PENGGUNAAN BAHASA DALAM PEMBELAJARAN DARING MELALUI APLIKASI DISCORD (THE USE OF LANGUANGE IN ONLINE LEARNING THROUGH THE DISCORD APPLICATION)
TRISNAWATI
Abstract
During the Covid-19 pandemic, schools were required to do online learning or better known
as learning from home. This requires schools and teachers to use online learning applications
as a means of communicating with students. Limited communication between teachers and
students in conveying plans and the learning process causes more use of written language than
spoken language. Written language is spoken language that uses characters as a means. If the
spoken language is in the form of sounds, the written language is in the form of letters. The use
of written language is what teachers and students use to communicate through online learning
applications. One of them is discord. Communicating using written language will be very
different from spoken language. So that the communicator and the communicant can
understand each other the meaning and purpose of the sentence written, the communicant can
not only understand the sentence literally, but also understand the abstract meaning contained
in the core of the sentence. The meanings that are meant by people, their assumptions, and the
types of actions they propose when they communicate on the discord application will be
analyzed. Therefore, pragmatic analysis is used to find out about how people understand each
other linguistically. The approach used in this study is a qualitative approach. Based on the
results of data interpretation of screenshots of written language communication carried out by
teachers and students in a learning application, the following conclusions can be drawn.
1. The use of non-standard everyday language in written language communication by teachers
and students through the discord application can obscure the true meaning of a sentence, but
a sentence can be understood by paying attention to the contexts that are close to the language
or sentence.
2. Paying attention to contexts close to language can help the communicant understand the
meaning of a sentence exactly as the communicator intended.
3. Interpretation of data in this study shows the link between contexts contained in a sentence.
That is, a sentence cannot be separated from the contexts that are close to the language or
sentence.
Keywords: discord, pragmatics, context
Abstrak
Di masa pandemi Covid-19, sekolah diharuskan untuk melakukan pembelajaran
secara daring atau yang lebih dikenal dengan istilah belajar dari rumah. Hal ini menuntut
sekolah dan guru untuk menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring sebagai sarana
berkomunikasi dengan peserta didik. Komunikasi yang terbatas antara guru dan siswa dalam
menyampaikan rencana maupun proses pembelajaran menyebabkan lebih banyak
menggunakan bahasa tulis dari pada bahasa lisan. Bahasa tulis adalah bahasa lisan yang
menggunakan aksara sebagai sarananya. Jika bahasa lisan berupa bunyi-bunyi, bahasa tulis
berupa huruf-huruf. Penggunaan bahasa tulis inilah yang banyak digunakan guru dan siswa
untuk berkomunikasi melalui aplikasi-aplikasi pembelajaran daring. Salah satunya discord.
Berkomunikasi menggunakan bahasa tulis akan sangat berbeda dengan bahasa lisan. Agar
komunikator dan komunikan dapat saling memahami maksud dan tujuan kalimat yang
dituliskan, maka komunikan bukan hanya dapat memahami kalimat tersebut secara harfiah,
tetapi juga dapat memahami makna abstrak yang terdapat dalam inti kalimat tersebut. Makna-
makna yang dimaksud oleh orang-orang, asumsi mereka, dan jenis tindakan yang mereka
ajukan ketika mereka berkomunikasi di aplikasi discord inilah yang akan dianalisis. Oleh
karena itu, analisis pragmatik digunakan untuk mengetahui tentang bagaimana orang-orang
saling memahami satu sama lain secara linguistik. Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil interpretasi data terhadap
tangkapan layar komunikasi bahasa tulis yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam
sebuah aplikasi pembelajaran, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Penggunaan bahasa keseharian yang tidak baku dalam komunikasi bahasa tulis yang
dilakukan oleh guru dan peserta didik melalui aplikasi discord dapat mengaburkan makna
sebenarnya dari sebuah kalimat, namun sebuah kalimat dapat dipahami dengan
memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.
2. Memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa dapat membantu komunikan
memahami makna sebuah kalimat persis seperti maksud yang diinginkan oleh komunikator.
3. Interpretasi data dalam penelitian ini menunjukkan keterikatan antar konteks-konteks yang
terdapat dalam sebuah kalimat. Artinya, sebuah kalimat tidak dapat lepas dari konteks-
konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.
Kata-kata kunci: discord, pragmatik, konteks
PENDAHULUAN
Masalah kebahasaan di Indonesia memperlihatkan ciri yang sangat kompleks. Hal itu
berkaitan erat dengan tiga aspek, yaitu bahasa, pengguna bahasa, dan penggunaan bahasa. Di
era globalisasi seperti sekarang pasti akan berdampak terhadap bahasa Indonesia. Dampak itu
bisa terjadi secara langsung atau tidak langsung. Dampak tersebut dapat positif dapat pula
negatif. Dampak positif pasti memberikan keuntungan dan dampak negatif pasti akan
menimbulkan kerugian bagi kelangsungan bahasa Indonesia.
Di masa pandemi Covid-19, sekolah diharuskan untuk melakukan pembelajaran
secara daring atau yang lebih dikenal dengan istilah belajar dari rumah. Hal ini menuntut
sekolah dan guru untuk menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring sebagai sarana
berkomunikasi dengan peserta didik. Berkomunikasi secara langsung dan berkomunikasi
melalui aplikasi pasti berbeda. Komunikasi yang baik adalah ketika informasi yang
disampaikan komunikator dapat dipahami sama oleh komunikan, sebab komunikasi
merupakan suatu pemikiran mengenai sistem penyampaian pesan yang di dalamnya terdiri atas
komponen-komponen berupa unsur komunikasi. Komponen-komponen tersebut saling terikat
demi tersampainya pesan dari komunikator kepada komunikan.
Komunikasi yang terbatas antara guru dan siswa dalam menyampaikan rencana
maupun proses pembelajaran menyebabkan lebih banyak menggunakan bahasa tulis dari pada
bahasa lisan. Bahasa tulis adalah bahasa lisan yang menggunakan aksara sebagai sarananya.
Jika bahasa lisan berupa bunyi-bunyi, bahasa tulis berupa huruf-huruf. Penggunaan bahasa tulis
inilah yang banyak digunakan guru dan siswa untuk berkomunikasi melalui aplikasi-aplikasi
pembelajaran daring. Salah satunya discord.
Berkomunikasi menggunakan bahasa tulis akan sangat berbeda dengan bahasa lisan.
Agar komunikator dan komunikan dapat saling memahami maksud dan tujuan kalimat yang
dituliskan, maka komunikan bukan hanya dapat memahami kalimat tersebut secara harfiah,
tetapi juga dapat memahami makna abstrak yang terdapat dalam inti kalimat tersebut. Makna-
makna yang dimaksud oleh orang-orang, asumsi mereka, dan jenis tindakan yang mereka
ajukan ketika mereka berkomunikasi di aplikasi discord inilah yang akan dianalisis. Oleh
karena itu, analisis pragmatik digunakan untuk mengetahui tentang bagaimana orang-orang
saling memahami satu sama lain secara linguistik. Levinson (1983) memberikan beberapa
batasan tentang pragmatik, yaitu pragmatik ialah kajian hubungan antara bahasa dan konteks
yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Sedangkan Geroge Yule (dalam Dr.Jumadi: 8)
menyatakan bahwa untuk memahami sepenuhnya makna sebuah kalimat, kita juga memahami
konteks tempat yang diujarkan kalimat tersebut. Di samping faktor-faktor internal bahasanya,
pragmatik mempertimbangkan siapa yang mengatakan kalimat itu, di mana, kapan, dan dalam
situasi apa.
Parera (2001:126) menjelaskan pragmatik merupakan kajian pemakaian bahasa dalam
komunikasi, hubungan antara kalimat, konteks, situasi dan waktu diujarkannya kalimat
tersebut. Konsep ini mengacu pada: (a) bagaimana interpretasi dan penggunaan tutur
bergantung pada pengetahuan nyata; (b) bagaimana penutur manggunakan dan memahami
tindak tuturnya; (c) bagaimana struktur kalimat dipengaruhi oleh hubungan antara penutur dan
petutur. Jadi, pemahaman bahasa mengacu pada fakta bahwa untuk mengerti suatu ujaran
bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata yakni konteks pemakainya. Peranan
konteks sangat penting dalam memahami bahasa. Preston (dalam Supardo, 2000:46)
menyatakan bahwa konteks sebagai seluruh informasi yang berada di sekitar pemakai bahasa
termasuk pemakaian bahasa yang ada di sekitarnya.
Purwo (2001:4) menyatakan konteks adalah pijakan utama dalam analisis pragmatik.
Konteks ini meliputi penutur dan petutur, tempat, waktu dan segala sesuatu yang terlibat dalam
ujaran tersebut. Hal ini menegaskan bahwa hal-hal seperti situasi, jarak, dan tempat dapat
merupakan konteks pemakaian bahasa. Konteks dapat pula berupa orang atau benda, alat,
bahasa dan tindakan.
1. Konteks berupa orang atau benda mengacu pada siapa yang berbicara dan dengan siapa ia
berbicara.
2. Konteks berupa tempat adalah di mana ujaran tersebut diucapkan.
3. Konteks berupa waktu adalah kapan ujaran tersebut diucapkan dan dalam situasi yang
seperti apa.
4. Konteks berupa bahasa adalah bahasa yang mendahului peristiwa tutur tersebut.
5. Konteks berupa tindakan adalah seluruh perbuatan yang berada di luar bahasa.
Berdasarkan uraian di atass dapat dikatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang
mempelajari bahasa dalam pemakaiannya serta makna yang dihasilkan oleh kalimat dengan
melihat konteks yang ada saat tuturan berlangsung.
METODE
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Pendekatan merupakan suatu ruang lingkup penelitian sastra yang berhubungan dengan aspek
yang diungkapkan dalam penelitian. Pendekatan kualitatif yaitu suatu data terurai dalam bentuk
kata-kata atau gambaran bukan dalam bentuk angka-angka (Semi, 1990:24). Menggunakan
pendekatan kualitatif berrati penelitian yang dilakukan berusaha mendekatkan diri kepada
objek secara utuh. Pendekatan ini lebih menekankan pada faktor kontekstual dan tidak
menekankan pada angka-angka.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang
berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah sosial
(Darmadi, 2014: 247). Fenomena sosial dan masalah sosial yang dikaji dalam penelitian ini
adalah pemakaian bahasa secara abstrak yang sering terjadi dalam komunikasi daring, dalam
hal ini adalah komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa melalu aplikasi discord.
Sumber data dari penelitian ini adalah berupa tangkapan layar yang didalamnya
terdapat kalimat-kalimat yang memiliki makna abstrak atau tersembunyi, sehingga dapat
dipahami dengan memperhatikan konteks-konteks yang berada di sekitar kalimat tersebut.
Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis data kualitatif adalah sebagai berikut.
1. Pengumpulan data, tahap ini dilakukan pencatatan terhadap data-data yang relevan dengan
penelitian, yaitu kalimat atau tuturan yang memiliki makna abstrak atau tersembunyi antara
guru dan siswa dalam aplikasi discord.
2. Melakukan peninjauan ulang terhadap data-data yang dikumpulkan, yaitu dengan
membuang data-data yang dianggap tidak relevan dengan penelitian.
3. Pengelompokan data, yaitu tahap mengelompokan data yang akan dianalisis berdasarkan
konteks pemakai bahasa.
4. Interpretasi data, yaitu memberikan ulasan mengenai makna bahasa berdasarkan konteks
pemakai bahasa.
5. Memberikan simpulan berupa pandangan-pandangan secara umum tentang hasil penelitian.
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Interpretasi data di bagian hasil dan pembahasan ini fokus pada bagaimana suatu
kalimat atau tuturan itu dapat dipahami meskipun memiliki makna abstrak. Hal ini mengacu
pada pemahaman makna kalimat atau tuturan dengan memperhatikan konteks-konteks yang
berdekatan dengan pemakai bahasa. Perhatikan kalimat dalam tangkapan layar berikut.

Kalimat tersebut jika dimaknai secara langsung maka dapat disimpulkan bahwa si
komunikator sedang bertanya kepada komunikan apakah ia bertemu dengan orang yang
bernama 11.45. Namun, 11.45 tentu saja tidak mengacu pada nama orang, sebab tidak mungkin
ada orang yang memiliki nama 11.45. Oleh karena itu, dengan memahami konteks waktu dan
orang yang berbicara dapatlah dipahami bahwa ini adalah sebuah kalimat berita yang bertujuan
untuk memberi tahu komunikan tentang pertemuan. Berdasarkan konteks waktu, bahwa
kalimat ini dituturkan di jam sekolah dalam situasi pembelajaran, sedangkan konteks orang
yang berkaitan dengan siapa yang berbicara dan siapa yang diajak berbicara, kalimat ini
diucapkan oleh seorang guru kepada peserta didiknya. Maka, dapat dipahami makna kalimat
ini adalah kalimat pemberitahuan mengenai waktu pembelajaran yang akan dilaksanakan di
pukul 11.45 WIB. Perhatikan pula kalimat berikut ini.

Sama halnya dengan kalimat sebelumnya, kalimat ini jika dimaknai secara langsung
berarti komunikator seolah memberitahu “jam 12.30” sebagai komunikan untuk bersiap-siap
tatap maya mata pelajaran AIK. Namun tentu saja kalimat ini tidak bermakna seperti itu, lagi-
lagi tidak mungkin ada seseorang yang bernama jam 11.30, tentu saja maksud dari komunikator
adalah mengacu pada waktu. Walaupun sebenarnya penggunaan diksi jam untuk menyatakan
waktu tentulah kurang tepat. Sebab, jam mengacu pada bendanya, bukan waktunya. Memahami
makna kalimat ini berdasarkan konteks waktu dan orang yang bertutur berarti komunikator
sebenarnya memberitahukan bahwa akan ada tatap maya mata pelajaran AIK di pukul 12.30
WIB. Hal serupa juga terjadi pada kalimat berikut.
“Kita ketemu pukul 12.00 ya” seperti memberi tahu bahwa komunikator akan bertemu
dengan seseorang yang bernama “pukul 12.00”. Dapat juga kalimat ini bermakna bahwa
pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan secara langsung. Maka memahami konteks waktu
dan situasi serta siapa yang bertutur menjadi penting untuk dapat memberikan makna kalimat
ini secara tepat. Sehingga makna yang muncul selaras dengan makna yang dimaksud oleh
komunikator. Kalimat ini berkaitan dengan waktu dan situasi saat bertutur yaitu ketika jam
pelajaran. Konteks lain yang dekat dengan kalimat ini adalah bahwa kalimat ini dituturkan oleh
seorang guru sebagai komunikator dan peserta didik sebagai komunikan. Maka dapat diberikan
makna pada kalimat ini adalah komunikator memberitahu komunikan bahwa mereka akan
memulai pembelajaran pada pukul 12.00 WIB. Konteks situasi juga terlihat dari pernyataan
“Jika ada pertanyaan atas tugas kemarin, kita diskusikan”, konteks ini mengacu pada situasi
pembelajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sedangkan maksud “ketemu” bukan
bertemu secara langsung, tapi bertemu melalui video conference.
Kalimat “Mapel PKN hari ini mengerjakan soal ulangan harian ya” di luar konteks
waktu, situasi, dan orang bermakna bahwa yang mengerjakan soal ulangan harian adalah
“mapel PKN”. Namun jika kita lihat konteks-konteks yang melekat dalam kalimat ini adalah
konteks waktu yaitu mengenai kapan kalimat ini dituturkan, kalimat ini dituturkan saat jam
sekolah tengah berlangsung. Konteks situasi yaitu kalimat ini dituturkan sebelum jadwal mapel
PKN dimulai. Sedangkan konteks orang adalah kalimat ini dituturkan seorang guru sebagai
komunikator kepada peserta didiknya sebagai komunikan.
Selain memahami kalimat dengan memperhatikan konteks waktu, situasi dan orang.
Sebuah kalimat juga dapat dipahami dengan memperhatikan konteks tindakan yang berada di
luar bahasa itu sendiri. Seperti dalam kalimat berikut.
Kalimat tersebut dapat dipahami sebagai pemberitahuan mengenai sebuah kegiatan
pembelajaran yang akan berlangsung. Namun, jika dipahami secara langsung makna kalimat
tersebut adalah Administrasi Sistem Jaringan yang belajar. Bukan peserta didik. Konteks
tindakan mengacu tindakan di luar bahasa itu sendiri yaitu pemberitahuan sekaligus
memerintah, dalam hal ini adalah guru memberitahu peserta didik untuk melaksanakan
kegiatan pembelajaran. Sehingga dapat dipahami bahwa yang melakukan pembelajaran di
googleclass room adalah peserta didik. Pemahaman makna kalimat dengan memperhatikan
tindakan juga dapat dilakukan terhadap kalimat berikut.
Makna yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah peserta didik diminta untuk mengecek
materi di classroom lalu membacanya. Selain konteks tindakan juga terdapat konteks-konteks
lain, seperti orang, waktu, dan situasi. Hal serupa juga terdapat pada kalimat berikut.
Kalimat tersebut merupakan kalimat pertanyaan mengenai kegiatan pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Kalimat ini mengacu konteks tindakan untuk melakukan pembelajaran melalui
media apa, yaitu melalui googleclas room atau video conference. Perhatikan kalimat berikut.
Kalimat tersebut berkaitan dengan konteks waktu dan situasi, bahwa yang selesai adalah sesi
mata pelajaran PKK yang terjadwal. Namun, jika dipahami secara langsung kalimat tersebut
seolah-seolah menyatakan bahwa mata pelajaran PKK telah selesai secara keseluruhan.
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil interpretasi data terhadap tangkapan layar komunikasi bahasa tulis
yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam sebuah aplikasi pembelajaran, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut.
4. Penggunaan bahasa keseharian yang tidak baku dalam komunikasi bahasa tulis yang
dilakukan oleh guru dan peserta didik melalui aplikasi discord dapat mengaburkan makna
sebenarnya dari sebuah kalimat, namun sebuah kalimat dapat dipahami dengan
memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.
5. Memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa dapat membantu komunikan
memahami makna sebuah kalimat persis seperti maksud yang diinginkan oleh komunikator.
6. Interpretasi data dalam penelitian ini menunjukkan keterikatan antar konteks-konteks yang
terdapat dalam sebuah kalimat. Artinya, sebuah kalimat tidak dapat lepas dari konteks-
konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.
SARAN
Setelah melakukan penelitian ini, penulis menyarankan agar komunikasi dalam
bentuk bahasa tulis yang dilakukan oleh guru dan peserta didik hendaknya tetap
memperhatikan penggunaan bahasa yang baku, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam
memahami makna kalimat tersebut.
REFERENSI
Alwi, Hasan. 2000. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakainnya. Jakarta: Pusat Bahasa
Semi, M. Attar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa
Darmadi, Hamid. 2014. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: Alfabeta
Abdurrahman. 2018. Jurnal Artikel Pragmatik; Konsep Dasar Memahami Konteks Tuturan.
Eprints.uny.ac.id
Pakarkomunikasi.com/teori-komunikasi-menurut-para-ahli
Zonarefensi.com