Minggu, 18 Juni 2023

Man In the Dream

 

Man In the Dream

 

Matahari perlahan mulai menuruni kaki peraduan, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang paling indah. Semilir angin yang behembus, semakin kencang menggapai rambut dan pipi mungilku. Aku hanya bisa tertunduk menatap pasir di kakiku yang mulai mengering. Sesekali kugesek-gesekkan flat shoes ke tanah. Gerakkannya menciptakan debu yang berterbangan sedikit. Aroma malam kian mendekat, tapi keindahan senja ini tetap pantas untuk dinikmati oleh seorang yang kesepian, seperti aku.

Hari itu, kutemui Ia dalam kesendiriannya. Duduk tertunduk menatap pasir di kakinya yang mulai mengering. Di senja kemerahan itu, ia seolah enggan beranjak.

“Masih menunggu senja berakhir, rupanya.” Sapaku dengan hati-hati.

Perlahan dia menoleh padaku, mata kecilnya yang teduh dan lembut menusuk tepat di dalam mataku, bibir tipisnya yang berwarna merah muda terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu, aku menunggu-nunggu….spontan dia kembali menunduk. Rambutnya yang sedikit pirang tergerai dibawa angin yang berhembus.

“Hhmmm…maaf” kataku sembari membalikkan badan.

“Tunggu…” suaranya terdengar berbisik, namun sangat indah. Seperti menciptakan harmonisasi yang lembut dan membuai.

Aku kembali menatapnya, ia masih menunduk, sesekali kakinya bermain dengan pasir yang mulai lembab karena malam hampir tiba. Kulitnya putih bersih dan halus, dibandingkan dengan aku yang berkulit sawo matang, ah…seperti berada dalam kasta yang berbeda.

“Terima kasih karena sudah menyapaku” katanya tiba-tiba.

“Hanya melakukan hal yang semestinya kulakukan.” Jawabku tanpa menoleh.

“Di dunia ini tak ada yang benar-benar peduli.” Ia bersandar di bangku berwarna ungu itu.

“Boleh aku duduk?” jawabku singkat.

Begitulah awal pertemuanku dengannya, seorang pria dingin namun hangat. Ia diam seperti dingin, namun hangat saat berbicara. Bahkan, matanya memancarkan kehangatan dari segala musim.

Sejak pertemuan pertama itu, aku lebih sering datang ke taman Han. Hal yang ingin aku lakukan adalah menanyakan namanya. Alangkah bodohnya, pertemuan panjang dengan obrolan dingin itu membuat aku lupa menanyakan namanya. Itu membuat aku penasaran, ingin mengetahuinya lebih banyak, tentangnya.

“Aku setiap sore di sini, menghabiskan sepi yang selalu menghantuiku 28 tahun ini.” Ia memulai cerita di pertemuan pertama itu.

“Selama itukah?” jawabku heran

Ia menoleh, matanya menatap tajam wajahku. Bola matanya yang berwarna abu-abu sangat indah. Ia seperti malaikat. Aku menunduk, lalu menatap ke depan dengan dada yang bergetar.

“Setiap kali aku menanti senja berakhir di taman Han, aku seperti ditemani. Seperti dipedulikan.”

“Apakah aku mengganggu?”

“Tidak, kau orang pertama yang bertanya padaku. Dan aku senang.”

Dia tersenyum, sangat manis. Giginya yang putih dan rapi sangat mempesona. Seketika aku pun turut tersenyum, lalu kami tertawa bersama-sama.

Hari ini adalah hari ke- 731, aku tak pernah melihatnya lagi di taman Han. Padahal setiap hampir senja aku selalu duduk di bangku ungu ini, menatap senja kemerahan, sambil menunggu. Tapi ia tak pernah datang lagi. Aku merasakan dingin, dan sepi. Berbicara dengannya seolah memberikan kehangatan dalam jiwaku. Apakah karena kami mengalami hal serupa? Apakah sama-sama melalui kehidupan yang berat?

“Seun A, pulanglah. Hari sudah gelap.” Seseorang menegurku dengan tiba-tiba. Ia lilitkan syal rajut tipis di leherku. Ia Jun Ho. Sepupu sekaligus sahabatku sedari kecil.

“Aku tidak mau. Aku belum bertemu dengannya sejak 731 hari yang lalu.” Jawabku terisak. “Aku merasakan kekosongan lagi, sepi, dan dingin.”

“Seun A…..sadarlah.” Jun Ho setengah berteriak.

Aku berdiri dan menatapnya dengan kesal. “Kau tidak mengerti!”

“Bagaimana kau bisa segila ini Seun A. Kau bahkan tidak tahu namanya, kau tidak tahu dia nyata atau tidak. Dan kau terus menunggu dan mencarinya di taman Han hingga bertahun-tahun.”

“Bertahun-tahun? Apa maksudnya Jun Ho?” airmataku mengalir deras. Aku seperti tersekak dalam kerinduan yang tak berujung. Merindukan sosok yang kutemui dengan segala keteduhan dan kehangatannya.

“Seun A, dia tidak nyata, kau hanya bermimpi Seun A.” Jun Ho menarik tanganku.

Kami mengendarai mobil dengan amat kencang. Ia membawaku pada sebuah kamar kosong. Aku terhenyak, di sana terserak ratusan lembar sketsa wajah yang tak asing. Yah, dia. Yang selama ini kutunggu di taman Han. Dan di antara sketsa-sketsa itu, tertulis sebuah catatan “mimpi pertamaku”.

 

Jumat, 16 Juni 2023

PENGGUNAAN BAHASA DALAM PEMBELAJARAN DARING MELALUI APLIKASI DISCORD (THE USE OF LANGUANGE IN ONLINE LEARNING THROUGH THE DISCORD APPLICATION)

PENGGUNAAN BAHASA DALAM PEMBELAJARAN DARING MELALUI APLIKASI DISCORD (THE USE OF LANGUANGE IN ONLINE LEARNING THROUGH THE DISCORD APPLICATION)

TRISNAWATI

Abstract

During the Covid-19 pandemic, schools were required to do online learning or better known

as learning from home. This requires schools and teachers to use online learning applications

as a means of communicating with students. Limited communication between teachers and

students in conveying plans and the learning process causes more use of written language than

spoken language. Written language is spoken language that uses characters as a means. If the

spoken language is in the form of sounds, the written language is in the form of letters. The use

of written language is what teachers and students use to communicate through online learning

applications. One of them is discord. Communicating using written language will be very

different from spoken language. So that the communicator and the communicant can

understand each other the meaning and purpose of the sentence written, the communicant can

not only understand the sentence literally, but also understand the abstract meaning contained

in the core of the sentence. The meanings that are meant by people, their assumptions, and the

types of actions they propose when they communicate on the discord application will be

analyzed. Therefore, pragmatic analysis is used to find out about how people understand each

other linguistically. The approach used in this study is a qualitative approach. Based on the

results of data interpretation of screenshots of written language communication carried out by

teachers and students in a learning application, the following conclusions can be drawn.

1. The use of non-standard everyday language in written language communication by teachers

and students through the discord application can obscure the true meaning of a sentence, but

a sentence can be understood by paying attention to the contexts that are close to the language

or sentence.

2. Paying attention to contexts close to language can help the communicant understand the

meaning of a sentence exactly as the communicator intended.

3. Interpretation of data in this study shows the link between contexts contained in a sentence.

That is, a sentence cannot be separated from the contexts that are close to the language or

sentence.

Keywords: discord, pragmatics, context


Abstrak

Di masa pandemi Covid-19, sekolah diharuskan untuk melakukan pembelajaran

secara daring atau yang lebih dikenal dengan istilah belajar dari rumah. Hal ini menuntut

sekolah dan guru untuk menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring sebagai sarana

berkomunikasi dengan peserta didik. Komunikasi yang terbatas antara guru dan siswa dalam

menyampaikan rencana maupun proses pembelajaran menyebabkan lebih banyak

menggunakan bahasa tulis dari pada bahasa lisan. Bahasa tulis adalah bahasa lisan yang

menggunakan aksara sebagai sarananya. Jika bahasa lisan berupa bunyi-bunyi, bahasa tulis

berupa huruf-huruf. Penggunaan bahasa tulis inilah yang banyak digunakan guru dan siswa

untuk berkomunikasi melalui aplikasi-aplikasi pembelajaran daring. Salah satunya discord.

Berkomunikasi menggunakan bahasa tulis akan sangat berbeda dengan bahasa lisan. Agar

komunikator dan komunikan dapat saling memahami maksud dan tujuan kalimat yang

dituliskan, maka komunikan bukan hanya dapat memahami kalimat tersebut secara harfiah,

tetapi juga dapat memahami makna abstrak yang terdapat dalam inti kalimat tersebut. Makna-

makna yang dimaksud oleh orang-orang, asumsi mereka, dan jenis tindakan yang mereka

ajukan ketika mereka berkomunikasi di aplikasi discord inilah yang akan dianalisis. Oleh

karena itu, analisis pragmatik digunakan untuk mengetahui tentang bagaimana orang-orang

saling memahami satu sama lain secara linguistik. Pendekatan yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil interpretasi data terhadap

tangkapan layar komunikasi bahasa tulis yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam

sebuah aplikasi pembelajaran, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Penggunaan bahasa keseharian yang tidak baku dalam komunikasi bahasa tulis yang

dilakukan oleh guru dan peserta didik melalui aplikasi discord dapat mengaburkan makna

sebenarnya dari sebuah kalimat, namun sebuah kalimat dapat dipahami dengan

memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.

2. Memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa dapat membantu komunikan

memahami makna sebuah kalimat persis seperti maksud yang diinginkan oleh komunikator.

3. Interpretasi data dalam penelitian ini menunjukkan keterikatan antar konteks-konteks yang


terdapat dalam sebuah kalimat. Artinya, sebuah kalimat tidak dapat lepas dari konteks-

konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.


Kata-kata kunci: discord, pragmatik, konteks


PENDAHULUAN

Masalah kebahasaan di Indonesia memperlihatkan ciri yang sangat kompleks. Hal itu

berkaitan erat dengan tiga aspek, yaitu bahasa, pengguna bahasa, dan penggunaan bahasa. Di

era globalisasi seperti sekarang pasti akan berdampak terhadap bahasa Indonesia. Dampak itu

bisa terjadi secara langsung atau tidak langsung. Dampak tersebut dapat positif dapat pula


negatif. Dampak positif pasti memberikan keuntungan dan dampak negatif pasti akan

menimbulkan kerugian bagi kelangsungan bahasa Indonesia.

Di masa pandemi Covid-19, sekolah diharuskan untuk melakukan pembelajaran

secara daring atau yang lebih dikenal dengan istilah belajar dari rumah. Hal ini menuntut

sekolah dan guru untuk menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring sebagai sarana

berkomunikasi dengan peserta didik. Berkomunikasi secara langsung dan berkomunikasi

melalui aplikasi pasti berbeda. Komunikasi yang baik adalah ketika informasi yang

disampaikan komunikator dapat dipahami sama oleh komunikan, sebab komunikasi

merupakan suatu pemikiran mengenai sistem penyampaian pesan yang di dalamnya terdiri atas

komponen-komponen berupa unsur komunikasi. Komponen-komponen tersebut saling terikat

demi tersampainya pesan dari komunikator kepada komunikan.

Komunikasi yang terbatas antara guru dan siswa dalam menyampaikan rencana

maupun proses pembelajaran menyebabkan lebih banyak menggunakan bahasa tulis dari pada

bahasa lisan. Bahasa tulis adalah bahasa lisan yang menggunakan aksara sebagai sarananya.

Jika bahasa lisan berupa bunyi-bunyi, bahasa tulis berupa huruf-huruf. Penggunaan bahasa tulis

inilah yang banyak digunakan guru dan siswa untuk berkomunikasi melalui aplikasi-aplikasi

pembelajaran daring. Salah satunya discord.

Berkomunikasi menggunakan bahasa tulis akan sangat berbeda dengan bahasa lisan.

Agar komunikator dan komunikan dapat saling memahami maksud dan tujuan kalimat yang

dituliskan, maka komunikan bukan hanya dapat memahami kalimat tersebut secara harfiah,

tetapi juga dapat memahami makna abstrak yang terdapat dalam inti kalimat tersebut. Makna-

makna yang dimaksud oleh orang-orang, asumsi mereka, dan jenis tindakan yang mereka

ajukan ketika mereka berkomunikasi di aplikasi discord inilah yang akan dianalisis. Oleh

karena itu, analisis pragmatik digunakan untuk mengetahui tentang bagaimana orang-orang

saling memahami satu sama lain secara linguistik. Levinson (1983) memberikan beberapa

batasan tentang pragmatik, yaitu pragmatik ialah kajian hubungan antara bahasa dan konteks

yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Sedangkan Geroge Yule (dalam Dr.Jumadi: 8)

menyatakan bahwa untuk memahami sepenuhnya makna sebuah kalimat, kita juga memahami

konteks tempat yang diujarkan kalimat tersebut. Di samping faktor-faktor internal bahasanya,

pragmatik mempertimbangkan siapa yang mengatakan kalimat itu, di mana, kapan, dan dalam

situasi apa.

Parera (2001:126) menjelaskan pragmatik merupakan kajian pemakaian bahasa dalam

komunikasi, hubungan antara kalimat, konteks, situasi dan waktu diujarkannya kalimat

tersebut. Konsep ini mengacu pada: (a) bagaimana interpretasi dan penggunaan tutur

bergantung pada pengetahuan nyata; (b) bagaimana penutur manggunakan dan memahami

tindak tuturnya; (c) bagaimana struktur kalimat dipengaruhi oleh hubungan antara penutur dan

petutur. Jadi, pemahaman bahasa mengacu pada fakta bahwa untuk mengerti suatu ujaran

bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata yakni konteks pemakainya. Peranan

konteks sangat penting dalam memahami bahasa. Preston (dalam Supardo, 2000:46)

menyatakan bahwa konteks sebagai seluruh informasi yang berada di sekitar pemakai bahasa

termasuk pemakaian bahasa yang ada di sekitarnya.

Purwo (2001:4) menyatakan konteks adalah pijakan utama dalam analisis pragmatik.

Konteks ini meliputi penutur dan petutur, tempat, waktu dan segala sesuatu yang terlibat dalam

ujaran tersebut. Hal ini menegaskan bahwa hal-hal seperti situasi, jarak, dan tempat dapat

merupakan konteks pemakaian bahasa. Konteks dapat pula berupa orang atau benda, alat,

bahasa dan tindakan.

1. Konteks berupa orang atau benda mengacu pada siapa yang berbicara dan dengan siapa ia

berbicara.


2. Konteks berupa tempat adalah di mana ujaran tersebut diucapkan.

3. Konteks berupa waktu adalah kapan ujaran tersebut diucapkan dan dalam situasi yang

seperti apa.

4. Konteks berupa bahasa adalah bahasa yang mendahului peristiwa tutur tersebut.

5. Konteks berupa tindakan adalah seluruh perbuatan yang berada di luar bahasa.

Berdasarkan uraian di atass dapat dikatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang

mempelajari bahasa dalam pemakaiannya serta makna yang dihasilkan oleh kalimat dengan

melihat konteks yang ada saat tuturan berlangsung.


METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Pendekatan merupakan suatu ruang lingkup penelitian sastra yang berhubungan dengan aspek

yang diungkapkan dalam penelitian. Pendekatan kualitatif yaitu suatu data terurai dalam bentuk

kata-kata atau gambaran bukan dalam bentuk angka-angka (Semi, 1990:24). Menggunakan

pendekatan kualitatif berrati penelitian yang dilakukan berusaha mendekatkan diri kepada

objek secara utuh. Pendekatan ini lebih menekankan pada faktor kontekstual dan tidak

menekankan pada angka-angka.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang

berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah sosial

(Darmadi, 2014: 247). Fenomena sosial dan masalah sosial yang dikaji dalam penelitian ini

adalah pemakaian bahasa secara abstrak yang sering terjadi dalam komunikasi daring, dalam

hal ini adalah komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa melalu aplikasi discord.

Sumber data dari penelitian ini adalah berupa tangkapan layar yang didalamnya

terdapat kalimat-kalimat yang memiliki makna abstrak atau tersembunyi, sehingga dapat

dipahami dengan memperhatikan konteks-konteks yang berada di sekitar kalimat tersebut.

Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis data kualitatif adalah sebagai berikut.

1. Pengumpulan data, tahap ini dilakukan pencatatan terhadap data-data yang relevan dengan

penelitian, yaitu kalimat atau tuturan yang memiliki makna abstrak atau tersembunyi antara

guru dan siswa dalam aplikasi discord.

2. Melakukan peninjauan ulang terhadap data-data yang dikumpulkan, yaitu dengan

membuang data-data yang dianggap tidak relevan dengan penelitian.

3. Pengelompokan data, yaitu tahap mengelompokan data yang akan dianalisis berdasarkan

konteks pemakai bahasa.

4. Interpretasi data, yaitu memberikan ulasan mengenai makna bahasa berdasarkan konteks

pemakai bahasa.

5. Memberikan simpulan berupa pandangan-pandangan secara umum tentang hasil penelitian.

Tahap ini merupakan tahap akhir dalam penelitian.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Interpretasi data di bagian hasil dan pembahasan ini fokus pada bagaimana suatu

kalimat atau tuturan itu dapat dipahami meskipun memiliki makna abstrak. Hal ini mengacu

pada pemahaman makna kalimat atau tuturan dengan memperhatikan konteks-konteks yang

berdekatan dengan pemakai bahasa. Perhatikan kalimat dalam tangkapan layar berikut.

Kalimat tersebut jika dimaknai secara langsung maka dapat disimpulkan bahwa si

komunikator sedang bertanya kepada komunikan apakah ia bertemu dengan orang yang

bernama 11.45. Namun, 11.45 tentu saja tidak mengacu pada nama orang, sebab tidak mungkin

ada orang yang memiliki nama 11.45. Oleh karena itu, dengan memahami konteks waktu dan

orang yang berbicara dapatlah dipahami bahwa ini adalah sebuah kalimat berita yang bertujuan

untuk memberi tahu komunikan tentang pertemuan. Berdasarkan konteks waktu, bahwa

kalimat ini dituturkan di jam sekolah dalam situasi pembelajaran, sedangkan konteks orang

yang berkaitan dengan siapa yang berbicara dan siapa yang diajak berbicara, kalimat ini

diucapkan oleh seorang guru kepada peserta didiknya. Maka, dapat dipahami makna kalimat

ini adalah kalimat pemberitahuan mengenai waktu pembelajaran yang akan dilaksanakan di

pukul 11.45 WIB. Perhatikan pula kalimat berikut ini.

Sama halnya dengan kalimat sebelumnya, kalimat ini jika dimaknai secara langsung

berarti komunikator seolah memberitahu “jam 12.30” sebagai komunikan untuk bersiap-siap

tatap maya mata pelajaran AIK. Namun tentu saja kalimat ini tidak bermakna seperti itu, lagi-

lagi tidak mungkin ada seseorang yang bernama jam 11.30, tentu saja maksud dari komunikator

adalah mengacu pada waktu. Walaupun sebenarnya penggunaan diksi jam untuk menyatakan

waktu tentulah kurang tepat. Sebab, jam mengacu pada bendanya, bukan waktunya. Memahami

makna kalimat ini berdasarkan konteks waktu dan orang yang bertutur berarti komunikator

sebenarnya memberitahukan bahwa akan ada tatap maya mata pelajaran AIK di pukul 12.30

WIB. Hal serupa juga terjadi pada kalimat berikut.


“Kita ketemu pukul 12.00 ya” seperti memberi tahu bahwa komunikator akan bertemu

dengan seseorang yang bernama “pukul 12.00”. Dapat juga kalimat ini bermakna bahwa

pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan secara langsung. Maka memahami konteks waktu

dan situasi serta siapa yang bertutur menjadi penting untuk dapat memberikan makna kalimat

ini secara tepat. Sehingga makna yang muncul selaras dengan makna yang dimaksud oleh

komunikator. Kalimat ini berkaitan dengan waktu dan situasi saat bertutur yaitu ketika jam

pelajaran. Konteks lain yang dekat dengan kalimat ini adalah bahwa kalimat ini dituturkan oleh

seorang guru sebagai komunikator dan peserta didik sebagai komunikan. Maka dapat diberikan

makna pada kalimat ini adalah komunikator memberitahu komunikan bahwa mereka akan

memulai pembelajaran pada pukul 12.00 WIB. Konteks situasi juga terlihat dari pernyataan

“Jika ada pertanyaan atas tugas kemarin, kita diskusikan”, konteks ini mengacu pada situasi

pembelajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sedangkan maksud “ketemu” bukan

bertemu secara langsung, tapi bertemu melalui video conference.



Kalimat “Mapel PKN hari ini mengerjakan soal ulangan harian ya” di luar konteks

waktu, situasi, dan orang bermakna bahwa yang mengerjakan soal ulangan harian adalah

“mapel PKN”. Namun jika kita lihat konteks-konteks yang melekat dalam kalimat ini adalah

konteks waktu yaitu mengenai kapan kalimat ini dituturkan, kalimat ini dituturkan saat jam

sekolah tengah berlangsung. Konteks situasi yaitu kalimat ini dituturkan sebelum jadwal mapel

PKN dimulai. Sedangkan konteks orang adalah kalimat ini dituturkan seorang guru sebagai

komunikator kepada peserta didiknya sebagai komunikan.

Selain memahami kalimat dengan memperhatikan konteks waktu, situasi dan orang.

Sebuah kalimat juga dapat dipahami dengan memperhatikan konteks tindakan yang berada di

luar bahasa itu sendiri. Seperti dalam kalimat berikut.



Kalimat tersebut dapat dipahami sebagai pemberitahuan mengenai sebuah kegiatan

pembelajaran yang akan berlangsung. Namun, jika dipahami secara langsung makna kalimat

tersebut adalah Administrasi Sistem Jaringan yang belajar. Bukan peserta didik. Konteks

tindakan mengacu tindakan di luar bahasa itu sendiri yaitu pemberitahuan sekaligus

memerintah, dalam hal ini adalah guru memberitahu peserta didik untuk melaksanakan

kegiatan pembelajaran. Sehingga dapat dipahami bahwa yang melakukan pembelajaran di

googleclass room adalah peserta didik. Pemahaman makna kalimat dengan memperhatikan

tindakan juga dapat dilakukan terhadap kalimat berikut.



Makna yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah peserta didik diminta untuk mengecek

materi di classroom lalu membacanya. Selain konteks tindakan juga terdapat konteks-konteks

lain, seperti orang, waktu, dan situasi. Hal serupa juga terdapat pada kalimat berikut.



Kalimat tersebut merupakan kalimat pertanyaan mengenai kegiatan pembelajaran yang akan

dilaksanakan. Kalimat ini mengacu konteks tindakan untuk melakukan pembelajaran melalui

media apa, yaitu melalui googleclas room atau video conference. Perhatikan kalimat berikut.



Kalimat tersebut berkaitan dengan konteks waktu dan situasi, bahwa yang selesai adalah sesi

mata pelajaran PKK yang terjadwal. Namun, jika dipahami secara langsung kalimat tersebut

seolah-seolah menyatakan bahwa mata pelajaran PKK telah selesai secara keseluruhan.


KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil interpretasi data terhadap tangkapan layar komunikasi bahasa tulis

yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam sebuah aplikasi pembelajaran, dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut.

4. Penggunaan bahasa keseharian yang tidak baku dalam komunikasi bahasa tulis yang

dilakukan oleh guru dan peserta didik melalui aplikasi discord dapat mengaburkan makna

sebenarnya dari sebuah kalimat, namun sebuah kalimat dapat dipahami dengan

memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.

5. Memperhatikan konteks-konteks yang dekat dengan bahasa dapat membantu komunikan

memahami makna sebuah kalimat persis seperti maksud yang diinginkan oleh komunikator.

6. Interpretasi data dalam penelitian ini menunjukkan keterikatan antar konteks-konteks yang

terdapat dalam sebuah kalimat. Artinya, sebuah kalimat tidak dapat lepas dari konteks-

konteks yang dekat dengan bahasa atau kalimat tersebut.


SARAN

Setelah melakukan penelitian ini, penulis menyarankan agar komunikasi dalam

bentuk bahasa tulis yang dilakukan oleh guru dan peserta didik hendaknya tetap

memperhatikan penggunaan bahasa yang baku, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam

memahami makna kalimat tersebut.


REFERENSI


Alwi, Hasan. 2000. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakainnya. Jakarta: Pusat Bahasa

Semi, M. Attar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa

Darmadi, Hamid. 2014. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: Alfabeta

Abdurrahman. 2018. Jurnal Artikel Pragmatik; Konsep Dasar Memahami Konteks Tuturan.

Eprints.uny.ac.id

Pakarkomunikasi.com/teori-komunikasi-menurut-para-ahli

Zonarefensi.com

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...