Kamis, 18 Oktober 2018

Kumpulan cerpen cinta


HIJRAH CINTA

Walaa taqrobullzinnaa innahukaana faahisyatan wasa asabiila
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isro:32)

Seperti seberkas cahaya yang menembus ruang sadarku. Salah satu Ayat Al-Quran ini mengirimku pada penyesalan karena pernah melakukan satu hal yang dulu begitu aku agungkan. Tak sedikit pun terbersit di pikiranku untuk berhenti. Semacam candu yang menggerogoti sukmaku. Dulu aku begituu iri jika tak memiliki seorang pacar. Kini usiaku menginjak 22 tahun. Aku sudah cukup dewasa, meskipun waktu aku memutuskan untuk berpacaran berarti aku sudah dewasa. Setiap harinya sang kekasih selalu mewarnai hidupku, kata-kata rayuan yang dikirim melalui ponsel, perhatian yang membuatku melambung tinggi ke langit biru, selalu pergi berdua berboncengan. Bahkan ia mengantar dan menjemputku setiap pulang dari sekolah.
Berbicara tentang cinta tak ada habisnya. Sebagai remaja, waktu itu menjadi masa-masa terindah untuk menjalin cinta. Selalu ada kerindukan pada degup jantung saat bertemu dengan sang kekasih itu. Selalu ada kerinduan untuk bercengkerama di kantin sekolah, atau jalan-jalan ke tempat yang romantis.

***
Bertemu dengan Andri merupakan kenangan klasik saat aku duduk di bangku SMA kelas XI. Ia teman sekolahku, walaupun berbeda kelas. Ia cowo yang cukup terkenal, sebab tampan, pintar dan humoris. Bertemu dengan siapapun ia akan mudah menyatu. Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mempertemukan kami berdua dalam satu tim debat Bahasa Inggris. Hobiku dengan pelajaran bahasa Inggris, serta kemampuannya dalam berbahasa Inggris membuat pertemanan kami semakin dekat. Tak jarang ia menjemputku pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, ia selalu mengajakku untuk jalan-jalan, sesekali ia mentraktirku minum jus di cafe ekonomis di depan sekolah.
Hari-hariku menjadi penuh semangat. Setiap waktu kubayangkan rautnya yang tak pernah bosan untuk di pandang. Kuimpikan sepanjang malam pertemuan esok harinya di sekolah.
Suatu hari, langit cerah. Embun sejuk masih dengan berani menunggu cahaya hangat matahari untuk menjatuhkannya dari ujung dedaunan yang bergoyang-goyang disapa angin pagi. Jilbab putih yang kukenakan melambai-lambai, mataku masih rusuh mencari-cari keberadaan Andri. Di sudut-sudut sekolah tak kutemui Andri.
“Hhmm, tumben sekali dia terlambat begini,” pikirku dalam hati. Tiba-tiba saja aku menjadi resah. Seperti ada yang kurang. Sesekali kurapikan jilbabku.
“Duarr!” seseorang mengagetkanku dari belakang. “Ke kantin yuk,”
“Udah sarapan,”
Tak henti-hentinya jantungku berdegup, seperti lari kuda yang menebah sesisi dunia. Kutundukan wajahku tiap kali ia menghampiriku. Aku sudah jatuh terlalu dalam di palung cintaku sendiri, padanya. Andri. Lelaki yang menjadi mimpi siang dan malamku. Pujaanku.
“Ya udah, kamu temenin aku aja,”
“Oke lah. Oh iya Dri, kapan kita latihan debat lagi, sebentar lagi kan kita akan berkompetisi di tingkat provinsi,”
“Ya ela, santai aja kenapa, pasti kamu pengen ketemu aku terus, hahaha,”
“Ih, sembarangan! Kata siapa,”
Pipi tembemku seketika memerah.
“Tuh kan pipi kamu merah,”
“Ih apaan sih...”
Andri tertawa terbahak-bahak. “Kata orang, kalau rindu nggak boleh ditahan Yul, bilang aja napa,”
“Kata siapa aku rindu sama kamu,”
“Buktinya tadi kamu nyariin aku,”
“Siapa bilang, ih dasar,”

***

Segelas es susu kuseruput. Aku memang terbiasa minum es, meskipun hari masih pagi. Berbeda dengan Andri, dia lebih menyukai minuman yang hangat, seperti pagi ini ia memesan segelas susu coklat hangat.  Diam-diam kuperhatikan wajahnya saat ia makan. Lalu dengan segera kutundukan lagi pandanganku.
“Astagfirullahalazim,”
Aku sudah terlalu jauh merasakan sesuatu, cinta. Sehingga aku tak bisa sedetik pun untuk tak mencarinya, untuk tak bertemu dengannya.
“Yul, kamu udah punya pacar,”
“Nggak ada,”
“Pernah pacaran?”
Aku menggeleng. Andri adalah cinta pertamaku, mungkin. Sebab, ia satu-satunya lelaki yang waktu itu kukagumi dengan segenap jiwaku. Mungkin orang bilang cinta monyet. Tapi, aku merasa cinta sebenarnya.
“Yul, mau nggak jadi pacar aku,”
Andri mengungkapkan kata-kata yang selama ini kutunggu. Kaget dan tak menyangka akan secepat ini. Sejak kami lomba debat di tingkat kabupaten dua bulan yang lalu, aku memang sedang merasakan hal yang sama. Tapi, aku tak menyangka Andri akan secepat ini menembakku.
“Yul, kok diam,”
“Eh, iya dri, sorry,”
“Jadi gimana Yul,”
“Gimana ya? Aku...”
“Yul,” Andri meremas tanganku, seisi kantin memandang ke arah kami. Suitan terdengar di mana-mana. Aku malu saat itu. Tapi, hatiku terlanjur berbunga-bunga. Anganku terlanjur terbang melambung ke langit. Hari yang kuimpikan akhirnya tiba. Andri mengungkapkan perasaannya.
“Terima! Terima!” semua orang berteriak.
“Ciyee, ideal banget nih. Sama-sama jago bahasa Inggris,” Ratih salah satu teman sekelasku juga turut mendukung. “udah jadian aja napa, biar tambah klop lombanya bulan depan,”
Akhirnya, satu kata yang tak bisa kuelakan lagi. Satu kata yang meresmikan hubunganku dengan Andri.
“Iya,”
Kulihat senyum manisnya mengembang. Lalu ia seruput susu coklatnya yang tadi tinggal setengah. Terlihat lebih nikmat dari pada sebelumnya.
“Terima kasih Yulia,”
Sejak saat itu, resmilah kami berpacaran. Menjalin hubungan sebagai kekasih. Menikmati hari-hari yang syahdu penuh kerinduan. Canda tawa, selalu menjadi cerita setiap waktu. Menghabiskan waktu berdua adalah cita-cita yang selalu diinginkan.

***

Ini tahun ke tujuh aku dan Andri berpacaran. Meskipun cinta yang selama ini kami pupuk sudah subur dan rindang. Namun, sesekali angin kerinduan pada hijrah terus saja membadai dalam batinku. Di usia kami yang sedewasa ini, aku semakin menyadari bahwa apa yang kami jalani selama ini adalah sebuah perbuatan dosa. Dilema. Satu kata yang terus saja merongrong pikiranku. Hati dan pikiran kini mulai bergejolak, tak sepaham. Seperti air dan api yang tak bisa menyatu. Rasa cintaku pada Andri begitu besar, tak bisa kupingkiri bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Hubungan yang kami jalin semenjak duduk di bangku SMA hingga lulus kuliah inilah yang masih menjadi pertimbanganku. Di satu sisi aku ingin mengakhiri dosaku bersama Andri, di satu sisi aku sudah sangat menyayanginya sebagai lelaki yang kusemogakan dalam doa-doaku.
Yah, aku sudah dewasa untuk memutuskan mana yang terbaik saat ini. Aku diuji untuk memilih cinta mana yang harusnya menjadi utama.
“Walaa taqrobullzinnaa innahukaana faahisyatan wasa asabiila. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Nak, Yulia, cintamu pada hamba jangan sampai melebihi kecintaanmu terhadap Rabb-mu. Kau bisa tumbuh hingga dewasa, semua karena kasih sayang-Nya,” nasihat Umi Rukayah padaku selalu terngiang-ngiang sejak satu tahun terakhir ini.
“Tapi umi, Yulia sayang banget sama Andri. Yulia pengen Andri jadi orang terakhir,”
“Yulia, pacaran adalah pintu menuju perbuatan zina. Tidak sedikit perzinahan terjadi karena pacaran. Saat ini kamu memang masih terjaga, tapi apa yang pernah kamu lakukan bersama Andri tujuh tahun yang lalu berpegangan tangan, merayu, dan sebagainya adalah termasuk perbuatan zina, zina tangan, zina mata,”
Air mataku menetes,  bayang-bayang Andri amat membekas di pelupuk mata. Senyumnya, perhatiannya,  kenangan selama tujuh tahun. Tak terasa titik-titik bening semakin membanjiri wajahku. Umi Rukayah benar, aku harusnya memilih kecintaan kepada Allah daripada Andri. Selama aku berpacaran sama saja dengan aku memupuk dosa-dosa setiap hari. Aku selalu berkhayal pertemuan dengan Andri setiap detik. Pertemuan dengan laki-laki yang bukan mahramku. Astagfirullahalazim.
“Yulia, jika Andri benar mencintaimu, dia tak akan mengajakmu untuk melakukan dosa. Insyaallah jika dia jodohmu, kalian pasti akan dipersatukan Allah dalam ikatan yang suci. Bukan pacaran,”
***
Siang itu, adalah siang yang mendebarkan. Langit-langit seakan runtuh, aku berjalan layaknya seperti orang yang tidak menyentuh bumi. Pikiranku yang berkecamuk semakin meruncing. Aku putuskan untuk bertemu Andri. Lelaki yang pernah kucintai tujuh tahun ini. Ya pernah, karena sejak hari ini aku akan membunuh semua perasaan dan kenanganku tentangnya.
“Hai Yul, tumben ngajak ketemuan siang-siang, nggak kerja?”
Aku diam.
“Yul, kenapa sih? Ada yang mau diomongin?”
Seorang pramusaji datang menghampiri kami.
“Pesan apa mas?”
“Es susu putih sama susu coklat hangat,”
Pramusaji berlalu, tapi aku masih diam seribu bahasa di depan Andri. Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Apa kalimat yang tepat untuk memutuskan hubunganku dengannya. “Oh Andri, kekasihku. Percayalah aku menyayangimu, aku menginginkanmu. Tetapi, kecintaan kita pada hamba tak boleh melebihi kecintaan pada sang pemilik cinta. Allah SWT.”
Dengan perlahan Andri kembali memecah lamunanku.
“Yul...”
“Dri, aku mau kita putus!”
Sejenak Andri terdiam, ia memandang ke arah jendela kaca yang mulai buram. Di luar hujan turun dengan lebat. Kabut keputihan yang memancar dari jatuhan air yang menetes dari langit membombardir kesedihanku. Air mataku tumpah lagi untuk kesekian kalinya.
“Tapi kenapa Yul?”
“Dri, jika kau mencintaiku, jadikan aku kekasih halalmu. Tidak seperti yang telah kita jalani selama tujuh tahun ini, aku sudah tak sanggup menanggung dosaku Dri. Setiap hari kita mengumpulkan dosa-dosa yang kita lakukan selama berpacaran,”
“Astagfirullahalazim, maafkan aku Yulia. Aku menyayangimu, percayalah. Selama tujuh tahun ini, aku cinta padamu. Tapi, akan menjadi lelaki bajingan jika terus menerus memaksamu menjalin hubungan seperti ini,”
Kutemukan raut penyesalan di wajahnya, air matanya menggenang begitu saja. Namun terhapus sebelum sempat menetes. Aku tahu tak mungkin baginya untuk menangis. Aku tahu cintanya tulus, tapi akan sangat tidak adil pada cinta jika ia tak ditempatkan pada posisinya yang seharusnya. 
“Terima kasih Dri. Jaga dirimu, lupakan semua yang telah terjadi,”
Hujan berhenti turun, di kaca membias titik-titik embun. Di baliknya, kulihat pelangi menampakan keindahannya. Semoga ini menjadi salah satu jalan hijrahku untuk terus mendekatkan diri pada Allah. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, maka aku pun percaya. Kebahagian yang hakiki akan segera datang setelah kesedihan.
Selamat tinggal Andriku. Mulai detik ini, kulupakan segala kenangan yang dulu kita lukis bersama.


2 komentar:

  1. Keren๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  2. Dan faktanya masih bnyak anak muda yang lebih mementingkan kebahagian dunia dari pada akhiratnya

    BalasHapus

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...