Man
In the Dream
Matahari
perlahan mulai menuruni kaki peraduan, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang
paling indah. Semilir angin yang behembus, semakin kencang menggapai rambut dan
pipi mungilku. Aku hanya bisa tertunduk menatap pasir di kakiku yang mulai
mengering. Sesekali kugesek-gesekkan flat shoes ke tanah. Gerakkannya
menciptakan debu yang berterbangan sedikit. Aroma malam kian mendekat, tapi
keindahan senja ini tetap pantas untuk dinikmati oleh seorang yang kesepian,
seperti aku.
Hari
itu, kutemui Ia dalam kesendiriannya. Duduk tertunduk menatap pasir di kakinya
yang mulai mengering. Di senja kemerahan itu, ia seolah enggan beranjak.
“Masih
menunggu senja berakhir, rupanya.” Sapaku dengan hati-hati.
Perlahan
dia menoleh padaku, mata kecilnya yang teduh dan lembut menusuk tepat di dalam
mataku, bibir tipisnya yang berwarna merah muda terbuka sedikit, seolah ingin
mengatakan sesuatu, aku menunggu-nunggu….spontan dia kembali menunduk.
Rambutnya yang sedikit pirang tergerai dibawa angin yang berhembus.
“Hhmmm…maaf”
kataku sembari membalikkan badan.
“Tunggu…”
suaranya terdengar berbisik, namun sangat indah. Seperti menciptakan
harmonisasi yang lembut dan membuai.
Aku
kembali menatapnya, ia masih menunduk, sesekali kakinya bermain dengan pasir
yang mulai lembab karena malam hampir tiba. Kulitnya putih bersih dan halus,
dibandingkan dengan aku yang berkulit sawo matang, ah…seperti berada dalam
kasta yang berbeda.
“Terima
kasih karena sudah menyapaku” katanya tiba-tiba.
“Hanya
melakukan hal yang semestinya kulakukan.” Jawabku tanpa menoleh.
“Di
dunia ini tak ada yang benar-benar peduli.” Ia bersandar di bangku berwarna
ungu itu.
“Boleh
aku duduk?” jawabku singkat.
Begitulah
awal pertemuanku dengannya, seorang pria dingin namun hangat. Ia diam seperti
dingin, namun hangat saat berbicara. Bahkan, matanya memancarkan kehangatan
dari segala musim.
Sejak
pertemuan pertama itu, aku lebih sering datang ke taman Han. Hal yang ingin aku
lakukan adalah menanyakan namanya. Alangkah bodohnya, pertemuan panjang dengan
obrolan dingin itu membuat aku lupa menanyakan namanya. Itu membuat aku
penasaran, ingin mengetahuinya lebih banyak, tentangnya.
“Aku
setiap sore di sini, menghabiskan sepi yang selalu menghantuiku 28 tahun ini.” Ia
memulai cerita di pertemuan pertama itu.
“Selama
itukah?” jawabku heran
Ia
menoleh, matanya menatap tajam wajahku. Bola matanya yang berwarna abu-abu
sangat indah. Ia seperti malaikat. Aku menunduk, lalu menatap ke depan dengan
dada yang bergetar.
“Setiap
kali aku menanti senja berakhir di taman Han, aku seperti ditemani. Seperti
dipedulikan.”
“Apakah
aku mengganggu?”
“Tidak,
kau orang pertama yang bertanya padaku. Dan aku senang.”
Dia
tersenyum, sangat manis. Giginya yang putih dan rapi sangat mempesona. Seketika
aku pun turut tersenyum, lalu kami tertawa bersama-sama.
Hari
ini adalah hari ke- 731, aku tak pernah melihatnya lagi di taman Han. Padahal
setiap hampir senja aku selalu duduk di bangku ungu ini, menatap senja
kemerahan, sambil menunggu. Tapi ia tak pernah datang lagi. Aku merasakan
dingin, dan sepi. Berbicara dengannya seolah memberikan kehangatan dalam
jiwaku. Apakah karena kami mengalami hal serupa? Apakah sama-sama melalui kehidupan
yang berat?
“Seun
A, pulanglah. Hari sudah gelap.” Seseorang menegurku dengan tiba-tiba. Ia
lilitkan syal rajut tipis di leherku. Ia Jun Ho. Sepupu sekaligus sahabatku
sedari kecil.
“Aku
tidak mau. Aku belum bertemu dengannya sejak 731 hari yang lalu.” Jawabku terisak.
“Aku merasakan kekosongan lagi, sepi, dan dingin.”
“Seun
A…..sadarlah.” Jun Ho setengah berteriak.
Aku
berdiri dan menatapnya dengan kesal. “Kau tidak mengerti!”
“Bagaimana
kau bisa segila ini Seun A. Kau bahkan tidak tahu namanya, kau tidak tahu dia
nyata atau tidak. Dan kau terus menunggu dan mencarinya di taman Han hingga bertahun-tahun.”
“Bertahun-tahun?
Apa maksudnya Jun Ho?” airmataku mengalir deras. Aku seperti tersekak dalam
kerinduan yang tak berujung. Merindukan sosok yang kutemui dengan segala
keteduhan dan kehangatannya.
“Seun
A, dia tidak nyata, kau hanya bermimpi Seun A.” Jun Ho menarik tanganku.
Kami
mengendarai mobil dengan amat kencang. Ia membawaku pada sebuah kamar kosong.
Aku terhenyak, di sana terserak ratusan lembar sketsa wajah yang tak asing.
Yah, dia. Yang selama ini kutunggu di taman Han. Dan di antara sketsa-sketsa
itu, tertulis sebuah catatan “mimpi pertamaku”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar