Literasi dan Abad 21
Oleh:
Trisnawati, S.Pd
Kemajuan teknologi dan
informasi seolah menjadi momok yang
tak mampu dibendung oleh manusia. Bagaimana tidak? Seseorang akan sangat merasa
kehilangan dan hampa tanpa ada gawai di tangannya. Bahkan rela untuk pulang
pergi dari kantor ke rumah hanya untuk mengambil gawai tersebut. Kebutuhan akan
teknologi dianggap sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan manusia, dan
internet menjadi salah satu media informasi yang sangat digandrungi setiap
orang.
Teknologi informasi yang
berkembang sangat pesat dewasa ini, tentu saja memiliki dampak yang luar biasa
bagi kehidupan manusia. Manusia
sangat terbantu dengan munculnya aplikasi internet yang dapat memfasilitasi
berbagai sendi kehidupan. Seseorang akan sangat mudah berpergian ke tempat yang
belum pernah dikunjungi hanya dengan menekan gawai, misalnya memesan tiket
pesawat, memesan taksi secara daring, makanan, minuman, pakaian pun dapat
dipesan melalui internet. Hal ini tentu saja berpengaruh pula bagi sendi
kehidupan yang lain, manusia mungkin akan jarang menggunakan becak, sebab taksi
bisa dipesan langsung melalui internet, manusia tidak akan membuang waktu lagi untuk
berbelanja ke toko karena semua kebutuhan dapat dipesan melalui internet. Tidak menutup
kemungkinan, di abad 21 akan banyak profesi yang hilang tergerus oleh
teknologi. Contohnya saat ini penjaga pintu tol di beberapa daerah di Jakarta
dan sekitarnya sudah digantikan oleh GTO (Gardu Tol Otomatis) dengan sistem e-toll.
Teknologi dan informasi di era globalisasi ini juga
banyak mempengaruhi sikap dan mental masyarakat. Informasi dapat dengan
mudahnya diakses melalui internet. Informasi-informasi yang tidak
disaring dengan baik dapat
mengubah cara berpikir dan perilaku masyarakat. Hal ini dapat kita lihat di Kalangan masyarakat, khususnya remaja banyak mengalami kemerosotan
moral. Sebagai
contoh, beberapa waktu lalu Polres Kotim menangkap sejumlah remaja yang
tergabung dalam
geng anarkis. Kemajuan
teknologi informasi akhirnya melemahkan pengawasan orang tua terhadap anak.
Kurangnya interaksi di rumah menyebabkan orang tua tidak lagi mengetahui
aktivitas anak ketika berada di luar rumah. Sebab, anak cenderung lebih memilih
bercerita dengan rekan sejawat melalui media sosial daripada dengan orang tua.
Permasalahan-permasalahan yang saya utarakan tersebut
tentu saja hanya beberapa contoh kecil, masih banyak masalah lain terkait
kemajuan teknologi yang akan kita hadapi. Terutama bagi anak cucu kita. Berdasarkan 21stcentury Patnership Learning Framework, terdapat
empat
kompetensi
keahlian yang harus dimiliki Sumber Daya manusia abad 21, yaitu
kompetensi tentang bagaimana hidup dan berkarir di mana pada abad 21 ini
teknologi informasi berkembang sangat cepat dan dinamis, sehingga dibutuhkan
sumber daya manusia yang mampu critical
thingking and problem solving, creative and innovation, collaborative, dan communication.
1. Critical thingking and problem solving (Berpikir
kritis dan pemecahan masalah) merupakan suatu kemampuan untuk menalar, memahami,
dan menentukan pilihan yang rumit dengan menghubungkan berbagai informasi yang
didapat hingga muncul berbagai pandangan dalam menemukan sebuah solusi. Critical thingking and problem solving adalah
kemampuan yang dapat membuka cakrawala berpikir manusia untuk tidak selalu
menerima sebuah informasi mentah-mentah (menerima berita hoax).
2. Creative and innovation (kreatif dan
Inovasi) kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam mengembangkan,
melaksanakan dan menyampaikan gagasan-gagasan baru serta bersikap terbuka terhadap
pemikiran baru. Sedangkan inovatif sangat bergantung pada pemikiran kreatif,
yakni kreatif dalam menghasilkan penemuan-penemuan baru yang bernilai ekonomis.
3. Collaborative merupakan kemampuan bekerja sama dengan penuh
tanggung jawab, bekerja secara produktif serta fleksibel secara pribadi, tempat
kerja, dan hubungan kemasyarakatan.
4. Communication, merupakan kemampuan mentransfer
sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini berkaitan dengan
tujuan komunikasi sebagai media untuk berinteraksi. Manusia adalah makhluk sosial,
maka penting bagi seseorang menjadi komunikator yang baik sehingga pesan dapat
sampai kepada penerima sesuai dengan apa yang diinginkan oleh si pengirim.
Nah, dari mana kah kita bisa mendapatkan keempat
kompetensi tersebut? Salah satunya adalah dengan literasi. Membaca merupakan
akses penting masuknya ilmu pengetahuan baru. Pengalaman baru tidak hanya didapatkan dengan mengalami sendiri suatu
kejadian, namun membaca juga mampu mengahadirkan sebuah pengalaman baru. Itulah
sebabnya membaca disebut sebagai jendela dunia. Bayangkan saja, kita tidak
perlu ke Jepang jika ingin melihat bagaimana negeri sakura ini diselimuti
salju, kita bisa membaca sebuah buku ataupun novel yang mendeskripsikan tentang
Jepang. Maka kita akan merasa berada di Jepang.
Membaca dapat membuka pikiran kita untuk cerdas dalam
menerima informasi, sebab membaca mampu mengembangkan imajinasi dalam
menghubungkan berbagai informasi yang didapat melalui berbagai sumber. Mampu menerima
perbedaan dengan menghadirkan solusi berdasarkan pengalaman membaca.
Membaca adalah kunci untuk membuka pintu
ketidaktahuan. Proses berpikir manusia menentukan daya kreativitasnya,
sedangkan kreatif sangat menentukan daya inovasinya. Dengan membaca, seseorang
dapat mengetahui hal-hal baru di dunia, mengomunikasikan serta mengkolaborasikan
informasi tersebut kepada orang lain dengan menciptakan sesuatu yang baru
melalui media yang disukai. Hal ini sejalan dengan pendapat Mr. Fredick Mc
Donald dalam Burns bahwa membaca
merupakan suatu keterampilan yang meliputi sensori, persepsi, sekuensi,
pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif dan konstruktif.