Sabtu, 06 Juni 2026

Sebuah Cerpen Tanya yang Diinginkan

 

Tanya yang Diinginkan

Karya Trisnawati

Diam-diam Mariani menangis lagi. Setiap kali ia berdiri di depan wastafel dengan tumpukan perabotan kotor yang beraroma basi dan busuk itu, ia tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Gorden merah muda di jendela dapur hari itu diam, hanya suara api kompor yang menyala, didih air di panci sayur bening, dan gemerisik minyak panas di tubuh ikan lele yang sedang digoreng. Mariani mengulurkan tangannya di keran air, memutar kenopnya, lalu cusss….air keluar membasahi perabot kotor di depannya. Semakin deras air jatuh, semakin deras pula air matanya.

“Jika begini, kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan yang harus serba bisa?” bisiknya.

Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi minyak mendesis dan aroma lele yang mulai gosong.

Mariani mematikan kompor. Ia berdiri diam di antara asap tipis yang mengepul, menatap noda kuning lemak yang mengeras di tepi wajan. Tangannya gemetar, bukan karena dingin. Di luar, dari balik dinding ruang tengah, terdengar suara tembakan dan ledakan dari layar ponsel Husin disertai sesekali gerutuan suaminya itu ketika kalah dalam permainan.

Malam itu Husin tidak bertanya apakah makan malam sudah siap. Ia tidak bertanya apakah Mariani sudah pulang dengan selamat. Ia bahkan tidak mendongak ketika Mariani lewat di depannya sambil membawa tas kerja yang masih tersandang di bahunya.

***

Mariani sudah sering berceramah di depan suaminya, Husin. Sebisanya, dengan bahasa yang paling halus dan baik. Mariani meminta kepada suaminya untuk berhenti bermain game dan mulai membantunya di rumah mengerjakaan pekerjaan domestik.

“Kita sama-sama kerja toh, Mas. Kamu capek, aku juga capek. Bedanya kamu capek bisa tiduran main game. Lah aku capek mesti ngurusin semua ini sendiri.”

Husin hanya diam, acuh, dan terus menggeram karena gamenya hampir kalah. Tak sedikitpun menggubris keluh kesah istrinya. Lagi-lagi Mariani hanya diam dengan gemuruh di dadanya. Lalu perlahan ia mulai mengerjakaan pekerjaan yang wajib untuk perempuan itu. Memasak, memandikan anaknya, membersihkan piring dan pakaian kotor, menyapu, hingga menyikat lantai WC dan kamar mandi. Di kala itulah Mariani mengingat tentang ibunya, seorang IRT yang mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Ibunya memasak tiga kali sehari, dibantu Mariani yang ketika itu telah beranjak remaja. Dari ibunya Mariani banyak belajar tentang pekerjaan rumah tangga.

“Kamu harus bisa mengurus rumah, karena kita tidak tahu kemana perjalanan hidup akan membawa langkahmu. Suatu saat bisa jadi kamu tinggal di rumah orang lain”. Begitu kata ibunya, Mariani yang masih polos tentu saja mengiyakan.

Tapi kini, tuntunan perempuan tidak hanya mengurus rumah. Bayangkan, ketika hanya menjadi IRT orang-orang akan bersenandung dengan sumbang tentangnya. Menyebut perempuan hanya bisa menghabiskan uang suami. Perempuan yang tidak produktif. Apalagi? Banyak. Semua dibebankan kepada perempuan. Lalu saat ia berkerja, beban itu tetap ada menggantung dipundaknya. Ia pun harus pandai mengurus rumah, memasak, merawat anak, dan lain-lain.

“Aku benci kesetaraan gender! Aku benci emansipasi!”

Di saat lelah memuncak, setelah pulang berkerja seharian dan pekerjaan rumah telah menantinya, Mariani semakin terdesak di dalam emosinya. Kemarahan dan kekecewaan itu tentu saja tak berarti apa-apa, karena kalau bukan dirinya siapa lagi? Siapa yang akan menjadi cahaya di rumah ini? siapa yang akan menjadi sandaran bagi buah hatinya yang semata wayang itu? Lagi-lagi Mariani menangis di dalam diam, di dalam sesak dadanya.

Ia pernah mencoba bercerita kepada ibunya, tiga bulan lalu, ketika ibunya berkunjung dan kebetulan melihat Mariani yang baru pulang kerja langsung masuk dapur sementara Husin duduk santai menonton televisi.

"Mar, lelaki memang begitu. Sabar. Yang penting suamimu tidak main perempuan, tidak mabuk, nafkah cukup."

Mariani diam. Ibunya yang mengajarkannya untuk kuat, kini mengajarkannya untuk diam. Dan Mariani tidak tahu melawan siapa lagi.

Lalu bagaimana dengan Husin, suaminya?

Husin, sejak kecil hidup bergelimang harta, ia dimanja dan tak tahu menahu tentang pekerjaan rumahnya. Ia punya babu yang mengerjakan urusan bersih-bersih, memasak, mencuci, dan lain-lain. Orang tuanya pejabat pemerintah, sibuk dengan pekerjaannya. Mana sempat mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Sedang Mariani yang sederhana, selalu diajarkan untuk bertanggung jawab belajar menjadi perempuan seperti yang orang-orang inginkan.

Sore itu, Mariani mendapati kembali Husin yang sedang bermain game. Belum melepas baju kerjanya, Mariani telah berjalan menuju wastafel dan menghidupkan keran. Ia mengambil pisau lalu membuka plastik bungkusan ayam potong yang dibelinya di pasar sebelum pulang. Ia diam sejenak, lalu menarik napas panjang. Rautnya tampak lelah, raganya ringkih karena seharian berkerja. Di saat itulah pikirannya berbicara, tapi tak satupun yang ia keluarkan.

“Ya Tuhan jika begitu melelahkannya hidupku, ambil aku Tuhan. Aku tak sanggup lagi. Suamiku mengacuhkanku, tak pernah menanyakan tentang keadaanku, kesakitanku, lelahku!”

Mariani menangis, menangis sangat keras. Tapi lagi-lagi hanya di dalam diamnya. Tangannya terus mencincang daging ayam di depannya.

Pletak…pletakk….cessss…” darah mengalir deras. Mariani terus mengacungkan pisaunya tanpa peduli. Namun rasa perih menyadarkannya, ketika itu jari telunjuknya telah terpisah dari tangannya. Mariani menjerit.

“Mas Husiinnnnnn, tolong…tanganku…!!!”

“Ada apa Mar? Astaga….Mar, kok kau teledor sekali!!!!”

Mendengar itu tangis Mariani semakin pecah. Bagaimana bisa? Suaminya masih menyalahkannya atas semua yang terjadi hari itu.

***

Mariani meraung-raung sambil memegang tangannya yang berdarah. Keringatnya mengucur, tak hanya air mata. Seluruh tubuhnya basah. Ia tersentak saat tubuhnya digoyang-goyang begitu hebat oleh seseorang.

“Mar, Mar, hei, sadar!!! Kenapa sih akhir-akhir kau sering mimpi buruk! Aku jadi tidak bisa tidur nyenyak gara-gara kau!”

Husin beranjak dari ranjang lalu keluar sambil membanting pintu kamarnya. Apa yang terjadi pada Mariani? Dia hanya bisa menangis menahan sesak di dadanya. Betapa buruknya mimpi itu, tapi lebih buruk lagi mendengar protes suaminya. Mariani teringat pada tokoh Yeong-hye di buku The Vegetarian yang pernah dibacanya.

“Apakah aku gila?”

Mariani berlari ke cermin. Ia menatap wajahnya yang semakin kisut dan tua. Warna hitam di bawah matanya semakin tebal. Ia ingat betul bagaimana wajahnya sepuluh tahun lalu pipi yang masih berisi, mata yang belum cekung, senyum yang tidak perlu diperjuangkan.

Mariani tak ingin hidupnya berakhir seperti Yeong-hye.

“Tidak, aku tak mau berakhir gila!

Mariani terisak, namun air matanya tak pernah jatuh. Ia kembali menatap wajahnya di cermin, ia menangis tanpa air mata. Mariani mengambil pensil alisnya, lalu menusukkannya berkali-kali ke mata kanannya. Perih di matanya tak mengucurkan air mata, tetapi cairan berwarna merah berbau amis seperti daging ayam yang dipotongnya, seperti ikan yang diiris-irisnya. Tak puas ia kembali menusuk mata kirinya. Hening, Mariani tak lagi memanggil nama suaminya, anak semata wayangnya, kini ia benar-benar merasa sendirian. Tak ada lagi cahaya, hanya kegelapan. Kini air mata pun telah berganti menjadi darah kekecewaan dan kehancuran. Ia mencium aroma, ya aroma dapur, aroma piring kotor, aroma pakaian kotor, aroma WC dan kamar mandi yang belum disikat, aroma debu di lantai yang belum disapu. Perlahan Mariani menarik sprei tempat tidurnya, di dalam kegelapan ia mengikatnya di ventilasi pintu, lalu menggantung dirinya sendiri.

Tamat

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen malam lebaran

  Malam Lebaran Karya Trisnawati Bulan telah merebak senyum di permukaan malam. Bayangnya memberikan pantulan cahaya indah pada remang malam...