HIJRAH CINTA
Walaa
taqrobullzinnaa innahukaana faahisyatan wasa asabiila
“Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang
buruk.” (Q.S.
Al-Isro:32)
Seperti
seberkas cahaya yang menembus ruang sadarku. Salah satu Ayat Al-Quran ini
mengirimku pada penyesalan karena pernah melakukan satu hal yang dulu begitu
aku agungkan. Tak sedikit pun terbersit di pikiranku untuk berhenti. Semacam
candu yang menggerogoti sukmaku. Dulu aku begituu iri jika tak memiliki seorang
pacar. Kini usiaku menginjak 22 tahun. Aku sudah cukup dewasa, meskipun waktu
aku memutuskan untuk berpacaran berarti aku sudah dewasa. Setiap harinya sang
kekasih selalu mewarnai hidupku, kata-kata rayuan yang dikirim melalui ponsel,
perhatian yang membuatku melambung tinggi ke langit biru, selalu pergi berdua
berboncengan. Bahkan ia mengantar dan menjemputku setiap pulang dari sekolah.
Berbicara
tentang cinta tak ada habisnya. Sebagai remaja, waktu itu menjadi masa-masa
terindah untuk menjalin cinta. Selalu ada kerindukan pada degup jantung saat
bertemu dengan sang kekasih itu. Selalu ada kerinduan untuk bercengkerama di
kantin sekolah, atau jalan-jalan ke tempat yang romantis.
***
Bertemu
dengan Andri merupakan kenangan klasik saat aku duduk di bangku SMA kelas XI.
Ia teman sekolahku, walaupun berbeda kelas. Ia cowo yang cukup terkenal, sebab
tampan, pintar dan humoris. Bertemu dengan siapapun ia akan mudah menyatu.
Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mempertemukan kami berdua dalam satu tim
debat Bahasa Inggris. Hobiku dengan pelajaran bahasa Inggris, serta
kemampuannya dalam berbahasa Inggris membuat pertemanan kami semakin dekat. Tak
jarang ia menjemputku pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, ia selalu mengajakku
untuk jalan-jalan, sesekali ia mentraktirku minum jus di cafe ekonomis di depan
sekolah.
Hari-hariku
menjadi penuh semangat. Setiap waktu kubayangkan rautnya yang tak pernah bosan
untuk di pandang. Kuimpikan sepanjang malam pertemuan esok harinya di sekolah.
Suatu hari, langit cerah. Embun sejuk
masih dengan berani menunggu cahaya hangat matahari untuk menjatuhkannya dari
ujung dedaunan yang bergoyang-goyang disapa angin pagi. Jilbab putih yang
kukenakan melambai-lambai, mataku masih rusuh mencari-cari keberadaan Andri. Di
sudut-sudut sekolah tak kutemui Andri.
“Hhmm,
tumben sekali dia terlambat begini,” pikirku dalam hati. Tiba-tiba saja aku
menjadi resah. Seperti ada yang kurang. Sesekali kurapikan jilbabku.
“Duarr!”
seseorang mengagetkanku dari belakang. “Ke kantin yuk,”
“Udah
sarapan,”
Tak
henti-hentinya jantungku berdegup, seperti lari kuda yang menebah sesisi dunia.
Kutundukan wajahku tiap kali ia menghampiriku. Aku sudah jatuh terlalu dalam di
palung cintaku sendiri, padanya. Andri. Lelaki yang menjadi mimpi siang dan
malamku. Pujaanku.
“Ya
udah, kamu temenin aku aja,”
“Oke
lah. Oh iya Dri, kapan kita latihan debat lagi, sebentar lagi kan kita akan
berkompetisi di tingkat provinsi,”
“Ya
ela, santai aja kenapa, pasti kamu pengen ketemu aku terus, hahaha,”
“Ih,
sembarangan! Kata siapa,”
Pipi
tembemku seketika memerah.
“Tuh
kan pipi kamu merah,”
“Ih
apaan sih...”
Andri
tertawa terbahak-bahak. “Kata orang, kalau rindu nggak boleh ditahan Yul,
bilang aja napa,”
“Kata
siapa aku rindu sama kamu,”
“Buktinya
tadi kamu nyariin aku,”
“Siapa
bilang, ih dasar,”
***
Segelas es susu kuseruput. Aku memang
terbiasa minum es, meskipun hari masih pagi. Berbeda dengan Andri, dia lebih
menyukai minuman yang hangat, seperti pagi ini ia memesan segelas susu coklat
hangat. Diam-diam kuperhatikan wajahnya
saat ia makan. Lalu dengan segera kutundukan lagi pandanganku.
“Astagfirullahalazim,”
Aku
sudah terlalu jauh merasakan sesuatu, cinta. Sehingga aku tak bisa sedetik pun
untuk tak mencarinya, untuk tak bertemu dengannya.
“Yul,
kamu udah punya pacar,”
“Nggak
ada,”
“Pernah
pacaran?”
Aku
menggeleng. Andri adalah cinta pertamaku, mungkin. Sebab, ia satu-satunya
lelaki yang waktu itu kukagumi dengan segenap jiwaku. Mungkin orang bilang
cinta monyet. Tapi, aku merasa cinta sebenarnya.
“Yul,
mau nggak jadi pacar aku,”
Andri
mengungkapkan kata-kata yang selama ini kutunggu. Kaget dan tak menyangka akan
secepat ini. Sejak kami lomba debat di tingkat kabupaten dua bulan yang lalu,
aku memang sedang merasakan hal yang sama. Tapi, aku tak menyangka Andri akan
secepat ini menembakku.
“Yul,
kok diam,”
“Eh,
iya dri, sorry,”
“Jadi
gimana Yul,”
“Gimana
ya? Aku...”
“Yul,”
Andri meremas tanganku, seisi kantin memandang ke arah kami. Suitan terdengar
di mana-mana. Aku malu saat itu. Tapi, hatiku terlanjur berbunga-bunga. Anganku
terlanjur terbang melambung ke langit. Hari yang kuimpikan akhirnya tiba. Andri
mengungkapkan perasaannya.
“Terima!
Terima!” semua orang berteriak.
“Ciyee,
ideal banget nih. Sama-sama jago bahasa Inggris,” Ratih salah satu teman
sekelasku juga turut mendukung. “udah jadian aja napa, biar tambah klop
lombanya bulan depan,”
Akhirnya,
satu kata yang tak bisa kuelakan lagi. Satu kata yang meresmikan hubunganku
dengan Andri.
“Iya,”
Kulihat
senyum manisnya mengembang. Lalu ia seruput susu coklatnya yang tadi tinggal
setengah. Terlihat lebih nikmat dari pada sebelumnya.
“Terima
kasih Yulia,”
Sejak saat itu, resmilah kami
berpacaran. Menjalin hubungan sebagai kekasih. Menikmati hari-hari yang syahdu
penuh kerinduan. Canda tawa, selalu menjadi cerita setiap waktu. Menghabiskan
waktu berdua adalah cita-cita yang selalu diinginkan.
***
Ini tahun ke tujuh aku dan Andri
berpacaran. Meskipun cinta yang selama ini kami pupuk sudah subur dan rindang.
Namun, sesekali angin kerinduan pada hijrah terus saja membadai dalam batinku.
Di usia kami yang sedewasa ini, aku semakin menyadari bahwa apa yang kami
jalani selama ini adalah sebuah perbuatan dosa. Dilema. Satu kata yang terus
saja merongrong pikiranku. Hati dan pikiran kini mulai bergejolak, tak sepaham.
Seperti air dan api yang tak bisa menyatu. Rasa cintaku pada Andri begitu
besar, tak bisa kupingkiri bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku
bersamanya. Hubungan yang kami jalin semenjak duduk di bangku SMA hingga lulus
kuliah inilah yang masih menjadi pertimbanganku. Di satu sisi aku ingin
mengakhiri dosaku bersama Andri, di satu sisi aku sudah sangat menyayanginya
sebagai lelaki yang kusemogakan dalam doa-doaku.
Yah, aku sudah dewasa untuk
memutuskan mana yang terbaik saat ini. Aku diuji untuk memilih cinta mana yang
harusnya menjadi utama.
“Walaa
taqrobullzinnaa innahukaana faahisyatan wasa asabiila. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Nak, Yulia, cintamu pada
hamba jangan sampai melebihi kecintaanmu terhadap Rabb-mu. Kau bisa tumbuh
hingga dewasa, semua karena kasih sayang-Nya,” nasihat Umi Rukayah padaku
selalu terngiang-ngiang sejak satu tahun terakhir ini.
“Tapi
umi, Yulia sayang banget sama Andri. Yulia pengen Andri jadi orang terakhir,”
“Yulia,
pacaran adalah pintu menuju perbuatan zina. Tidak sedikit perzinahan terjadi
karena pacaran. Saat ini kamu memang masih terjaga, tapi apa yang pernah kamu
lakukan bersama Andri tujuh tahun yang lalu berpegangan tangan, merayu, dan
sebagainya adalah termasuk perbuatan zina, zina tangan, zina mata,”
Air
mataku menetes, bayang-bayang Andri amat
membekas di pelupuk mata. Senyumnya, perhatiannya, kenangan selama tujuh tahun. Tak terasa
titik-titik bening semakin membanjiri wajahku. Umi Rukayah benar, aku harusnya
memilih kecintaan kepada Allah daripada Andri. Selama aku berpacaran sama saja
dengan aku memupuk dosa-dosa setiap hari. Aku selalu berkhayal pertemuan dengan
Andri setiap detik. Pertemuan dengan laki-laki yang bukan mahramku.
Astagfirullahalazim.
“Yulia,
jika Andri benar mencintaimu, dia tak akan mengajakmu untuk melakukan dosa.
Insyaallah jika dia jodohmu, kalian pasti akan dipersatukan Allah dalam ikatan
yang suci. Bukan pacaran,”
***
Siang itu, adalah siang yang
mendebarkan. Langit-langit seakan runtuh, aku berjalan layaknya seperti orang
yang tidak menyentuh bumi. Pikiranku yang berkecamuk semakin meruncing. Aku
putuskan untuk bertemu Andri. Lelaki yang pernah kucintai tujuh tahun ini. Ya
pernah, karena sejak hari ini aku akan membunuh semua perasaan dan kenanganku
tentangnya.
“Hai
Yul, tumben ngajak ketemuan siang-siang, nggak kerja?”
Aku
diam.
“Yul,
kenapa sih? Ada yang mau diomongin?”
Seorang
pramusaji datang menghampiri kami.
“Pesan
apa mas?”
“Es
susu putih sama susu coklat hangat,”
Pramusaji
berlalu, tapi aku masih diam seribu bahasa di depan Andri. Aku tak tahu harus
memulainya dari mana. Apa kalimat yang tepat untuk memutuskan hubunganku
dengannya. “Oh Andri, kekasihku. Percayalah aku menyayangimu, aku
menginginkanmu. Tetapi, kecintaan kita pada hamba tak boleh melebihi kecintaan
pada sang pemilik cinta. Allah SWT.”
Dengan
perlahan Andri kembali memecah lamunanku.
“Yul...”
“Dri,
aku mau kita putus!”
Sejenak
Andri terdiam, ia memandang ke arah jendela kaca yang mulai buram. Di luar
hujan turun dengan lebat. Kabut keputihan yang memancar dari jatuhan air yang
menetes dari langit membombardir kesedihanku. Air mataku tumpah lagi untuk
kesekian kalinya.
“Tapi
kenapa Yul?”
“Dri,
jika kau mencintaiku, jadikan aku kekasih halalmu. Tidak seperti yang telah
kita jalani selama tujuh tahun ini, aku sudah tak sanggup menanggung dosaku
Dri. Setiap hari kita mengumpulkan dosa-dosa yang kita lakukan selama
berpacaran,”
“Astagfirullahalazim,
maafkan aku Yulia. Aku menyayangimu, percayalah. Selama tujuh tahun ini, aku
cinta padamu. Tapi, akan menjadi lelaki bajingan jika terus menerus memaksamu
menjalin hubungan seperti ini,”
Kutemukan
raut penyesalan di wajahnya, air matanya menggenang begitu saja. Namun terhapus
sebelum sempat menetes. Aku tahu tak mungkin baginya untuk menangis. Aku tahu
cintanya tulus, tapi akan sangat tidak adil pada cinta jika ia tak ditempatkan
pada posisinya yang seharusnya.
“Terima
kasih Dri. Jaga dirimu, lupakan semua yang telah terjadi,”
Hujan berhenti turun, di kaca membias
titik-titik embun. Di baliknya, kulihat pelangi menampakan keindahannya. Semoga
ini menjadi salah satu jalan hijrahku untuk terus mendekatkan diri pada Allah.
Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, maka aku pun percaya. Kebahagian
yang hakiki akan segera datang setelah kesedihan.
Selamat
tinggal Andriku. Mulai detik ini, kulupakan segala kenangan yang dulu kita
lukis bersama.
Keren๐๐๐
BalasHapusDan faktanya masih bnyak anak muda yang lebih mementingkan kebahagian dunia dari pada akhiratnya
BalasHapus