Tanya yang Diinginkan
Karya
Trisnawati
Diam-diam Mariani menangis lagi.
Setiap kali ia berdiri di depan wastafel dengan tumpukan perabotan kotor yang
beraroma basi dan busuk itu, ia tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Gorden
merah muda di jendela dapur hari itu diam, hanya suara api kompor yang menyala,
didih air di panci sayur bening, dan gemerisik minyak panas di tubuh ikan lele
yang sedang digoreng. Mariani mengulurkan tangannya di keran air, memutar
kenopnya, lalu cusss….air keluar membasahi perabot kotor di depannya.
Semakin deras air jatuh, semakin deras pula air matanya.
“Jika
begini, kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan yang harus serba bisa?”
bisiknya.
Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi minyak mendesis dan aroma
lele yang mulai gosong.
Mariani mematikan kompor. Ia berdiri
diam di antara asap tipis yang mengepul, menatap noda kuning lemak yang
mengeras di tepi wajan. Tangannya gemetar, bukan karena dingin. Di luar, dari
balik dinding ruang tengah, terdengar suara tembakan dan ledakan dari layar
ponsel Husin disertai sesekali gerutuan suaminya itu ketika kalah dalam
permainan.
Malam
itu Husin tidak bertanya apakah makan malam sudah siap. Ia
tidak bertanya apakah Mariani sudah pulang dengan selamat. Ia bahkan tidak
mendongak ketika Mariani lewat di depannya sambil membawa tas kerja yang masih
tersandang di bahunya.
***
Mariani sudah sering berceramah di
depan suaminya, Husin. Sebisanya, dengan bahasa yang paling halus dan baik.
Mariani meminta kepada suaminya untuk berhenti bermain game dan mulai
membantunya di rumah mengerjakaan pekerjaan domestik.
“Kita
sama-sama kerja toh, Mas. Kamu capek, aku juga capek. Bedanya kamu capek bisa
tiduran main game. Lah aku capek mesti ngurusin semua ini sendiri.”
Husin hanya diam, acuh, dan terus
menggeram karena gamenya hampir kalah. Tak sedikitpun menggubris keluh kesah
istrinya. Lagi-lagi Mariani hanya diam dengan gemuruh di dadanya. Lalu perlahan
ia mulai mengerjakaan pekerjaan yang wajib untuk perempuan itu. Memasak,
memandikan anaknya, membersihkan piring dan pakaian kotor, menyapu,
hingga menyikat lantai WC dan kamar mandi. Di kala itulah Mariani mengingat
tentang ibunya, seorang IRT yang mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Ibunya
memasak tiga kali sehari, dibantu Mariani yang ketika itu telah beranjak
remaja. Dari ibunya Mariani banyak belajar tentang pekerjaan rumah tangga.
“Kamu
harus bisa mengurus rumah, karena kita tidak tahu kemana perjalanan hidup akan
membawa langkahmu. Suatu saat bisa jadi kamu tinggal di rumah orang lain”.
Begitu kata ibunya, Mariani yang masih polos tentu saja mengiyakan.
Tapi kini, tuntunan perempuan tidak
hanya mengurus rumah. Bayangkan, ketika hanya menjadi IRT orang-orang akan
bersenandung dengan sumbang tentangnya. Menyebut perempuan hanya bisa
menghabiskan uang suami. Perempuan yang tidak produktif. Apalagi? Banyak. Semua
dibebankan kepada perempuan. Lalu saat ia berkerja, beban itu tetap ada
menggantung dipundaknya. Ia pun harus pandai mengurus rumah, memasak, merawat
anak, dan lain-lain.
“Aku
benci kesetaraan gender! Aku benci emansipasi!”
Di saat lelah memuncak, setelah
pulang berkerja seharian dan pekerjaan rumah telah menantinya, Mariani semakin
terdesak di dalam emosinya. Kemarahan dan kekecewaan itu tentu saja tak berarti
apa-apa, karena kalau bukan dirinya siapa lagi? Siapa yang akan menjadi cahaya
di rumah ini? siapa yang akan menjadi sandaran bagi buah hatinya yang semata
wayang itu? Lagi-lagi Mariani menangis di dalam diam, di dalam sesak dadanya.
Ia pernah mencoba bercerita kepada ibunya, tiga bulan lalu,
ketika ibunya berkunjung dan kebetulan melihat Mariani yang baru pulang kerja
langsung masuk dapur sementara Husin duduk santai menonton televisi.
"Mar, lelaki memang begitu. Sabar. Yang
penting suamimu tidak main perempuan, tidak mabuk, nafkah cukup."
Mariani diam. Ibunya yang mengajarkannya untuk kuat, kini
mengajarkannya untuk diam. Dan Mariani tidak tahu melawan siapa lagi.
Lalu
bagaimana dengan Husin, suaminya?
Husin,
sejak kecil hidup bergelimang harta, ia dimanja dan tak tahu menahu tentang
pekerjaan rumahnya. Ia punya babu yang mengerjakan urusan bersih-bersih,
memasak, mencuci, dan lain-lain. Orang tuanya pejabat pemerintah, sibuk dengan
pekerjaannya. Mana sempat mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Sedang
Mariani yang sederhana, selalu diajarkan untuk bertanggung jawab belajar
menjadi perempuan seperti yang orang-orang inginkan.
Sore itu, Mariani mendapati kembali
Husin yang sedang bermain game. Belum melepas baju kerjanya, Mariani telah
berjalan menuju wastafel dan menghidupkan keran. Ia mengambil pisau lalu
membuka plastik bungkusan ayam potong yang dibelinya di pasar sebelum pulang. Ia
diam sejenak, lalu menarik napas panjang. Rautnya tampak lelah, raganya ringkih
karena seharian berkerja. Di saat itulah pikirannya berbicara, tapi tak satupun
yang ia keluarkan.
“Ya
Tuhan jika begitu melelahkannya hidupku, ambil aku Tuhan. Aku tak sanggup lagi.
Suamiku mengacuhkanku, tak pernah menanyakan tentang keadaanku, kesakitanku,
lelahku!”
Mariani
menangis, menangis sangat keras. Tapi lagi-lagi hanya di dalam diamnya.
Tangannya terus mencincang daging ayam di depannya.
“Pletak…pletakk….cessss…”
darah mengalir deras. Mariani terus mengacungkan pisaunya tanpa peduli. Namun
rasa perih menyadarkannya, ketika itu jari telunjuknya telah terpisah dari
tangannya. Mariani menjerit.
“Mas
Husiinnnnnn, tolong…tanganku…!!!”
“Ada
apa Mar? Astaga….Mar, kok kau teledor sekali!!!!”
Mendengar
itu tangis Mariani semakin pecah. Bagaimana bisa? Suaminya masih menyalahkannya
atas semua yang terjadi hari itu.
***
Mariani meraung-raung sambil
memegang tangannya yang berdarah. Keringatnya mengucur, tak hanya air mata.
Seluruh tubuhnya basah. Ia tersentak saat tubuhnya digoyang-goyang begitu hebat
oleh seseorang.
“Mar,
Mar, hei, sadar!!! Kenapa sih akhir-akhir kau sering mimpi buruk! Aku jadi
tidak bisa tidur nyenyak gara-gara kau!”
Husin
beranjak dari ranjang lalu keluar sambil membanting pintu kamarnya. Apa yang
terjadi pada Mariani? Dia hanya bisa menangis menahan sesak di dadanya. Betapa
buruknya mimpi itu, tapi lebih buruk lagi mendengar protes suaminya. Mariani teringat
pada tokoh Yeong-hye di buku The Vegetarian yang pernah dibacanya.
“Apakah
aku gila?”
Mariani berlari ke cermin. Ia menatap wajahnya yang semakin
kisut dan tua. Warna hitam di bawah matanya semakin tebal. Ia ingat betul
bagaimana wajahnya sepuluh tahun lalu pipi yang masih berisi, mata yang belum
cekung, senyum yang tidak perlu diperjuangkan.
Mariani
tak ingin hidupnya berakhir seperti Yeong-hye.
“Tidak,
aku tak mau berakhir gila!
Mariani
terisak, namun air matanya tak pernah jatuh. Ia kembali menatap wajahnya di
cermin, ia menangis tanpa air mata. Mariani mengambil pensil alisnya, lalu
menusukkannya berkali-kali ke mata kanannya. Perih di matanya tak mengucurkan
air mata, tetapi cairan berwarna merah berbau amis seperti daging ayam yang
dipotongnya, seperti ikan yang diiris-irisnya. Tak puas ia kembali menusuk mata
kirinya. Hening, Mariani tak lagi memanggil nama suaminya, anak semata
wayangnya, kini ia benar-benar merasa sendirian. Tak ada lagi cahaya, hanya
kegelapan. Kini air mata pun telah berganti menjadi darah kekecewaan dan
kehancuran. Ia mencium aroma, ya aroma dapur, aroma piring kotor, aroma pakaian
kotor, aroma WC dan kamar mandi yang belum disikat, aroma debu di lantai yang
belum disapu. Perlahan Mariani menarik sprei tempat tidurnya, di dalam
kegelapan ia mengikatnya di ventilasi pintu, lalu menggantung dirinya sendiri.
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar