Kamis, 18 Oktober 2018

Catatan Kecil dari Kampungku


Catatan Kecil dari Kampungku

Brum…brum…suara mesin kendaraan kami melaju dengan kecepatan sedang, jalan berkelok yang hanya dilapisi tanah merah dengan sedikit bebatuan kecil sungguh sangat mengganggu. Tapi rasa syukur yang begitu dalam terhadap Allah SWT, serta kerja pemerintah dalam memperbaiki jalan menuju kampungku ini patut untuk diberikan jempol. Setelah bertahun-tahun lamanya, jalan becek dengan tanah liat kuning sudah tinggal kenangan. Sekarang walau hujan, jalan ini tetap nyaman untuk dilalui. Aku termenung memandang jalan yang kulewati, butiran debu yang melintas menghantarkanku pada kenangan puluhan tahun silam.
Kampungku ini hanya berjarak 14 Km dari kota Kabupaten. Namun, kami harus melewati sungai dengan transportasi kelotok atau speedboat agar bisa bepergian ke Kabupaten. Kurang lebih 30 menit, menyusuri sungai Lamandau, kami bisa menikmati kera yang bergelantungan di pohon sambil minum air di pinggiran sungai. Sesekali pula kami mengambil buah ubai (buah pohon salam) yang berwarna merah dan rasanya manis. Buah ini hanya sebesar ujung jari telunjuk, namun apabila dimakan dengan gula pasir, rasanya sungguh menyegarkan. Anak-anak di kampungku tak mengenal gawai. Setiap sore kami bermain betapukan (petak umpet) dan bermain prak. Permainan prak ini adalah permainan dengan mengangkat satu kaki, melewati garis-garis yang digambar di tanah. Semuanya berbaur, menyatu dalam kebahagian menikmati masa kanak-kanak yang penuh permainan. Jalan-jalan kampung ramai dengan anak-anak yang bermain. Setelah puas bermain, kami berenang dan mandi di sungai sambil mencari kerang yang kami sebut dengan lala.
Sepulang sekolah aku diajak Ayah dan Uma (artinya Ibu) pergi ke huma (ladang). Melewati jalan rimbun penuh dengan pohon yang tinggi menjulang. Suara kera dan burung bersahutan. Seiap kali menghela napas, aroma khas belantara begitu menusuk. Memberikan ketenangan dan kenyamanan yang tiada tara.
 “Ayah, kapan kita memasang pukat lagi. Aku ingin ikut Ayah.” Tanyaku pada ayah suatu hari.
“Ayah sudah memasang tadi pagi, setelah pulang sekolah, kita akan ambil ikannya. Semoga dapat banyak.” Jawab ayah.
 “Horeee…kalau begitu, nanti kita sambil memetik buah kenyem ya Ayah.”
Pukat adalah alat menangjap ikan yang berbentuk jarring. Biasanya pukat diberi tali pada ujung kiri dan kanannya. Dibagian bawah digantungkan pemberat dari batu agara ia tenggelam ke dalam sungai saat memasangnya. Lalu tali pada ujung kiri dan kanan diikatkan pada batang kayu yang roboh di pinggiran sungai. Sedangkan kenyem adalah buah hutan yang biasanya tumbuh di pinggiran sungai berwarna kemerahan apabila sudah matang. Rasanya manis dan agak sedikit ketir. Namun, anak-anak di kampungku sangat menyukai buah ini. Dengan segala keterbatasan, kami selalu bersyukur dapat menikmati hidup dan makan dari apa yang telah Allah anugerahkan melalui alam ini. Begitulah kehidupan di kampungku, Ayah tak perlu membeli agar bisa memakan ikan, dengan pukat kami sekeluarga bisa makan ikan sepuasnya. Alam memang banyak memberikan sumber kehidupan.
Suatu ketika, banjir datang menggenangi kampungku. Rumah-rumah penduduk tergenang air. Ada yang mencapai setinggi lutut orang dewasa. Akses menuju sekolah pun terputus karena banjir kali ini cukup besar, akhirnya sekolah diliburkan. Warga yang rumahnya berada di tepi sungai terpaksa harus mengungsi, memenuhi ruang kelas di sekolahku, hingga ke gedung pertemuan kampung. Namun, ada satu yang tidak bisa dilupakan saat banjir tiba, aku dan ayah sering memasang pukat di lapangan sepak bola yang tergenang banjir. Saat diangkat ikan lele memenuhi pukat. Entah darimana ikan-ikan itu berasal. Tapi inilah anugerah di kampungku, walau dalam keadaan banjir, alam tetap memberi kami kehidupan.
Di sebelah barat kampungku, terhampar hutan belantara nan hijau. Di sana tumbuh kayu-kayu besar dan sungai yang mengalir jernih di bawah gugusan bukit. Di sana pula huma-huma kami membentang dikelilingi rimba. Buat-buah topah tumbuh subur, yaitu buah hutan yang pohonnya mirip seperti pohon lengkuas. Rasa buah ini ada yang manis, ada juga yang asam.
Hari ini, aku berdiri menatap lapangan sepak bola di kampungku. Tempat dulu aku dan ayah memasang pukat. Tempat dulu aku berjalan menyusuri rimba raya, mendengar nyanyian burung yang merdu, hingga menyaksikan kera yang menari di pucuk-pucuk pohon. Kini, hamparan hijau itu bukan lagi pepohonan, melainkan pohon-pohon sawit yang tumbuh dengan subur. Perkebunan sawit telah memenuhi sekeliling kampungku. Di sisi lain perkebunan sawit ini mampu mengangkat perekonomian masyarakat di sana, lapangan pekerjaan terbuka lebar bagi mereka. Kepulanganku hari ini berharap dapat melihat sisa-sisa kenangan masa kecilku. Tetapi, setumpuk kenanganku tentang hutan dan kampungku perlahan menghilang di balik rimbunnya pohon sawit yang membentang luas di sana.(Rz)

2 komentar:

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...