Sabtu, 31 Januari 2015

Cerpen Sayap Cinta



Sayap Cinta
Oleh: Trisnawati, S.Pd.

Pernikahanku dengan Mas Bimo memang atas dasar cinta. Cinta yang membuatku lupa pada kebenaran dan kemurnian cinta itu sendiri. Akankah cinta masih ada? Ketika kita telah mengenal cinta itu siapa? Tepat tujuh tahun berlalu setelah pernikahanku dengan Mas Bimo...
“Plakk” sebuah tamparan mendarat di pipiku. “Kurang ajar kau, dasar perempuan tak tahu diri! Kau ibarat sampah, kau kupungut dari sebuah tempat sampah, lalu aku memujamu dan memintamu untuk jadi istriku. Tapi ingat Ros, kau istri yang selama ini kujadikan hanya sebagai teman hidup. Bukan untuk mengaturku bahkan untuk memerintahku. Simpan saja ceramah busukmu itu Ros!” begitulah Mas Bimo, apa pun tak pernah benar menurutnya. Kuikuti setiap kemauannya atas nama cinta. Cinta yang selama ini kupuja dan kuagungkan atas nama ketulusan.
 Senja menepi dalam warna kemerah-merahannya, menepis jutaan mimpi siang yang tak pernah terwujud hingga malam membekuknya menjadi sesal. Malam ini, kembali aku bergelanyut dalam kebimbangan, mencoba menghindari nurani demi cinta. Yah, waktu itu, aku memang bukan wanita sempurna sampai Mas Bimo hadir dalam hidupku dan merubah semuanya. Pria yang merenggut kehormatanku pergi entah kemana. Menghancurkan setiap mimpi dan cita-citaku, aku terpaksa berhenti kuliah karena malu. Waktu mempertemukanku dengan Mas Bimo, Mas Bimo hadir dan menerima keadaanku. Dia mau melengkapi kekuranganku.
“Ros, menikahlah denganku”, kata Mas bimo suatu hari.
“Tapi Mas, aku bukan wanita seperti yang kau harapkan, hidupku sudah tak sempurna lagi sebagai seorang wanita. Aku sudah ternoda. Dan kau, laki-laki baik yang tak mungkin untuk kukhianati”. Aku meyakinkan Mas Bimo.
“Aku tak peduli Ros, bagiku kau sempurna. Ros, tak ada manusia sempurna di dunia ini. Aku pun begitu. Semua orang punya masa lalu Ros. Dan biarlah masa lalumu hanya jadi cerita antara kau dengannya saja. Anggap saja saat ini aku tak pernah tahu”. Mas Bimo meyakinkan dengan ketulusannya.
Waktu ke waktu, hari ke hari, aku terus dihantui kata-kata Mas Bimo. Hingga pada suatu malam.
“Mas, aku bersedia menikah denganmu” ucapku lirih.
“Benarkah, Ros? Kau serius?” wajah Mas Bimo berbinar ketika mendengar pernyataanku, yang aku tak tahu itu sebuah ketulusan ataukah hanya sekedar rasa kasihan yang tak beralasan.
“Iya Mas, aku serius. Kau sudah berjanji untuk menerimaku apa adanya. Maka, aku pun akan melakukan hal yang sama padamu. Menghormati dan mencintaimu dengan segenap jiwaku.” Aku kembali berucap pada Mas Bimo.
“Aku janji Ros.” Mas Bimo memegang tanganku, dia memelukku dengan penuh kasih.
Begitulah pernikahanku dengan Mas Bimo terjadi. Sampai cinta yang kucoba pupuk selama pernikahan itu benar-benar berakar dan tumbuh dengan subur. Hingga tak ada kemarau yang mampu menggugurkan daunnya.
Bertahun-tahun bersama, aku mulai mencurigai Mas Bimo. Ia tak pernah jujur pada pekerjaannya selama ini. Uang yang didapat, kemewahan, dan semua kebutuhan yang terpenuhi ini dari mana Ia dapatkan. Setiap kali aku bertanya, Mas Bimo selalu menghindar. Mencoba membuatku lupa pada pertanyaan yang selama ini menjadi hantu yang merasuki pikiranku.
“Mas, kenapa kita harus menyembunyikan sesuatu yang memang perlu untuk diketahui berdua? Aku istrimu, Mas. Tak pantaskah aku untuk tahu sedikit saja tentang pekerjaanmu?” aku kembali menanyakan hal yang sama pada Mas Bimo.
“Sudahlah, Ros. Tak cukupkah semua yang kuberikan selama ini padamu? Rumah mewah, uang, mobil, semua aku penuhi. Tak bisa kah kau tutup mulut cerewetmu itu? Dengar! Aku sudah bosan dengan pertanyaanmu ini!” Mas Bimo menjawab dengan nada yang geram. Aku hanya bisa berusaha tegar dan menyembunyikan ketakutanku di depannya.
“Mas, aku tidak cerewet. Aku hanya...”
“Plakkk!” tangannya mendarat di wajahku, perih. “Cukup Ros, Cukup! Kau benar-benar istri yang tidak bersyukur!”
“Mas....teganya, teganya kau menjatuhkan tanganmu padaku.” Aku tak percaya, hatiku benar-benar hancur, hanya karena sebuah rahasia yang ia sembunyikan selama ini, Ia tega memukulku? Ah, sungguh keterlaluan.
“Baik, kalau kau ingin tahu. Ikut aku sekarang!” Mas Bimo menarik lenganku. Dengan gontai, aku ikuti. Kami berjalan, menyusuri jalan kota yang gemerlap oleh lampu-lampu malam. Sudah pukul 00.05 WIB. Kemana Mas Bimo membawaku? Kenapa Ia harus bekerja selarut ini? Aku masih membisu di sampingnya, sesekali kulirik wajah kesalnya. Aku tahu, Mas Bimo tak terima rasa ingin tahuku. Tapi, apakah aku salah? Aku adalah seorang istri yang hanya ingin memastikan suamiku dan pekerjaannya baik-baik saja.
Aku dan Mas Bimo berhenti di sebuah tempat yang dipenuhi oleh perempuan-perempuan muda. Mereka cantik. Rok mini dan baju you can see yang membalut tubuh mereka terlihat sangat biasa mereka kenakan. Dengan berlenggok, mereka berjalan dan tersenyum ke arah Mas Bimo dan aku yang masih dipenuhi tanda tanya.
“Lepas,Mas, lepaskan aku. Tempat apa ini? Siapa mereka?” Aku bertanya dengan sedikit membentak pada Mas Bimo.
“Hahaha...kau ingin tahu pekerjaanku, inilah pekerjaanku, Ros!” Mas Bimo tertawa dengan penuh kebanggaan. Lalu seorang wanita muda yang masih berusia 17 tahunan menyerahkan sejumlah uang pada Mas Bimo.
“Terima kasih, sayang, Hahaha...!” Mas Bimo lagi-lagi tertawa dengan penuh kesenangan.
“Jadi, jadi...kau selama ini seorang Mucikari, Mas!” Aku benar-benar terkejut, darah terasa mengalir begitu cepat di dalam tubuhku, gemetar menguasai kekuatanku. “Kau menafkahi aku dengan uang haram, Mas!”
“Haram...haram, Ros! Tahu apa kau tentang halal dan haram! Karena kau sudah tahu semuanya, aku mau kau juga membantuku mengurus semua ini, Ros!” Mas Bimo kembali menarik lenganku.
“Tidak! Lepas!lepaskan aku! Aku tidak akan mau Mas. Aku mau kau berhenti!” jawabku tegas.
“Berhenti! Kau bilang berhenti! Kau mau makan apa, Ros? Pikir! Pikir dengan otak dungumu itu! Sial!” Mas Bimo menarik tanganku kembali, mencoba menyeretku keluar dari tempat itu.
“Tidak! Lebih baik aku hidup dalam kemiskinan! Aku akan melaporkan perbuatan ilegalmu ini kepada polisi, Mas!”
Mas Bimo semakin geram, kini ia bukan lagi Mas Bimo yang kukenal. Ia benar-benar telah menunjukkan siapa dirinya. Melupakan cinta dan semua kata-katanya ketika memintaku untuk menjadi istrinya. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh dan wajahku. Mas Bimo lebih mencintai kemewahan yang ia dapatkan dari uang haram itu. Ia lupa, benar-benar lupa bahwa aku adalah seorang manusia, tapi Ia memperlakukanku layaknya binatang. Aku tersadar ketika sudah berada di sebuah rumah sakit. Seorang pria yang tak kukenal tersenyum padaku. “Mas Bimo, di mana Mas Bimo?” aku bertanya pada sosok pria itu.
“Hhhhmm, tenanglah, anda sudah selamat. Untung saya menemukan anda tepat waktu, sebelum laki-laki itu benar-benar membunuh anda. Oh ya, perkenalkan nama saya Daichi.” Pria itu mengulurkan tangannya padaku.
“Bagaimana kau bisa menemukanku?” aku bertanya padanya dengan rasa penasaran. Yang kuingat hanyalah wajah terakhir Mas Bimo yang begitu marah.
“Ceritanya panjang.” Daichi menceritakan semuanya. Hanya air mata yang tercurah saat ini, aku mencintai Mas Bimo, hingga akhirnya aku kembali menanyakan pada hatiku, masih adakah cinta?
Pertemuanku dengan Daichi terus berlanjut, semenjak kejadian itu kucari keberadaan Mas Bimo, Ia menghilang. Daichi, sosok pria yang menolongku malam itu masih setia bersamaku. Menceritakan tentang hidupnya. Tujuannya datang ke Indonesia, yah, semuanya.
“Ikutlah denganku, Ros. Kau akan aman bersamaku di Jepang.” Daichi berkata padaku suatu hari, setelah pencarian terhadap Mas Bimo tak juga membuahkan hasil.
“Tidak, Daichi. Aku tak bisa pergi bersamamu sampai urusanku dengan Mas Bimo selesai.” Aku menolak ajakan Daichi.
“Tapi aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu. Kau kira pertemuan ini adalah sebuah kesengajaan yang beralasan, tidak, Ros. Aku menemukanmu lebih dari sekedar rencana Tuhan untuk menyelamatkan nyawamu. Lebih besar dari itu. Yaitu cinta, ros.” Daichi kembali meyakinkanku. Tapi, aku masih membisu, masih terbayang perkataan manis Mas Bimo, namun semuanya lebur bersama hilangnya Mas Bimo, jauh di dasar hatiku, aku masih belum bisa mempercayai Daichi. Seperti aku mempercayai Mas Bimo yang telah mematahkan sayap kehidupanku untuk kedua kalinya.
Telepon genggamku berbunyi memecah keheningan antara aku dan Daichi. Sore itu, pihak kepolisian meminta datang ke sebuah rumah sakit untuk memastikan seseorang. Aku dan Daichi bergegas pergi dengan ribuan pertanyaan yang bersarang di benak masing-masing. Tapi, aku masih bergeming, memikirkan apa yang akan kulihat di rumah sakit. Setiba di sana, aku ditunjukkan dengan sesosok jenazah yang sepertinya pernah kukenal, kubuka perlahan penutup jenazah itu, dan...
“Mas Bimo, ohh...” air mata membanjiri wajahku, entah apa arti tangisan ini, tapi sosok ini memang Mas Bimo. Bisnis prostitusi ilegalnya terendus oleh kepolisian. Mas Bimo meninggal karena sebuah kecelakaan dalam pelariannya.
“Semuanya sudah berakhir, Ros. Tak ada lagi yang menahanmu untuk pergi bersamaku.” Daichi lagi-lagi memintaku. Apakah ini sebuah kesungguhan?
“Tapi, Aku, aku....” keraguan masih menghinggapi perasaanku, hingga mematikan rasa di hatiku.
“Ros, please. Kau lebih dari sekedar mengenalku.” Daichi kembali meyakinkanku.
“Daichi, aku mau kau menungguku, membuktikan setiap jengkal cinta yang selama ini kau bangun untukku. Jangan ingatkan aku pada Mas Bimo. Ketika cinta, menghancurkanku pada akhirnya. Menghilangkan kepercayaanku pada cinta yang dulu kuagungkan.”
Daichi menatapku sangat dalam, hingga menggetarkan kekosongan jiwaku. “Aku akan menunggumu, sampai kau berkata ‘iya’, Ros. Selama apa pun itu. Dan tak akan kubiarkan sayapmu patah kembali. Karena akulah sayap itu.” Daichi menggenggam tanganku dan tersenyum.
The End

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...