Pisau Hukum
Di sebuah komplek perumahan, tinggallah dua buah keluarga yang hidup
bertetangga, dua keluarga ini mempunyai banyak perbedaan, dari segi ekonomi
sampai pemikiran. Suatu hari Istri si kaya sedang memamerkan barang-barang
mewahnya pada Istri Si miskin.
Istri si kaya: “Mmmh...susahnya,
rasanya tu berat-berat gimana gitu, (ketawa cekikikan) maklum orang kaya sih,
banyak perhiasan muaaahaaaal...(melihat ke sebelah rumahnya)
Istri si miskin: (Sedang
menyapu halaman rumahnya) “ Selamat Pagi ibu...bu....
Istri si kaya : (menatap si miskin) ehh ada si miskin manggil saya yaa..
Istri si miskin : ehh iya
bu... (tergagap sendiri)
Istri si kaya : (menatap sinis
dari atas ke bawah) ada apa memangnya hah.. mengganggu pagi saya yang indah
saja. (masuk dalam rumah)
Masuk Si kaya sambil menelepon, dari arah berbeda masuk pula si Miskin
dengan membawa barang hasil pungutannya. Digambarkan di rumah si kaya yang sedang
asyik menelepon dengan rekan bisnisnya dan istri si kaya yg sedang asyik mmperhatikan
perhiasannya yang mahal. Di
rumah si miskin......
Istri si miskin: pak,
bagaimana hasil pungutan hari ini?
Si miskin: lumayan bu.. bu
ambilkan bapak minum ( sambil menatap halaman si kaya dan mulai asyik memungut)
Si kaya: “Eh, Eh, ngapain itu? (agak terkejut melihat si
miskin yang sedang asyik memungut).
Si miskin: “Maaf pak, bapak
kan tahu pekerjaan saya mulung, ya pasti kerjaan saya mungut sampah. Masa saya
mungutIstri...ba..
Si Kaya: “Eh, apa kamu bilang
tadi..(memotong pembicaraan si Miskin)
Si Miskin: “lagian ya pak...situ nggak tahu ya? Kalau buang
sampah sembarangang itu bisa dihukum, ada Undang-Undangnya juga lho? Bapak bisa
didenda, bahkan masuk penjara...!!”
Si kaya: “Alah...miskin, sok
tahu lagi kamu. Hukum itu Cuma buat orang seperti kamu, buat orang seperti kami
ini, mana mempan, HUKUM akan tumpul buat orang-orang yang berdompet tebal
seperti saya. (Sambil tertawa). Bahkan yang namanya HUKUM itu bisa saya beli.
Sudah, sudah, pergi sana! Itu sampah mau saya jual lagi.”
Si miskin kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Lalu
berbicara pada istrinya. Sementara si kaya asyik dengan kemewahannya.
Si Miskin: “Bu, bapak mau
berhenti saja jadi pemulung. Lebih baik bapak jadi koruptor atau perampok.
Supaya kita lekas kaya. Biar HUKUM bisa bapak beli!”
Istri si miskin: “Istigfar
Pak, tidak boleh berpikiran seperti itu, yang namanya koruptor itu sama saja
dengam mencuri pak. Derajatnya tidak lebih baik dari merampok. Emang bapak mau
masuk penjara. Iya kalau masuk penjara saja, kalau langsung masuk neraka
gimana.”
Si Miskin:
“Astagfirullahaladzim...Bu, iya ya bu. Kalau bapak diadili lalu masuk penjara,
nanti ibu dan si Teti makan apa? Kasian si Teti
(sambilmengelusperutistrinya yang hamil). Bapak kan bukan koruptor, yang kalau pun di bui, masih punya warisan
untuk anak istri”
IstrisiMiskin: (Saat sedang
membereskan koran-koran hasil pungutan, menunjukkan sebuah koran pada bapaknya) “Pak..pak..baca deh pak.”
Si miskin: “Hah...(lalu
berdiri di halaman rumahnya, dan membaca) “SEORANG PEGAWAI KANTOR PAJAK DENGAN
INISIAL “MYS” YANG DISEBUT-SEBUT IKUT DALAM KASUS PENGGELAPAN UANG
TIDAK DIKETAHUI KEBERADAANNYA”.
Si Kaya: ( Terkejut karena
sesungguhnya MYS itu adalah dirinya).
Si miskin: (Membuka halaman
berikutnya lagi) “MYS AKAN SEGERA DITANGKAP”
Si Kaya: “Eh, kamu sengaja ya
baca koran nyaring-nyaring.”
Si Miskin: “Lho...bapak kok
marah? Jangan-jangan MYS ini situ ya? MYS...M..A..YUS (mengeja), waduh, jadi
MYS ini Pak Mayus toh...
Si Kaya: (gugup) “E..nak
sa..ja kamu! (mengajak istrinya pergi)”
Istri Si kaya: (Masih bingung)
Mereka berdua hendak melangkah pergi. Tiba-tiba si miskin mencegat keduanya
untuk pergi.
Si Miskin: ”Stop! Anda berduajangan
bergerak sayadari kepolisian dan membawa surat tugas penangkapan anda dari KPK
atas dugaan korupsi”
Si kaya: “Apa? Bohong! Itu tidak mungkin! Tidak…(sambil tergagap-gagap)
Istri Si Kaya: “Bapak…apa-apaan ini(ketakutan)?”
IstrisiMiskin: “Betul bu, kami sudah lama menyamar menjadi pemulung dan tinggal
dikomplek ini, untuk mengetahui keberadaan suami anda.Bahkan kehamilan saya ini
juga adalah penyamaran”
Istrisi Kaya: “jadi selama ini bapak korupsi?? (sesak napas).”
Si Miskin:”Ayo anda ikut saya ke kantor untuk diperiksa kembali”
Istrisi Kaya: “Tidakkkk!!!!! Bapakkkkk!!!(improv)”
IstriSi Miskin: “Sudahlah Bu Tari, ikhlaskan saja. Jangan sampai Ibu juga ikut-ikutan korupsi. Negara
kita, negara HUKUM. Hukum yang sebenarnya adalah bak pisau yang bermata
dua.Yang bersalah sudah sepatutnya
dihukum.
Sekian
Pundu, 25 Maret
2013
Trisnawati, S.Pd.