Selasa, 28 November 2017

Literasi dan Abad 21

Literasi dan Abad 21
Oleh: Trisnawati, S.Pd
Kemajuan teknologi dan informasi seolah menjadi momok yang tak mampu dibendung oleh manusia. Bagaimana tidak? Seseorang akan sangat merasa kehilangan dan hampa tanpa ada gawai di tangannya. Bahkan rela untuk pulang pergi dari kantor ke rumah hanya untuk mengambil gawai tersebut. Kebutuhan akan teknologi dianggap sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan manusia, dan internet menjadi salah satu media informasi yang sangat digandrungi setiap orang.
Teknologi informasi yang berkembang sangat pesat dewasa ini, tentu saja memiliki dampak yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Manusia sangat terbantu dengan munculnya aplikasi internet yang dapat memfasilitasi berbagai sendi kehidupan. Seseorang akan sangat mudah berpergian ke tempat yang belum pernah dikunjungi hanya dengan menekan gawai, misalnya memesan tiket pesawat, memesan taksi secara daring, makanan, minuman, pakaian pun dapat dipesan melalui internet. Hal ini tentu saja berpengaruh pula bagi sendi kehidupan yang lain, manusia mungkin akan jarang menggunakan becak, sebab taksi bisa dipesan langsung melalui internet, manusia tidak akan membuang waktu lagi untuk berbelanja ke toko karena semua kebutuhan dapat dipesan melalui internet. Tidak menutup kemungkinan, di abad 21 akan banyak profesi yang hilang tergerus oleh teknologi. Contohnya saat ini penjaga pintu tol di beberapa daerah di Jakarta dan sekitarnya sudah digantikan oleh GTO (Gardu Tol Otomatis) dengan sistem e-toll.
Teknologi  dan informasi di era globalisasi ini juga banyak mempengaruhi sikap dan mental masyarakat. Informasi dapat dengan mudahnya diakses melalui internet. Informasi-informasi yang tidak disaring dengan baik dapat mengubah cara berpikir dan perilaku masyarakat. Hal ini dapat kita lihat di Kalangan masyarakat,  khususnya remaja banyak mengalami kemerosotan moral. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu Polres Kotim menangkap sejumlah remaja yang tergabung dalam geng anarkis. Kemajuan teknologi informasi akhirnya melemahkan pengawasan orang tua terhadap anak. Kurangnya interaksi di rumah menyebabkan orang tua tidak lagi mengetahui aktivitas anak ketika berada di luar rumah. Sebab, anak cenderung lebih memilih bercerita dengan rekan sejawat melalui media sosial daripada dengan orang tua.
Permasalahan-permasalahan yang saya utarakan tersebut tentu saja hanya beberapa contoh kecil, masih banyak masalah lain terkait kemajuan teknologi yang akan kita hadapi. Terutama bagi anak cucu kita. Berdasarkan 21stcentury Patnership Learning Framework, terdapat empat kompetensi keahlian yang harus dimiliki Sumber Daya manusia abad 21, yaitu kompetensi tentang bagaimana hidup dan berkarir di mana pada abad 21 ini teknologi informasi berkembang sangat cepat dan dinamis, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu critical thingking and problem solving, creative and innovation, collaborative, dan communication.
1.  Critical thingking and problem solving (Berpikir kritis dan pemecahan masalah) merupakan suatu kemampuan untuk menalar, memahami, dan menentukan pilihan yang rumit dengan menghubungkan berbagai informasi yang didapat hingga muncul berbagai pandangan dalam menemukan sebuah solusi. Critical thingking and problem solving adalah kemampuan yang dapat membuka cakrawala berpikir manusia untuk tidak selalu menerima sebuah informasi mentah-mentah (menerima berita hoax).
2.  Creative and innovation (kreatif dan Inovasi) kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam mengembangkan, melaksanakan dan menyampaikan gagasan-gagasan baru serta bersikap terbuka terhadap pemikiran baru. Sedangkan inovatif sangat bergantung pada pemikiran kreatif, yakni kreatif dalam menghasilkan penemuan-penemuan baru yang bernilai ekonomis.
3.  Collaborative merupakan kemampuan bekerja sama dengan penuh tanggung jawab, bekerja secara produktif serta fleksibel secara pribadi, tempat kerja, dan hubungan kemasyarakatan.
4.  Communication, merupakan kemampuan mentransfer sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini berkaitan dengan tujuan komunikasi sebagai media untuk berinteraksi. Manusia adalah makhluk sosial, maka penting bagi seseorang menjadi komunikator yang baik sehingga pesan dapat sampai kepada penerima sesuai dengan apa yang diinginkan oleh si pengirim.

Nah, dari mana kah kita bisa mendapatkan keempat kompetensi tersebut? Salah satunya adalah dengan literasi. Membaca merupakan akses penting masuknya ilmu pengetahuan baru. Pengalaman baru tidak hanya  didapatkan dengan mengalami sendiri suatu kejadian, namun membaca juga mampu mengahadirkan sebuah pengalaman baru. Itulah sebabnya membaca disebut sebagai jendela dunia. Bayangkan saja, kita tidak perlu ke Jepang jika ingin melihat bagaimana negeri sakura ini diselimuti salju, kita bisa membaca sebuah buku ataupun novel yang mendeskripsikan tentang Jepang. Maka kita akan merasa berada di Jepang.
Membaca dapat membuka pikiran kita untuk cerdas dalam menerima informasi, sebab membaca mampu mengembangkan imajinasi dalam menghubungkan berbagai informasi yang didapat melalui berbagai sumber. Mampu menerima perbedaan dengan menghadirkan solusi berdasarkan pengalaman membaca.
Membaca adalah kunci untuk membuka pintu ketidaktahuan. Proses berpikir manusia menentukan daya kreativitasnya, sedangkan kreatif sangat menentukan daya inovasinya. Dengan membaca, seseorang dapat mengetahui hal-hal baru di dunia, mengomunikasikan serta mengkolaborasikan informasi tersebut kepada orang lain dengan menciptakan sesuatu yang baru melalui media yang disukai. Hal ini sejalan dengan pendapat Mr. Fredick Mc Donald dalam Burns bahwa membaca merupakan suatu keterampilan yang meliputi sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif dan konstruktif.

Sumber: https://zuhriindonesia.blogspot.co.id, www. Informasi-pendidikan.com

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...