Selasa, 16 September 2014

Puisi kenangan



Kenangan

derai canda sudah tak terdengar lagi
ketika detik wakrtu kucoba putar
dalam rindu
sudah begini sepikah?
ruang ini sudah tak mau bersaksi lagi
ketika kabut debu semakin pekat
pada permukaan meja tua
yang pernah kita singgahi

di sini kau ungkapkan sebuah arti
dengan kerling mata janji
hingga kutak merasakan
dikebiri perpisahan
tapi waktu itu telah berlalu
walau kini kucoba putar detiknya
dalam rindu
sudah begini kosongkah?

ruang ini sudah tak mau bersaksi lagi
ketika kabut debu semakin pekat
memunculkan relief-relief kata
“semua tinggal rindu”
pada permukaan meja tua
yang dulu kita singgahi

Palangkaraya, 9 Juni 2012
Oleh: Trisnawati, S.Pd.

Puisi perpisahan



Perpisahan

malam bergenderang meratap sepi
saat dinding-dinding kamar menepi
aku semakin terpenjara
walau sebenarnya bebas
ah, apa arti semua ini
jika memang kita
tak berkawan lagi
biarkan
biarkanlah, luka menjemput suka
diringi malam  bergenderang
yang meratap sepi

Palangkaraya, 22 Juli 2012
Oleh: Trisnawati, S.Pd.

Puisi Berlalu dalam mimpi



Berlalu dalam Mimpi
Oleh: Trisnawati
gelap malam memanggil
aku dan dia terduduk di antara keringnya rerumputan
bersamanya aku terbuai
terbang bagai burung lepas
dengan kubang napsu terperangah lebar
cumbu panas renggut birunya rindu

detak waktu merapat
tanda malam yang merantau cepat
tapi deru napas tetap memburu, menggila
membunuh semua perasaan takut
arwah dingin semakin merasuk
aku memaksanya, ingin terbang dengan cintanya
di antara kepak kedua sayap napsunya
aku tenggelam dalam mimpi

Kampus PBSI
2011





Kamis, 03 Juli 2014

Cerpen Mimpi Sabrina

 Mimpi Sabrina
Oleh: Trisnawati, S.Pd
Kotawaringin Timur, 3 Juli 2014


Kadang cinta bisa membuat kita jauh merasa lebih sempurna, karena mencintai dan dicintai adalah bentuk dari kesempurnaan manusia. Kadang cinta juga bisa membuat kita buta, buta pada kebenaran bahwa seseorang itu tak pantas untuk kita dapatkan. Tamat. “Aaahhh….” Aku hanya bisa mendesah ketika kutipan ini kubaca dari sebuah buku novel yang baru saja aku selesaikan membacanya. Kalimat kedua dari kutipan itu, apakah berlaku untukku? Sebagai seorang pembaca novel-novel percintaan, aku berharap kisah cintaku selalu berakhir dengan happy ending, seperti film-film di FTV, atau seperti drama korea. Ada pertemuan si tokoh utama perempuan dengan tokoh utama laki-laki yang tidak begitu mulus, lalu berakhir dengan kebahagiaan. Tapi, inikan tidak nyata? Kadang aku sering berhayal, ada seorang laki-laki tampan yang menyatakan cinta untukku.
Kenyataan bahwa perjalanan cintaku tak semulus dan sebahagia novel percintaan, film di FTV, atau drama korea harus kutelan pahit-pahit. Aku masih ingat pertama kalinya aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki dia pergi meninggalkanku tanpa pernyataan cinta, lalu kedua kalinya aku jatuh cinta lagi dia lebih memilih wanita lain. Sekarang untuk ketiga kalinya, aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki tampan, matanya sendu, senyumnya manis, kulitnya yang berwarna sawo matang begitu pas dengan warna rambutnya yang pekat. Caranya berpakaian yang sederhana tapi elegan sanggup membuat wanita yang menatapnya tak mampu berkedip. Tapi bukan itu yang membuat aku jatuh cinta padanya, entahlah, hingga saat ini belum kutemukan jawaban itu.
 Mentari pagi kembali memutus setiap mimpi dan hayalanku malam itu, padahal aku baru saja mengalami kisah cinta seperti di  100 Day With Mr. Arogant, tapi hari ini aku harus pergi bekerja. Kembali berkencan dengan sebuah komputer dan tumpukan kertas yang harus aku rekap ulang. Hoaah…aku menggeliat malas sekali, kutatap layar telepon genggamku, tak ada satu pun SMS atau missed call, ”Kalau saja aku dan Dika…mungkin akan ada ucapan selamat pagi untukku setiap pagi, ah…” bisikku dalam hati. Mungkin bisa dikatakan aku adalah wanita bodoh yang pernah ada, jatuh cinta berkali-kali tapi selalu dengan laki-laki yang tak pernah mencintaiku.
Kurapikan diriku di depan cermin, kupandangi lekat-lekat wajahku di sana. Aku memang tak begitu cantik, kulitku gelap, tapi apakah setiap laki-laki hanya melihat dari kecantikkan fisik saja untuk jatuh cinta? Aku menghela napas dalam-dalam. Mungkin aku harus kembali berbesar hati menerima kenyataan bahwa Dika tak mencintaiku. Aku pergi ke bagasi untuk menyalakan sepeda motorku, satu-satunya kendaraan yang aku punya.
 Hangatnya sinar mentari menerpa kulitku, angin yang berhembus tak mampu menghilangkan hangatnya, tak lupa bayang-bayang tentang Dika kembali bergelayut di mataku, bahkan di otakku. Tiba-tiba…”brukkkk” motor yang kukendarai menabrak sesuatu, aku terpental dan rasanya sakit sekali. Sambil menahan sakit, kucoba untuk berdiri tapi ternyata aku kembali terjatuh. Sepasang tangan membantuku untuk berdiri, Dika. Kutatap wajahnya tak berkedip, ini benar-benar nyata. “Terima kasih ya Dik, sudah mem…” belum sempat kalimat yang kuucapkan selesai, Dika sudah berlalu dari hadapanku. “Apa! Apa maksudnya? Kenapa dia masih saja sombong dan tak pernah menganggapku? Dan kenapa aku masih saja jatuh cinta padanya?” teriakku kesal.
Dika sosok yang dingin, selama tiga tahun kami saling mengenal, dan bekerja di tempat yang sama, dia tak pernah menyapaku bahkan tersenyum sekalipun. Aku tak mengerti di mana letak kesalahanku. Padahal aku begitu yakin ada kebaikan jauh di dalam hatinya. Buktinya dia menolongku hari ini. Tapi, tak bisa kupungkiri bahwa aku belum bisa menyelami apa yang ada di dasar hatinya. Sampai di kantor kulihat Dika masih berdiri di depan pintu masuk, seperti menunggu seseorang, aku berjalan masih dengan terpincang-pincang, ketika dia melihatku tiba-tiba saja Dika berpaling dan segera masuk ke kantor. Apa dia membenciku?
“Aku tak bisa membiarkan ini terjadi begitu saja, aku harus mencari cara…” pikirku. Kulangkahkan kakiku dengan tergesa-gesa, kutinggalkan tumpukan kertas dengan komputer yang masih menyala di mejaku, aku harus mengakhiri semua ini, suka atau tidak, aku harus mengatakan bahwa aku jatuh cinta padanya tak peduli pada sikapnya selama ini terhadapku. Tanpa terasa, dengan kakiku yang masih terpincang-pincang, aku sudah sampai di depan meja kerja Dika. Tiba-tiba semua yang kupikirkan lenyap, aku hanya bisa mematung di depannya, padahal aku tahu dia menatapku. “Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlanjur ke sini?” Aku merasa tak bisa berkata apa-apa. Aku membisu menatap sangat dalam pada matanya dan mencoba menyelami dalamnya lautan hatinya.
“Ya, ada apa mbak?” Dika menghentikan kebisuanku. Jantungku berdetak dengan sangat cepat.
“Mbak…dia memanggilku dengan sebutan “mbak”. Apa selama ini dia tidak tahu namaku?” Aku merasa kesal.
“Maaf, kalau Anda masih tetap berdiam diri di depan meja saya, lebih baik Anda keluar dan pikirkan apa perlu Anda kemari” lagi-lagi Dika menghentikan lamunanku.
“Aku hanya ingin berterima kasih dan…”
“Oh, masalah itu, tidak usah dipikirkan, sebagai manusia sudah sepatutnya saya menolong, karena kebetulan kan kita lewat di jalan yang sama.” Dika menjawab dengan santainya tanpa ada rasa apa pun.
Kekesalanku pada sikapnya mulai membuncah, terlebih ketika kuingat bahwa aku jatuh cinta padanya, ini semakin membuatku kesal, apakah aku jatuh cinta pada orang yang salah lagi?
“Dika, cukup…hentikan sikapmu yang tak mengacuhkanku itu. Aku tahu mungkin kau membenciku, aku tahu kau tak mengenalku, bahkan kau tak tahu namaku. Tapi tahukah kau Dika, bahwa aku meyakini ada kebaikan dalam dirimu, kau tahu kenapa? Karena aku jatuh cinta padamu!” aku pergi berlalu dari mejanya. Semua orang memandangku penuh heran, kuambil tas jinjing di mejaku, dan aku keluar dengan uraian air mata. Cintaku memang tak pernah berakhir dengan baik, bahkan sesering apapun aku jatuh cinta.
Aku menangis dalam kesendirianku, aku tak pernah menyesali pernyataan cintaku padanya. Aku hanya menyesal kenapa harus jatuh cinta lagi dengan orang yang tak pernah mencintaiku.
“Hei, sayang, Sabrina, kamu baik-baik saja kan?” Ani memelukku. Hanya Ani orang yang tahu bahwa aku jatuh cinta pada Dika. Ani gadis yang manis dan sangat mengerti dengan keadaanku. Dia selalu ada di saat-saat yang aku butuhkan.
“Kurasa tidak An, kau tahu, kali ini aku jatuh cinta pada orang yang salah lagi, dia tak mencintaku An…dia tak ingat namaku…” aku terisak di pelukannya.
“Ssttt…Rin, dia mengenalmu, aku percaya itu.” Seperti biasa Ani selalu menghiburku untuk membesarkan hatiku.
“An, apa aku begitu jelek, begitu buruk, sehingga tak ada satu orang pun yang bisa jatuh cinta padaku?”
“Kata siapa sayang, kau cantik, kau tidak seburuk itu, hanya saja, memang para lelaki itu tak pantas untukmu, yakinlah, kau akan menemukan yang lebih baik.”
Aku masih terhanyut dalam mimpi-mimpi yang tak pernah berakhir ketika “kring…kring…” nada telepon genggamku berbunyi menyentakku. Kulihat di layar telepon genggamku “ANI CALLING”.
“Ya, ada apa An?” Aku bertanya di sela kantukku yang masih merasuk. “Aku hari ini ga masuk kerja An, aku tidak enak badan”.
“Rin, Dika…Dika Rin…kecelakaan! Tut…tut…” Ani menutup teleponnya, kabar darinya membuat kantukku seketika menghilang. Terbayang wajah Dika, apa aku harus menjenguknya? Dia tak menyukaiku, tapi, dia pernah menolongku, walau pun dia membenciku, aku harus melihat keadaannya. Bergegas aku ke kamar mandi, dengan tergesa kurapikan diriku. Lalu berangkat menuju rumah sakit di mana Dika di rawat berdasarkan SMS dari Ani.
Aroma khas obat-obatan yang berhembus di rumas sakit membuatku sedikit muak, tapi bayang-bayang tentang Dika membuatku tak bisa berkutik, dan ketulusan cintaku padanya membuatku begiru bergairah untuk menemuinya, dan mengetahui keadaannya. Di kejauhan kulihat Ani melambaikan tangannya.
“Rin…Rin!”
“Ani, bagaimana keadaannya” tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku. Patutkah aku membenci Dika jika cinta masih bersemayam di dalam hatiku?
“Kata Dokter, benturan di kepalanya menyebabkan kebutaan Rin, Dika tak bisa melihat lagi!!” Ani menangis sesenggukan. “Rin, polisi temukan ini di lokasi kecelakaan” Ani menyerahkan sebingkai cincin dan sepucuk surat.
“Apa ini Rin?” aku bertanya penuh heran. Perlahan kubuka gulungan itu, tanganku bergetar dan jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.
Dear Sabrina
Maafkan aku yang tak acuh padamu, kau kira aku tak mengenalmu? Itu bohong.
Kau kira aku tak tahu namamu? Itu juga bohong.
Ketahuilah sayang, aku juga jatuh cinta padamu. Aku takut untuk menyatakannya,
Karena aku ingin meyakinkan diriku.
Kau kira aku tak peduli padamu? Saat kau kutolong ketika sepeda motormu menabrak trotoar jalan,
Aku mengkhawatirkan keaadanmu, makanya aku berdiri di depan pintu masuk kantor,
Untuk menunggu kedatanganmu dan memastikan kau baik-baik saja.
Aku tak mau menyatakan cinta padamu, karena aku hanya ingin melamarmu.
Kutulis surat ini karena aku takut aku mematung di depanmu seperti yang kau lakukan tempo hari.
Sekarang aku tahu, bahwa kau sungguh mencintaiku, aku tak ingin mengucapkan “Maukah kau jadi pacarku?” tapi “Maukah kau jadi istriku?”. Sabrina. Aku mencintaimu karena Allah.
Dika.

Aku dan Ani masuk ke ruang inap Dika, kata Dokter dia sudah siuman. Jantungku masih saja berdebar walau aku tahu bahwa ternyata dia juga mencintaiku, bahkan dia melamarku.
“Hai Sabrina…” Dika menyapaku, aku sedikit heran bagaimana dia tahu bahwa aku yang datang. Padahal matanya telah divonis buta oleh dokter.
“Hai Dika, apa kabar?” perlahan aku menggenggam tangannya. Ani memberikan kode bahwa dia akan meninggalkan kami berdua saja. Aku menggangguk.
“Baik, alhamdulilah baik, oh ya, sebelumnya aku minta maaf dan tadinya aku sempat menulis sebuah surat untukmu, tapi aku tak tahu di mana keberadaannya…aku benar-benar minta ma…”
“Ssstt, sayang, aku tahu, aku sudah tahu semuanya, tak ada hal yang perlu dimaafkan.” Aku memotong ucapan Dika sebab aku sudah tahu apa yang akan dia katakan.
“Kenapa kau masih peduli padaku, aku sekarang buta, tak bisa melihat lagi.” Dika bertanya dari hatinya yang terdalam.
“Sebab aku mencintaimu karena Allah.” Jawabku singkat. Inilah jawaban dari pertanyaanku kenapa aku mencintai Dika selama ini.
Kadang cinta bisa membuat kita jauh merasa lebih sempurna, karena mencintai dan dicintai adalah bentuk dari kesempurnaan manusia. Aku rasa, aku lebih menyukai kutipan ini. Karena aku mencintai Dika agar saling melengkapi. Sebab cinta tak memerlukan alasan. Dan percayalah, tidak semua kisah cinta berakhir seperti di novel percintaan, film di FTV, atau drama korea. Karena cinta hadir dengan cara yang berbeda-beda.

The End

Cerpen Sesal di Senja Kematian

Sesal di Senja Kematian
Oleh: Trisnawati, S.Pd.
Kotawaringin Timur, 22 Juni 2014



Lailahailallah… Lailahailallah…. Lailahailallah….zikir ini masih terdengar jelas di telingaku, ketika iringan pengantar jenazah menyerukannya di hadapanku. Di antara isak tangis puluhan orang yang berjalan, siang ini, ayam berceloteh begitu menyedihkan seakan bernyanyi tentang kematian. Kuusap setiap titik air mata yang mengalir di pipiku, tapi ia semakin deras, kutatap keranda yang ditutupi kain hijau di depanku, “Ya Tuhan, kenapa begitu cepat Dia pergi meninggalkan kami.” Tangis luka merambah batinku, menggamit setiap bayang tentangnya, yah, tentangnya!
Terik matahari menyengat kulitku, ketika kulangkahkan kaki dengan begitu tergesa di jalan beraspal yang panas, siang itu. Sesekali, kusapu keringat di keningku, “Uhh panas sekali,”bisikku dalam hati. Aku berlari-lari kecil sambil memegang tas using yang kuselempangkan agar tak berhamburan. “Shira…Shira…!” seseorang memanggilku. Sepertinya aku kenal betul dengan suara itu. Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru, benar saja, Bu Minah yang memanggilku. Tetangga kosku yang begitu baik dan ramah. “Ada apa bu?” aku berjalan menghampirinya. “Sekarang cepat ke rumah sakit, di sana ada Uma dan Ayahmu.” Kata Bu Minah. Batinku menjerit, “Siapa yang sakit? Apakah Uma yang sakit, atau  Ayah?” jantung yang semula normal kini berdegup tak beraturan. Aku seperti berdiri sendiri di dunia ini ketika kabar yang begitu menyesakkan tadi sampai ke telingaku. Perasaanku semakin tak menentu, ketika teringat Uma yang sedang mengandung delapan bulan. Di usianya yang sudah kepala tiga sangat rentan untuknya melahirkan.
“Shira, hei, kenapa kamu melamun? Ibu tahu kau terkejut, tapi lebih baik kau segera menyusul ke sana.” Bu Minah menyentak lamunanku.
“Tapi bu, siapa yang sakit?” aku bertanya penuh heran.
“Abangmu.” Bu Minah menimpali sembari berlalu dari hadapanku.
“Ya Allah, Abang!” Aku menjerit. Tak terasa titik bening jatuh dari kelopakku. Parahkah sakitnya? Aku benar-benar tak tahu.
Lagi-lagi, kutelusuri jalan aspal yang hitam, matahri yang mnyengat pori-poriku tak kuhiraukan, yang ada dipikiranku adalah bagaimana keadaan Abang. Yah, dia adalah saudara kandungku, sejak aku bersekolah di kota kecamatan, aku jarang bertemu dengannya. “ Abang…Iihhh mati aja deh kamu sana!” itulah kata-kata yang selalu keluar dari mulut kanak-kanakku ketika kami berkumpul. Walau itu hanya sejadar candaan, tapi kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda tiap kali kalimat itu hadir dalam ingatanku. Abang orang yang sangat usil dan suka mengganggu, tak heran, di rumah selalu ada teriakan-teriakan kesal dari mulutku. Tapi sekarang, aku mengkhawatirkan keadaannya, dan setiap terbersit kata-kata itu di pikiranku, aku menyesal.
Kakiku melangkah dengan tergesa menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kucari Uma dan Ayah di setiap pintu yang terbuka, samar-samar aku mendengar suara Uma dan Ayah, aku bergegas menuju ke sana. Kugenggam gagang pintu ruangan itu, dan…”ceklek”  Uma dan Ayah duduk di samping tempat tidurnya. Hanya ada kesedihan di wajah mereka, dan Abang, ya Tuhan…badannya terkulai lemah dengan perut yang membesar. Aku tak berani menyentuhnya sama sekali, hanya tanya yang sanggup kuucapkan “Ma, Abang sakit apa?” aku bertanya sambil terurai air mata. Uma tak menjawab, tapi air matanya sanggup menyingkap kebisuannya dan berkata yang sebenarnya.
Malam ini, aku tertidur di dinginya lantai rumah sakit. Aroma obat-obatan membuat hidung tersa terganggu. Tapi bukan itu yang membuatku tak bisa pulas, melainkan kegelisahan inilah yang membuatku tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Aku hanya ingin Abang sembuh. Ayah dan Uma tak terlihat mengantuk sama sekali, padahal garis-garis lelah telah tertulis di wajah mereka. Aku semakin tak tega, “Ma, tidurlah, kasian adik, Uma harus tetap beristirahat.” Aku berusaha membujuk Uma. “Iya” Uma menjawab sambil membaringkan tubuh lelahnya di lantai. Kupandangi wajah Abang yang sudah mulai tirus dan agak menguning. Hanya dua minggu aku tak bertemu dengannya, begitu sakitnya ia sampai harus sekurus ini. Tangannya yang kurus dan pucat kugenggam erat sekali. Batinku bergolak tak menentu, rekaman kata-kata yang selalu terucap dari mulutku membuat api penyesalan yang tak pernah padam dalam lubuk hatiku. Jauh di sana ingin kuputar kembali waktu ini sehingga tak terbersit kata-kata itu untuk kuucapkan.
Tiba-tiba, Abang terbangun dari tidurnya. Dia mentapku, tapi tak sepatah kata pun terucap. Dan…”Hoek” Abang muntah berkali-kali, “Ma, Abang muntah!” Ayah dan Uma terbangun, aku takut, “Ya Allah, kasian Abang.” Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Ayah dan Uma histeris ketika mata Abang yang cekung mulai merapat, Abang hampir tak sadarkan diri. “Cepat baca surah Yaasin!” Ayah berteriak padaku. Tangisan dari Uma dan Ayah yang begitu menyayat memecah keheningan malam di rumah sakit ketika Abang membiarkan napasnya yang hanya tersengal di dada. “Ya Allah, kembalikan Abang” Aku berdoa tak henti-hentinya. Beberapa menit kemudian, Abang berangsur bisa bernapas normal, kupandangi sekali lagi wajah tirusnya. Dia tertidur. Aku menarik napas lega dengan syukur yang tak henti-hentinya.
Sudah tiga hari Abang dirawat. Tapi tetap tak ada perubahan, tak ada ciri-ciri kesembuhan baginya. “Bagaimana kalau kita rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya” kata Ayah suatu hari.
 “Baiklah aku setuju” Uma mengiyakan. Tapi, terdengar suara Abang menimpali, “Jangan  Yah, kita keluar saja dari rumah sakit ini, dan tak usah rujuk lagi ke rumah sakit lain, aku hanya ingin pulang.”
“Jangan bicara seperti itu Nak, kamu harus sembuh, dan di mana pun, kami siap membawamu, asal kamu sembuh.” Uma meyakinkan Abang dengan penuh kelembutan.  Entah kenapa, Abang mendesak ingin keluar dari rumah sakit, dia ingin pulang. Kami sudah berusaha untuk menahanya agar tetap dirawat, tapi sia-sia. Siang harinya, kami keluar dan Abang di bawa ke rumah Bibi untuk sementara. Karena esok, kamiakan bawa dia keluar kota ke rumah skait yang lebih baik.
Adzan berkumandang dengan syahdu. Langit senja mulai perlahan masuk dalam pangkuan keremangan. Bintang malam mulai menari, berpendar menyambut malam. Lalu…terdengar tangisan Ayah dan Uma di luar sana. “Ayah, kenapa Ayah menangis?’ pikirku. Aku beranjak menuju ruang tengah di mana terdengar suara Ayah. Kulihat Abang sudah tak sadarkan diri lagi, meski matanya masih terbuka, tapi mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi selain “lailahaillallah” berkali-kali. Kugenggam tanganya, kuciumi sambil mengatakan “Maaf, dan telah kuikhlaskan semuanya”. Terasa sesak dadaku menyaksikan semua ini, Abang perlahan-lahan melepaskan napasnya sesaat setelah dua kalimat syahadat dibisikkan Ayah di telinganya. Sungai yang mengalir di dimataku tak bisa mengartikan lagi. Penyesalanku pada kata-kata yang dulu sering terucap begitu sakit menusuk jantung  dan hatiku. Perihnya mengahdirkan duka yang begitu dalam. Abang pergi untuk selamanya. Meninggalkanku, Uma dan Ayah. Kurasakan rindu yang tak pernah kurasakan sebelumnya ketika dia pergi. Pergi tak akan pernah kembali, bahkan dalam mimpi sekali pun.
Kuraba gundukan tanah merah di hadapanku, dan aku berbisik sekali lagi “Abang maafkan salahku, semoga engkau tenang di sana, kau anak yang baik dan aku percaya tempatmu adalah yang terbaik, amin.” Kutinggalkan tanah merah itu dengan doa, rerumputan, angin, dan dedaunan membisu. Mereka tahu penyesalanku, mereka tahu dukaku, pekat seperti jelaga. “Apakah semua ini karenaku? Karena kata-kataku itu?” Yah, tangis dan sesal tak berarti apa-apa untuk sebuah kematian.

The End
Catatan: ‘Uma’ adalah sebutan untuk ibu dalam bahasa Kotawaringin.

      

Kamis, 26 Juni 2014

Cerpen Bukan Pilihan Yusuf


Bukan Pilihan Yusuf
Oleh: Trisnawati, S.Pd.
Kotawaringin Timur, 27 Mei 2014

Kulirik arloji di dinding kamarku, “Hmmm…baru pukul 05.00 WIB.” Pikirku dalam hati. Aku kembali membalut tubuh dinginku dengan sebuah selimut berwarna merah. Detak jarum jam seirama dengan hentakan jantungku. Normal. Dan semakin membuatku enggan untuk beranjak dari tidurku. Entah kenapa, pagi ini membuatku begitu malas untuk beraktivitas. Kring….kring….nada dari telpon genggam milikku berbunyi, kucari-cari disela kantukku yang masih merasuk. Kulihat sebuah nama muncul dilayarnya VIEN. “Ah…kenapa tak kau biarkan saja aku melanjutkan mimpiku dulu.” Aku menggerutu dalam hati. Dengan terpaksa ku tekan tombol hijau di keypad telepon genggamku. Belum sempat kusambut dengan “hello”. Kudengar sebuah suara sudah mengoyak gendang telingaku di seberang sana.
“ Neng, kamu di mana?? Kamu tidak masuk kuliah hari ini? Kau lupa hari ini kita ada ujian??”
What!!! Ujian????” aku terperanjat, kututup telepon genggam tanpa mengucapkan terima kasih. Kulihat arloji telah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Berarti aku hanya punya waktu 15 menit. Aku menuju kamar mandi dengan tergesa.
Kurapikan rambutku yang masih acak-acakan, sebuah kemeja berkerah kupakai tanpa disetrika terlebih dahulu. Ini benar-benar darurat. Aku berlari ke bagasi, kunyalakan mesin kendaraanku. Lalu aku pun berangkat menuju kampus. Dari kejauhan kulihat lorong-lorong kampus telah sunyi. “Celaka! bisa-bisa aku tak diizinkan masuk untuk mengikuti ujian” pikirku dengan cemas. Kulangkahkan kakiku dengan begitu cepat. Perlahan-lahan kuketuk pintu dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf Pak, saya terlambat.”
Sebuah kata-kata yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, “Silahkan masuk”. Aku hampir melonjak kegirangan, tapi semua mata tertuju padaku, aku duduk di samping Vien.
                   “Ah…” aku bernapas lega. Tiba-tiba Vien menyeletuk di sampingku “ Hehehe…tak biasanya kamu terlambat, ada apa gerangan? Jangan-jangan…kau bermimpi tentangnya lagi” Vien terkekeh. Vien, adalah salah satu sahabat dekatku di kampus, walaupun sudah berusia 21 tahun, dengan perawakannya yang mungil, serta tingkah polahnya yang kekanak-kanakan, benar-benar tak mencerminkan bahwa dia sudah dewasa. Tapi ketika mengenalnya lebih jauh, tak bisa dipungkiri dia adalah sosok yang sangat dewasa. Tak jarang, dia sering memberikan wejangan untukku yang satu tahun lebih tua darinya.
                   Sahabatku yang lain ada Ari, seorang gadis Bali yang lugu, manis, dan sangat perhatian. Bagaimana tidak? Walaupun tingkah polahku sering membuatnya tersinggung, tapi dia tetap My Best Friend  yang selalu ada untukku. Lalu ada Mey, gadis yang selalu memiliki sensasi di kampus, entah apa yang membuatnya begitu sering dibicarakan orang lain, aku tak tahu. Yang aku tahu, Mey adalah gadis baik dan pintar. Satu lagi, sahabat seperjuanganku adalah Ristie. Orang yang selalu bertutur kata lembut bahkan di saat dia marah atau kesal sekali pun. Perawakannya tinggi, mempunyai rambut panjang yang indah. Bahkan, Ristie adalah salah satu gadis modis yang ada di kampus dan di antara sahabat-sahabatku yang lain.
                   Ujian berjalan dengan baik, lagi-lagi aku harus bernapas lega. Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan yang begitu sumpek. Kuhirup udara segar di luar. Tak henti-hentinya. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari samping. “Ikut aku, ya?” pintanya. “Kemana?” aku bertanya penasaran. Dia menarik tanganku dengan cepat tanpa menghiraukan pertanyaanku. “Heiii…ada apa denganmu?” Aku berteriak. “Alahh…ayo lah, aku hanya ingin mentraktirmu, lihat mereka sudah di sana!”. Di sana berdiri Ari, Ristie, Vien, dan Mey. “Hmmmm ternyata kau sedang kaya ya hari ini?” Aku terkekeh sambil kegirangan. Siapakah orang yang menarik lenganku ini? Memang belum kusebutkan siapa dia. Di antara semua pria yang ada di kampus, kurasa, hanya dia pria yang aku kagumi. Matanya teduh, menggambarkan kebaikan hatinya. Senyumnya manis menggambarkan bahwa dia adalah seorang yang tak pernah memperlihatkan permasalahan hidupnya pada orang lain. Dia adalah sahabat priaku satu-satunya Yusuf.
                   Suatu malam, telepon genggamku berdering lagi, kali ini bukan dari Vien, Ari, Mey, atau Risti. Sebuah SMS masuk. Sebuah nama muncul dilayar telepon genggamku. Yusuf. Sekian lama kami bersahabat, Yusuf tak pernah menghubungiku hanya sekadar untuk bergurau, biasanya dia menghubungi pasti ada sesuatu yang sangat penting. Entah kenapa, setiap kali aku mendapat SMS darinya perasaanku terasa berbeda. Jantungku jadi berdegup lebih kencang, dan tanganku terasa dingin seketika. Dan hatiku, ah…sungguh merasa teramat bahagia. Risti sering berkata padaku untuk tidak meneruskan semua ini.
“Tetaplah kamu pada posisimu.” Katanya suatu hari. “Aku tak bisa. Benar- benar tak bisa.” Jawabku lirih. Ari memegang pundakku, “Coba kamu bayangkan jika ini tak berhasil, persahabatan  kita akan berubah”.
“Apa peduli kalian? Hah! Tolong jangan bawa nama persahabatan kita, ini tentang perasaan. Apa kalian tak mengerti sama sekali!” Aku memhentak Risti dan Ari.
“Baik, kalau itu maumu, kami hanyalah sekadar sahabat, temanmu dikala kamu punya masalah. Selebihnya, untuk semua resiko ini kamu yang telah memilihnya.” Ari dan Risti berlalu. Aku terdiam di sudut kampus, lengang, kunikmati kesendirian ini dengan perasaan yang tak menentu. Salahkah aku memiliki rasa ini? Dosakah bila kuakui bahwa Yusuf lah mimpi-mimpiku selama ini. Kenapa cinta tak bisa dimiliki karena nama sebuah persahabatan? Titik air bening mengaliri pipiku, kurasakan pertentangan di antara aku dan sahabat-sahabatku. Dan siang ini, tangisan adalah sahabat yang masih di sisiku.
                   Kala embun masih setia menemani lahirnya pagi, di antara dingin yang menyeruak dalam batinku, di antara hijau cinta yang tumbuh dalam  hatiku. Kulihat Yusuf berjalan pelan tapi pasti ke arahku. “Hai…” dia menyapaku. Kucoba untuk tetap tersenyum seperti biasa, menyembunyikan cinta yang selama ini tak pernah dia tahu. “Hai, pagi sekali kau berangkat.” Aku membalas sapaannya. “Ada apa denganmu, rasa-rasanya bukan nada seperti ini yang kudengar setiap pagi dari suaramu”. Entah bagaimana Yusuf tahu bahwa aku berbeda hari ini. Digapainya perlahan tanganku yang sedikit demi sedikit mulai gemetar. Aku menunduk. Perlahan digapainya daguku dengan lembut sesaat setelah dia mengenggam erat tanganku. “I love you Shira.” Yusuf berkata pelan, kupandangi matanya sangat dalam, dah matanya jauh lebih dalam dari mataku. “Yusuf, aku tak mengerti, sejak kita bersahabat, selalu bersama, kurasa…aku….aku juga mencintaimu”.  Tiba-tiba “Kring…kring” telepon genggamku berbunyi. Aku terperanjat, kusingkap selimut merahku. “Ah, aku bermimpi lagi, ya Tuhan…kenapa harus seperti ini”. Kulihat nama Vien di layar telepon genggamku. Kutekan tombol merah perlahan. Dan aku kembali tenggelam dalam lautan mimpi yang tak pernah surut.
                   “Kring…kring…”telepon genggamku berdering lagi. Kali ini nama Mey yang muncul dilayar teleponku. Aku bertanya-tanya dalam hati “Ada apa? Kenapa mereka meneleponku sepagi ini. Apa ada ujian lagi?”. Tombol hijau pun kutekan. “Iya mey. Ada apa?”.
“Gawat! Cepat ke kampus!” Mey menjawab dengan terburu-buru dan kedengarannya panik. Aku penasaran. Tapi, kucoba merespon dengan santai. “Tunggu…tunggu, Mey. Ada apa?”.
“Pokoknya kamu segera ke kampus. Sekarang!”. Lagi-lagi Mey menekankan bahwa aku harus segera ke sana. Dengan gontai terpaksa aku berdiri dari tempat tidur.
                   Hati-hati sekali kulangkahkan kakiku ketika sampai di pekarangan kampus. Lorong-lorong terlihat sangat ramai. Mungkin banyak jam kuliah yang kosong, sebenarnya hari ini pun aku tak ada jam kuliah, tapi kenapa sahabat-sahabatku sangat ingin aku ke kampus. Hembusan angin pagi yang lembut perlahan menerpa tubuhku, dan menghilang karena kehangatan sinar surya yang tersembul di ufuk timur. Sesosok pria yang begitu kukenal terlihat duduk membelakangiku, jantungku tiba-tiba berlari tak tentu arah. Semakin pelan kulangkahkan kakiku mendekatinya. “Mana Ristie? Mana Ari? Mana Mey? Mana Vien? Di mana mereka yang sejak tadi memintaku untuk datang ke sini?” Kucari mereka dikerumunan, tapi tak ada. Semakin dekat aku dengan sosok pria itu, tiba-tiba mataku tertuju pada tangannya, jemari-jemari halus dengan kuku-kuku yang begitu terawat digenggamnya dengan erat. Jemari itu milik Ve. Gadis tercantik di kampusku. Sejenak aku terhenyak, mematung dan terdiam.
                   Aku berdiri begitu dekat dengan punggung pria itu. Tapi, tanganku tak kuasa untuk menggapainya. Aku mengenalnya, begitu dekat, Yusuf.  Aku merasa sendiri di tengah keriuhan ini. Mimpi-mimpi yang selama ini terbangun runtuh menjadi puing tak berharga. Sungai mengalir lewat pelupuk mataku, bening, dan sendiri. Aku berlari, berlari. Kudengar teriakan Vien memanggil namaku. “Shira,tunggu! Please!”. Tak ada, tak ada artinya panggilan itu bagiku. Bahkan aku tak mengenal namaku sendiri. Aku terhenti ketika sebuah tangan memegang erat lenganku yang lemah. “Shira, I’m sorry, ini kami lakukan karena kami tak ingin kau terluka”. Ristie menatapku penuh penyesalan. “Yah, aku tahu,aku tahu” Aku menjawab lirih dan air mata masih mengalir dengan sangat deras. “Thank you so much, Ris.” Aku memeluk Ristie erat sekali. Lalu Ari, Mey, dan Vien memelukku.
                   Sejak itu, tak ada lagi Yusuf dalam kehidupanku. Yusuf berubah sejak bersama Ve. Tak ada lagi gurauan, tak ada lagi tangan yang selalu menarik lenganku ketika keluar dari ruang kuliah, tak ada lagi perasaan bahagia dengan munculnya nama Yusuf di layar telepon genggamku. Semuanya lenyap. Yusuf bukan lagi Yusuf yang kukenal. Kucari mata sendunya, kucari senyum cerianya yang selalu ada untukku, hanya kekosongan yang dia berikan padaku. Bahkan, persahabatan pun terbang bersama mimpi-mimpiku yang telah terkubur bersama bayangannya. Aku menangis, mereka benar, cintaku tak akan pernah berhasil, dan persahabatanku dan dia...aku benar-benar egois. Seharusnya, sejak lama aku telah menyadari Yusuf tak akan pernah memilihku, bahkan sebagai sahabat pun dia meninggalkanku. Aku tak ingin Yusuf tahu tentang cinta ini, tentang cinta yang terselip di antara sendi-sendi persahabatanku dengannya. Bahkan, hingga saat ini, kuharap Yusuf tak akan pernah tahu.  
The End

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...