Cahaya Cinta
By: TRISNAWATI, S.Pd
Kota
ini selalu menjadi kenangan. Melewati bundaran kota yang cukup besar, seolah
membangkitkan jutaan siang yang mati. Lampu-lampu jalan yang begitu kemerlap
menghantarku pada rindu, seseorang yang telah jauh meninggalkan kehidupanku
ternyata masih berhak untuk dikenang di kota ini. Aroma angin yang berhembus
cukup berani mengejekku yang kadang masih merindu dalam diam. Sederhana, dia
adalah seseorang yang cukup berarti. Cukup membuatku jatuh dalam cinta
yang...ah, sudahlah! Rasanya tak cukup waktu untuk bercerita pada kalian
tentangnya. Tapi, setiap garis-garis kenangan yang tersimpan rapi dalam kanvas
hidupku, banyak mendeskripsikan tentangnya. Malam ini, aku duduk diam menikmati
jalanan kota, menyeruak angan-anganku yang dulu pernah berdiri kokoh. Hingga
pada akhirnya runtuh.
***
Palangkaraya,
2010
“Kamu
pacaran sama Latif?”
“Nggak?”
“Trus?”
“Ya
sahabat doang.”
“Ah
bohong.”
Pagi
terakhir membias bersama matahari. Titik embun penghabisan pun jatuh membasahi
setitik tanah. Pikiranku masih saja rusuh oleh raut wajah yang selalu beranakan
rindu di tiap sudut yang tak terjangkau oleh akal sehat. Begitulah kiranya
kehadiran Latif di hidupku waktu itu selalu meninggalkan rasa yang sulit.
Sesulit rasa yang selama ini kupendam.
Latif,
sosok lelaki yang selalu menjadi kawanku. Memperhatikan setiap langkahku.
Sebenarnya ia teman kuliahku. Namun, hampir dua tahun kami sekelas ia tak
pernah sama sekali bertegur sapa denganku. Sampai pada suatu hari kami
tergabung dalam tim kepanitiaan yang sama. Sejak itu lah, aku mendapatkan nomor
handphone-nya. Mungkin, sejak itu
pula aku mulai jatuh hati padanya.
Suatu
hari aku dan Latif serta dua orang sahabatku yang lain duduk di depan kampus
sambil bercengkerama.
“Tif,
kukumu kok panjang banget, potong dong,”
“Ih,
Arin perhatian banget sama aku,”
“Kamu
tuh ya, bukannya jaga kebersihan, malah ngejek aku,”
Tuti
dan Fani pun tertawa melihat tingkahku dan Latif. Persahabatan kami yang
terjalin begitu dekat membuat kami seolah memiliki hubungan yang lebih dari
sekadar persahabatan. Namun, hanya aku yang meinginkan hal lebih itu. Tidak
pada Latif.
“Kata
kamu kotor, noh lihat bersih gini kok,”
“Kuku
panjang temannya setan,” cetusku sambil menarik tangannya.
“Biari!”
Begitulah
Latif, selalu keras kepala. Meski begitu Ia tak pernah keras kepalaku padaku.
“Rin
pulang yuk!”
“ogah!
Aku pulang bareng Tuti aja!”
“Ih,
aku pulang sama Fani. Mang kamu mau naik motor bertiga. Ntar ditangkap polisi
lagi,”
“Jahat
banget sih Ti, pokoknya aku mau pulang sama kamu. Titik,”
“Hahaha
rasain!” Latif tertawa sekeras-kerasnya. “Udah pulang sama aku aja manis,”
“Uh,
malas banget!”
“Udah
ah ayok...” latif menarik tanganku bahkan tasku pun turut ditariknya. “Eh nanti
temanin aku makan siang dulu ya Rin..”
“Kenapa
nggak makan sama pacar kamu aja?”
Latif
terdiam. Sambil tersenyum dia memandang wajahku. Entah apa yang dia pikirkan.
Tapi, mata teduhnya yang sipit seperti magnet yang mampu menarik mataku ke
dalam matanya. Kulihat bayanganku sendiri di sana, memelas. Seperti pungguk
yang merindukan bulan. Tak bisa kupungkiri, di tahun ketiga persahabatanku
dengannya, cinta selalu menghiasi hariku. Siapakah yang mampu mengetahui hati
Latif selain Allah, SWT? Kulibatkan Ia dalam doa-doaku. Kusebut nama Latif.
Kuingin segera mengetahui perasaannya padaku. Tapi, hingga kini, hatinya masih
misteri bagiku. Seolah kedalamannya tak bisa diukur dengan meteran apapun di
dunia ini kecuali meteran waktu.
“ Ada
yang cemburu nih, orang nggak punya hubungan apa-apa sama kak Julia,”
“Kata
siapa?” pipiku memerah saat mendengar ledekannya. Apapun yang terjadi dia tak
boleh tahu. Kusembunyikan wajahku di balik helm seraya naik ke atas motornya.
“Sudah
siap Nona?”
“Iyaaaaa...”
aku berteriak di belakangnya. Ia tertawa terbahak. Tawanya selalu mengundang
kerinduan saat aku tak bertemu dengannya. Tingkahnya selalu mengundang tanya
tentang perasaannya padaku. Jika ia tak mencintaiku, kenapa ia bersedia
menghabiskan waktunya untukku?
Suatu
hari, kudapati gosip tentang Latif dari Tuti dan Fani. Beberapa hari terakhir
ini, ia memang tak bertemu denganku. Tidak juga menghubungi ponselku.
“Rin,
kamu tahu nggak? Si Latif pacaran sama kak Julia,”
“Kata
siapa Fan?”
“Sumpah
Rin, dia sendiri bilang sama aku,”
“Maksudnya,
Latif?”
Sejenak
aku terhenyak, air mataku tak terasa mengaliri wajahku. Tangisku tumpah di
bawah pohon waru saat itu. Dedaunan yang kering jatuh bertebaran tertiup angin.
Aku merasa sendiri. Merasa gugur layaknya daun yang layu itu. Hatiku kini
menciut, tak mampu lagi berharap pada lautan hati Latif untuk melepas dahagaku.
Ah, Latif brgitu jahat!
“Rin
maaf bukannya bermaksud bikin kamu sedih, Fani sih,”
“Ih
Tuti kok jadi nyalahin Fani sih? Rin, untung aja si Latif nggak kamu tembak,
kalau nggak kamu tambah sakit hati,”
“Fani!”
Tuti melotot ke arah Fani, “Kamu kok ngomong gitu sih Fan? Jahat banget,”
Saat
ini aku hanya diam tak mampu berkata-kata. Lidahku kelu mengingat Latif.
Bayang-bayang Latif seperti beterbangan terbawa arus waktu. Kenangan tentangnya
jatuh menghentak langit-langit. Kutinggalkan Tuti dan fani yang masih saja
sibuk berbicara tentangnya. Kutemui Latif yang sedang duduk dengan beberapa
teman laki-laki di dalam ruangan. Tanpa kusadari, “Bukk,” buku yang kupegang
menghantam bahunya.
“Aw,
Arin, sakit tahu! Kamu kenapa sih?”
“Kenapa?
Kamu tu yang kenapa? Jahat tahu nggak,”
“Apa
sih Rin,”
Teman-teman
Latif memandang bengong ke arahku. “Keluar kalian! Keluar!” teriakku.
“Sorry
bro, kita kabur dulu ya,” mereka berhamburan keluar ruangan.
Latif
menggenggam tanganku. Matanya seolah memohon padaku untuk tidak marah.
“Rin,
kenapa sih?”
“Kamu
jadian sama Kak Julia kan? Jahat banget sih? Kamu bilang nggak ada hubungan
apa-apa. Lalu kamu menghilang dari aku beberapa hari ini. Trus, aku dapat kabar
kamu udah pacaran sama dia, pantas kamu cepat banget lupain aku,” tangisku
kembali tumpah di depannya.
“Astaga
Arini...jadi itu masalahnya. Kamu tahu dari mana sih?”
“Dari
aku, kenapa?” tiba-tiba Fani masuk di tengah pertengkaran kami berdua. Latif
terkejut. Matanya membelalak ke arah Fani.
“Kamu?
Astaga Fani. Kan aku udah bilang, tolong jangan beritahu dia!”
“Bukk.”
Buku yang kupegang kembali menghantam punggung Latif.
“Oh
jadi begitu? Cukup ya Tif. Kamu bukan sahabatku lagi.” Aku berlari meninggalkan
Fani dan Latif di ruangan itu. Angin yang menghempas wajahku seolah menjadi
cuka yang menyiram luka di batinku. Tak kusangka Latif menyembunyikan
hubungannya dengan Julia padaku. Sementara aku terlalu sakit untuk merasakan
patahnya sayap cinta yang kubangun untuknya selama bertahun-tahun ini.
“Arin...Arini....!” Latif
memanggilku berkali-kali. Tapi kecemburuan dan kemarahanku memaksaku untuk
tidak menoleh padanya sedikitpun.
***
Mentari
pagi telah meninggalkan peraduannya, di kaki cakrawala muncul warna keemasan
menusuk pori-pori kulit. Aku berjalan sendiri menuju kampus. Entah dimana Tuti
dan Fani. Sejak bersiteru dengan Latif, aku merasa hambar untuk hang out dengan
Fani dan Tuti. Aku kecewa, kenapa Latif harus menyembunyikan hubungannya dengan
Julia dariku. Apa aku tidak penting baginya? Dalam lamunanku tiba-tiba saja
seseorang menabrakku. “Bruk,”
“Aw,”
aku mengusap-usap kepalaku. Sesosok pria jangkung berdiri tepat di depanku
sembari mengelus-elus dahinya. Wajah tampannya tersenyum sambil meringis
menahan malu saat kupandangi. Sekilas pakaian rapinya tampak memesona.
Penampilannya jauh berbeda dari Latif yang tampil apa adanya.
“Aduh
maaf ya, nggak sengaja. Tadi aku didorong sama teman aku,”
“Ya,
nggak apa-apa kok,” jawabku datar.
“Kenalin
aku Ganes, mahasiswa Matematika,”
“Oh,
Arini,” aku berlalu dari depannya.
“Eh,
tunggu dulu, sekali lagi sorry,”
“Its
Ok lah,”
Kampusku
memang berdekatan dengan kampus program studi Matematika.
“Rin...Rin...Tolong
maafin aku. Sorry, sekali lagi sorry,” Latif menghentikan lamunanku. Aku berlalu
begitu saja di depannya. Meskipun hatiku perih menahan perasaan tak tega
padanya, namun apa daya. Rasa sakit yang dia berikan belum mampu disembuhkan
oleh permintaan maafnya.
“Arini...Arini...”
Latif mengejarku hingga kata-kata yang tak kusangka tercetus dari mulutnya,
“Aku sayang kamu Rin,”
Sejenak
kakiku berhenti untuk melangkah, ucapannya seakan mampu menghentikan waktu yang
berputar. Dunia beserta isinya seolah membeku di hamparan bumi ini.
Kata-katanya bak syimponi yang merdu. Seluruh isi hatiku membuncah. Air mataku
kembali membanjiri wajahku. Latif
mendekat ke arahku, rasa sakit dan kecewaku akhirnya jatuh berserakan.
“Arini...aku
minta maaf. Julia udah aku putusin, sejak aku menyadari kamu lebih berarti
bagiku dari pada dia, sini deh,” Latif membawaku duduk di bawah pohon waru yang
rindang, suatu tempat di depan kampus yang menjadi favorit kami saat bersenda
gurau.
“Gampang
banget ya kamu bilang begitu,”
“Arini...lalu
aku salah lagi. Menurut kamu itu juga salah?”
Aku
terdiam.
“Tuti
dan Fani bilang, selama tiga tahun ini kamu memendam rasa untukku. Menurutku
itu sudah teramat menyakiti kamu selama ini. Kenapa aku begitu bodoh tidak
mampu melihat ke dalam matamu?”
Aku
belum mampu untuk berkata-kata, entah mengapa lidahku begitu kelu di depannya.
Aku beranjak di depannya. Rasanya ingin sekali aku pergi menjauh.
“Arini,
tanyakan pada hatimu, apakah kamu mencintaiku?”
Aku
melangkahkan kakiku menjauhi Latif, entah mengapa begitu berat rasa kecewaku.
Aku merasa kata-katanya hanya sekadar kata-kata belaka, agar aku bisa menjadi
sahabatnya lagi. Aku tak mempercayainya lagi setelah seluruh kepercayaan yang
kuberikan dia khianati.
***
“Sayang, jadikan beli
brownis Amandanya?”
“Oh iya dong,”
“Kamu ngelamun apa sih,”
“Nggak, bukan apa-apa
kok?”
Cahaya
lampu-lampu jalan sesekali menembus raut di sampingku. Sesekali kupandangi
wajah tampannya yang dulu kukenal delapan tahun lalu. Kini, ia sosok itu telah
menjadi pendamping hidupku. Allah mengirimnya padaku dengan cara yang tidak
kuduga. Tanpa proses harus tersakiti. Tapi aku tahu cintanya padaku begitu
besar. Dia masih seperti dulu, pakaian yang selalu rapi dengan senyum manis
yang menenangkan. Tumbuh jangkung yang selalu kurindukan lima tahun terakhir
ini. Ganes. Suamiku.
***