Minggu, 18 Juni 2023

Man In the Dream

 

Man In the Dream

 

Matahari perlahan mulai menuruni kaki peraduan, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang paling indah. Semilir angin yang behembus, semakin kencang menggapai rambut dan pipi mungilku. Aku hanya bisa tertunduk menatap pasir di kakiku yang mulai mengering. Sesekali kugesek-gesekkan flat shoes ke tanah. Gerakkannya menciptakan debu yang berterbangan sedikit. Aroma malam kian mendekat, tapi keindahan senja ini tetap pantas untuk dinikmati oleh seorang yang kesepian, seperti aku.

Hari itu, kutemui Ia dalam kesendiriannya. Duduk tertunduk menatap pasir di kakinya yang mulai mengering. Di senja kemerahan itu, ia seolah enggan beranjak.

“Masih menunggu senja berakhir, rupanya.” Sapaku dengan hati-hati.

Perlahan dia menoleh padaku, mata kecilnya yang teduh dan lembut menusuk tepat di dalam mataku, bibir tipisnya yang berwarna merah muda terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, aku menunggu-nunggu….spontan dia kembali menunduk. Rambutnya yang sedikit pirang tergerai dibawa angin yang berhembus.

“Hhmmm…maaf” kataku sembari membalikkan badan.

“Tunggu…” suaranya terdengar berbisik, namun sangat indah. Seperti menciptakan harmonisasi yang lembut dan membuai.

Aku kembali menatapnya, ia masih menunduk, sesekali kakinya bermain dengan pasir yang mulai lembab karena malam hampir tiba. Kulitnya putih bersih dan halus, dibandingkan dengan aku yang berkulit sawo matang, ah…seperti berada dalam kasta yang berbeda.

“Terima kasih karena sudah menyapaku” katanya tiba-tiba.

“Hanya melakukan hal yang semestinya kulakukan.” Jawabku tanpa menoleh.

“Di dunia ini tak ada yang benar-benar peduli.” Ia bersandar di bangku berwarna ungu itu.

“Boleh aku duduk?” jawabku singkat.

Begitulah awal pertemuanku dengannya, seorang pria dingin namun hangat. Ia diam seperti dingin, namun hangat saat berbicara. Bahkan, matanya memancarkan kehangatan dari segala musim.

Sejak pertemuan pertama itu, aku lebih sering datang ke taman Han. Hal yang ingin aku lakukan adalah menanyakan namanya. Alangkah bodohnya, pertemuan panjang dengan obrolan dingin itu membuat aku lupa menanyakan namanya. Itu membuat aku penasaran, ingin mengetahuinya lebih banyak, tentangnya.

“Aku setiap sore di sini, menghabiskan sepi yang selalu menghantuiku 28 tahun ini.” Ia memulai cerita di pertemuan pertama itu.

“Selama itukah?” jawabku heran

Ia menoleh, matanya menatap tajam wajahku. Bola matanya yang berwarna abu-abu sangat indah. Ia seperti malaikat. Aku menunduk, lalu menatap ke depan dengan dada yang bergetar.

“Setiap kali aku menanti senja berakhir di taman Han, aku seperti ditemani. Seperti dipedulikan.”

“Apakah aku mengganggu?”

“Tidak, kau orang pertama yang bertanya padaku. Dan aku senang.”

Dia tersenyum, sangat manis. Giginya yang putih dan rapi sangat mempesona. Seketika aku pun turut tersenyum, lalu kami tertawa bersama-sama.

Hari ini adalah hari ke- 731, aku tak pernah melihatnya lagi di taman Han. Padahal setiap hampir senja aku selalu duduk di bangku ungu ini, menatap senja kemerahan, sambil menunggu. Tapi ia tak pernah datang lagi. Aku merasakan dingin, dan sepi. Berbicara dengannya seolah memberikan kehangatan dalam jiwaku. Apakah karena kami mengalami hal serupa? Apakah sama-sama melalui kehidupan yang berat?

“Seun A, pulanglah. Hari sudah gelap.” Seseorang menegurku dengan tiba-tiba. Ia lilitkan syal rajut tipis di leherku. Ia Jun Ho. Sepupu sekaligus sahabatku sedari kecil.

“Aku tidak mau. Aku belum bertemu dengannya sejak 731 hari yang lalu.” Jawabku terisak. “Aku merasakan kekosongan lagi, sepi, dan dingin.”

“Seun A…..sadarlah.” Jun Ho setengah berteriak.

Aku berdiri dan menatapnya dengan kesal. “Kau tidak mengerti!”

“Bagaimana kau bisa segila ini Seun A. Kau bahkan tidak tahu namanya, kau tidak tahu dia nyata atau tidak. Dan kau terus menunggu dan mencarinya di taman Han hingga bertahun-tahun.”

“Bertahun-tahun? Apa maksudnya Jun Ho?” airmataku mengalir deras. Aku seperti tersekak dalam kerinduan yang tak berujung. Merindukan sosok yang kutemui dengan segala keteduhan dan kehangatannya.

“Seun A, dia tidak nyata, kau hanya bermimpi Seun A.” Jun Ho menarik tanganku.

Kami mengendarai mobil dengan amat kencang. Ia membawaku pada sebuah kamar kosong. Aku terhenyak, di sana terserak ratusan lembar sketsa wajah yang tak asing. Yah, dia. Yang selama ini kutunggu di taman Han. Dan di antara sketsa-sketsa itu, tertulis sebuah catatan “mimpi pertamaku”.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...