Sabtu, 27 Februari 2016

Sang Pencari
Oleh: Trisnawati
akulah manusia
yang terjatuh dari langit
tanpa parasut
tanpa identitas

akulah manusia
yang terjatuh dari langit
hingga terdampar
di atas piramida kehidupan
di tengah padang pasir kebusukan

akulah manusia
yang terjatuh dari langit
mencari air
di tengah padang pasir kebusukan
hingga roh suci ditiupkan
untukku
lewat malaikat kebenaran

Kampus PBSI

2011
Bulan dan Cahaya
Untuk sahabatku yang telah jauh

Oleh: Trisnawati (Mei 2011)

bulan termenung di puncak malam
cahayanya redup
menunggu awan hitam lari dari peraduan malam
mengharap kasih terbang mengepak sayap padanya
berkata sesuatu

tapi kasih tinggalkan cinta
raut cahayanya yang redup
sahabat bulan bercerita tentang malam
tentang persahabatan dan cinta
masa lalu
Hidup
Oleh: Trisnawati

malam kini telah bersetubuh
dengan sunyi
bulan redup dari cercah cahayanya
dan bintang kini telah tidur
di peraduannya

terdengar, sayup  irama
malam
mencuri perhatian
dari pikuknya waktu
yang berlari

derap langkah
lenyap
meninggalkan tapak
yang sewaktu-waktu
dapat terhapus
tak berbekas

Kampus PBSI

2011
Untuk Rindu yang Kau Tinggalkan
Karya: Trisnawati, S.Pd
(Pundu, 12 Mei 2015)

hari telah menapaki waktu
membawa seribu kenangan
tentang cita yang kelak dituju
merangkul kemenangan

lelah kini telah jatuh
penantian kini hampir berakhir
setelah lama memintal hari
setelah lama merajut asa
setelah lama menulis hidup
setelah lama menatap tembok yang sama

akankah hilang?
rindu dibalik jingganya amarah
cinta dibalik birunya benci
dan tangis
dibalik  pekatnya jelaga
akankah hilang?

setiap baris senyum yang terukir
pada kokohnya gedung ini
adalah kita
setiap duka yang terpahat
pada setiap jengkal ruang-ruang ini
adalah kita

kita yang bersaudara
kita yang saling menatap
lewat jendela tua itu
di sanalah wahai kawan
kita tuangkan setiap rasa 
yang tak pernah terungkap

terbanglah wahai pengukir cita
setinggi yang kau mau
ciptakanlah kebanggaan
pada setiap rindu yang kau tinggalkan

untuk kami, untuk bangunan ini, dan untuk bunga-bunga itu. 
Doa Seorang Pengharap
Untuk seseorang yang tak akan pernah bisa dimiliki
Tuhan
jika hati ini kau biarkan tak membeku
jangan tumpahkan bebatuan es cinta padaku
biarkan
biarkanlah es cinta itu mencair
di tanganMu
jangan titipkan pada hatiku
biarkan kematian
perlahan memisahkan kasih itu
karena kini atau nanti
tak kan pernah ada kata
memiliki

7 Juni 2011

Trisnawati
Untukmu, Ki Hajar Dewantara
Trisnawati, S.Pd.
(Sampit, 2 Mei 2015)

kelam merambah hari
siul burung telah terganti
ngeri menjemput batin
pada negeri tak bercahaya

negeri tempat mengalir
sungai-sungai darah perjuangan
negeri tempat diskriminasi pendidikan
disuarakan

waktu itu,
senja kebodohan hinggap
pada jiwa, takut
melumat semangat
dan pasrah hampir mengubur generasi

tapi senja yang mengubur matahari
hanyalah fana
takut yang hinggap
hanyalah paruh waktu
dengan karyamu,
kau tiupkan udara perlawanan
dengan karyamu,
kau rasuki jiwa-jiwa juang
dengan karyamu,
kau riwayatkan negeri ini

dengan jiwamu,
kau hantarkan anak cucu
pada pintu yang bermartabat
dengan semangatmu,
kau tinggalkan negeri ini
pada derajat yang sama
hingga mampu terbang
mencumbu bintang
mampu mencipta dengan ilmu

untukmu,


Ki Hajar Dewantara


kami berlari menembus cakrawala
ubah mimpi jadi nyata
bahwa negeri harus sesak dengan karya
bahwa negeri harus lahirkan benih bangsa
yang berani untuk maju

untukmu,
Ki Hajar Dewantara
kami berlari menembus cakrawala
hingga senja berlalu
terganti jutaan cahaya

“Memayu hayuning sariro, memayu hayuning Bangsa, Memayu Hayuning Bawana”

# Ki Hajar Dewantara
Lazuardiku

Lazuardi yang selalu kutunggu
lagu rindu selalu berdentang untukmu
setiap irama napasku adalah kau
lazuardiku sayang
setiap gambar kehidupan yang bertebaran di mimpiku
adalah tawa dan tangismu

oh lazuardiku sayang
kerinduan ini selalu melepaskan dahaga
napsu dan ambisi
oh lazuardiku sayang
tumbuh dan jadilan indah sayang
seindah rahimku
yang selalu kujaga untuk kau
cukup satu
ya satu
lazuardiku tersenyum


Sampit, Februari 2016
Trisnawati, S.Pd.

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...