangan dirimu, tapi semua orang yang mencintaimu. Ingat, bagaimana lelaki berengsek itu menghancurkan masa depanmu. Sekarang sadarilah di mana kau berada saat ini!" 

"Bapak, aku ingat semuanya, Ares menginginkan anakku mati, keluarganya pun ingin anak ini mati. Lihat kucuran darah ini Pak, aku ingin Ares dan keluarganya melihat ini semua. Bahwa anak ini telah mati, walaupun ini adalah darah dagingnya."

"Untuk apa kau datang padanya lagi? Untuk apa?  Memintanya bertanggung jawab? Lihat dirimu, lihat kita saat ini. Ini terjadi karena lelaki itu."

"Sudahlah pak, sekarang bawa aku pulang"

"Aurora, lihat sekitarmu."

Hanya kegelapan yang kulihat, tidak ada apa-apa. Tapi dikejauhan aku melihat Ibu menangis, di sana berdiri Om Husen dan Tante Oli. Mereka berpakaian serba hitam. Bukankah tadi Ibu sudah datang menemuiku? 

"Ibu, Ibu, Ibu" aku berteriak memanggil, tapi semuanya acuh dan tak sedikitpun menoleh. Aku ingin mengadukan Ares pada Ibuku, tentang bagaimana aku mencintainya hingga merelakan seluruh kehormatanku. Aku rela membunuh anak yang kukandung, karena Ares tidak mau bertanggung jawab. Ares pergi bersama wanita lain setelah dia menghamiliku. Ini pedih Ibu, ini sangat pedih. Aku dibuang seperti sampah. 

"Aurora, percuma, mereka tidak akan mendengar"

"Pak, aku ingin mengadu pada Ibu Pak, aku harus dapat keadilan. Keluarga Ares tak berhak memperlakukan kita seperti ini!"

"Lihatlah Aurora, Lihat itu"

Tiba-tiba saja aku dan Bapak berada di rumah. Beberapa karangan bunga dengan ucapan belasungkawa berdatangan. Orang-orang berdatangan dengan pakaian serba hitam. Dua tubuh terbaring di ruang itu. Pucat pasi. Sepertinya aku bisa merasakan tubuh dingin itu. 

"Siapa yang mati pak?"

Bapak hanya diam, air matanya menetes tiada henti. Kulangkahkan kakiku perlahan, aroma anyir tercium jelas, Ibu masih di sana menangis. Dan aku, jantungku berhenti berdetak, aku berhenti bernapas, tubuhku tiba-tiba kaku. Mulutku pun terkunci. Jenazah itu adalah aku dan Bapak. 

"Kita telah pulang Aurora" kata Bapak. 

"Saat aku ingin membawamu ke runah sakit karena keguguran itu, kita kecelakaan, kita telah mati, Aurora. Keadilan itu tidak ada. Kau hanya merasakan sakit hingga akhir hidupmu, dan lelaki itu hidup atas rasa sakitmu"

Aku membisu. Membisu. Aku telah mati.

Jumat, 04 Maret 2022

Komunitas Literasi sebagai Motor Transformasi

Kemajuan teknologi merupakan hal yang tidak dapat dicegah maupun dibatasi. Berbagai sektor kehidupan sudah tidak dapat dipisahkan dari teknologi, seperti sektor perdagangan, pelayanan, hingga pendidikan. Selain itu, berbagai informasi juga dapat dengan mudah diketahui melalui teknologi dari berbagai media sosial, seperti tik tok, instagram, facebook dan lain-lain. Kemudahan dalam memperoleh informasi ini tentu saja harus diimbangi dengan pengetahuan dan kecakapan hidup yang relevan, yang mampu mengorganisir pola pikir seseorang dalam menyelesaikan sebuah masalah mampu memverifikasi kebenaran sebuah informasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan, beberapa hal itulah yang pada akhirnya disebut dengan kemampuan berpikir krtisi (chritical thingking). 

Kemampuan berpikir kritis tentu saja tidak hadir begitu saja, perlu adanya suatu budaya positif yang menunjang agar seseorang memiliki kemampuan itu. Budaya seperti apakah yang dimaksud? ialah literasi. Apa itu literasi? Literasi tidak hanya sekadar membaca buku saja. Deklarasi Praha tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai praktik dan hubungan yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya. UNESCO juga menyebutkan pengertian literasi lebih luas lagi yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan literasi dimaknai sebagai "kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya". 

Berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca tahun 2018 rata-rata indeks secara nasional, masuk dalam kategori rendah dengan angka 37,32. Hal itu menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia masih rendah. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memberdayakan kembali komunitas penggerak literasi di daerah-daerah. Saat ini pemahaman tentang literasi yang diindentikkan dengan membaca dan menulis membuat sebuah komunitas literasi seperti berjarak dengan masyarakat. Padahal keberadaan sebuah komunitas literasi di lingkungan masyarakat sangatlah penting. Agar komunitas literasi dapat masuk sebagai agen transformasi maka diperlukan strategi yang kontekstual dengan kehidupan lokal di daerahnya. Menurut  Dicky Senda, sastrawan dan penggagas Lakoat. Kujawas, bahwa sebuah komunitas literasi harus dikemas dengan menyentuh konteks lokal di mana ia berada. Konteks ini tentu saja berhubungan erat dengan bahasa, budaya, sejarah, dan bagaimana kehidupan masyarakat itu. Selain itu, menurut Dicky Senda literasi merupakan penyelamat peradaban. Komunitas literasi perlu menyusun strategi kreatif agar literasi tidak lagi dipahami sebagai entitas tunggal hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun juga tentang bagaimana menciptakan kecakapan hidup. 

Kecakapan hidup merupakan keterampilan yang tidak hanya berkaitan dengan komunikasi saja, tetapi juga kemampuan seseorang untuk menciptakan atau berinovasi dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan yang ada di sekitarnya. Sebagai motor transformasi, komunitas literasi adalah penggerak perubahan. Komunitas literasi diharapkan dapat menjadi spirit untuk menggelorakan literasi yang terintegrasi dengan berbagai bidang kehidupan maupun disiplin ilmu yang menyentuh kehidupan lokal, sehingga kebudayaan di daerah tersebut dapat dirawat dengan literasi, misalnya pendokumentasian sastra lisan, pendokumentasian bahasa daerah yang hampir punah, pendokumentasian bahan pangan lokal, mengajarkan kecakapan hidup bercocok tanam modern, serta keterampilan lainnya yang diperlukan oleh masyarakat. Dengan hal itu, literasi akan lebih dekat dan menyentuh masyarakat secara penuh. 

Mengupas Mitos Larangan Anak Gadis Duduk di Depan Pintu dan Relevansinya di Era Modern

Mengupas Mitos Larangan Anak Gadis Duduk di Depan Pintu  dan Relevansinya di Era Modern     Gambar ilustrasi generated AI "J angan dudu...