Kamis, 18 Oktober 2018

Catatan sebentuk harapan


Sinergi Peran Orang Tua dan Guru dalam Pendidikan Anak


Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan orang dewasa untuk membimbing atau memberikan pertolongan terhadap perkembangan anak dalam mencapai kedewasaannya agar anak mampu bertanggung jawab serta memiliki budi pekerti yang luhur. Esensi pendidikan ini mencakup pendidikan sepanjang hayat. Sejak mulai anak dalam kandungan hingga dewasa. Jadi, tidak tepat apabila pendidikan hanya dikaitkan dengan bangku sekolah saja.
Peran orang tua dalam membentuk karakter anak sangatlah besar. Keberadaan anak di sekolah lebih sedikit dibandingkan dengan di rumah bersama orang tua, untuk itu diperlukan sinergitas peran antara orang tua dan guru. Orang tua tidak seharusnya menyerahkan pendidikan moral anak semata-mata hanya di sekolah, sebab pusat pendidikan yang pertama adalah lingkungan keluarga. Keteladanan orang tua adalah contoh bagi anak. Tidak hanya keteladanan yang baik, perhatian orang tua terhadap proses pendidikan anak juga sangat penting. Misalnya menumbuhkan budaya demokratis di rumah, orang tua selalu mengajak anak bercerita tentang pengalamannya di sekolah, menanyakan prestasi belajarnya, dan kegiatan apa saja yang dia lakukan bersama teman-temannya. Hal ini dapat membuat anak berpikiran terbuka kepada orang tua, sehingga ia tak segan-segan untuk menceritakan keluh-kesahnya.  Kurangnya suasana demokratis di rumah menyebabkan lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak. Anak cenderung lebih menyukai berkumpul dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua. Hal ini pula yang akhirnya dapat menjerumuskan anak bergabung dalam geng-geng remaja.
 Riset yang berkembang menunjukan bahwa membangun hubungan baik antara orang tua dan guru mampu meningkatkan prestasi belajar anak. Peran penting orang tua dimulai saat anak pulang dari sekolah hingga berangkat lagi ke sekolah, sedangkan guru berperan penting saat anak di sekolah. Maka dari itu, orang tua dan guru haruslah bisa saling mengenal, agar sejalan dalam mengatasi permasalahan anak di sekolah. Misalnya, saat anak malas mengerjakan tugas,  pengertian atau bimbingan yang diberikan orang tua dan guru secara bersama-sama akan membuat masalah kecil tidak menjadi besar. Sehingga permasalahan-permasalahan anak yang lain dapat diminimalisir.
Orang tua dan guru seyogyanya dapat bekerja sama dalam membimbing agar apa yang di dapatkan anak di sekolah dan di rumah tidak bertentangan dan membingungkan si anak. Contoh, saat anak diberi bimbingan untuk tidak membolos lagi, maka orang tua juga harus memberikan bimbingan yang sama agar si anak tidak mengulangi perbuatannya. Bukan malah sebaliknya, orang tua cuek dan tidak mau tahu terhadap perilaku anak di sekolah.
Menciptakan suasana belajar yang efektif bukan hanya tugas guru di sekolah, melainkan tugas orang tua pun juga turut serta. Menciptakan suasana belajar efektif di rumah merupakan salah satu bentuk dukungan orang tua terhadap anak. Dukungan ini dapat berupa memberikannya lebih banyak waktu untuk belajar serta menemaninya dalam mengerjakan tugas sekolah di rumah. Sedangkan menciptakan suasana belajar efektif di sekolah adalah dalam bentuk metode maupun teknik mengajar yang menyenangkan dan suasana yang bersahabat.
Orang tua dan guru sama-sama memiliki peran penting, yaitu mendidik. Membentuk karakter anak yang berbudi luhur tidak bisa dilakukan salah satu pihak saja. Guru adalah pelengkap yang memegang fungsi mendidik di sekolah. Sedangkan orang tua adalah aktor utama yang diharapkan lebih banyak mendidik dan memberikan arahan terhadap perkembangan anak-anaknya secara kontinu. (Rz)

Kumpulan cerpen cinta


HIJRAH CINTA

Walaa taqrobullzinnaa innahukaana faahisyatan wasa asabiila
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isro:32)

Seperti seberkas cahaya yang menembus ruang sadarku. Salah satu Ayat Al-Quran ini mengirimku pada penyesalan karena pernah melakukan satu hal yang dulu begitu aku agungkan. Tak sedikit pun terbersit di pikiranku untuk berhenti. Semacam candu yang menggerogoti sukmaku. Dulu aku begituu iri jika tak memiliki seorang pacar. Kini usiaku menginjak 22 tahun. Aku sudah cukup dewasa, meskipun waktu aku memutuskan untuk berpacaran berarti aku sudah dewasa. Setiap harinya sang kekasih selalu mewarnai hidupku, kata-kata rayuan yang dikirim melalui ponsel, perhatian yang membuatku melambung tinggi ke langit biru, selalu pergi berdua berboncengan. Bahkan ia mengantar dan menjemputku setiap pulang dari sekolah.
Berbicara tentang cinta tak ada habisnya. Sebagai remaja, waktu itu menjadi masa-masa terindah untuk menjalin cinta. Selalu ada kerindukan pada degup jantung saat bertemu dengan sang kekasih itu. Selalu ada kerinduan untuk bercengkerama di kantin sekolah, atau jalan-jalan ke tempat yang romantis.

***
Bertemu dengan Andri merupakan kenangan klasik saat aku duduk di bangku SMA kelas XI. Ia teman sekolahku, walaupun berbeda kelas. Ia cowo yang cukup terkenal, sebab tampan, pintar dan humoris. Bertemu dengan siapapun ia akan mudah menyatu. Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mempertemukan kami berdua dalam satu tim debat Bahasa Inggris. Hobiku dengan pelajaran bahasa Inggris, serta kemampuannya dalam berbahasa Inggris membuat pertemanan kami semakin dekat. Tak jarang ia menjemputku pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, ia selalu mengajakku untuk jalan-jalan, sesekali ia mentraktirku minum jus di cafe ekonomis di depan sekolah.
Hari-hariku menjadi penuh semangat. Setiap waktu kubayangkan rautnya yang tak pernah bosan untuk di pandang. Kuimpikan sepanjang malam pertemuan esok harinya di sekolah.
Suatu hari, langit cerah. Embun sejuk masih dengan berani menunggu cahaya hangat matahari untuk menjatuhkannya dari ujung dedaunan yang bergoyang-goyang disapa angin pagi. Jilbab putih yang kukenakan melambai-lambai, mataku masih rusuh mencari-cari keberadaan Andri. Di sudut-sudut sekolah tak kutemui Andri.
“Hhmm, tumben sekali dia terlambat begini,” pikirku dalam hati. Tiba-tiba saja aku menjadi resah. Seperti ada yang kurang. Sesekali kurapikan jilbabku.
“Duarr!” seseorang mengagetkanku dari belakang. “Ke kantin yuk,”
“Udah sarapan,”
Tak henti-hentinya jantungku berdegup, seperti lari kuda yang menebah sesisi dunia. Kutundukan wajahku tiap kali ia menghampiriku. Aku sudah jatuh terlalu dalam di palung cintaku sendiri, padanya. Andri. Lelaki yang menjadi mimpi siang dan malamku. Pujaanku.
“Ya udah, kamu temenin aku aja,”
“Oke lah. Oh iya Dri, kapan kita latihan debat lagi, sebentar lagi kan kita akan berkompetisi di tingkat provinsi,”
“Ya ela, santai aja kenapa, pasti kamu pengen ketemu aku terus, hahaha,”
“Ih, sembarangan! Kata siapa,”
Pipi tembemku seketika memerah.
“Tuh kan pipi kamu merah,”
“Ih apaan sih...”
Andri tertawa terbahak-bahak. “Kata orang, kalau rindu nggak boleh ditahan Yul, bilang aja napa,”
“Kata siapa aku rindu sama kamu,”
“Buktinya tadi kamu nyariin aku,”
“Siapa bilang, ih dasar,”

***

Segelas es susu kuseruput. Aku memang terbiasa minum es, meskipun hari masih pagi. Berbeda dengan Andri, dia lebih menyukai minuman yang hangat, seperti pagi ini ia memesan segelas susu coklat hangat.  Diam-diam kuperhatikan wajahnya saat ia makan. Lalu dengan segera kutundukan lagi pandanganku.
“Astagfirullahalazim,”
Aku sudah terlalu jauh merasakan sesuatu, cinta. Sehingga aku tak bisa sedetik pun untuk tak mencarinya, untuk tak bertemu dengannya.
“Yul, kamu udah punya pacar,”
“Nggak ada,”
“Pernah pacaran?”
Aku menggeleng. Andri adalah cinta pertamaku, mungkin. Sebab, ia satu-satunya lelaki yang waktu itu kukagumi dengan segenap jiwaku. Mungkin orang bilang cinta monyet. Tapi, aku merasa cinta sebenarnya.
“Yul, mau nggak jadi pacar aku,”
Andri mengungkapkan kata-kata yang selama ini kutunggu. Kaget dan tak menyangka akan secepat ini. Sejak kami lomba debat di tingkat kabupaten dua bulan yang lalu, aku memang sedang merasakan hal yang sama. Tapi, aku tak menyangka Andri akan secepat ini menembakku.
“Yul, kok diam,”
“Eh, iya dri, sorry,”
“Jadi gimana Yul,”
“Gimana ya? Aku...”
“Yul,” Andri meremas tanganku, seisi kantin memandang ke arah kami. Suitan terdengar di mana-mana. Aku malu saat itu. Tapi, hatiku terlanjur berbunga-bunga. Anganku terlanjur terbang melambung ke langit. Hari yang kuimpikan akhirnya tiba. Andri mengungkapkan perasaannya.
“Terima! Terima!” semua orang berteriak.
“Ciyee, ideal banget nih. Sama-sama jago bahasa Inggris,” Ratih salah satu teman sekelasku juga turut mendukung. “udah jadian aja napa, biar tambah klop lombanya bulan depan,”
Akhirnya, satu kata yang tak bisa kuelakan lagi. Satu kata yang meresmikan hubunganku dengan Andri.
“Iya,”
Kulihat senyum manisnya mengembang. Lalu ia seruput susu coklatnya yang tadi tinggal setengah. Terlihat lebih nikmat dari pada sebelumnya.
“Terima kasih Yulia,”
Sejak saat itu, resmilah kami berpacaran. Menjalin hubungan sebagai kekasih. Menikmati hari-hari yang syahdu penuh kerinduan. Canda tawa, selalu menjadi cerita setiap waktu. Menghabiskan waktu berdua adalah cita-cita yang selalu diinginkan.

***

Ini tahun ke tujuh aku dan Andri berpacaran. Meskipun cinta yang selama ini kami pupuk sudah subur dan rindang. Namun, sesekali angin kerinduan pada hijrah terus saja membadai dalam batinku. Di usia kami yang sedewasa ini, aku semakin menyadari bahwa apa yang kami jalani selama ini adalah sebuah perbuatan dosa. Dilema. Satu kata yang terus saja merongrong pikiranku. Hati dan pikiran kini mulai bergejolak, tak sepaham. Seperti air dan api yang tak bisa menyatu. Rasa cintaku pada Andri begitu besar, tak bisa kupingkiri bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Hubungan yang kami jalin semenjak duduk di bangku SMA hingga lulus kuliah inilah yang masih menjadi pertimbanganku. Di satu sisi aku ingin mengakhiri dosaku bersama Andri, di satu sisi aku sudah sangat menyayanginya sebagai lelaki yang kusemogakan dalam doa-doaku.
Yah, aku sudah dewasa untuk memutuskan mana yang terbaik saat ini. Aku diuji untuk memilih cinta mana yang harusnya menjadi utama.
“Walaa taqrobullzinnaa innahukaana faahisyatan wasa asabiila. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Nak, Yulia, cintamu pada hamba jangan sampai melebihi kecintaanmu terhadap Rabb-mu. Kau bisa tumbuh hingga dewasa, semua karena kasih sayang-Nya,” nasihat Umi Rukayah padaku selalu terngiang-ngiang sejak satu tahun terakhir ini.
“Tapi umi, Yulia sayang banget sama Andri. Yulia pengen Andri jadi orang terakhir,”
“Yulia, pacaran adalah pintu menuju perbuatan zina. Tidak sedikit perzinahan terjadi karena pacaran. Saat ini kamu memang masih terjaga, tapi apa yang pernah kamu lakukan bersama Andri tujuh tahun yang lalu berpegangan tangan, merayu, dan sebagainya adalah termasuk perbuatan zina, zina tangan, zina mata,”
Air mataku menetes,  bayang-bayang Andri amat membekas di pelupuk mata. Senyumnya, perhatiannya,  kenangan selama tujuh tahun. Tak terasa titik-titik bening semakin membanjiri wajahku. Umi Rukayah benar, aku harusnya memilih kecintaan kepada Allah daripada Andri. Selama aku berpacaran sama saja dengan aku memupuk dosa-dosa setiap hari. Aku selalu berkhayal pertemuan dengan Andri setiap detik. Pertemuan dengan laki-laki yang bukan mahramku. Astagfirullahalazim.
“Yulia, jika Andri benar mencintaimu, dia tak akan mengajakmu untuk melakukan dosa. Insyaallah jika dia jodohmu, kalian pasti akan dipersatukan Allah dalam ikatan yang suci. Bukan pacaran,”
***
Siang itu, adalah siang yang mendebarkan. Langit-langit seakan runtuh, aku berjalan layaknya seperti orang yang tidak menyentuh bumi. Pikiranku yang berkecamuk semakin meruncing. Aku putuskan untuk bertemu Andri. Lelaki yang pernah kucintai tujuh tahun ini. Ya pernah, karena sejak hari ini aku akan membunuh semua perasaan dan kenanganku tentangnya.
“Hai Yul, tumben ngajak ketemuan siang-siang, nggak kerja?”
Aku diam.
“Yul, kenapa sih? Ada yang mau diomongin?”
Seorang pramusaji datang menghampiri kami.
“Pesan apa mas?”
“Es susu putih sama susu coklat hangat,”
Pramusaji berlalu, tapi aku masih diam seribu bahasa di depan Andri. Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Apa kalimat yang tepat untuk memutuskan hubunganku dengannya. “Oh Andri, kekasihku. Percayalah aku menyayangimu, aku menginginkanmu. Tetapi, kecintaan kita pada hamba tak boleh melebihi kecintaan pada sang pemilik cinta. Allah SWT.”
Dengan perlahan Andri kembali memecah lamunanku.
“Yul...”
“Dri, aku mau kita putus!”
Sejenak Andri terdiam, ia memandang ke arah jendela kaca yang mulai buram. Di luar hujan turun dengan lebat. Kabut keputihan yang memancar dari jatuhan air yang menetes dari langit membombardir kesedihanku. Air mataku tumpah lagi untuk kesekian kalinya.
“Tapi kenapa Yul?”
“Dri, jika kau mencintaiku, jadikan aku kekasih halalmu. Tidak seperti yang telah kita jalani selama tujuh tahun ini, aku sudah tak sanggup menanggung dosaku Dri. Setiap hari kita mengumpulkan dosa-dosa yang kita lakukan selama berpacaran,”
“Astagfirullahalazim, maafkan aku Yulia. Aku menyayangimu, percayalah. Selama tujuh tahun ini, aku cinta padamu. Tapi, akan menjadi lelaki bajingan jika terus menerus memaksamu menjalin hubungan seperti ini,”
Kutemukan raut penyesalan di wajahnya, air matanya menggenang begitu saja. Namun terhapus sebelum sempat menetes. Aku tahu tak mungkin baginya untuk menangis. Aku tahu cintanya tulus, tapi akan sangat tidak adil pada cinta jika ia tak ditempatkan pada posisinya yang seharusnya. 
“Terima kasih Dri. Jaga dirimu, lupakan semua yang telah terjadi,”
Hujan berhenti turun, di kaca membias titik-titik embun. Di baliknya, kulihat pelangi menampakan keindahannya. Semoga ini menjadi salah satu jalan hijrahku untuk terus mendekatkan diri pada Allah. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, maka aku pun percaya. Kebahagian yang hakiki akan segera datang setelah kesedihan.
Selamat tinggal Andriku. Mulai detik ini, kulupakan segala kenangan yang dulu kita lukis bersama.


Kumpulan Contoh cerpen


Cahaya Cinta
By: TRISNAWATI, S.Pd

Kota ini selalu menjadi kenangan. Melewati bundaran kota yang cukup besar, seolah membangkitkan jutaan siang yang mati. Lampu-lampu jalan yang begitu kemerlap menghantarku pada rindu, seseorang yang telah jauh meninggalkan kehidupanku ternyata masih berhak untuk dikenang di kota ini. Aroma angin yang berhembus cukup berani mengejekku yang kadang masih merindu dalam diam. Sederhana, dia adalah seseorang yang cukup berarti. Cukup membuatku jatuh dalam cinta yang...ah, sudahlah! Rasanya tak cukup waktu untuk bercerita pada kalian tentangnya. Tapi, setiap garis-garis kenangan yang tersimpan rapi dalam kanvas hidupku, banyak mendeskripsikan tentangnya. Malam ini, aku duduk diam menikmati jalanan kota, menyeruak angan-anganku yang dulu pernah berdiri kokoh. Hingga pada akhirnya runtuh.

***

Palangkaraya, 2010
“Kamu pacaran sama Latif?”
“Nggak?”
“Trus?”
“Ya sahabat doang.”
“Ah bohong.”
Pagi terakhir membias bersama matahari. Titik embun penghabisan pun jatuh membasahi setitik tanah. Pikiranku masih saja rusuh oleh raut wajah yang selalu beranakan rindu di tiap sudut yang tak terjangkau oleh akal sehat. Begitulah kiranya kehadiran Latif di hidupku waktu itu selalu meninggalkan rasa yang sulit. Sesulit rasa yang selama ini kupendam.
Latif, sosok lelaki yang selalu menjadi kawanku. Memperhatikan setiap langkahku. Sebenarnya ia teman kuliahku. Namun, hampir dua tahun kami sekelas ia tak pernah sama sekali bertegur sapa denganku. Sampai pada suatu hari kami tergabung dalam tim kepanitiaan yang sama. Sejak itu lah, aku mendapatkan nomor handphone-nya. Mungkin, sejak itu pula aku mulai jatuh hati padanya.
Suatu hari aku dan Latif serta dua orang sahabatku yang lain duduk di depan kampus sambil bercengkerama.
“Tif, kukumu kok panjang banget, potong dong,”
“Ih, Arin perhatian banget sama aku,”
“Kamu tuh ya, bukannya jaga kebersihan, malah ngejek aku,”
Tuti dan Fani pun tertawa melihat tingkahku dan Latif. Persahabatan kami yang terjalin begitu dekat membuat kami seolah memiliki hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan. Namun, hanya aku yang meinginkan hal lebih itu. Tidak pada Latif.
“Kata kamu kotor, noh lihat bersih gini kok,”
“Kuku panjang temannya setan,” cetusku sambil menarik tangannya.
“Biari!”
Begitulah Latif, selalu keras kepala. Meski begitu Ia tak pernah keras kepalaku padaku.
“Rin pulang yuk!”
“ogah! Aku pulang bareng Tuti aja!”
“Ih, aku pulang sama Fani. Mang kamu mau naik motor bertiga. Ntar ditangkap polisi lagi,”
“Jahat banget sih Ti, pokoknya aku mau pulang sama kamu. Titik,”
“Hahaha rasain!” Latif tertawa sekeras-kerasnya. “Udah pulang sama aku aja manis,”
“Uh, malas banget!”
“Udah ah ayok...” latif menarik tanganku bahkan tasku pun turut ditariknya. “Eh nanti temanin aku makan siang dulu ya Rin..”
“Kenapa nggak makan sama pacar kamu aja?”
Latif terdiam. Sambil tersenyum dia memandang wajahku. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi, mata teduhnya yang sipit seperti magnet yang mampu menarik mataku ke dalam matanya. Kulihat bayanganku sendiri di sana, memelas. Seperti pungguk yang merindukan bulan. Tak bisa kupungkiri, di tahun ketiga persahabatanku dengannya, cinta selalu menghiasi hariku. Siapakah yang mampu mengetahui hati Latif selain Allah, SWT? Kulibatkan Ia dalam doa-doaku. Kusebut nama Latif. Kuingin segera mengetahui perasaannya padaku. Tapi, hingga kini, hatinya masih misteri bagiku. Seolah kedalamannya tak bisa diukur dengan meteran apapun di dunia ini kecuali meteran waktu.
“ Ada yang cemburu nih, orang nggak punya hubungan apa-apa sama kak Julia,”
“Kata siapa?” pipiku memerah saat mendengar ledekannya. Apapun yang terjadi dia tak boleh tahu. Kusembunyikan wajahku di balik helm seraya naik ke atas motornya.
“Sudah siap Nona?”
“Iyaaaaa...” aku berteriak di belakangnya. Ia tertawa terbahak. Tawanya selalu mengundang kerinduan saat aku tak bertemu dengannya. Tingkahnya selalu mengundang tanya tentang perasaannya padaku. Jika ia tak mencintaiku, kenapa ia bersedia menghabiskan waktunya untukku?
Suatu hari, kudapati gosip tentang Latif dari Tuti dan Fani. Beberapa hari terakhir ini, ia memang tak bertemu denganku. Tidak juga menghubungi ponselku.
“Rin, kamu tahu nggak? Si Latif pacaran sama kak Julia,”
“Kata siapa Fan?”
“Sumpah Rin, dia sendiri bilang sama aku,”
“Maksudnya, Latif?”
Sejenak aku terhenyak, air mataku tak terasa mengaliri wajahku. Tangisku tumpah di bawah pohon waru saat itu. Dedaunan yang kering jatuh bertebaran tertiup angin. Aku merasa sendiri. Merasa gugur layaknya daun yang layu itu. Hatiku kini menciut, tak mampu lagi berharap pada lautan hati Latif untuk melepas dahagaku. Ah, Latif brgitu jahat!
“Rin maaf bukannya bermaksud bikin kamu sedih, Fani sih,”
“Ih Tuti kok jadi nyalahin Fani sih? Rin, untung aja si Latif nggak kamu tembak, kalau nggak kamu tambah sakit hati,”
“Fani!” Tuti melotot ke arah Fani, “Kamu kok ngomong gitu sih Fan? Jahat banget,”
Saat ini aku hanya diam tak mampu berkata-kata. Lidahku kelu mengingat Latif. Bayang-bayang Latif seperti beterbangan terbawa arus waktu. Kenangan tentangnya jatuh menghentak langit-langit. Kutinggalkan Tuti dan fani yang masih saja sibuk berbicara tentangnya. Kutemui Latif yang sedang duduk dengan beberapa teman laki-laki di dalam ruangan. Tanpa kusadari, “Bukk,” buku yang kupegang menghantam bahunya.
“Aw, Arin, sakit tahu! Kamu kenapa sih?”
“Kenapa? Kamu tu yang kenapa? Jahat tahu nggak,”
“Apa sih Rin,”
Teman-teman Latif memandang bengong ke arahku. “Keluar kalian! Keluar!” teriakku.
“Sorry bro, kita kabur dulu ya,” mereka berhamburan keluar ruangan.
Latif menggenggam tanganku. Matanya seolah memohon padaku untuk tidak marah.
“Rin, kenapa sih?”
“Kamu jadian sama Kak Julia kan? Jahat banget sih? Kamu bilang nggak ada hubungan apa-apa. Lalu kamu menghilang dari aku beberapa hari ini. Trus, aku dapat kabar kamu udah pacaran sama dia, pantas kamu cepat banget lupain aku,” tangisku kembali tumpah di depannya.
“Astaga Arini...jadi itu masalahnya. Kamu tahu dari mana sih?”
“Dari aku, kenapa?” tiba-tiba Fani masuk di tengah pertengkaran kami berdua. Latif terkejut. Matanya membelalak ke arah Fani.
“Kamu? Astaga Fani. Kan aku udah bilang, tolong jangan beritahu dia!”
“Bukk.” Buku yang kupegang kembali menghantam punggung Latif.
“Oh jadi begitu? Cukup ya Tif. Kamu bukan sahabatku lagi.” Aku berlari meninggalkan Fani dan Latif di ruangan itu. Angin yang menghempas wajahku seolah menjadi cuka yang menyiram luka di batinku. Tak kusangka Latif menyembunyikan hubungannya dengan Julia padaku. Sementara aku terlalu sakit untuk merasakan patahnya sayap cinta yang kubangun untuknya selama bertahun-tahun ini.
“Arin...Arini....!” Latif memanggilku berkali-kali. Tapi kecemburuan dan kemarahanku memaksaku untuk tidak menoleh padanya sedikitpun.

***

Mentari pagi telah meninggalkan peraduannya, di kaki cakrawala muncul warna keemasan menusuk pori-pori kulit. Aku berjalan sendiri menuju kampus. Entah dimana Tuti dan Fani. Sejak bersiteru dengan Latif, aku merasa hambar untuk hang out dengan Fani dan Tuti. Aku kecewa, kenapa Latif harus menyembunyikan hubungannya dengan Julia dariku. Apa aku tidak penting baginya? Dalam lamunanku tiba-tiba saja seseorang menabrakku. “Bruk,”
“Aw,” aku mengusap-usap kepalaku. Sesosok pria jangkung berdiri tepat di depanku sembari mengelus-elus dahinya. Wajah tampannya tersenyum sambil meringis menahan malu saat kupandangi. Sekilas pakaian rapinya tampak memesona. Penampilannya jauh berbeda dari Latif yang tampil apa adanya.
“Aduh maaf ya, nggak sengaja. Tadi aku didorong sama teman aku,”
“Ya, nggak apa-apa kok,” jawabku datar.
“Kenalin aku Ganes, mahasiswa Matematika,”
“Oh, Arini,” aku berlalu dari depannya.
“Eh, tunggu dulu, sekali lagi sorry,”
“Its Ok lah,”
Kampusku memang berdekatan dengan kampus program studi Matematika.
“Rin...Rin...Tolong maafin aku. Sorry, sekali lagi sorry,” Latif menghentikan lamunanku. Aku berlalu begitu saja di depannya. Meskipun hatiku perih menahan perasaan tak tega padanya, namun apa daya. Rasa sakit yang dia berikan belum mampu disembuhkan oleh permintaan maafnya.
“Arini...Arini...” Latif mengejarku hingga kata-kata yang tak kusangka tercetus dari mulutnya, “Aku sayang kamu Rin,”
Sejenak kakiku berhenti untuk melangkah, ucapannya seakan mampu menghentikan waktu yang berputar. Dunia beserta isinya seolah membeku di hamparan bumi ini. Kata-katanya bak syimponi yang merdu. Seluruh isi hatiku membuncah. Air mataku kembali  membanjiri wajahku. Latif mendekat ke arahku, rasa sakit dan kecewaku akhirnya jatuh berserakan.
“Arini...aku minta maaf. Julia udah aku putusin, sejak aku menyadari kamu lebih berarti bagiku dari pada dia, sini deh,” Latif membawaku duduk di bawah pohon waru yang rindang, suatu tempat di depan kampus yang menjadi favorit kami saat bersenda gurau.
“Gampang banget ya kamu bilang begitu,”
“Arini...lalu aku salah lagi. Menurut kamu itu juga salah?”
Aku terdiam.
“Tuti dan Fani bilang, selama tiga tahun ini kamu memendam rasa untukku. Menurutku itu sudah teramat menyakiti kamu selama ini. Kenapa aku begitu bodoh tidak mampu melihat ke dalam matamu?”
Aku belum mampu untuk berkata-kata, entah mengapa lidahku begitu kelu di depannya. Aku beranjak di depannya. Rasanya ingin sekali aku pergi menjauh.
“Arini, tanyakan pada hatimu, apakah kamu mencintaiku?”
Aku melangkahkan kakiku menjauhi Latif, entah mengapa begitu berat rasa kecewaku. Aku merasa kata-katanya hanya sekadar kata-kata belaka, agar aku bisa menjadi sahabatnya lagi. Aku tak mempercayainya lagi setelah seluruh kepercayaan yang kuberikan dia khianati.

***


“Sayang, jadikan beli brownis Amandanya?”
“Oh iya dong,”
“Kamu ngelamun apa sih,”
“Nggak, bukan apa-apa kok?”
Cahaya lampu-lampu jalan sesekali menembus raut di sampingku. Sesekali kupandangi wajah tampannya yang dulu kukenal delapan tahun lalu. Kini, ia sosok itu telah menjadi pendamping hidupku. Allah mengirimnya padaku dengan cara yang tidak kuduga. Tanpa proses harus tersakiti. Tapi aku tahu cintanya padaku begitu besar. Dia masih seperti dulu, pakaian yang selalu rapi dengan senyum manis yang menenangkan. Tumbuh jangkung yang selalu kurindukan lima tahun terakhir ini. Ganes. Suamiku.

***



Catatan Kecil dari Kampungku


Catatan Kecil dari Kampungku

Brum…brum…suara mesin kendaraan kami melaju dengan kecepatan sedang, jalan berkelok yang hanya dilapisi tanah merah dengan sedikit bebatuan kecil sungguh sangat mengganggu. Tapi rasa syukur yang begitu dalam terhadap Allah SWT, serta kerja pemerintah dalam memperbaiki jalan menuju kampungku ini patut untuk diberikan jempol. Setelah bertahun-tahun lamanya, jalan becek dengan tanah liat kuning sudah tinggal kenangan. Sekarang walau hujan, jalan ini tetap nyaman untuk dilalui. Aku termenung memandang jalan yang kulewati, butiran debu yang melintas menghantarkanku pada kenangan puluhan tahun silam.
Kampungku ini hanya berjarak 14 Km dari kota Kabupaten. Namun, kami harus melewati sungai dengan transportasi kelotok atau speedboat agar bisa bepergian ke Kabupaten. Kurang lebih 30 menit, menyusuri sungai Lamandau, kami bisa menikmati kera yang bergelantungan di pohon sambil minum air di pinggiran sungai. Sesekali pula kami mengambil buah ubai (buah pohon salam) yang berwarna merah dan rasanya manis. Buah ini hanya sebesar ujung jari telunjuk, namun apabila dimakan dengan gula pasir, rasanya sungguh menyegarkan. Anak-anak di kampungku tak mengenal gawai. Setiap sore kami bermain betapukan (petak umpet) dan bermain prak. Permainan prak ini adalah permainan dengan mengangkat satu kaki, melewati garis-garis yang digambar di tanah. Semuanya berbaur, menyatu dalam kebahagian menikmati masa kanak-kanak yang penuh permainan. Jalan-jalan kampung ramai dengan anak-anak yang bermain. Setelah puas bermain, kami berenang dan mandi di sungai sambil mencari kerang yang kami sebut dengan lala.
Sepulang sekolah aku diajak Ayah dan Uma (artinya Ibu) pergi ke huma (ladang). Melewati jalan rimbun penuh dengan pohon yang tinggi menjulang. Suara kera dan burung bersahutan. Seiap kali menghela napas, aroma khas belantara begitu menusuk. Memberikan ketenangan dan kenyamanan yang tiada tara.
 “Ayah, kapan kita memasang pukat lagi. Aku ingin ikut Ayah.” Tanyaku pada ayah suatu hari.
“Ayah sudah memasang tadi pagi, setelah pulang sekolah, kita akan ambil ikannya. Semoga dapat banyak.” Jawab ayah.
 “Horeee…kalau begitu, nanti kita sambil memetik buah kenyem ya Ayah.”
Pukat adalah alat menangjap ikan yang berbentuk jarring. Biasanya pukat diberi tali pada ujung kiri dan kanannya. Dibagian bawah digantungkan pemberat dari batu agara ia tenggelam ke dalam sungai saat memasangnya. Lalu tali pada ujung kiri dan kanan diikatkan pada batang kayu yang roboh di pinggiran sungai. Sedangkan kenyem adalah buah hutan yang biasanya tumbuh di pinggiran sungai berwarna kemerahan apabila sudah matang. Rasanya manis dan agak sedikit ketir. Namun, anak-anak di kampungku sangat menyukai buah ini. Dengan segala keterbatasan, kami selalu bersyukur dapat menikmati hidup dan makan dari apa yang telah Allah anugerahkan melalui alam ini. Begitulah kehidupan di kampungku, Ayah tak perlu membeli agar bisa memakan ikan, dengan pukat kami sekeluarga bisa makan ikan sepuasnya. Alam memang banyak memberikan sumber kehidupan.
Suatu ketika, banjir datang menggenangi kampungku. Rumah-rumah penduduk tergenang air. Ada yang mencapai setinggi lutut orang dewasa. Akses menuju sekolah pun terputus karena banjir kali ini cukup besar, akhirnya sekolah diliburkan. Warga yang rumahnya berada di tepi sungai terpaksa harus mengungsi, memenuhi ruang kelas di sekolahku, hingga ke gedung pertemuan kampung. Namun, ada satu yang tidak bisa dilupakan saat banjir tiba, aku dan ayah sering memasang pukat di lapangan sepak bola yang tergenang banjir. Saat diangkat ikan lele memenuhi pukat. Entah darimana ikan-ikan itu berasal. Tapi inilah anugerah di kampungku, walau dalam keadaan banjir, alam tetap memberi kami kehidupan.
Di sebelah barat kampungku, terhampar hutan belantara nan hijau. Di sana tumbuh kayu-kayu besar dan sungai yang mengalir jernih di bawah gugusan bukit. Di sana pula huma-huma kami membentang dikelilingi rimba. Buat-buah topah tumbuh subur, yaitu buah hutan yang pohonnya mirip seperti pohon lengkuas. Rasa buah ini ada yang manis, ada juga yang asam.
Hari ini, aku berdiri menatap lapangan sepak bola di kampungku. Tempat dulu aku dan ayah memasang pukat. Tempat dulu aku berjalan menyusuri rimba raya, mendengar nyanyian burung yang merdu, hingga menyaksikan kera yang menari di pucuk-pucuk pohon. Kini, hamparan hijau itu bukan lagi pepohonan, melainkan pohon-pohon sawit yang tumbuh dengan subur. Perkebunan sawit telah memenuhi sekeliling kampungku. Di sisi lain perkebunan sawit ini mampu mengangkat perekonomian masyarakat di sana, lapangan pekerjaan terbuka lebar bagi mereka. Kepulanganku hari ini berharap dapat melihat sisa-sisa kenangan masa kecilku. Tetapi, setumpuk kenanganku tentang hutan dan kampungku perlahan menghilang di balik rimbunnya pohon sawit yang membentang luas di sana.(Rz)

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...