Sabtu, 25 Juni 2022

Selamat Malam

Aku tidak sedang baik-baik saja
Sekeras apapun tersenyum pada dunia
Bahkan hingga tawa menggema di langit kelabu
Takkan mampu memecah keheningan sunyi
Sebab kehilangan 
Dulu, 
Tawa kita bersatu dalam detak waktu
Obrolan kita? Tak pernah ada akhirnya
Semua serba mengasyikan kan?

Sekarang jamku telah bertemu pada titik waktunya
Sejak aku katakan, tak ada yang dapat menggantikanmu di hatiku
Aku cemburu pada setiap notif di handphoneku
Di mana, di sana ada gambar dirimu dengan sahabat barumu

Kehilangan? Tentu
Tapi tidak
Aku tak ingin egois
Bahkan sampai lirik ini aku tulis
Aku menerima semua aturan dunia
Tentang kehidupan yang berjalan
Bagaimana dia menghempas
Bagaimana dia membangkitkan

Kutitipkan doa pada Tuhan
Semoga kita tidak terluka 
Dalam segala hal

......

Jumat, 18 Maret 2022

Sastra Milik Kita

        Berbicara tentang sastra, sama halnya dengan berbicara tentang bahasa. Sastra hidup dan berkembang di masyarakat untuk masyarakat. Seorang penulis haruslah berinteraksi dengan bahan bacaan. Menulis harus memiliki bacaan yang kuat. Bagaimana semesta dapat menjadi inspirasi sastra? Berikut beberapa hal yang dapat membangun inspirasi karya sastra.

1. Menciptakan iklim dan ekosistem yang mendukung, yaitu orang-orang yang mengerjakan hal yang sama.

2. Menjadikan identitas lokal sebagai inspirasi dari karya sastra.

3. Menjadikan sastra bukan sebagai sesuatu yang eksklusif, yang hanya dapat dinikmati oleh kaum akademis saja. Sastra harusnya tumbuh dari kalangan "akar rumput", artinya sastra bertumbuh dan menyentuh semua kalangan, baik orang yang berpendidikan maupun tidak. 

       Proses penciptaan sebuah karya sastra memang tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya manusia. Oleh karena itu, sastra dinilai sebagai cerminan kehidupan masyarakat pada periode-periode tertentu. Sebut saja misalnya novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer yang berlatar sosial budaya di zaman kolonial. Gambaran kehidupan orang-orang pribumi di masa itu menjadi inspirasi lahirnya novel tersebut. Selain sebagai cerminan kehidupan, sastra juga acap kali menjadi inspirasi kritik sosial, banyak penulis yang menjadikan karya sastranya sebagai kritik sosial. Misalnya W.S. Rendra dengan beberapa sajaknya yang mengandung satire, seperti puisi Aminah, puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta. 

            Menciptakan iklim dan ekosistem yang mendukung sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk komunitas, mengikuti berbagai kegiatan menulis, serta menjaring relasi dengan dunia luar. Misalnya, berkomunikasi dengan para penulis lainnya. 

            Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya. Setiap daerah memiliki budaya, memiliki bahasa, memiliki pangan khas, memiliki filosofi hidup yang khas pula. Inilah yang disebut dengan identitas budaya. Hal ini dapat menjadi inspirasi dari karya sastra. Misalnya bagaimana masyarakat itu melakukan kebiasaan menanam padi, bagaimana mitos-mitos tumbuh di lingkungan masyarakat itu. 

                Sastra harus menyentuh semua kalangan. Paradigma bahwa sastra menjadi tanggung jawab kaum akademis, atau hanya dapat didiskusikan dan dinikmati oleh kaum akademis saja harus dihilangkan. Bagaimana sebuah karya sastra akan tumbuh jika sastra tidak berakar dari bawah. Kebanyakan masyarakat Indonesia bersastra dengan cara bertutur, misalnya syair atau pantun yang berkaitan dengan aktivitas berladang, mengambil air di sumur, menenun dan lain-lain.  Hal ini dapat menjadi inspirasi dari karya sastra jika sastra dapat merangkul semua kalangan. 

                Akhirnya, melalui karya sastralah segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, budaya, bahasa, mitos, dongeng, dan legenda dapat diabadikan. Sastra dapat dijadikan sebagai media untuk menyelamatkan sebuah peradaban dari kepunahan. Semesta bersastra adalah tentang bagaimana seorang penulis dapat merefleksikann sebuah kehidupan ke dalam sebuah tulisan. 

Senin, 07 Maret 2022

Cakrawala Senja

 “Prang” suara kaca pecah memekak telinga, kepingan yang tercerai memenuhi lantai. Beberapa tampak berkilauan karena sinar mentari pagi itu telah menembus ke dalam rumah. Sesosok lelaki paruh baya berdiri tertegun di depan jendela yang pecah itu, gemeretak tulang-tulangnya terdengar dalam keheningan, darah segar mulai mengucur deras, menetes di antara kepingan kaca. 

“Bapak, Bapak, maafkan aku. Maafkan aku, Pak.” 

Aku lunglai dan bersimpuh di kakinya, tampaknya getar jantung Bapak begitu terasa di nadi-nadi kakinya. Ia tetap mematung dan bergeming. Perih dan sesak menguasai napasku, dalam tangis dan rasa sakit aku berusaha menggapai tangannya, tapi Bapak tetap berlalu sembari mengambil kunci mobil yang tergantung pada tembok usang yang berwarna biru. Sebelum Bapak melangkahkan kakinya lebih jauh, ia kembali berdiri  dan berkata “Pelangiku telah hilang”. Bayangnya berlalu dalam sekejap. 

Sungai mengalir deras di mataku, bendungan itu telah runtuh. Segala pertahananku sebagai seorang putri dari seorang Ayah yang telah berjuang membesarkannya seorang diri, hancur dengan sekejap mata. Sejak Bapak dan Ibuku bercerai, aku tinggal bersama Bapak hingga dewasa. Tidak ada ruang yang tersisa lagi. Segala hal yang pernah Bapak ajarkan tentang harga diri dan kehormatan telah lenyap. 

Ayunan gontai tanganku mencoba menggapai tembok usang itu, napasku terasa berat, aroma ruangan itu hilang. Bumi terasa berputar begitu cepat, kulihat jam dinding seperti bergerak dari kanan ke kiri, lalu membentuk bayangan yang banyak, amat banyak. Lalu aku tak melihat apapun lagi. Semuanya gelap. 

"Aurora, bangun nak." 

Samar, aku mendengar isak tangis seorang wanita. Kelopak mataku begitu berat, seperti ada beban di atasnya yang tidak mampu aku geser. Tapi batinku terus mendorong, dan mendorong belenggu itu. Lagi-lagi, cairan hangat mengalir di lembah pipiku yang mulai cekung. Tadinya, lembah ini adalah sebuah keindahan, ranum dan suci. 

"Aurora....Aurora...."

Suara itu semakin jelas terdengar di telingaku. Lagi-lagi, aku terus mendorong belenggu itu agar terlepas. Ah....mataku perlahan terbuka. Cahaya terang di seberang sana memanah tepat pada korneanya. Putih, hanya warna putih yang kulihat. Aku berkedip satu kali, masih putih, kedua kali masih putih, dan ketiga kali sesosok bayangan muncul. "Ibu...." Bibirku ingin sekali mengucapkannya, tapi aku sudah tidak mampu lagi berkata. 

"Ibu, kau di sini? Bukankah kau..."

Ibu merangkul tubuhku yang terbaring lemah. "Anakku, pelangiku, apa yang terjadi"

"Ibu, Bapak pergi meninggalkan aku, maafkan aku ibu, aku bersalah, aku berdosa"

"Kau tetap anak kami, walaupun kau punya kesalahan besar"

"Tapi Bapak tidak memaafkanku ibu, dia pergi meninggalkanku, aku sendirian ibu, aku sendirian sekarang"

"Tidak nak, tidak, Ibu dan Bapakmu ada di sini"

"Di sini? Di mana ini Ibu? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Kenapa di sini hanya ada kegelapan, kemana cahaya yang tadi aku lihat ibu? Di mana?"

Ibu terisak, wajahnya pucat. Kulihat tangannya yang gemetar, dia berusaha menggapaiku, tapi tidak....ibu semakin menjauh, dan menjauh, ibu tersenyum padaku sembari meneteskan air mata. Ada apa ini? Apa yang kulihat? Aku di mana? 

"Jangan pergi bu, jangan pergi, jangan tinggalkan aku? Aku takut sendirian di sini bu, aku takut. Tolonglah ibu"

Tangisku pecah, mengingat Bapak telah pergi meninggalkanku, kini ibu pun beranjak untuk meninggalkanku. Aku bertanya kembali, ada apa ini?

"Aurora, Ibu terluka, Ibu kesakitan Aurora"

"Ibu kenapa?" 

Saat aku berusaha berdiri, cairan berwarna merah membasahi bajuku, mengalir di sela-sela kakiku, kutatap ibu yang perlahan menjauh penuh heran. 

"Apa ini Ibu? Aku mau pulang Bu, aku ingin pulang"

Dan pandanganku gelap kembali. Ibu sudah tak tampak lagi. Aku sendiri. Dalam pekat gelap.

"Aurora, bangun, nak. Maafkan Bapak. Bapak bersalah padamu."

Kembali aku membuka mata perlahan saat mendengar suara Bapak. Bapak mengelus kepalaku.

"Maafkan Bapak Aurora"

"Bapak, aku ingin pulang. Di sini gelap Pak. Ibu pergi, Ibu meninggalkanku" 

"Kita sudah pulang Nak, kita sudah di rumah, kau hanya bermimpi"

"Bermimpi? Sudah di rumah? Apa maksud Bapak"

 "Aurora sadar lah, sadar nak! Karena lelaki itu kau jadi seperti ini. Kau tidak hanya kehilangan dirimu, tapi semua orang yang mencintaimu. Ingat, bagaimana lelaki berengsek itu menghancurkan masa depanmu. Sekarang sadarilah di mana kau berada saat ini!" 

"Bapak, aku ingat semuanya, Ares menginginkan anakku mati, keluarganya pun ingin anak ini mati. Lihat kucuran darah ini Pak, aku ingin Ares dan keluarganya melihat ini semua. Bahwa anak ini telah mati, walaupun ini adalah darah dagingnya."

"Untuk apa kau datang padanya lagi? Untuk apa?  Memintanya bertanggung jawab? Lihat dirimu, lihat kita saat ini. Ini terjadi karena lelaki itu."

"Sudahlah pak, sekarang bawa aku pulang"

"Aurora, lihat sekitarmu."

Hanya kegelapan yang kulihat, tidak ada apa-apa. Tapi dikejauhan aku melihat Ibu menangis, di sana berdiri Om Husen dan Tante Oli. Mereka berpakaian serba hitam. Bukankah tadi Ibu sudah datang menemuiku? 

"Ibu, Ibu, Ibu" aku berteriak memanggil, tapi semuanya acuh dan tak sedikitpun menoleh. Aku ingin mengadukan Ares pada Ibuku, tentang bagaimana aku mencintainya hingga merelakan seluruh kehormatanku. Aku rela membunuh anak yang kukandung, karena Ares tidak mau bertanggung jawab. Ares pergi bersama wanita lain setelah dia menghamiliku. Ini pedih Ibu, ini sangat pedih. Aku dibuang seperti sampah. 

"Aurora, percuma, mereka tidak akan mendengar"

"Pak, aku ingin mengadu pada Ibu Pak, aku harus dapat keadilan. Keluarga Ares tak berhak memperlakukan kita seperti ini!"

"Lihatlah Aurora, Lihat itu"

Tiba-tiba saja aku dan Bapak berada di rumah. Beberapa karangan bunga dengan ucapan belasungkawa berdatangan. Orang-orang berdatangan dengan pakaian serba hitam. Dua tubuh terbaring di ruang itu. Pucat pasi. Sepertinya aku bisa merasakan tubuh dingin itu. 

"Siapa yang mati pak?"

Bapak hanya diam, air matanya menetes tiada henti. Kulangkahkan kakiku perlahan, aroma anyir tercium jelas, Ibu masih di sana menangis. Dan aku, jantungku berhenti berdetak, aku berhenti bernapas, tubuhku tiba-tiba kaku. Mulutku pun terkunci. Jenazah itu adalah aku dan Bapak. 

"Kita telah pulang Aurora" kata Bapak. 

"Saat aku ingin membawamu ke runah sakit karena keguguran itu, kita kecelakaan, kita telah mati, Aurora. Keadilan itu tidak ada. Kau hanya merasakan sakit hingga akhir hidupmu, dan lelaki itu hidup atas rasa sakitmu"

Aku membisu. Membisu. Aku telah mati.

Jumat, 04 Maret 2022

Komunitas Literasi sebagai Motor Transformasi

Kemajuan teknologi merupakan hal yang tidak dapat dicegah maupun dibatasi. Berbagai sektor kehidupan sudah tidak dapat dipisahkan dari teknologi, seperti sektor perdagangan, pelayanan, hingga pendidikan. Selain itu, berbagai informasi juga dapat dengan mudah diketahui melalui teknologi dari berbagai media sosial, seperti tik tok, instagram, facebook dan lain-lain. Kemudahan dalam memperoleh informasi ini tentu saja harus diimbangi dengan pengetahuan dan kecakapan hidup yang relevan, yang mampu mengorganisir pola pikir seseorang dalam menyelesaikan sebuah masalah mampu memverifikasi kebenaran sebuah informasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan, beberapa hal itulah yang pada akhirnya disebut dengan kemampuan berpikir krtisi (chritical thingking). 

Kemampuan berpikir kritis tentu saja tidak hadir begitu saja, perlu adanya suatu budaya positif yang menunjang agar seseorang memiliki kemampuan itu. Budaya seperti apakah yang dimaksud? ialah literasi. Apa itu literasi? Literasi tidak hanya sekadar membaca buku saja. Deklarasi Praha tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai praktik dan hubungan yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya. UNESCO juga menyebutkan pengertian literasi lebih luas lagi yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan literasi dimaknai sebagai "kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya". 

Berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca tahun 2018 rata-rata indeks secara nasional, masuk dalam kategori rendah dengan angka 37,32. Hal itu menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia masih rendah. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memberdayakan kembali komunitas penggerak literasi di daerah-daerah. Saat ini pemahaman tentang literasi yang diindentikkan dengan membaca dan menulis membuat sebuah komunitas literasi seperti berjarak dengan masyarakat. Padahal keberadaan sebuah komunitas literasi di lingkungan masyarakat sangatlah penting. Agar komunitas literasi dapat masuk sebagai agen transformasi maka diperlukan strategi yang kontekstual dengan kehidupan lokal di daerahnya. Menurut  Dicky Senda, sastrawan dan penggagas Lakoat. Kujawas, bahwa sebuah komunitas literasi harus dikemas dengan menyentuh konteks lokal di mana ia berada. Konteks ini tentu saja berhubungan erat dengan bahasa, budaya, sejarah, dan bagaimana kehidupan masyarakat itu. Selain itu, menurut Dicky Senda literasi merupakan penyelamat peradaban. Komunitas literasi perlu menyusun strategi kreatif agar literasi tidak lagi dipahami sebagai entitas tunggal hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun juga tentang bagaimana menciptakan kecakapan hidup. 

Kecakapan hidup merupakan keterampilan yang tidak hanya berkaitan dengan komunikasi saja, tetapi juga kemampuan seseorang untuk menciptakan atau berinovasi dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan yang ada di sekitarnya. Sebagai motor transformasi, komunitas literasi adalah penggerak perubahan. Komunitas literasi diharapkan dapat menjadi spirit untuk menggelorakan literasi yang terintegrasi dengan berbagai bidang kehidupan maupun disiplin ilmu yang menyentuh kehidupan lokal, sehingga kebudayaan di daerah tersebut dapat dirawat dengan literasi, misalnya pendokumentasian sastra lisan, pendokumentasian bahasa daerah yang hampir punah, pendokumentasian bahan pangan lokal, mengajarkan kecakapan hidup bercocok tanam modern, serta keterampilan lainnya yang diperlukan oleh masyarakat. Dengan hal itu, literasi akan lebih dekat dan menyentuh masyarakat secara penuh. 

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...