LK
3.1 Menyusun Best Practices
Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan,
Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)
Terkait
Pengalaman Mengatasi Permasalahan Peserta didik Dalam Pembelajaran
|
Lokasi
|
SMK Negeri 3 Sampit, Jalan Ir. H. Juanda |
|
Lingkup
Pendidikan |
Sekolah Menengah Kejuruan |
|
Tujuan
yang ingin dicapai |
1. Meningkatkan kemampuan
pendidik dalam menerapkan model pembelajaran yang inovatif. 2. Meningkatkan kemampuan
pendidik dalam membuat media yang bervariatif dan menarik dalam pembelajaran
teks biografi dan teks puisi. 3. Meningkatkan kemampuan
peserta didik dalam mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi dan menulis teks puisi 4. Membudayakan peserta didik
untuk tidak melakukan plagiat dalam menulis teks puisi. |
|
Penulis
|
Trisnawati, S.Pd. |
|
Tanggal
|
15 Desember s.d. 18 Januari 2023 |
|
Situasi: Kondisi
yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk
dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini. |
Kondisi yang menjadi latar
belakang masalah SMK
Negeri 3 Sampit merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur, beralamat di jalan Ir.
Juanda. SMK Negeri 3 Sampit bukan sekolah yang notabenenya berada di dalam
kota, namun berada di pinggiran kota tepatnya di desa Telaga Baru, Kecamatan
Mentawa Baru Ketapang. Berdiri di tahun 2009, saat ini SMK Negeri 3 Sampit
memiliki lima progam keahlian, yaitu Program keahlian Akuntansi dan Lembaga
Keuangan, Desain dan Komunikasi Visual, Desain dan Produksi Busana, Tata
Boga, Teknik Sepeda Motor. Jumlah rombel sebanyak 21 dan jumlah peserta didik
sebanyak 706 orang. Pendidik yang mengajar di SMK Negeri 3 Sampit berjumlah
40 orang. SMK Negeri 3 Sampit masih dapat dijangkau oleh jaringan internet, dan
sebagian besar peserta didik memiliki gawai untuk berkomunikasi sehari-hari. Ada empat
keterampilan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
di sekolah yang
harus dimiliki peserta
didik yaitu membaca, mendengarkan,
berbicara, dan menulis. Hal ini tercantum dalam Permendikbud No.24 Tahun 2016
Tentang KI dan KD 2013 Dikdasmen. Berdasarkan empat keterampilan tersebut, keterampilan
menulis merupakan salah
satu keterampilan berbahasa yang harus
dikuasai peserta
didik. Menulis adalah kemampuan mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaan
kepada orang lain melalui bahasa tulis. Ketepatan dalam mengungkapkan gagasan
harus didukung oleh ketepatan dalam bahasa yang digunakan, kosa kata dan tata
bahasa, serta ejaan. Tujuan dasar menulis adalah sebagai bentuk komunikasi
dalam tulisan. Kompetensi Dasar mengungkapkan kembali
keteladanan tokoh biografi dan menulis teks puisi memerlukan keterampilan
menulis. Namun, fenomena di lapangan ditemukan bahwa peserta didik belum
mampu mengungkapkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Peserta didik yang
kesehariannya terbiasa menggunakan gawai akhirnya memicu perilaku plagiat
saat diminta untuk menulis teks puisi. Berdasarkan fenomena di
lapangan, ada dua
faktor yang ditemukan, yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu masih
rendahnya keterampilan peserta didik dalam menulis. Setelah
dilakukan
observasi terhadap peserta didik
kelas X SMK
Negeri 3 Sampit pada semester genap tahun pelajaran
2021/ 2022, ditemukan bahwa peserta didik belum mampu mengungkapkan kembali
keteladanan tokoh biografi ke dalam bentuk tulisan sebab rendahnya minat
membaca. Peserta didik belum mampu
menggunakan kata-kata yang tepat dalam menulis puisi,
sehingga tidak menimbulkan bunyi yang merdu yang mendukung efek kepuitisan
sebuah puisi.
Selain itu, ditemukan pula sebagian besar peserta didik menyalin teks puisi
orang lain dari internet. Faktor eksternal yaitu pendidik belum menggunakan
model dan media yang menarik dan inovatif, untuk mendorong kemampuan menulis
peserta didik. Mengapa praktik ini baik
untuk dibagikan? Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan tersebut,
praktik
baik (best practice) ini penting untuk dibagikan agar dapat menjadi
referensi dan inspirasi bagi pendidik di sekolah lain apabila mengalami
permasalahan serupa, dengan penyelesaian menggunakan model pembelajaran Problem
Based Learning dan Project Based Learning. Model pembelajaran ini akan melatih peserta didik
untuk kreatif dan mandiri. Apa yang menjadi peran dan tanggung
jawab anda dalam praktik ini? Peran saya
dalam praktik ini adalah sebagai pendidik yang menjadi fasilitator, sahabat,
dan orang tua bagi peserta didik. Tanggung jawab saya adalah menyiapkan
segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu meliputi
rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, LKPD, instrumen, dan media yang
bersifat kontekstual, serta menarik peserta didik. |
|
Tantangan : Apa
saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang
terlibat? |
Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai
tujuan? Berikut ini beberapa tantangan yang pendidik hadapi
untuk mencapai tujuan, yaitu: 1. Keterbatasan pengetahuan pendidik dalam menyusun
perangkat pembelajaran serta menyiapkan media yang menarik; 2. Pendidik cenderung menggunakan metode ceramah saat
pembelajaran, sehingga peserta didik terlihat pasif; 3. Minat membaca peserta didik kurang, sehingga sulit
untuk mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi; 4. Peserta didik cenderung melakukan plagiat di
internet ketika diminta untuk menulis puisi. Siapa saja yang terlibat? 1. Pendidik, sebagai orang yang terlibat langsung
menyiapkan perangkat pembelajaran. 2. Peserta didik, sebagai objek yang mengalami langsung
proses pembelajaran. 3. Rekan sejawat, sebagai orang yang selalu memberikan
saran maupun kritik saat penyusunan perangkat. 4. Kepala sekolah, yang telah menyiapkan sarana dan
prasarana di sekolah. |
|
Aksi : Langkah-langkah
apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang
digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber
daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini. |
Langkah-langkah
yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah sebagai berikut. 1.
Melakukan
koordinasi dengan kepala sekolah terkait permasalahan pembelajaran yang
dihadapi serta solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tersebut. 2.
Mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang dibutuhkan. 3.
Menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based
Learning agar
terselenggara kegiatan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. 4.
Membuat media dan bahan ajar berbasis
kontekstual agar peserta didik memiliki acuan dan referensi yang
nyata dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. 5.
Melakukan koordinasi dengan wakil kepala sekolah bagian sarana prasarana
terkait beberapa alat yang dibutuhkan, seperti LCD Proyektor, kamera, pengeras
suara (speaker), serta ruang kelas yang memiliki daya listrik baik. 6. Melakukan koordinasi dengan peserta didik terkait
pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan. Strategi
apa yang digunakan? 1. Pendidik
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning untuk
meningkatkan kemampuan mengungkapkan kembali keteladanan tokoh biografi dalam
bentuk tulisan, dan model Project Based Learning untuk meningkatkan kemampuan menulis teks puisi
peserta didik kelas X semester genap. 2. Pendidik
menggunakan metode penugasan, diskusi dan tanya jawab agar peserta didik aktif. 3. Pendidik
membuat media pembelajaran berbasis TPACK seperti video yang dibuat dari canva berbasis story telling, power
point, gambar kontekstual, dan google form. Bagaimana
prosesnya? 1. Proses pembelajaran dengan model Problem Based
Learning. Peserta didik dihadapkan
pada permasalahan yang berkaitan dengan butir-butir penting dalam teks
biografi melalui sebuah video, untuk mengatasi permasalahan peserta didik
yang kurang minat membaca, maka pendidik membuat media video dari canva yang
berbasis story telling agar lebih menarik. Media dibuat kontekstual,
yaitu dengan membuat video biografi tokoh-tokoh berjasa di Kalteng. Setelah
peserta didik memahami konsep butir-butir penting dalam teks biografi, peserta
didik kembali dipertontonkan sebuah video untuk dianalisis. Tahap terakhir,
peserta didik mempresentasikan hasil kerjanya secara berkelompok, lalu
peserta didik di kelompok lain memberikan tanggapan. 2. Proses pembelajaran dengan model Project Based Learning. Peserta didik diberikan
penjelasan bahwa pembelajaran hari itu akan menghasilkan sebuah proyek
menulis teks puisi. Di bagian orientasi, pendidik menampilkan contoh teks
puisi. Di kegiatan inti, peserta didik menulis teks puisi berdasarkan gambar
bencana banjir yang terjadi di Kalteng, agar kontekstual. Untuk mengatasi
permasalahan peserta didik agar tidak melakukan plagiat saat menulis teks
puisi, pendidik meminta peserta didik untuk menuliskan kata kunci yang
berdasarkan unsur pembangun (tema, diksi, gaya bahasa, imaji, struktur,
perwajahan) puisi, lalu mengembangkannya menjadi sebuah teks puisi utuh. Setelah
menulis teks puisi, peserta didik membacakan di depan kelas, lalu peserta
didik dari kelompok lain memberikan tanggapan. Sumber daya atau materi yang diperlukan Untuk melaksanakan kegiatan ini, diperlukan sumber
daya agar kegiatan berjalan optimal dan sesuai dengan yang diharapkan. Sumber
daya atau materi yang diperlukan di kegiatan ini adalah: 1. Uang, digunakan untuk memfotokopi bahan ajar dan
LKPD; 2. Buku teks, digunakan sebagai referensi pembuatan
bahan ajar; 3. Peralatan seperti LCD proyektor, pengeras suara (speaker),
printer, dan laptop. |
|
Refleksi Hasil dan dampak Bagaimana
dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya
efektif? Atau tidak efektif? Mengapa?
Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang
menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang
dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut. |
Refleksi pembelajaran Setelah melakukan kegiatan, refleksi yang saya
rasakan adalah: 1. Saya kurang memahami karakteristik peserta didik
yang notabenenya mereka adalah generasi alpha yang dekat dengan penggunaan
teknologi, setelah melaksanakan praktik baik ini, saya semakin memahami bahwa
peserta didik akan mudah memahami pembelajaran apabila pendidik menggunakan
media yang berbasis teknologi (TPACK); 2. Melaksanakan pembelajaran dengan model Problem
Based Learning dan Project Based Learning sangat memudahkan
pendidik, sebab pendidik tidak banyak melakukan ceramah; 3. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dan
Project Based Learning membuat peserta didik lebih aktif dan kreatif; 4. Pembelajaran yang saya laksanakan lebih menarik dan
tidak monoton. Saya menjadi lebih kreatif karena saya berusaha membuat media
sendiri menggunakan aplikasi Canva. Dampak
kegiatan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project
Based Learning 1. Penggunaan
model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning membuat peserta didik lebih termotivasi untuk
belajar dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional yang selama ini
sering digunakan. Hal ini terlihat dari indikator keaktifan peserta didik yang meningkat dibandingkan
dengan sebelum menggunakan model Problem Based Learning dan Project Based Learning, walaupun
masih ada tiga orang peserta didik yang masih
tidak terlalu terlibat aktif dalam kegiatan diskusi kelompok 2. Dampak
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning menggunakan
media berbasis TPACK bagi pendidik dapat membantu pendidik menyampaikan
materi lebih mudah dan kegiatan pembelajarannya tidak monoton. 3. Peserta didik yang kurang
minat dalam membaca dapat fokus sebab teks biografi disajikan dalam bentuk
video yang berbasis story telling. 4. Peserta didik yang
terbiasa melakukan plagiat saat menulis teks puisi dapat diatasi, sebab
pendidik melakukan monitoring langsung kegiatan diskusi. Terutama, terkait
penulisan kata kunci dan penggunaannya di dalam teks puisi yang dibuat peserta
didik. 5. Pendidik dapat membuat
media yang menarik dan inovatif menggunakan aplikasi canva. Respon peserta didik 1. Peserta didik lebih aktif dari sebelumnya saat
pembelajaran dilakukan secara konvensional. 2. Peserta didik fokus mengikuti pembelajaran, sebab
pendidik menggunakan media audio visual yang menarik. 3. Rasa percaya diri peserta didik meningkat, karena
mereka terlatih melakukan presentasi. Respon kepala sekolah dan rekan sejawat 1. Kepala sekolah dan rekan sejawat merespon dengan
positif terkait media yang dibuat oleh pendidik. 2. Rekan sejawat guru mata pelajaran bahasa Indonesia
dapat menggunakan media yang telah pendidik buat melalui kanal youtube. Faktor keberhasilan dari
strategi yang dilakukan 1.
Rencana pembelajararan yang disiapkan dengan maksimal, seperti membuat
RPP, bahan ajar, media, instrumen, dan LKPD. 2.
Sarana dan prasarana yang mendukung, seperti jaringan internet,
listrik yang memadai. 3.
Seluruh warga sekolah yang bersedia membantu kelancaran kegiatan,
seperti pendokumentasian, menyiapkan alat dan lain-lain. Faktor ketidakberhasilan
dari strategi yang dilakukan 1. Listrik yang terkadang padam di ruang kelas secara
mendadak, sebab daya listrik kecil. Untuk mengantisipasi hal tersebut,
pendidik memilih ruang kelas yang tidak mudah padam mendadak. Pemadaman
listrik sangat mengganggu proses pembelajaran, sebab pendidik menggunakan LCD
proyektor sebagai alat penunjang. Pembelajaran dari proses kegiatan Setelah melakukan kegiatan ini, saya mampu merancang
pembelajaran dan membuat media berbasis TPACK menggunakan model pembelajaran
yang inovatif. Dampak penggunaan model pembelajaran inovatif dan penggunaan
media berbasis TPACK dalam kegiatan pembelajaran sangat besar, yaitu dapat
meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik terhadap materi dan
kegiatan pembelajaran yang diberikan, dengan menggunakan model dan media
tersebut terbukti kegiatan pembelajaran terasa lebih menyenangkan.
Menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Project
Based Learning juga memudahkan pendidik, karena tidak banyak melakukan
ceramah. Pendidik juga menjadi lebih kreatif, karena dituntut untuk membuat
media inovatif dan menarik. |