Berbicara tentang sastra, sama halnya dengan berbicara tentang bahasa. Sastra hidup dan berkembang di masyarakat untuk masyarakat. Seorang penulis haruslah berinteraksi dengan bahan bacaan. Menulis harus memiliki bacaan yang kuat. Bagaimana semesta dapat menjadi inspirasi sastra? Berikut beberapa hal yang dapat membangun inspirasi karya sastra.
1. Menciptakan iklim dan ekosistem yang mendukung, yaitu orang-orang yang mengerjakan hal yang sama.
2. Menjadikan identitas lokal sebagai inspirasi dari karya sastra.
3. Menjadikan sastra bukan sebagai sesuatu yang eksklusif, yang hanya dapat dinikmati oleh kaum akademis saja. Sastra harusnya tumbuh dari kalangan "akar rumput", artinya sastra bertumbuh dan menyentuh semua kalangan, baik orang yang berpendidikan maupun tidak.
Proses penciptaan sebuah karya sastra memang tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya manusia. Oleh karena itu, sastra dinilai sebagai cerminan kehidupan masyarakat pada periode-periode tertentu. Sebut saja misalnya novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer yang berlatar sosial budaya di zaman kolonial. Gambaran kehidupan orang-orang pribumi di masa itu menjadi inspirasi lahirnya novel tersebut. Selain sebagai cerminan kehidupan, sastra juga acap kali menjadi inspirasi kritik sosial, banyak penulis yang menjadikan karya sastranya sebagai kritik sosial. Misalnya W.S. Rendra dengan beberapa sajaknya yang mengandung satire, seperti puisi Aminah, puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta.
Menciptakan iklim dan ekosistem yang mendukung sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk komunitas, mengikuti berbagai kegiatan menulis, serta menjaring relasi dengan dunia luar. Misalnya, berkomunikasi dengan para penulis lainnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya. Setiap daerah memiliki budaya, memiliki bahasa, memiliki pangan khas, memiliki filosofi hidup yang khas pula. Inilah yang disebut dengan identitas budaya. Hal ini dapat menjadi inspirasi dari karya sastra. Misalnya bagaimana masyarakat itu melakukan kebiasaan menanam padi, bagaimana mitos-mitos tumbuh di lingkungan masyarakat itu.
Sastra harus menyentuh semua kalangan. Paradigma bahwa sastra menjadi tanggung jawab kaum akademis, atau hanya dapat didiskusikan dan dinikmati oleh kaum akademis saja harus dihilangkan. Bagaimana sebuah karya sastra akan tumbuh jika sastra tidak berakar dari bawah. Kebanyakan masyarakat Indonesia bersastra dengan cara bertutur, misalnya syair atau pantun yang berkaitan dengan aktivitas berladang, mengambil air di sumur, menenun dan lain-lain. Hal ini dapat menjadi inspirasi dari karya sastra jika sastra dapat merangkul semua kalangan.
Akhirnya, melalui karya sastralah segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, budaya, bahasa, mitos, dongeng, dan legenda dapat diabadikan. Sastra dapat dijadikan sebagai media untuk menyelamatkan sebuah peradaban dari kepunahan. Semesta bersastra adalah tentang bagaimana seorang penulis dapat merefleksikann sebuah kehidupan ke dalam sebuah tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar