Selasa, 27 Mei 2014

Drama Pendek



Pisau Hukum

Di sebuah komplek perumahan, tinggallah dua buah keluarga yang hidup bertetangga, dua keluarga ini mempunyai banyak perbedaan, dari segi ekonomi sampai pemikiran. Suatu hari Istri si kaya sedang memamerkan barang-barang mewahnya pada Istri Si miskin.

Istri si kaya: “Mmmh...susahnya, rasanya tu berat-berat gimana gitu, (ketawa cekikikan) maklum orang kaya sih, banyak perhiasan muaaahaaaal...(melihat ke sebelah rumahnya)
Istri si miskin: (Sedang menyapu halaman rumahnya) “ Selamat Pagi ibu...bu....
Istri si kaya : (menatap si miskin)  ehh ada si miskin manggil saya yaa..
Istri si miskin : ehh iya bu... (tergagap sendiri)
Istri si kaya : (menatap sinis dari atas ke bawah) ada apa memangnya hah.. mengganggu pagi saya yang indah saja. (masuk dalam rumah)

Masuk Si kaya sambil menelepon, dari arah berbeda masuk pula si Miskin dengan membawa barang hasil pungutannya. Digambarkan di rumah si kaya yang sedang asyik menelepon dengan rekan bisnisnya dan istri si kaya yg sedang asyik mmperhatikan perhiasannya yang mahal. Di rumah si miskin......
Istri si miskin: pak, bagaimana hasil pungutan hari ini?
Si miskin: lumayan bu.. bu ambilkan bapak minum ( sambil menatap halaman si kaya dan mulai asyik memungut)
Si kaya: “Eh,  Eh, ngapain itu? (agak terkejut melihat si miskin yang sedang asyik memungut).
Si miskin: “Maaf pak, bapak kan tahu pekerjaan saya mulung, ya pasti kerjaan saya mungut sampah. Masa saya mungutIstri...ba..
Si Kaya: “Eh, apa kamu bilang tadi..(memotong pembicaraan si Miskin)
Si Miskin: “lagian ya pak...situ nggak tahu ya? Kalau buang sampah sembarangang itu bisa dihukum, ada Undang-Undangnya juga lho? Bapak bisa didenda, bahkan masuk penjara...!!”



Si kaya: “Alah...miskin, sok tahu lagi kamu. Hukum itu Cuma buat orang seperti kamu, buat orang seperti kami ini, mana mempan, HUKUM akan tumpul buat orang-orang yang berdompet tebal seperti saya. (Sambil tertawa). Bahkan yang namanya HUKUM itu bisa saya beli. Sudah, sudah, pergi sana! Itu sampah mau saya jual lagi.”
Si miskin kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Lalu berbicara pada istrinya. Sementara si kaya asyik dengan kemewahannya.
Si Miskin: “Bu, bapak mau berhenti saja jadi pemulung. Lebih baik bapak jadi koruptor atau perampok. Supaya kita lekas kaya. Biar HUKUM bisa bapak beli!”
Istri si miskin: “Istigfar Pak, tidak boleh berpikiran seperti itu, yang namanya koruptor itu sama saja dengam mencuri pak. Derajatnya tidak lebih baik dari merampok. Emang bapak mau masuk penjara. Iya kalau masuk penjara saja, kalau langsung masuk neraka gimana.”
Si Miskin: “Astagfirullahaladzim...Bu, iya ya bu. Kalau bapak diadili lalu masuk penjara, nanti ibu dan si Teti makan apa? Kasian si Teti (sambilmengelusperutistrinya yang hamil). Bapak kan bukan koruptor, yang kalau pun di bui, masih punya warisan untuk anak istri”
IstrisiMiskin: (Saat sedang membereskan koran-koran hasil pungutan, menunjukkan sebuah koran pada bapaknya) “Pak..pak..baca deh pak.”
Si miskin: “Hah...(lalu berdiri di halaman rumahnya, dan membaca) “SEORANG PEGAWAI KANTOR PAJAK DENGAN INISIAL “MYS”  YANG DISEBUT-SEBUT IKUT DALAM KASUS PENGGELAPAN UANG TIDAK DIKETAHUI KEBERADAANNYA”.
Si Kaya: ( Terkejut karena sesungguhnya MYS itu adalah dirinya).
Si miskin: (Membuka halaman berikutnya lagi) “MYS AKAN SEGERA DITANGKAP”
Si Kaya: “Eh, kamu sengaja ya baca koran nyaring-nyaring.”
Si Miskin: “Lho...bapak kok marah? Jangan-jangan MYS ini situ ya? MYS...M..A..YUS (mengeja), waduh, jadi MYS ini Pak Mayus toh...
Si Kaya: (gugup) “E..nak sa..ja kamu! (mengajak istrinya pergi)”
Istri Si kaya: (Masih bingung)

Mereka berdua hendak melangkah pergi. Tiba-tiba si miskin mencegat keduanya untuk pergi.

Si Miskin:Stop! Anda berduajangan bergerak sayadari kepolisian dan membawa surat tugas penangkapan anda dari KPK atas dugaan korupsi
Si kaya: “Apa? Bohong! Itu tidak mungkin! Tidak…(sambil tergagap-gagap)
Istri Si Kaya: “Bapak…apa-apaan ini(ketakutan)?”
IstrisiMiskin: “Betul bu, kami sudah lama menyamar menjadi pemulung dan tinggal dikomplek ini, untuk mengetahui keberadaan suami anda.Bahkan kehamilan saya ini juga adalah penyamaran”
Istrisi Kaya: “jadi selama ini bapak korupsi?? (sesak napas).”
Si Miskin:”Ayo anda ikut saya ke kantor untuk diperiksa kembali”
Istrisi Kaya: “Tidakkkk!!!!! Bapakkkkk!!!(improv)”
IstriSi Miskin: “Sudahlah Bu Tari, ikhlaskan saja. Jangan sampai Ibu juga ikut-ikutan korupsi. Negara kita, negara HUKUM. Hukum yang sebenarnya adalah bak pisau yang bermata dua.Yang bersalah sudah sepatutnya dihukum.


Sekian

Pundu, 25 Maret 2013
Trisnawati, S.Pd.


Puisi Cinta di Ujung Kematian



Cinta di Ujung Kematian
Oleh: Trisnawati, S.Pd
dengan titik air dari lengkung langit
gerimis merambat, mencumbu malam
malam itu
kau berjalan pelan
di atas kerikil tajam pekarangan
gontai tangan merangkak
sentuh daun jendela
membawa wangi rindu untukku

aku menatapmu
saat jendela menganga
seketika binar hilang tak berbekas
sungai mengalir lewat matamu
wangi rindu jatuh
bersama malam yang hampir menepi

bibirku kian getir
sekujur mendingin
bersama cintamu, semakin tumbuh
di ujung napasku

Kampus PBSI UNPAR
2011

Puisi Pintu Demokrasi


Pintu Demokrasi

 
Kita bicara
Tentang kemakmuran
Makmur dalam keserakahan

Kita bicara
Tentang keadilan
Adil pada yang beruang

Ini rumah kita
Tempat berlindung dari pekatnya
Para pemberi harapan
Sebetulnya!

Ini negeri kita
Tempat raga berangan dari puruknya
Para pemberi janji

Seandainya!
Tidak sekadar harapan
Di ambang langit
Tidak sekadar janji
Di pintu demokrasi ini


Pundu, 6 April 2014
Oleh: Trisnawati, S.Pd.

Puisi Sederhana



Sederhana

gurat cerita di awal pertemuan
perlahan
dengan tinta sederhana
kucoba mengukir alur
pada perkamen
demi harap yang sederhana
kucoba mengulang
waktu yang sebenarnya telah lama
berhenti

bagaimana bisa aku berrsembunyi
dari perompak bayangmu
perkamen ini saksi
keperihan karena semumu
walau tinta sederhanaku letih
dengan rindu yang sederhana
kucoba puisikan
dirimu yang sebenarnya telah lama
pergi

Palangkaraya, 12 Juni 2012
Oleh: Trisnawati

Puisi Titik Nol ke Nol



Titik Nol ke Nol

jauh pada titik itu
di sana, ketikaku masih kecil sekali
tak mengerti rindu
hanya tahu bahwa ini hidup
titik itu telah lama sekali
di sana, ketikaku mulai mengerti
shalat
sholawat
dan          
hijaiyah

kini titik nol
kembali pada nol
di sana, ketikaku mengerti
sedikit banyak tentang arti
hidup
tapi tak pernah dimengerti lagi
titik nol yang kembali pada nol
bawakan rindu
pada
shalat
sholawat
dan
hijaiyah

Pundu, 13 Maret 2013
Oleh: Trisnawati, S.Pd.

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...