Sesal di Senja Kematian
Oleh: Trisnawati,
S.Pd.
Kotawaringin Timur,
22 Juni 2014
Lailahailallah… Lailahailallah….
Lailahailallah….zikir ini masih terdengar jelas di telingaku, ketika iringan
pengantar jenazah menyerukannya di hadapanku. Di antara isak tangis puluhan
orang yang berjalan, siang ini, ayam berceloteh begitu menyedihkan seakan
bernyanyi tentang kematian. Kuusap setiap titik air mata yang mengalir di
pipiku, tapi ia semakin deras, kutatap keranda yang ditutupi kain hijau di
depanku, “Ya Tuhan, kenapa begitu cepat Dia pergi meninggalkan kami.” Tangis
luka merambah batinku, menggamit setiap bayang tentangnya, yah, tentangnya!
Terik matahari
menyengat kulitku, ketika kulangkahkan kaki dengan begitu tergesa di jalan
beraspal yang panas, siang itu. Sesekali, kusapu keringat di keningku, “Uhh panas
sekali,”bisikku dalam hati. Aku berlari-lari kecil sambil memegang tas using
yang kuselempangkan agar tak berhamburan. “Shira…Shira…!” seseorang
memanggilku. Sepertinya aku kenal betul dengan suara itu. Kuedarkan pandanganku
ke setiap penjuru, benar saja, Bu Minah yang memanggilku. Tetangga kosku yang
begitu baik dan ramah. “Ada apa bu?” aku berjalan menghampirinya. “Sekarang
cepat ke rumah sakit, di sana ada Uma dan
Ayahmu.” Kata Bu Minah. Batinku menjerit, “Siapa yang sakit? Apakah Uma yang sakit, atau Ayah?” jantung yang semula normal kini
berdegup tak beraturan. Aku seperti berdiri sendiri di dunia ini ketika kabar
yang begitu menyesakkan tadi sampai ke telingaku. Perasaanku semakin tak
menentu, ketika teringat Uma yang
sedang mengandung delapan bulan. Di usianya yang sudah kepala tiga sangat
rentan untuknya melahirkan.
“Shira, hei, kenapa kamu melamun?
Ibu tahu kau terkejut, tapi lebih baik kau segera menyusul ke sana.” Bu Minah
menyentak lamunanku.
“Tapi bu, siapa yang sakit?” aku
bertanya penuh heran.
“Abangmu.” Bu Minah menimpali
sembari berlalu dari hadapanku.
“Ya Allah, Abang!” Aku menjerit.
Tak terasa titik bening jatuh dari kelopakku. Parahkah sakitnya? Aku
benar-benar tak tahu.
Lagi-lagi,
kutelusuri jalan aspal yang hitam, matahri yang mnyengat pori-poriku tak
kuhiraukan, yang ada dipikiranku adalah bagaimana keadaan Abang. Yah, dia
adalah saudara kandungku, sejak aku bersekolah di kota kecamatan, aku jarang
bertemu dengannya. “ Abang…Iihhh mati aja deh kamu sana!” itulah kata-kata yang
selalu keluar dari mulut kanak-kanakku ketika kami berkumpul. Walau itu hanya
sejadar candaan, tapi kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda tiap kali
kalimat itu hadir dalam ingatanku. Abang orang yang sangat usil dan suka
mengganggu, tak heran, di rumah selalu ada teriakan-teriakan kesal dari
mulutku. Tapi sekarang, aku mengkhawatirkan keadaannya, dan setiap terbersit
kata-kata itu di pikiranku, aku menyesal.
Kakiku melangkah
dengan tergesa menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kucari Uma dan Ayah di setiap pintu yang terbuka, samar-samar aku
mendengar suara Uma dan Ayah, aku
bergegas menuju ke sana. Kugenggam gagang pintu ruangan itu, dan…”ceklek” Uma dan
Ayah duduk di samping tempat tidurnya. Hanya ada kesedihan di wajah mereka, dan
Abang, ya Tuhan…badannya terkulai lemah dengan perut yang membesar. Aku tak
berani menyentuhnya sama sekali, hanya tanya yang sanggup kuucapkan “Ma, Abang
sakit apa?” aku bertanya sambil terurai air mata. Uma tak menjawab, tapi air matanya sanggup menyingkap kebisuannya
dan berkata yang sebenarnya.
Malam ini, aku
tertidur di dinginya lantai rumah sakit. Aroma obat-obatan membuat hidung tersa
terganggu. Tapi bukan itu yang membuatku tak bisa pulas, melainkan kegelisahan
inilah yang membuatku tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Aku hanya ingin
Abang sembuh. Ayah dan Uma tak
terlihat mengantuk sama sekali, padahal garis-garis lelah telah tertulis di
wajah mereka. Aku semakin tak tega, “Ma, tidurlah, kasian adik, Uma harus tetap beristirahat.” Aku
berusaha membujuk Uma. “Iya” Uma menjawab sambil membaringkan tubuh
lelahnya di lantai. Kupandangi wajah Abang yang sudah mulai tirus dan agak
menguning. Hanya dua minggu aku tak bertemu dengannya, begitu sakitnya ia
sampai harus sekurus ini. Tangannya yang kurus dan pucat kugenggam erat sekali.
Batinku bergolak tak menentu, rekaman kata-kata yang selalu terucap dari
mulutku membuat api penyesalan yang tak pernah padam dalam lubuk hatiku. Jauh
di sana ingin kuputar kembali waktu ini sehingga tak terbersit kata-kata itu
untuk kuucapkan.
Tiba-tiba, Abang
terbangun dari tidurnya. Dia mentapku, tapi tak sepatah kata pun terucap.
Dan…”Hoek” Abang muntah berkali-kali, “Ma, Abang muntah!” Ayah dan Uma terbangun, aku takut, “Ya Allah,
kasian Abang.” Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Ayah dan Uma histeris ketika mata Abang yang
cekung mulai merapat, Abang hampir tak sadarkan diri. “Cepat baca surah
Yaasin!” Ayah berteriak padaku. Tangisan dari Uma dan Ayah yang begitu menyayat memecah keheningan malam di rumah
sakit ketika Abang membiarkan napasnya yang hanya tersengal di dada. “Ya Allah,
kembalikan Abang” Aku berdoa tak henti-hentinya. Beberapa menit kemudian, Abang
berangsur bisa bernapas normal, kupandangi sekali lagi wajah tirusnya. Dia
tertidur. Aku menarik napas lega dengan syukur yang tak henti-hentinya.
Sudah tiga hari
Abang dirawat. Tapi tetap tak ada perubahan, tak ada ciri-ciri kesembuhan
baginya. “Bagaimana kalau kita rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap
fasilitasnya” kata Ayah suatu hari.
“Baiklah aku setuju” Uma mengiyakan. Tapi, terdengar suara Abang menimpali, “Jangan Yah, kita keluar saja dari rumah sakit ini,
dan tak usah rujuk lagi ke rumah sakit lain, aku hanya ingin pulang.”
“Jangan bicara seperti itu Nak,
kamu harus sembuh, dan di mana pun, kami siap membawamu, asal kamu sembuh.” Uma
meyakinkan Abang dengan penuh kelembutan. Entah kenapa, Abang mendesak ingin keluar dari
rumah sakit, dia ingin pulang. Kami sudah berusaha untuk menahanya agar tetap
dirawat, tapi sia-sia. Siang harinya, kami keluar dan Abang di bawa ke rumah
Bibi untuk sementara. Karena esok, kamiakan bawa dia keluar kota ke rumah skait
yang lebih baik.
Adzan
berkumandang dengan syahdu. Langit senja mulai perlahan masuk dalam pangkuan
keremangan. Bintang malam mulai menari, berpendar menyambut malam.
Lalu…terdengar tangisan Ayah dan Uma di
luar sana. “Ayah, kenapa Ayah menangis?’ pikirku. Aku beranjak menuju ruang
tengah di mana terdengar suara Ayah. Kulihat Abang sudah tak sadarkan diri
lagi, meski matanya masih terbuka, tapi mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi
selain “lailahaillallah” berkali-kali. Kugenggam tanganya, kuciumi sambil
mengatakan “Maaf, dan telah kuikhlaskan semuanya”. Terasa sesak dadaku
menyaksikan semua ini, Abang perlahan-lahan melepaskan napasnya sesaat setelah
dua kalimat syahadat dibisikkan Ayah di telinganya. Sungai yang mengalir di
dimataku tak bisa mengartikan lagi. Penyesalanku pada kata-kata yang dulu
sering terucap begitu sakit menusuk jantung
dan hatiku. Perihnya mengahdirkan duka yang begitu dalam. Abang pergi
untuk selamanya. Meninggalkanku, Uma dan
Ayah. Kurasakan rindu yang tak pernah kurasakan sebelumnya ketika dia pergi. Pergi
tak akan pernah kembali, bahkan dalam mimpi sekali pun.
Kuraba gundukan
tanah merah di hadapanku, dan aku berbisik sekali lagi “Abang maafkan salahku,
semoga engkau tenang di sana, kau anak yang baik dan aku percaya tempatmu
adalah yang terbaik, amin.” Kutinggalkan tanah merah itu dengan doa,
rerumputan, angin, dan dedaunan membisu. Mereka tahu penyesalanku, mereka tahu
dukaku, pekat seperti jelaga. “Apakah semua ini karenaku? Karena kata-kataku
itu?” Yah, tangis dan sesal tak berarti apa-apa untuk sebuah kematian.
The End
Catatan: ‘Uma’ adalah sebutan untuk ibu dalam bahasa Kotawaringin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar