Selasa, 08 Juli 2025

 

TAMPUI

Karya Trisnawati

Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu siluet padam. Lampu menyalakan cahaya temaram, seolah senja yang berkepanjangan.

(Monolog dimulai dengan Inai memasuki panggung perlahan, memakai tas ransel di punggung, di tangan memegang sebuah foto yang tidak diperlihatkan kepada penonton. Di panggung terdapat tunggul-tunggul kayu yang telah ditebang)

Tampui, Tampui, Tampui, … sahabatku satu-satunya yang tersisa. Apakah kau masih di sini, ikut menyaksikan tanah leluhur kita perlahan menghilang. Apakah kau merasakan apa yang kurasakan? Sunyi yang menganga, menggantikan riuh rendah burung dan pekik kera?

(Ia menghela napas berat, melipat foto kembali dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu berjalan mengitari panggung dengan sedih seolah sedang mencari sesuatu)

Dulu… dulu di sini adalah surga. Hutan lebat membentang sejauh mata memandang. Pohon-pohon menjulang gagah, akarnya menghujam bumi, menjaga tanah kami tetap kokoh. Aku ingat betul, bagaimana… (matanya menerawang) …Umai berpesan kepadaku.

(Inai menyentuh tunggul pohon yang tersisa, meletakan tas ransel, lalu berubah menjadi Ibu Inai)

Inai anakku, Tanah ini… tanah leluhur kita. Di setiap jengkalnya mengalir darah nenek moyang. Hutan bukan sekadar tentang pohon. Ia adalah jantung kampung kita, penyeimbang kehidupan. Di balik setiap helai daun, di balik setiap kicauan burung, ada harmoni yang rapuh. Jika mereka merusaknya, kita akan kehilangan segalanya. Udara bersih, air jernih, tanah subur… semua akan pergi.

Aku berharap kau, Inai. Teguh menjaga warisan nenek moyang kita ini. Terutama Tampui, Inai. Jagalah Ia. Jagalah Inai.

(Ibu Inai berubah menjadi Inai kembali. Musik sedih mengalun. Inai menatap kosong ke arah penonton. Lalu mengambil kamera di dalam tasnya, memotret, memandang hasil potretnya dan menangis)

Maafkan aku Umai…Maafkan Aku…aku tidak bisa menemukan Tampui di sini Umai…Tampui menghilang Umai…

(Bunyi buldozer mencabik-cabik, suara-suara alat berat, mesin-mesin pemotong kayu terdengar memekakkan telinga. Inai berlari kesana-kemari ketakutan dan bingung. Inai berubah menjadi kontraktor perkebunan sawit)

(Berbicara di telepon) Ya Pak, beres!! Clear Pak! (Mematikan telepon) Tanah ini sudah kami beli! Cepat pergi, sebelum buldoser kami datang meratakan semuanya! Ini tanah produktif (Sambil memasukkan hp) Sawit akan tumbuh subur di sini, menghasilkan pundi-pundi uang yang jauh lebih besar.

(Inai Mengepalkan tangannya, namun suaranya tetap lirih)

Tanah ini… tanah leluhur kami. Di mana Tampui?  Kalian telah membunuhnya? Ia adalah jantung kampung kami, penyeimbang kehidupan.

(Kontraktor menghentakkan kaki, dan menatap tajam)

Omong kosong! Itu hanya mitos kuno. Dunia sudah berubah. Sekarang adalah era modern, era keuntungan. Hutan hanya menghalangi kekayaan yang terpendam di bawahnya. Emas, batu bara… semua akan kami gali untuk kemajuan! Tampuimu itu hanyalah sebuah penghalang!

(Inai mengerang, penuh amarah)

Manusia serakah… apakah telingamu tuli pada rintihan bumi? Apakah matamu buta pada air mata sungai yang mengering? Tampui adalah paru-paru kehidupan, kaki-kakinya adalah penahan dari amarah banjir. Jika kalian terus membunuhnya tanpa henti, keseimbangan akan hilang. Badai akan mengamuk, tanah akan longsor, dan kalian sendiri yang akan menuai bencana.

(Kontraktor tertawa mengejek)

Bencana? Itu hanya omong kosong! Kami punya teknologi, kami punya uang untuk mengatasi semuanya! Cepat atau lambat, semua hutan Kalimantan akan menjadi perkebunan dan tambang. Itu adalah keniscayaan! Dan Tampuimu hanya akan menjadi dongeng belaka.

(Musik tegang menyala. Inai mengeluarkan foto dari dalam tasnya.)

Ini, ini Tampui! Di mana kalian membuangnya. Dimana!!! (marah bercampur tangis putus asa) kembalikan dia.

(Inai mengais-ngais sisa-sisa tunggul pohon)

Kembalikan dia pada tanah ini. Tanah leluhur kami. Hutan adat kami.

(Inai putus asa karena tidak dapat mengenali Tampui lagi, dan tidak tahu di mana menemukan Tampui lagi. Lalu mengambil foto yang terjatuh di tanah)

Kau saksi bisu, Tampui. Kau melihat bagaimana mereka datang. Dengan janji-janji manis tentang kemajuan, tentang kehidupan yang lebih baik. Mereka bilang, tanah kami tidak produktif, hanya hutan belantara yang menghalangi kemajuan.

(Meletakkan foto kembali. Dengan nada marah)

Kemakmuran macam apa ini? Kemakmuran yang merenggut hutan kami? Kemakmuran yang menggusur rumah kami? Mereka datang dengan mesin-mesin raksasa, dengan suara bising yang memekakkan telinga, merobek-robek jantung bumi Kalimantan. Dalam sekejap, hutan yang kami jaga selama bergenerasi, rata dengan tanah.

(Inai terduduk di samping foto, air matanya mulai menetes. Suaranya bergetar memandangi foto yang lusuh)

Aku tidak bisa melindungimu, sahabatku. Kekuatanku sudah habis. Hatiku hancur berkeping-keping melihat kehancuran ini. Aku hanya bisa berduka di sini. Merasakan kesunyian yang mencekam, kesunyian yang akan menjadi teman setia tanah ini setelah kau tiada.

(Inai memeluk foto dengan erat.)

Kau adalah Tampui terakhir. Setelah kau pergi, tidak akan ada lagi yang mengingat manis asam buahmu, tidak akan ada lagi yang berteduh di bawah rindangnya daunmu. Kau akan menjadi legenda yang terlupakan, seperti hutan kami yang hilang ditelan kerakusan.

(Inai mengangkat kepalanya, menatap ke depan dengan tekad yang membara.)

Biarkan mereka membangun gedung-gedung tinggi mereka. Biarkan mereka menghitung keuntungan mereka. Tapi mereka tidak akan pernah bisa merampas apa yang ada di dalam hati kami. Mereka tidak akan pernah bisa mencabut akar yang telah tertanam begitu dalam. Selama aku masih bernapas, selama jantungku masih berdetak.

(Perlahan, foto diperlihatkan kepada penonton)

Dia adalah Tampui. Suara Tampui akan terus bergema di tanah ini. Suara perlawanan. Suara kehidupan.

(Suara gemuruh mesin tambang terdengar semakin dekat, bercampur dengan isak tangis Inai)

SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...