Selasa, 21 Maret 2023

Hei

Malam ini

Telah kusematkan luka

Telah kugantungkan cerita sedih kita

Pada sebatang pohon kering

Yang beberapa waktu lalu telah ia tinggalkan segala kemegahan janji nestapa

Bagaimana denganmu?

Apakah bahagia?

Apakah telah kau lalui dengan baik malam-malam penuh kesedihan itu?

Hei kau lupa?

Bahkan kau tidak bertanya

Bagaimana aku menangis?

Bagaimana aku runtuh?

Bagaimana aku bisa tumbuh?

Kau telah melupakan seonggok daging yang telah hancur

Di atas pisau janji dan harapmu


Hahahihi

Kerendahan hati macam apa yang tidak aku berikan? 

Dalam keangkuhanku, aku merendahkan diri dengan menerimamu kembali, lalu memaafkanmu. Tentu saja itu berat bagiku, mengingat segala rasa sakit dan kecewa yang pernah kujalani. 

Bagimu tentu cukup dengan permintaan maaf, tapi entahlah. 

Mungkin aku belum sepenuhnya menjadi tulus, setelah aku berhenti setahun yang lalu. 

Aku telah keluar dari ruang-ruang ketulusan itu. Ketulusan hanyalah harapan sia-sia. 

Bahkan jika dianalogikan, ia hanyalah fatamorgana di tengah padang pasir. 

Jika aku minta berhenti, mau kah kau berhenti?

Berhenti membuat luka pada sebuah hati, meski itu bukan aku?

Berhenti menanam harap pada tanah meski itu bukan tanah milikku?



  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...