“Prang” suara kaca pecah memekak telinga, kepingan yang tercerai memenuhi lantai. Beberapa tampak berkilauan karena sinar mentari pagi itu telah menembus ke dalam rumah. Sesosok lelaki paruh baya berdiri tertegun di depan jendela yang pecah itu, gemeretak tulang-tulangnya terdengar dalam keheningan, darah segar mulai mengucur deras, menetes di antara kepingan kaca.
“Bapak, Bapak, maafkan aku. Maafkan aku, Pak.”
Aku lunglai dan bersimpuh di kakinya, tampaknya getar jantung Bapak begitu terasa di nadi-nadi kakinya. Ia tetap mematung dan bergeming. Perih dan sesak menguasai napasku, dalam tangis dan rasa sakit aku berusaha menggapai tangannya, tapi Bapak tetap berlalu sembari mengambil kunci mobil yang tergantung pada tembok usang yang berwarna biru. Sebelum Bapak melangkahkan kakinya lebih jauh, ia kembali berdiri dan berkata “Pelangiku telah hilang”. Bayangnya berlalu dalam sekejap.
Sungai mengalir deras di mataku, bendungan itu telah runtuh. Segala pertahananku sebagai seorang putri dari seorang Ayah yang telah berjuang membesarkannya seorang diri, hancur dengan sekejap mata. Sejak Bapak dan Ibuku bercerai, aku tinggal bersama Bapak hingga dewasa. Tidak ada ruang yang tersisa lagi. Segala hal yang pernah Bapak ajarkan tentang harga diri dan kehormatan telah lenyap.
Ayunan gontai tanganku mencoba menggapai tembok usang itu, napasku terasa berat, aroma ruangan itu hilang. Bumi terasa berputar begitu cepat, kulihat jam dinding seperti bergerak dari kanan ke kiri, lalu membentuk bayangan yang banyak, amat banyak. Lalu aku tak melihat apapun lagi. Semuanya gelap.
"Aurora, bangun nak."
Samar, aku mendengar isak tangis seorang wanita. Kelopak mataku begitu berat, seperti ada beban di atasnya yang tidak mampu aku geser. Tapi batinku terus mendorong, dan mendorong belenggu itu. Lagi-lagi, cairan hangat mengalir di lembah pipiku yang mulai cekung. Tadinya, lembah ini adalah sebuah keindahan, ranum dan suci.
"Aurora....Aurora...."
Suara itu semakin jelas terdengar di telingaku. Lagi-lagi, aku terus mendorong belenggu itu agar terlepas. Ah....mataku perlahan terbuka. Cahaya terang di seberang sana memanah tepat pada korneanya. Putih, hanya warna putih yang kulihat. Aku berkedip satu kali, masih putih, kedua kali masih putih, dan ketiga kali sesosok bayangan muncul. "Ibu...." Bibirku ingin sekali mengucapkannya, tapi aku sudah tidak mampu lagi berkata.
"Ibu, kau di sini? Bukankah kau..."
Ibu merangkul tubuhku yang terbaring lemah. "Anakku, pelangiku, apa yang terjadi"
"Ibu, Bapak pergi meninggalkan aku, maafkan aku ibu, aku bersalah, aku berdosa"
"Kau tetap anak kami, walaupun kau punya kesalahan besar"
"Tapi Bapak tidak memaafkanku ibu, dia pergi meninggalkanku, aku sendirian ibu, aku sendirian sekarang"
"Tidak nak, tidak, Ibu dan Bapakmu ada di sini"
"Di sini? Di mana ini Ibu? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Kenapa di sini hanya ada kegelapan, kemana cahaya yang tadi aku lihat ibu? Di mana?"
Ibu terisak, wajahnya pucat. Kulihat tangannya yang gemetar, dia berusaha menggapaiku, tapi tidak....ibu semakin menjauh, dan menjauh, ibu tersenyum padaku sembari meneteskan air mata. Ada apa ini? Apa yang kulihat? Aku di mana?
"Jangan pergi bu, jangan pergi, jangan tinggalkan aku? Aku takut sendirian di sini bu, aku takut. Tolonglah ibu"
Tangisku pecah, mengingat Bapak telah pergi meninggalkanku, kini ibu pun beranjak untuk meninggalkanku. Aku bertanya kembali, ada apa ini?
"Aurora, Ibu terluka, Ibu kesakitan Aurora"
"Ibu kenapa?"
Saat aku berusaha berdiri, cairan berwarna merah membasahi bajuku, mengalir di sela-sela kakiku, kutatap ibu yang perlahan menjauh penuh heran.
"Apa ini Ibu? Aku mau pulang Bu, aku ingin pulang"
Dan pandanganku gelap kembali. Ibu sudah tak tampak lagi. Aku sendiri. Dalam pekat gelap.
"Aurora, bangun, nak. Maafkan Bapak. Bapak bersalah padamu."
Kembali aku membuka mata perlahan saat mendengar suara Bapak. Bapak mengelus kepalaku.
"Maafkan Bapak Aurora"
"Bapak, aku ingin pulang. Di sini gelap Pak. Ibu pergi, Ibu meninggalkanku"
"Kita sudah pulang Nak, kita sudah di rumah, kau hanya bermimpi"
"Bermimpi? Sudah di rumah? Apa maksud Bapak"
"Aurora sadar lah, sadar nak! Karena lelaki itu kau jadi seperti ini. Kau tidak hanya kehilangan dirimu, tapi semua orang yang mencintaimu. Ingat, bagaimana lelaki berengsek itu menghancurkan masa depanmu. Sekarang sadarilah di mana kau berada saat ini!"
"Bapak, aku ingat semuanya, Ares menginginkan anakku mati, keluarganya pun ingin anak ini mati. Lihat kucuran darah ini Pak, aku ingin Ares dan keluarganya melihat ini semua. Bahwa anak ini telah mati, walaupun ini adalah darah dagingnya."
"Untuk apa kau datang padanya lagi? Untuk apa? Memintanya bertanggung jawab? Lihat dirimu, lihat kita saat ini. Ini terjadi karena lelaki itu."
"Sudahlah pak, sekarang bawa aku pulang"
"Aurora, lihat sekitarmu."
Hanya kegelapan yang kulihat, tidak ada apa-apa. Tapi dikejauhan aku melihat Ibu menangis, di sana berdiri Om Husen dan Tante Oli. Mereka berpakaian serba hitam. Bukankah tadi Ibu sudah datang menemuiku?
"Ibu, Ibu, Ibu" aku berteriak memanggil, tapi semuanya acuh dan tak sedikitpun menoleh. Aku ingin mengadukan Ares pada Ibuku, tentang bagaimana aku mencintainya hingga merelakan seluruh kehormatanku. Aku rela membunuh anak yang kukandung, karena Ares tidak mau bertanggung jawab. Ares pergi bersama wanita lain setelah dia menghamiliku. Ini pedih Ibu, ini sangat pedih. Aku dibuang seperti sampah.
"Aurora, percuma, mereka tidak akan mendengar"
"Pak, aku ingin mengadu pada Ibu Pak, aku harus dapat keadilan. Keluarga Ares tak berhak memperlakukan kita seperti ini!"
"Lihatlah Aurora, Lihat itu"
Tiba-tiba saja aku dan Bapak berada di rumah. Beberapa karangan bunga dengan ucapan belasungkawa berdatangan. Orang-orang berdatangan dengan pakaian serba hitam. Dua tubuh terbaring di ruang itu. Pucat pasi. Sepertinya aku bisa merasakan tubuh dingin itu.
"Siapa yang mati pak?"
Bapak hanya diam, air matanya menetes tiada henti. Kulangkahkan kakiku perlahan, aroma anyir tercium jelas, Ibu masih di sana menangis. Dan aku, jantungku berhenti berdetak, aku berhenti bernapas, tubuhku tiba-tiba kaku. Mulutku pun terkunci. Jenazah itu adalah aku dan Bapak.
"Kita telah pulang Aurora" kata Bapak.
"Saat aku ingin membawamu ke runah sakit karena keguguran itu, kita kecelakaan, kita telah mati, Aurora. Keadilan itu tidak ada. Kau hanya merasakan sakit hingga akhir hidupmu, dan lelaki itu hidup atas rasa sakitmu"
Aku membisu. Membisu. Aku telah mati.