Kamis, 03 Juli 2014

Cerpen Sesal di Senja Kematian

Sesal di Senja Kematian
Oleh: Trisnawati, S.Pd.
Kotawaringin Timur, 22 Juni 2014



Lailahailallah… Lailahailallah…. Lailahailallah….zikir ini masih terdengar jelas di telingaku, ketika iringan pengantar jenazah menyerukannya di hadapanku. Di antara isak tangis puluhan orang yang berjalan, siang ini, ayam berceloteh begitu menyedihkan seakan bernyanyi tentang kematian. Kuusap setiap titik air mata yang mengalir di pipiku, tapi ia semakin deras, kutatap keranda yang ditutupi kain hijau di depanku, “Ya Tuhan, kenapa begitu cepat Dia pergi meninggalkan kami.” Tangis luka merambah batinku, menggamit setiap bayang tentangnya, yah, tentangnya!
Terik matahari menyengat kulitku, ketika kulangkahkan kaki dengan begitu tergesa di jalan beraspal yang panas, siang itu. Sesekali, kusapu keringat di keningku, “Uhh panas sekali,”bisikku dalam hati. Aku berlari-lari kecil sambil memegang tas using yang kuselempangkan agar tak berhamburan. “Shira…Shira…!” seseorang memanggilku. Sepertinya aku kenal betul dengan suara itu. Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru, benar saja, Bu Minah yang memanggilku. Tetangga kosku yang begitu baik dan ramah. “Ada apa bu?” aku berjalan menghampirinya. “Sekarang cepat ke rumah sakit, di sana ada Uma dan Ayahmu.” Kata Bu Minah. Batinku menjerit, “Siapa yang sakit? Apakah Uma yang sakit, atau  Ayah?” jantung yang semula normal kini berdegup tak beraturan. Aku seperti berdiri sendiri di dunia ini ketika kabar yang begitu menyesakkan tadi sampai ke telingaku. Perasaanku semakin tak menentu, ketika teringat Uma yang sedang mengandung delapan bulan. Di usianya yang sudah kepala tiga sangat rentan untuknya melahirkan.
“Shira, hei, kenapa kamu melamun? Ibu tahu kau terkejut, tapi lebih baik kau segera menyusul ke sana.” Bu Minah menyentak lamunanku.
“Tapi bu, siapa yang sakit?” aku bertanya penuh heran.
“Abangmu.” Bu Minah menimpali sembari berlalu dari hadapanku.
“Ya Allah, Abang!” Aku menjerit. Tak terasa titik bening jatuh dari kelopakku. Parahkah sakitnya? Aku benar-benar tak tahu.
Lagi-lagi, kutelusuri jalan aspal yang hitam, matahri yang mnyengat pori-poriku tak kuhiraukan, yang ada dipikiranku adalah bagaimana keadaan Abang. Yah, dia adalah saudara kandungku, sejak aku bersekolah di kota kecamatan, aku jarang bertemu dengannya. “ Abang…Iihhh mati aja deh kamu sana!” itulah kata-kata yang selalu keluar dari mulut kanak-kanakku ketika kami berkumpul. Walau itu hanya sejadar candaan, tapi kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda tiap kali kalimat itu hadir dalam ingatanku. Abang orang yang sangat usil dan suka mengganggu, tak heran, di rumah selalu ada teriakan-teriakan kesal dari mulutku. Tapi sekarang, aku mengkhawatirkan keadaannya, dan setiap terbersit kata-kata itu di pikiranku, aku menyesal.
Kakiku melangkah dengan tergesa menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kucari Uma dan Ayah di setiap pintu yang terbuka, samar-samar aku mendengar suara Uma dan Ayah, aku bergegas menuju ke sana. Kugenggam gagang pintu ruangan itu, dan…”ceklek”  Uma dan Ayah duduk di samping tempat tidurnya. Hanya ada kesedihan di wajah mereka, dan Abang, ya Tuhan…badannya terkulai lemah dengan perut yang membesar. Aku tak berani menyentuhnya sama sekali, hanya tanya yang sanggup kuucapkan “Ma, Abang sakit apa?” aku bertanya sambil terurai air mata. Uma tak menjawab, tapi air matanya sanggup menyingkap kebisuannya dan berkata yang sebenarnya.
Malam ini, aku tertidur di dinginya lantai rumah sakit. Aroma obat-obatan membuat hidung tersa terganggu. Tapi bukan itu yang membuatku tak bisa pulas, melainkan kegelisahan inilah yang membuatku tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Aku hanya ingin Abang sembuh. Ayah dan Uma tak terlihat mengantuk sama sekali, padahal garis-garis lelah telah tertulis di wajah mereka. Aku semakin tak tega, “Ma, tidurlah, kasian adik, Uma harus tetap beristirahat.” Aku berusaha membujuk Uma. “Iya” Uma menjawab sambil membaringkan tubuh lelahnya di lantai. Kupandangi wajah Abang yang sudah mulai tirus dan agak menguning. Hanya dua minggu aku tak bertemu dengannya, begitu sakitnya ia sampai harus sekurus ini. Tangannya yang kurus dan pucat kugenggam erat sekali. Batinku bergolak tak menentu, rekaman kata-kata yang selalu terucap dari mulutku membuat api penyesalan yang tak pernah padam dalam lubuk hatiku. Jauh di sana ingin kuputar kembali waktu ini sehingga tak terbersit kata-kata itu untuk kuucapkan.
Tiba-tiba, Abang terbangun dari tidurnya. Dia mentapku, tapi tak sepatah kata pun terucap. Dan…”Hoek” Abang muntah berkali-kali, “Ma, Abang muntah!” Ayah dan Uma terbangun, aku takut, “Ya Allah, kasian Abang.” Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Ayah dan Uma histeris ketika mata Abang yang cekung mulai merapat, Abang hampir tak sadarkan diri. “Cepat baca surah Yaasin!” Ayah berteriak padaku. Tangisan dari Uma dan Ayah yang begitu menyayat memecah keheningan malam di rumah sakit ketika Abang membiarkan napasnya yang hanya tersengal di dada. “Ya Allah, kembalikan Abang” Aku berdoa tak henti-hentinya. Beberapa menit kemudian, Abang berangsur bisa bernapas normal, kupandangi sekali lagi wajah tirusnya. Dia tertidur. Aku menarik napas lega dengan syukur yang tak henti-hentinya.
Sudah tiga hari Abang dirawat. Tapi tetap tak ada perubahan, tak ada ciri-ciri kesembuhan baginya. “Bagaimana kalau kita rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya” kata Ayah suatu hari.
 “Baiklah aku setuju” Uma mengiyakan. Tapi, terdengar suara Abang menimpali, “Jangan  Yah, kita keluar saja dari rumah sakit ini, dan tak usah rujuk lagi ke rumah sakit lain, aku hanya ingin pulang.”
“Jangan bicara seperti itu Nak, kamu harus sembuh, dan di mana pun, kami siap membawamu, asal kamu sembuh.” Uma meyakinkan Abang dengan penuh kelembutan.  Entah kenapa, Abang mendesak ingin keluar dari rumah sakit, dia ingin pulang. Kami sudah berusaha untuk menahanya agar tetap dirawat, tapi sia-sia. Siang harinya, kami keluar dan Abang di bawa ke rumah Bibi untuk sementara. Karena esok, kamiakan bawa dia keluar kota ke rumah skait yang lebih baik.
Adzan berkumandang dengan syahdu. Langit senja mulai perlahan masuk dalam pangkuan keremangan. Bintang malam mulai menari, berpendar menyambut malam. Lalu…terdengar tangisan Ayah dan Uma di luar sana. “Ayah, kenapa Ayah menangis?’ pikirku. Aku beranjak menuju ruang tengah di mana terdengar suara Ayah. Kulihat Abang sudah tak sadarkan diri lagi, meski matanya masih terbuka, tapi mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi selain “lailahaillallah” berkali-kali. Kugenggam tanganya, kuciumi sambil mengatakan “Maaf, dan telah kuikhlaskan semuanya”. Terasa sesak dadaku menyaksikan semua ini, Abang perlahan-lahan melepaskan napasnya sesaat setelah dua kalimat syahadat dibisikkan Ayah di telinganya. Sungai yang mengalir di dimataku tak bisa mengartikan lagi. Penyesalanku pada kata-kata yang dulu sering terucap begitu sakit menusuk jantung  dan hatiku. Perihnya mengahdirkan duka yang begitu dalam. Abang pergi untuk selamanya. Meninggalkanku, Uma dan Ayah. Kurasakan rindu yang tak pernah kurasakan sebelumnya ketika dia pergi. Pergi tak akan pernah kembali, bahkan dalam mimpi sekali pun.
Kuraba gundukan tanah merah di hadapanku, dan aku berbisik sekali lagi “Abang maafkan salahku, semoga engkau tenang di sana, kau anak yang baik dan aku percaya tempatmu adalah yang terbaik, amin.” Kutinggalkan tanah merah itu dengan doa, rerumputan, angin, dan dedaunan membisu. Mereka tahu penyesalanku, mereka tahu dukaku, pekat seperti jelaga. “Apakah semua ini karenaku? Karena kata-kataku itu?” Yah, tangis dan sesal tak berarti apa-apa untuk sebuah kematian.

The End
Catatan: ‘Uma’ adalah sebutan untuk ibu dalam bahasa Kotawaringin.

      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...