Mimpi
Sabrina
Oleh:
Trisnawati, S.Pd
Kotawaringin
Timur, 3 Juli 2014
Kadang cinta bisa membuat kita jauh merasa
lebih sempurna, karena mencintai dan dicintai adalah bentuk dari kesempurnaan
manusia. Kadang cinta juga bisa membuat kita buta, buta pada kebenaran bahwa
seseorang itu tak pantas untuk kita dapatkan. Tamat. “Aaahhh….” Aku hanya
bisa mendesah ketika kutipan ini kubaca dari sebuah buku novel yang baru saja
aku selesaikan membacanya. Kalimat kedua dari kutipan itu, apakah berlaku
untukku? Sebagai seorang pembaca novel-novel percintaan, aku berharap kisah
cintaku selalu berakhir dengan happy
ending, seperti film-film di FTV, atau seperti drama korea. Ada pertemuan
si tokoh utama perempuan dengan tokoh utama laki-laki yang tidak begitu mulus,
lalu berakhir dengan kebahagiaan. Tapi, inikan tidak nyata? Kadang aku sering
berhayal, ada seorang laki-laki tampan yang menyatakan cinta untukku.
Kenyataan bahwa
perjalanan cintaku tak semulus dan sebahagia novel percintaan, film di FTV,
atau drama korea harus kutelan pahit-pahit. Aku masih ingat pertama kalinya aku
jatuh cinta dengan seorang laki-laki dia pergi meninggalkanku tanpa pernyataan
cinta, lalu kedua kalinya aku jatuh cinta lagi dia lebih memilih wanita lain.
Sekarang untuk ketiga kalinya, aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki tampan,
matanya sendu, senyumnya manis, kulitnya yang berwarna sawo matang begitu pas
dengan warna rambutnya yang pekat. Caranya berpakaian yang sederhana tapi
elegan sanggup membuat wanita yang menatapnya tak mampu berkedip. Tapi bukan
itu yang membuat aku jatuh cinta padanya, entahlah, hingga saat ini belum
kutemukan jawaban itu.
Mentari pagi kembali memutus setiap mimpi dan
hayalanku malam itu, padahal aku baru saja mengalami kisah cinta seperti
di 100
Day With Mr. Arogant, tapi hari ini aku harus pergi bekerja. Kembali
berkencan dengan sebuah komputer dan tumpukan kertas yang harus aku rekap
ulang. Hoaah…aku menggeliat malas sekali, kutatap layar telepon genggamku, tak
ada satu pun SMS atau missed call, ”Kalau
saja aku dan Dika…mungkin akan ada ucapan selamat pagi untukku setiap pagi,
ah…” bisikku dalam hati. Mungkin bisa dikatakan aku adalah wanita bodoh yang
pernah ada, jatuh cinta berkali-kali tapi selalu dengan laki-laki yang tak
pernah mencintaiku.
Kurapikan diriku
di depan cermin, kupandangi lekat-lekat wajahku di sana. Aku memang tak begitu
cantik, kulitku gelap, tapi apakah setiap laki-laki hanya melihat dari
kecantikkan fisik saja untuk jatuh cinta? Aku menghela napas dalam-dalam.
Mungkin aku harus kembali berbesar hati menerima kenyataan bahwa Dika tak
mencintaiku. Aku pergi ke bagasi untuk menyalakan sepeda motorku, satu-satunya
kendaraan yang aku punya.
Hangatnya sinar mentari menerpa kulitku, angin
yang berhembus tak mampu menghilangkan hangatnya, tak lupa bayang-bayang
tentang Dika kembali bergelayut di mataku, bahkan di otakku.
Tiba-tiba…”brukkkk” motor yang kukendarai menabrak sesuatu, aku terpental dan
rasanya sakit sekali. Sambil menahan sakit, kucoba untuk berdiri tapi ternyata
aku kembali terjatuh. Sepasang tangan membantuku untuk berdiri, Dika. Kutatap
wajahnya tak berkedip, ini benar-benar nyata. “Terima kasih ya Dik, sudah mem…”
belum sempat kalimat yang kuucapkan selesai, Dika sudah berlalu dari hadapanku.
“Apa! Apa maksudnya? Kenapa dia masih saja sombong dan tak pernah menganggapku?
Dan kenapa aku masih saja jatuh cinta padanya?” teriakku kesal.
Dika sosok yang
dingin, selama tiga tahun kami saling mengenal, dan bekerja di tempat yang
sama, dia tak pernah menyapaku bahkan tersenyum sekalipun. Aku tak mengerti di
mana letak kesalahanku. Padahal aku begitu yakin ada kebaikan jauh di dalam
hatinya. Buktinya dia menolongku hari ini. Tapi, tak bisa kupungkiri bahwa aku
belum bisa menyelami apa yang ada di dasar hatinya. Sampai di kantor kulihat
Dika masih berdiri di depan pintu masuk, seperti menunggu seseorang, aku
berjalan masih dengan terpincang-pincang, ketika dia melihatku tiba-tiba saja
Dika berpaling dan segera masuk ke kantor. Apa dia membenciku?
“Aku tak bisa
membiarkan ini terjadi begitu saja, aku harus mencari cara…” pikirku.
Kulangkahkan kakiku dengan tergesa-gesa, kutinggalkan tumpukan kertas dengan komputer
yang masih menyala di mejaku, aku harus mengakhiri semua ini, suka atau tidak,
aku harus mengatakan bahwa aku jatuh cinta padanya tak peduli pada sikapnya
selama ini terhadapku. Tanpa terasa, dengan kakiku yang masih
terpincang-pincang, aku sudah sampai di depan meja kerja Dika. Tiba-tiba semua
yang kupikirkan lenyap, aku hanya bisa mematung di depannya, padahal aku tahu
dia menatapku. “Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlanjur ke sini?” Aku
merasa tak bisa berkata apa-apa. Aku membisu menatap sangat dalam pada matanya
dan mencoba menyelami dalamnya lautan hatinya.
“Ya, ada apa mbak?” Dika
menghentikan kebisuanku. Jantungku berdetak dengan sangat cepat.
“Mbak…dia memanggilku dengan
sebutan “mbak”. Apa selama ini dia tidak tahu namaku?” Aku merasa kesal.
“Maaf, kalau Anda masih tetap
berdiam diri di depan meja saya, lebih baik Anda keluar dan pikirkan apa perlu
Anda kemari” lagi-lagi Dika menghentikan lamunanku.
“Aku hanya ingin berterima kasih
dan…”
“Oh, masalah itu, tidak usah
dipikirkan, sebagai manusia sudah sepatutnya saya menolong, karena kebetulan
kan kita lewat di jalan yang sama.” Dika menjawab dengan santainya tanpa ada
rasa apa pun.
Kekesalanku
pada sikapnya mulai membuncah, terlebih ketika kuingat bahwa aku jatuh cinta
padanya, ini semakin membuatku kesal, apakah aku jatuh cinta pada orang yang
salah lagi?
“Dika, cukup…hentikan sikapmu yang
tak mengacuhkanku itu. Aku tahu mungkin kau membenciku, aku tahu kau tak
mengenalku, bahkan kau tak tahu namaku. Tapi tahukah kau Dika, bahwa aku
meyakini ada kebaikan dalam dirimu, kau tahu kenapa? Karena aku jatuh cinta
padamu!” aku pergi berlalu dari mejanya. Semua orang memandangku penuh heran,
kuambil tas jinjing di mejaku, dan aku keluar dengan uraian air mata. Cintaku
memang tak pernah berakhir dengan baik, bahkan sesering apapun aku jatuh cinta.
Aku menangis
dalam kesendirianku, aku tak pernah menyesali pernyataan cintaku padanya. Aku
hanya menyesal kenapa harus jatuh cinta lagi dengan orang yang tak pernah
mencintaiku.
“Hei, sayang, Sabrina, kamu
baik-baik saja kan?” Ani memelukku. Hanya Ani orang yang tahu bahwa aku jatuh
cinta pada Dika. Ani gadis yang manis dan sangat mengerti dengan keadaanku. Dia
selalu ada di saat-saat yang aku butuhkan.
“Kurasa tidak An, kau tahu, kali
ini aku jatuh cinta pada orang yang salah lagi, dia tak mencintaku An…dia tak
ingat namaku…” aku terisak di pelukannya.
“Ssttt…Rin, dia
mengenalmu, aku percaya itu.” Seperti biasa Ani selalu menghiburku untuk
membesarkan hatiku.
“An, apa aku
begitu jelek, begitu buruk, sehingga tak ada satu orang pun yang bisa jatuh
cinta padaku?”
“Kata siapa
sayang, kau cantik, kau tidak seburuk itu, hanya saja, memang para lelaki itu
tak pantas untukmu, yakinlah, kau akan menemukan yang lebih baik.”
Aku masih
terhanyut dalam mimpi-mimpi yang tak pernah berakhir ketika “kring…kring…” nada
telepon genggamku berbunyi menyentakku. Kulihat di layar telepon genggamku “ANI
CALLING”.
“Ya, ada apa An?” Aku bertanya di
sela kantukku yang masih merasuk. “Aku hari ini ga masuk kerja An, aku tidak
enak badan”.
“Rin, Dika…Dika Rin…kecelakaan!
Tut…tut…” Ani menutup teleponnya, kabar darinya membuat kantukku seketika
menghilang. Terbayang wajah Dika, apa aku harus menjenguknya? Dia tak
menyukaiku, tapi, dia pernah menolongku, walau pun dia membenciku, aku harus
melihat keadaannya. Bergegas aku ke kamar mandi, dengan tergesa kurapikan
diriku. Lalu berangkat menuju rumah sakit di mana Dika di rawat berdasarkan SMS
dari Ani.
Aroma khas
obat-obatan yang berhembus di rumas sakit membuatku sedikit muak, tapi
bayang-bayang tentang Dika membuatku tak bisa berkutik, dan ketulusan cintaku
padanya membuatku begiru bergairah untuk menemuinya, dan mengetahui keadaannya.
Di kejauhan kulihat Ani melambaikan tangannya.
“Rin…Rin!”
“Ani, bagaimana keadaannya” tak
terasa air mataku jatuh membasahi pipiku. Patutkah aku membenci Dika jika cinta
masih bersemayam di dalam hatiku?
“Kata Dokter, benturan di kepalanya
menyebabkan kebutaan Rin, Dika tak bisa melihat lagi!!” Ani menangis
sesenggukan. “Rin, polisi temukan ini di lokasi kecelakaan” Ani menyerahkan
sebingkai cincin dan sepucuk surat.
“Apa ini Rin?” aku bertanya penuh
heran. Perlahan kubuka gulungan itu, tanganku bergetar dan jantungku berpacu
lebih cepat dari biasanya.
Dear Sabrina
Maafkan aku yang tak
acuh padamu, kau kira aku tak mengenalmu? Itu bohong.
Kau kira aku tak tahu
namamu? Itu juga bohong.
Ketahuilah sayang, aku
juga jatuh cinta padamu. Aku takut untuk menyatakannya,
Karena aku ingin meyakinkan
diriku.
Kau kira aku tak
peduli padamu? Saat kau kutolong ketika sepeda motormu menabrak trotoar jalan,
Aku mengkhawatirkan
keaadanmu, makanya aku berdiri di depan pintu masuk kantor,
Untuk menunggu
kedatanganmu dan memastikan kau baik-baik saja.
Aku tak mau menyatakan
cinta padamu, karena aku hanya ingin melamarmu.
Kutulis surat ini
karena aku takut aku mematung di depanmu seperti yang kau lakukan tempo hari.
Sekarang aku tahu,
bahwa kau sungguh mencintaiku, aku tak ingin mengucapkan “Maukah kau jadi
pacarku?” tapi “Maukah kau jadi istriku?”. Sabrina. Aku mencintaimu karena
Allah.
Dika.
Aku dan Ani
masuk ke ruang inap Dika, kata Dokter dia sudah siuman. Jantungku masih saja
berdebar walau aku tahu bahwa ternyata dia juga mencintaiku, bahkan dia
melamarku.
“Hai Sabrina…” Dika menyapaku, aku
sedikit heran bagaimana dia tahu bahwa aku yang datang. Padahal matanya telah
divonis buta oleh dokter.
“Hai Dika, apa kabar?” perlahan aku
menggenggam tangannya. Ani memberikan kode bahwa dia akan meninggalkan kami
berdua saja. Aku menggangguk.
“Baik, alhamdulilah baik, oh ya,
sebelumnya aku minta maaf dan tadinya aku sempat menulis sebuah surat untukmu,
tapi aku tak tahu di mana keberadaannya…aku benar-benar minta ma…”
“Ssstt, sayang, aku tahu, aku sudah
tahu semuanya, tak ada hal yang perlu dimaafkan.” Aku memotong ucapan Dika
sebab aku sudah tahu apa yang akan dia katakan.
“Kenapa kau masih peduli padaku,
aku sekarang buta, tak bisa melihat lagi.” Dika bertanya dari hatinya yang
terdalam.
“Sebab aku mencintaimu karena
Allah.” Jawabku singkat. Inilah jawaban dari pertanyaanku kenapa aku mencintai
Dika selama ini.
Kadang cinta bisa membuat kita jauh merasa
lebih sempurna, karena mencintai dan dicintai adalah bentuk dari kesempurnaan
manusia. Aku rasa, aku lebih menyukai kutipan ini. Karena aku mencintai
Dika agar saling melengkapi. Sebab cinta tak memerlukan alasan. Dan percayalah,
tidak semua kisah cinta berakhir seperti di novel percintaan, film di FTV, atau
drama korea. Karena cinta hadir dengan cara yang berbeda-beda.
The End