Kamis, 18 Oktober 2018

Kumpulan Contoh cerpen


Cahaya Cinta
By: TRISNAWATI, S.Pd

Kota ini selalu menjadi kenangan. Melewati bundaran kota yang cukup besar, seolah membangkitkan jutaan siang yang mati. Lampu-lampu jalan yang begitu kemerlap menghantarku pada rindu, seseorang yang telah jauh meninggalkan kehidupanku ternyata masih berhak untuk dikenang di kota ini. Aroma angin yang berhembus cukup berani mengejekku yang kadang masih merindu dalam diam. Sederhana, dia adalah seseorang yang cukup berarti. Cukup membuatku jatuh dalam cinta yang...ah, sudahlah! Rasanya tak cukup waktu untuk bercerita pada kalian tentangnya. Tapi, setiap garis-garis kenangan yang tersimpan rapi dalam kanvas hidupku, banyak mendeskripsikan tentangnya. Malam ini, aku duduk diam menikmati jalanan kota, menyeruak angan-anganku yang dulu pernah berdiri kokoh. Hingga pada akhirnya runtuh.

***

Palangkaraya, 2010
“Kamu pacaran sama Latif?”
“Nggak?”
“Trus?”
“Ya sahabat doang.”
“Ah bohong.”
Pagi terakhir membias bersama matahari. Titik embun penghabisan pun jatuh membasahi setitik tanah. Pikiranku masih saja rusuh oleh raut wajah yang selalu beranakan rindu di tiap sudut yang tak terjangkau oleh akal sehat. Begitulah kiranya kehadiran Latif di hidupku waktu itu selalu meninggalkan rasa yang sulit. Sesulit rasa yang selama ini kupendam.
Latif, sosok lelaki yang selalu menjadi kawanku. Memperhatikan setiap langkahku. Sebenarnya ia teman kuliahku. Namun, hampir dua tahun kami sekelas ia tak pernah sama sekali bertegur sapa denganku. Sampai pada suatu hari kami tergabung dalam tim kepanitiaan yang sama. Sejak itu lah, aku mendapatkan nomor handphone-nya. Mungkin, sejak itu pula aku mulai jatuh hati padanya.
Suatu hari aku dan Latif serta dua orang sahabatku yang lain duduk di depan kampus sambil bercengkerama.
“Tif, kukumu kok panjang banget, potong dong,”
“Ih, Arin perhatian banget sama aku,”
“Kamu tuh ya, bukannya jaga kebersihan, malah ngejek aku,”
Tuti dan Fani pun tertawa melihat tingkahku dan Latif. Persahabatan kami yang terjalin begitu dekat membuat kami seolah memiliki hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan. Namun, hanya aku yang meinginkan hal lebih itu. Tidak pada Latif.
“Kata kamu kotor, noh lihat bersih gini kok,”
“Kuku panjang temannya setan,” cetusku sambil menarik tangannya.
“Biari!”
Begitulah Latif, selalu keras kepala. Meski begitu Ia tak pernah keras kepalaku padaku.
“Rin pulang yuk!”
“ogah! Aku pulang bareng Tuti aja!”
“Ih, aku pulang sama Fani. Mang kamu mau naik motor bertiga. Ntar ditangkap polisi lagi,”
“Jahat banget sih Ti, pokoknya aku mau pulang sama kamu. Titik,”
“Hahaha rasain!” Latif tertawa sekeras-kerasnya. “Udah pulang sama aku aja manis,”
“Uh, malas banget!”
“Udah ah ayok...” latif menarik tanganku bahkan tasku pun turut ditariknya. “Eh nanti temanin aku makan siang dulu ya Rin..”
“Kenapa nggak makan sama pacar kamu aja?”
Latif terdiam. Sambil tersenyum dia memandang wajahku. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi, mata teduhnya yang sipit seperti magnet yang mampu menarik mataku ke dalam matanya. Kulihat bayanganku sendiri di sana, memelas. Seperti pungguk yang merindukan bulan. Tak bisa kupungkiri, di tahun ketiga persahabatanku dengannya, cinta selalu menghiasi hariku. Siapakah yang mampu mengetahui hati Latif selain Allah, SWT? Kulibatkan Ia dalam doa-doaku. Kusebut nama Latif. Kuingin segera mengetahui perasaannya padaku. Tapi, hingga kini, hatinya masih misteri bagiku. Seolah kedalamannya tak bisa diukur dengan meteran apapun di dunia ini kecuali meteran waktu.
“ Ada yang cemburu nih, orang nggak punya hubungan apa-apa sama kak Julia,”
“Kata siapa?” pipiku memerah saat mendengar ledekannya. Apapun yang terjadi dia tak boleh tahu. Kusembunyikan wajahku di balik helm seraya naik ke atas motornya.
“Sudah siap Nona?”
“Iyaaaaa...” aku berteriak di belakangnya. Ia tertawa terbahak. Tawanya selalu mengundang kerinduan saat aku tak bertemu dengannya. Tingkahnya selalu mengundang tanya tentang perasaannya padaku. Jika ia tak mencintaiku, kenapa ia bersedia menghabiskan waktunya untukku?
Suatu hari, kudapati gosip tentang Latif dari Tuti dan Fani. Beberapa hari terakhir ini, ia memang tak bertemu denganku. Tidak juga menghubungi ponselku.
“Rin, kamu tahu nggak? Si Latif pacaran sama kak Julia,”
“Kata siapa Fan?”
“Sumpah Rin, dia sendiri bilang sama aku,”
“Maksudnya, Latif?”
Sejenak aku terhenyak, air mataku tak terasa mengaliri wajahku. Tangisku tumpah di bawah pohon waru saat itu. Dedaunan yang kering jatuh bertebaran tertiup angin. Aku merasa sendiri. Merasa gugur layaknya daun yang layu itu. Hatiku kini menciut, tak mampu lagi berharap pada lautan hati Latif untuk melepas dahagaku. Ah, Latif brgitu jahat!
“Rin maaf bukannya bermaksud bikin kamu sedih, Fani sih,”
“Ih Tuti kok jadi nyalahin Fani sih? Rin, untung aja si Latif nggak kamu tembak, kalau nggak kamu tambah sakit hati,”
“Fani!” Tuti melotot ke arah Fani, “Kamu kok ngomong gitu sih Fan? Jahat banget,”
Saat ini aku hanya diam tak mampu berkata-kata. Lidahku kelu mengingat Latif. Bayang-bayang Latif seperti beterbangan terbawa arus waktu. Kenangan tentangnya jatuh menghentak langit-langit. Kutinggalkan Tuti dan fani yang masih saja sibuk berbicara tentangnya. Kutemui Latif yang sedang duduk dengan beberapa teman laki-laki di dalam ruangan. Tanpa kusadari, “Bukk,” buku yang kupegang menghantam bahunya.
“Aw, Arin, sakit tahu! Kamu kenapa sih?”
“Kenapa? Kamu tu yang kenapa? Jahat tahu nggak,”
“Apa sih Rin,”
Teman-teman Latif memandang bengong ke arahku. “Keluar kalian! Keluar!” teriakku.
“Sorry bro, kita kabur dulu ya,” mereka berhamburan keluar ruangan.
Latif menggenggam tanganku. Matanya seolah memohon padaku untuk tidak marah.
“Rin, kenapa sih?”
“Kamu jadian sama Kak Julia kan? Jahat banget sih? Kamu bilang nggak ada hubungan apa-apa. Lalu kamu menghilang dari aku beberapa hari ini. Trus, aku dapat kabar kamu udah pacaran sama dia, pantas kamu cepat banget lupain aku,” tangisku kembali tumpah di depannya.
“Astaga Arini...jadi itu masalahnya. Kamu tahu dari mana sih?”
“Dari aku, kenapa?” tiba-tiba Fani masuk di tengah pertengkaran kami berdua. Latif terkejut. Matanya membelalak ke arah Fani.
“Kamu? Astaga Fani. Kan aku udah bilang, tolong jangan beritahu dia!”
“Bukk.” Buku yang kupegang kembali menghantam punggung Latif.
“Oh jadi begitu? Cukup ya Tif. Kamu bukan sahabatku lagi.” Aku berlari meninggalkan Fani dan Latif di ruangan itu. Angin yang menghempas wajahku seolah menjadi cuka yang menyiram luka di batinku. Tak kusangka Latif menyembunyikan hubungannya dengan Julia padaku. Sementara aku terlalu sakit untuk merasakan patahnya sayap cinta yang kubangun untuknya selama bertahun-tahun ini.
“Arin...Arini....!” Latif memanggilku berkali-kali. Tapi kecemburuan dan kemarahanku memaksaku untuk tidak menoleh padanya sedikitpun.

***

Mentari pagi telah meninggalkan peraduannya, di kaki cakrawala muncul warna keemasan menusuk pori-pori kulit. Aku berjalan sendiri menuju kampus. Entah dimana Tuti dan Fani. Sejak bersiteru dengan Latif, aku merasa hambar untuk hang out dengan Fani dan Tuti. Aku kecewa, kenapa Latif harus menyembunyikan hubungannya dengan Julia dariku. Apa aku tidak penting baginya? Dalam lamunanku tiba-tiba saja seseorang menabrakku. “Bruk,”
“Aw,” aku mengusap-usap kepalaku. Sesosok pria jangkung berdiri tepat di depanku sembari mengelus-elus dahinya. Wajah tampannya tersenyum sambil meringis menahan malu saat kupandangi. Sekilas pakaian rapinya tampak memesona. Penampilannya jauh berbeda dari Latif yang tampil apa adanya.
“Aduh maaf ya, nggak sengaja. Tadi aku didorong sama teman aku,”
“Ya, nggak apa-apa kok,” jawabku datar.
“Kenalin aku Ganes, mahasiswa Matematika,”
“Oh, Arini,” aku berlalu dari depannya.
“Eh, tunggu dulu, sekali lagi sorry,”
“Its Ok lah,”
Kampusku memang berdekatan dengan kampus program studi Matematika.
“Rin...Rin...Tolong maafin aku. Sorry, sekali lagi sorry,” Latif menghentikan lamunanku. Aku berlalu begitu saja di depannya. Meskipun hatiku perih menahan perasaan tak tega padanya, namun apa daya. Rasa sakit yang dia berikan belum mampu disembuhkan oleh permintaan maafnya.
“Arini...Arini...” Latif mengejarku hingga kata-kata yang tak kusangka tercetus dari mulutnya, “Aku sayang kamu Rin,”
Sejenak kakiku berhenti untuk melangkah, ucapannya seakan mampu menghentikan waktu yang berputar. Dunia beserta isinya seolah membeku di hamparan bumi ini. Kata-katanya bak syimponi yang merdu. Seluruh isi hatiku membuncah. Air mataku kembali  membanjiri wajahku. Latif mendekat ke arahku, rasa sakit dan kecewaku akhirnya jatuh berserakan.
“Arini...aku minta maaf. Julia udah aku putusin, sejak aku menyadari kamu lebih berarti bagiku dari pada dia, sini deh,” Latif membawaku duduk di bawah pohon waru yang rindang, suatu tempat di depan kampus yang menjadi favorit kami saat bersenda gurau.
“Gampang banget ya kamu bilang begitu,”
“Arini...lalu aku salah lagi. Menurut kamu itu juga salah?”
Aku terdiam.
“Tuti dan Fani bilang, selama tiga tahun ini kamu memendam rasa untukku. Menurutku itu sudah teramat menyakiti kamu selama ini. Kenapa aku begitu bodoh tidak mampu melihat ke dalam matamu?”
Aku belum mampu untuk berkata-kata, entah mengapa lidahku begitu kelu di depannya. Aku beranjak di depannya. Rasanya ingin sekali aku pergi menjauh.
“Arini, tanyakan pada hatimu, apakah kamu mencintaiku?”
Aku melangkahkan kakiku menjauhi Latif, entah mengapa begitu berat rasa kecewaku. Aku merasa kata-katanya hanya sekadar kata-kata belaka, agar aku bisa menjadi sahabatnya lagi. Aku tak mempercayainya lagi setelah seluruh kepercayaan yang kuberikan dia khianati.

***


“Sayang, jadikan beli brownis Amandanya?”
“Oh iya dong,”
“Kamu ngelamun apa sih,”
“Nggak, bukan apa-apa kok?”
Cahaya lampu-lampu jalan sesekali menembus raut di sampingku. Sesekali kupandangi wajah tampannya yang dulu kukenal delapan tahun lalu. Kini, ia sosok itu telah menjadi pendamping hidupku. Allah mengirimnya padaku dengan cara yang tidak kuduga. Tanpa proses harus tersakiti. Tapi aku tahu cintanya padaku begitu besar. Dia masih seperti dulu, pakaian yang selalu rapi dengan senyum manis yang menenangkan. Tumbuh jangkung yang selalu kurindukan lima tahun terakhir ini. Ganes. Suamiku.

***



4 komentar:

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...