Jumat, 20 Januari 2023

Berkaca pada Fenomena

Seminggu yang lalu, saya dikejutkan dengan berita nasional tentang pembunuhan berencana yang dilakukan oleh dua orang remaja usia SMA terhadap seorang anak berusia 10 tahun. Pelaku yang ternyata masih di bawah umur ini, tentu mengejutkan banyak kalangan. Hal yang pertama kali muncul di benak saya, bagaimana bisa dia memiliki pikiran sekeji itu? tidak memiliki belas kasihan? usut punya usut, mereka tergiur oleh salah satu situs perdagangan organ di internet. Jadi, mereka berniat membunuh untuk menjual organ korban tersebut. Lebih mengejutkan saya lagi, bahwa ternyata mereka telah berencana sejak satu tahun lalu. 

Belum usai kaget saya kemarin, pagi ini kembali saya KAGET. Sebuah berita nasional yang muncul di kanal tik tok saya membuat saya pusing seperti terbentur tembok, dan mual seperti baru saja menaiki kora-kora. Tiga orang anak berusia 8 tahun memperkosa seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku TK. Saya mengulang-ulang video berita itu, berkali-kali. Seolah tak percaya dengan apa yang dibaca dan didengar melalui video itu. Bagaimana tidak? lagi-lagi pelaku adalah anak di bawah umur. Lebih mengejutkan lagi, perbuatan tak senonoh itu telah dilakukan sebanyak lima kali. 

Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2045, tentu hal ini menjadi keuntungan bagi bangsa kita. Jika persiapan demi persiapan optimal dilakukan untuk menyongsong hari itu. Contohnya saja, Tiongkok. Tiongkok yang telah merasakan kejayaan akibat bonus demografi di tahun 1990-an. Kenapa dikatakan demikian? sebab mereka melakukan persiapan dengan memberdayakan sumber daya manusia untuk membuat industri rumahan, selain itu mereka juga melakukan investasi besar-besaran di tahun yang sama. Lalu ada Korea Selatan, kita dapat melihat bagaimana majunya negara ini sekarang. Di tahun 1950-an  masih dinyatakan sebagai negara miskin. Namun, bonus demografi dapat membalikan keadaan, Korea benar-benar memanfaatkan momentum itu untuk kemajuan bangsanya. 

Indonesia sangat potensial untuk lebih baik jika dapat memanfaatkan momentum tersebut. Namun, hingga saat ini, kita masih mengalami banyak permasalahan di berbagai aspek. Misalnya, kemiskinan, pengangguran, dan baru-baru ini dapat saya katakan krisis generasi muda. Bukan karena punahnya generasi muda karena angka kelahiran menurun, namun generasi muda yang akan berperan sebagai agen of change. Saya tidak mengatakan tidak ada, hanya saja dua gambaran peristiwa yang sudah saya ceritakan sebelumnya, membuat saya bergidik. Cukup mengerikan jika generasi muda kita, di usia muda telah berurusan dengan polisi karena membunuh dan memperkosa. Berapa banyak di antara para pelaku yang terpaksa putus sekolah? dan berapa banyak di antara para korban yang pendidikannya terhenti karena diambil paksa, atau yang berhenti sekolah karena trauma dan malu dirinya menjadi korban pemerkosaan. 

Tentu saja, kita tidak menginginkan jika bonus demografi nanti justru lebih memperparah keadaan pengangguran dan kemiskinan yang sudah ada. Generasi muda harus diselamatkan mulai sekarang. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, salah satunya adalah melalui pendidikan. Pendidikan tidak hanya didapatkan dari sekolah, tapi juga lingkungan. Sebagai orang yang hidup dan memiliki lingkungan, kita dituntut untuk lebih peka terhadap permasalahan generasi muda ini dengan melakukan kegiatan-kegiatan kontekstual yang lebih mengena dan dibutuhkan oleh mereka. 

Bonus demografi memerlukan persiapan dan komitmen, tidak hanya pihak pemerintah. Tapi dimulai dari diri kita juga. Mulai dari lingkup kecil dan sederhana, seperti keluarga. Ayah dan Ibu yang selalu berperan sebagai orang tua, tutor, sahabat, dan pelindung bagi anak-anaknya. Lalu, ada guru yang menjadi pendidik untuk memberikan arah jalan pada kebaikan. Begitu juga sebagai masyarakat, untuk selalu memberikan lingkungan positif bagi anak-anak kita. Jadi, jika ingin menikmati hasil bonus demografi dengan kejayaan, selamatkanlah generasi muda. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...