Jumat, 12 Juni 2026

Cerpen Warung Soto Amang Ali


Warung Soto Amang Ali
Karya Trisnawati

Sumber ilustrasi gambar gemini AI

        Asap tipis mengepul dari panci besar di atas kompor, namun aroma kaldu ayam yang biasanya mengundang pelanggan justru menguap begitu saja di udara sore yang lengang. Mang Ali menghitung sisa beras di karung kecil di pojok dapur yang tinggal cukup untuk tiga hari. Ia menatap jalanan Kabupaten Kenyem yang sebenarnya tak pernah sepi dari kendaraan, lalu kembali masuk dan duduk di kursi kayu dekat meja kasir. Di dinding, sebuah pigura kaca berdebu memperlihatkan fotonya dengan Acil Tinah, diambil puluhan tahun lalu di depan warung yang baru saja berdiri. Suara gesekan sapu lidi dari tetangga toko sebelah menandakan hari telah beranjak gelap, tanpa ada satu pun mangkuk soto yang tersaji hari ini.
      Mang Ali berusia hampir kepala enam. Ia tak memiliki pegawai di warung sotonya, hanya ia sendirian yang mengurusi semuanya, sejak memotong ayam di pagi buta hingga mencuci mangkuk terakhir di malam hari. Meski begitu tubuhnya tetap terlihat bugar, hanya kerutan yang semakin bertambah di wajahnya. Namun keramahannya tak pernah surut, sekalipun hatinya remuk.
Kemarin ia hanya laku lima porsi soto, padahal sudah berjualan dari pagi hingga sore seperti biasa. Ia mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, sekadar mengusir sepi. Matanya kembali ke pigura di dinding, dan tanpa diundang, kenangan itu datang lagi seperti aroma kaldu yang menguap, sulit dicegah, sulit pula ditahan.
Sebelum pandemi Covid-19 melanda pada 2020, warung ini adalah salah satu yang paling ramai pembeli. Bagaimana tidak? Uap tipis yang menari-nari di atas mangkuk menimbulkan aroma lezat yang menggugah rasa lapar, sementara di dalamnya terlihat perpaduan kontras antara hijau seledri, kuningnya kuah kaldu yang gurih, dan putihnya irisan telur rebus yang tenggelam di antara suwiran daging ayam yang royal. Ketika sendok pertama menyentuh lidah, perpaduan kaldu ayam yang gurih, segarnya perasan jeruk nipis, dan sengatan lembut sambal langsung mengalirkan kehangatan yang memanjakan seluruh indra.
Saat itu, Acil Tinah selalu berdiri di dekat panci besar, sesekali menambahkan sejumput bawang goreng lebih banyak untuk pelanggan yang ia kenal baik. "Biar makin sayang sama warung kita," begitu candanya, sambil mengedipkan sebelah mata kepada Mang Ali yang sibuk membuat es teh.
Namun pandemi mengubah segalanya. Warung mulai sepi pembeli, dan kondisi keuangan keluarga ikut menyusut. Acil Tinah, yang sudah lama mengidap asma, tiba-tiba terdiagnosis Covid. Dalam waktu singkat, kedua penyakit itu berkomplikasi di tubuhnya. Karena keuangan yang sulit, ia baru dibawa ke rumah sakit satu jam sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Kepergian Acil Tinah membuat Mang Ali terpukul hingga ke dasar hatinya. Meski pernikahan mereka tak dikaruniai anak, keduanya selalu bahagia dan saling melengkapi.
Mang Ali masih ingat persis hari ketika warung ini bermula. "Biar tidak kesepian, bagaimana kalau kita jualan soto saja, Bang?" kata Acil Tinah waktu itu, di sebidang tanah peninggalan orang tua Mang Ali. Dengan tangan mereka berdua, warung sederhana ini dibangun dengan cinta, dengan harapan. Kini, ia tidak hanya kehilangan istrinya, tapi mungkin juga akan kehilangan warung sotonya
***
Hari ini, seperti hari-hari belakangan, Mang Ali duduk di atas sajadahnya selepas zuhur. Ia menatap pigura foto di dinding, lalu menatap panci besar yang dulu selalu penuh, kini hanya berisi separuh kaldu yang mulai dingin.
"Tinah," gumamnya pelan, seolah istrinya masih duduk di sampingnya seperti dulu, "kalau Abang tutup warung ini, apa Abang sudah mengkhianati kamu? Setiap sudut di sini masih menyimpan kenanganmu. Senyummu ketika membuat kuah di dapur, suaramu saat menyapa pembeli, semangatmu yang setiap hari kamu kasih ke Abang... Abang sudah coba bertahan, Tinah. Tapi rasanya sudah tidak ada jalan lagi."
Ia menyeka air matanya dengan ujung sarungnya, lalu menunduk, menangis tersedu-sedu di atas sajadah. Hari ini belum ada satu pun pembeli yang datang. Ia sudah buka sejak pukul 06.30, dan kini jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul 12.00.
"Assalamualaikum, Mang."
Mang Ali tersentak, cepat-cepat mengusap matanya dengan punggung tangan. Hatinya girang bukan main, ada pembeli! Seorang pemuda berusia awal dua puluhan berdiri di ambang pintu, tersenyum tanpa secanggung apa pun, seolah sudah sering datang ke warung ini. Ia duduk di salah satu kursi, melemparkan pandangan ke setiap sudut ruangan, lalu menarik napas panjang seperti menghirup aroma yang lama dirindukan.
"Waalaikumsalam." Mang Ali tersenyum manis seperti biasanya. Setidaknya itulah pesan sang istri untuk selalu tersenyum, sesempit apa pun keadaan.
"Sotonya satu ya, Mang, dimakan di sini. Terus tolong bungkuskan sepuluh porsi untuk dibawa pulang."
Mata Mang Ali berkaca-kaca mendengarnya. Tak henti ia mengucap Alhamdulillah berkali-kali sambil bangkit menuju panci. Sepuluh porsi, setidaknya itu cukup untuk membeli ayam dan sayuran segar esok hari.
"Mang, saya pelanggan lama, loh," kata pemuda itu sambil memperhatikan Mang Ali mengaduk kuah. "Saya dulu sering diajak makan di sini sama ayah dan ibu saya."
"Wah, tahun berapa itu, Mas?"
"Waktu itu saya masih SMP, Mang. Sekitar tahun 2003."
"Sudah lama sekali itu, Mas." Mang Ali meletakkan mangkuk soto di meja, lalu duduk di kursi seberangnya, penasaran.
"Rasanya benar-benar nggak berubah, Mang. Kuahnya, sambalnya... semuanya masih sama. Saya jadi ingat, dulu Acil yang masak suka nambahin sambal ekstra buat saya, soalnya saya paling suka pedas. Acil-nya masih ada, Mang?"
Pertanyaan itu menohok dada Mang Ali. Ia terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Acil sudah meninggal, Mas. Waktu pandemi kemarin."
Wajah pemuda itu berubah, matanya meredup. "Innalillahi... saya ikut berduka, Mang. Pantas saja rasa sambalnya... ah, maaf, saya jadi banyak omong."
"Tidak apa, Mas. Justru senang ada yang masih ingat." Mang Ali tersenyum, meski matanya basah. "Memangnya ayah sama ibu Mas, ke mana?"
"Sudah lama meninggal juga, Mang. Ayah pindah tugas ketika saya SMA, lalu meninggal lima tahun kemudian karena sakit. Terus, pas pandemi kemarin, Ibu menyusul. Katanya kena virus corona juga."
Mang Ali terdiam, hatinya tiba-tiba terasa sesak. Baru saja ia berniat menutup warung ini selamanya. Tapi kini, di hadapannya, ada seseorang yang datang jauh-jauh demi menghidupkan kembali sebuah kenangan, dan kenangan itu entah bagaimana, terjalin dengan kenangannya sendiri tentang Acil Tinah.
"Mang, Mang, kok melamun?"
"Eh, iya, Mas. Maaf. Ada apa?"
"Begini, Mang. Seminggu lagi saya mau syukuran kecil di rumah, karena saya baru dipindahtugaskan kembali ke kota ini. Saya ingin Mang Ali yang masak soto untuk acara itu, sekitar dua ratus porsi. Bisa, Mang?"
Mang Ali terkejut. Dua ratus porsi adalah jumlah yang luar biasa besar untuknya yang sudah lama tak memasak lebih dari sepuluh porsi sehari. Ia menghitung cepat dalam kepalanya, bahan-bahan, peralatan, tenaga seorang diri. "Dua ratus porsi... itu banyak sekali, Mas. Saya... saya jujur saja, modal saya sekarang pas-pasan. Belum lagi saya kerja sendirian."
"Soal modal, nanti saya bantu uang muka dulu, Mang, biar bisa belanja bahan. Sisanya dibayar setelah acara." Pemuda itu tersenyum yakin. "Kalau soal tenaga, mungkin Mang bisa minta tolong tetangga sebentar buat bantu motong-motong atau cuci piring. Saya yakin Mang Ali pasti bisa."
Mang Ali menarik napas panjang. Ia melirik pigura di dinding, seolah meminta restu. "Baik, Mas. Insyaallah saya coba. Saya akan minta tolong Bu Salmah sebelah, biasanya beliau bisa bantu-bantu kalau ada acara besar."
"Terima kasih banyak, Mang. Sekalian promosi juga, soalnya nanti banyak kolega saya dari kantor yang datang."
"Kebetulan sekali, Mas. Saya hampir saja menutup warung ini, soalnya makin hari makin sepi pembeli."
Wajah pemuda itu berubah serius. "Mang, kalau bisa bertahan, bertahanlah. Tempat ini... ini soto favorit ayah, ibu, dan saya, sejak saya kecil. Saya ingin menghidupkan lagi kenangan bersama mereka di sini. Dan sekarang, saya juga jadi ingat Acil, lewat sambalnya." Ia menunduk sebentar, lalu menatap Mang Ali lagi. "Saya nggak mau tempat penuh kenangan seperti ini sampai hilang juga, Mang."
Mata Mang Ali kembali berkaca-kaca. Tanpa sadar, ia merangkul pemuda itu erat-erat seperti merangkul kembali kehidupan, dan kenangan yang selama ini ia kira sudah pergi bersama Acil Tinah.
***
Hari-hari berikutnya, warung kecil itu mendadak sibuk. Mang Ali bangun lebih pagi dari biasanya, menggiling bumbu sendiri seperti yang diajarkan Acil Tinah dulu, tidak boleh diburu-buru, katanya, supaya kaldunya keluar rasanya. Bu Salmah dari sebelah ditemani oleh anaknya datang membantu memotong sayur dan mencuci perabotan, sambil sesekali bercanda mengingatkan Mang Ali pada gelak tawa Acil Tinah di dapur yang sama.
Malam sebelum hari syukuran, Mang Ali berdiri di depan panci besar yang penuh terisi, uap mengepul memenuhi seluruh dapur seperti dulu. Ia menatap pigura di dinding sebentar, lalu tersenyum kecil. "Tinah, lihat ini. Dapur kita ramai lagi."
Esoknya, dua ratus porsi soto terkirim ke rumah si pemuda yang ternyata bernama Dimas, begitu tertulis di kuitansi yang ia berikan. Tak sampai seminggu kemudian, beberapa kolega Dimas yang ikut makan di acara syukuran itu datang langsung ke warung, membawa keluarga mereka, mencari "soto yang katanya enak banget itu". Satu per satu, bangku-bangku yang lama kosong mulai terisi kembali.
Sore itu, ketika Mang Ali menutup warung, ia menambahkan satu foto baru di samping pigura fotonya bersama Acil Tinah, foto dirinya bersama Dimas dan rombongan kolega di depan warung, semua tersenyum lebar dengan mangkuk soto di tangan. Ia menatap dua pigura itu berdampingan sejenak, lalu menyalakan kembali kompor untuk besok pagi.
Asap tipis mengepul dari panci besar di atas kompor, dan kali ini, aroma kaldu ayam itu tidak menguap sia-sia, ia menyebar ke jalanan Kabupaten Kenyem, mengundang siapa pun yang melintas untuk singgah sebentar, dan mungkin, menemukan kenangan mereka sendiri.

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen Warung Soto Amang Ali

Warung Soto Amang Ali Karya Trisnawati Sumber ilustrasi gambar gemini AI         Asap tipis mengepul dari panci besar di atas kompor, namun ...