Kemajuan teknologi merupakan hal yang tidak dapat dicegah maupun dibatasi. Berbagai sektor kehidupan sudah tidak dapat dipisahkan dari teknologi, seperti sektor perdagangan, pelayanan, hingga pendidikan. Selain itu, berbagai informasi juga dapat dengan mudah diketahui melalui teknologi dari berbagai media sosial, seperti tik tok, instagram, facebook dan lain-lain. Kemudahan dalam memperoleh informasi ini tentu saja harus diimbangi dengan pengetahuan dan kecakapan hidup yang relevan, yang mampu mengorganisir pola pikir seseorang dalam menyelesaikan sebuah masalah mampu memverifikasi kebenaran sebuah informasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan, beberapa hal itulah yang pada akhirnya disebut dengan kemampuan berpikir krtisi (chritical thingking).
Kemampuan berpikir kritis tentu saja tidak hadir begitu saja, perlu adanya suatu budaya positif yang menunjang agar seseorang memiliki kemampuan itu. Budaya seperti apakah yang dimaksud? ialah literasi. Apa itu literasi? Literasi tidak hanya sekadar membaca buku saja. Deklarasi Praha tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai praktik dan hubungan yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya. UNESCO juga menyebutkan pengertian literasi lebih luas lagi yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan literasi dimaknai sebagai "kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya".
Berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca
tahun 2018 rata-rata indeks secara nasional, masuk dalam kategori rendah dengan
angka 37,32. Hal itu menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia masih
rendah. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah tersebut
adalah dengan memberdayakan kembali komunitas penggerak literasi di
daerah-daerah. Saat ini pemahaman tentang literasi yang diindentikkan dengan membaca dan menulis membuat sebuah komunitas literasi seperti berjarak dengan masyarakat. Padahal keberadaan sebuah komunitas literasi di lingkungan masyarakat sangatlah penting. Agar komunitas literasi dapat masuk sebagai agen transformasi maka diperlukan strategi yang kontekstual dengan kehidupan lokal di daerahnya. Menurut Dicky Senda, sastrawan dan penggagas Lakoat. Kujawas, bahwa sebuah komunitas literasi harus dikemas dengan menyentuh konteks lokal di mana ia berada. Konteks ini tentu saja berhubungan erat dengan bahasa, budaya, sejarah, dan bagaimana kehidupan masyarakat itu. Selain itu, menurut Dicky Senda literasi merupakan penyelamat peradaban. Komunitas literasi perlu menyusun strategi kreatif agar literasi tidak lagi dipahami sebagai entitas tunggal hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun juga tentang bagaimana menciptakan kecakapan hidup.
Kecakapan hidup merupakan keterampilan yang tidak hanya berkaitan dengan komunikasi saja, tetapi juga kemampuan seseorang untuk menciptakan atau berinovasi dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan yang ada di sekitarnya. Sebagai motor transformasi, komunitas literasi adalah penggerak perubahan. Komunitas literasi diharapkan dapat menjadi spirit untuk menggelorakan literasi yang terintegrasi dengan berbagai bidang kehidupan maupun disiplin ilmu yang menyentuh kehidupan lokal, sehingga kebudayaan di daerah tersebut dapat dirawat dengan literasi, misalnya pendokumentasian sastra lisan, pendokumentasian bahasa daerah yang hampir punah, pendokumentasian bahan pangan lokal, mengajarkan kecakapan hidup bercocok tanam modern, serta keterampilan lainnya yang diperlukan oleh masyarakat. Dengan hal itu, literasi akan lebih dekat dan menyentuh masyarakat secara penuh.
Quote yg nempel: LITERASI PENYELAMAT PERADABAN. Menyelamatkan peradaban dengan literasi 😍😍. Pasti lahir generasi dan pemuda hebat dari kontribusi tangan-tangan yang ikhlas untuk masyarakat lokal. Semangat yunda Trisna. 🌷😘
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerima kasih Yunda Ainnur��
BalasHapus