Sayap Cinta
Oleh: Trisnawati, S.Pd.
Pernikahanku dengan Mas Bimo memang
atas dasar cinta. Cinta yang membuatku lupa pada kebenaran dan kemurnian cinta
itu sendiri. Akankah cinta masih ada? Ketika kita telah mengenal cinta itu
siapa? Tepat tujuh tahun berlalu setelah pernikahanku dengan Mas Bimo...
“Plakk”
sebuah tamparan mendarat di pipiku. “Kurang ajar kau, dasar perempuan tak tahu
diri! Kau ibarat sampah, kau kupungut dari sebuah tempat sampah, lalu aku
memujamu dan memintamu untuk jadi istriku. Tapi ingat Ros, kau istri yang
selama ini kujadikan hanya sebagai teman hidup. Bukan untuk mengaturku bahkan
untuk memerintahku. Simpan saja ceramah busukmu itu Ros!” begitulah Mas Bimo,
apa pun tak pernah benar menurutnya. Kuikuti setiap kemauannya atas nama cinta.
Cinta yang selama ini kupuja dan kuagungkan atas nama ketulusan.
Senja menepi dalam warna kemerah-merahannya,
menepis jutaan mimpi siang yang tak pernah terwujud hingga malam membekuknya
menjadi sesal. Malam ini, kembali aku bergelanyut dalam kebimbangan, mencoba
menghindari nurani demi cinta. Yah, waktu itu, aku memang bukan wanita sempurna
sampai Mas Bimo hadir dalam hidupku dan merubah semuanya. Pria yang merenggut
kehormatanku pergi entah kemana. Menghancurkan setiap mimpi dan cita-citaku,
aku terpaksa berhenti kuliah karena malu. Waktu mempertemukanku dengan Mas
Bimo, Mas Bimo hadir dan menerima keadaanku. Dia mau melengkapi kekuranganku.
“Ros,
menikahlah denganku”, kata Mas bimo suatu hari.
“Tapi
Mas, aku bukan wanita seperti yang kau harapkan, hidupku sudah tak sempurna
lagi sebagai seorang wanita. Aku sudah ternoda. Dan kau, laki-laki baik yang
tak mungkin untuk kukhianati”. Aku meyakinkan Mas Bimo.
“Aku
tak peduli Ros, bagiku kau sempurna. Ros, tak ada manusia sempurna di dunia
ini. Aku pun begitu. Semua orang punya masa lalu Ros. Dan biarlah masa lalumu
hanya jadi cerita antara kau dengannya saja. Anggap saja saat ini aku tak
pernah tahu”. Mas Bimo meyakinkan dengan ketulusannya.
Waktu ke waktu, hari ke hari, aku
terus dihantui kata-kata Mas Bimo. Hingga pada suatu malam.
“Mas,
aku bersedia menikah denganmu” ucapku lirih.
“Benarkah,
Ros? Kau serius?” wajah Mas Bimo berbinar ketika mendengar pernyataanku, yang
aku tak tahu itu sebuah ketulusan ataukah hanya sekedar rasa kasihan yang tak
beralasan.
“Iya
Mas, aku serius. Kau sudah berjanji untuk menerimaku apa adanya. Maka, aku pun
akan melakukan hal yang sama padamu. Menghormati dan mencintaimu dengan segenap
jiwaku.” Aku kembali berucap pada Mas Bimo.
“Aku
janji Ros.” Mas Bimo memegang tanganku, dia memelukku dengan penuh kasih.
Begitulah
pernikahanku dengan Mas Bimo terjadi. Sampai cinta yang kucoba pupuk selama
pernikahan itu benar-benar berakar dan tumbuh dengan subur. Hingga tak ada
kemarau yang mampu menggugurkan daunnya.
Bertahun-tahun bersama, aku mulai
mencurigai Mas Bimo. Ia tak pernah jujur pada pekerjaannya selama ini. Uang
yang didapat, kemewahan, dan semua kebutuhan yang terpenuhi ini dari mana Ia
dapatkan. Setiap kali aku bertanya, Mas Bimo selalu menghindar. Mencoba
membuatku lupa pada pertanyaan yang selama ini menjadi hantu yang merasuki
pikiranku.
“Mas,
kenapa kita harus menyembunyikan sesuatu yang memang perlu untuk diketahui
berdua? Aku istrimu, Mas. Tak pantaskah aku untuk tahu sedikit saja tentang
pekerjaanmu?” aku kembali menanyakan hal yang sama pada Mas Bimo.
“Sudahlah,
Ros. Tak cukupkah semua yang kuberikan selama ini padamu? Rumah mewah, uang,
mobil, semua aku penuhi. Tak bisa kah kau tutup mulut cerewetmu itu? Dengar!
Aku sudah bosan dengan pertanyaanmu ini!” Mas Bimo menjawab dengan nada yang
geram. Aku hanya bisa berusaha tegar dan menyembunyikan ketakutanku di depannya.
“Mas,
aku tidak cerewet. Aku hanya...”
“Plakkk!”
tangannya mendarat di wajahku, perih. “Cukup Ros, Cukup! Kau benar-benar istri
yang tidak bersyukur!”
“Mas....teganya,
teganya kau menjatuhkan tanganmu padaku.” Aku tak percaya, hatiku benar-benar
hancur, hanya karena sebuah rahasia yang ia sembunyikan selama ini, Ia tega
memukulku? Ah, sungguh keterlaluan.
“Baik,
kalau kau ingin tahu. Ikut aku sekarang!” Mas Bimo menarik lenganku. Dengan
gontai, aku ikuti. Kami berjalan, menyusuri jalan kota yang gemerlap oleh
lampu-lampu malam. Sudah pukul 00.05 WIB. Kemana Mas Bimo membawaku? Kenapa Ia
harus bekerja selarut ini? Aku masih membisu di sampingnya, sesekali kulirik
wajah kesalnya. Aku tahu, Mas Bimo tak terima rasa ingin tahuku. Tapi, apakah
aku salah? Aku adalah seorang istri yang hanya ingin memastikan suamiku dan
pekerjaannya baik-baik saja.
Aku dan Mas Bimo berhenti di sebuah
tempat yang dipenuhi oleh perempuan-perempuan muda. Mereka cantik. Rok mini dan
baju you can see yang membalut tubuh
mereka terlihat sangat biasa mereka kenakan. Dengan berlenggok, mereka berjalan
dan tersenyum ke arah Mas Bimo dan aku yang masih dipenuhi tanda tanya.
“Lepas,Mas,
lepaskan aku. Tempat apa ini? Siapa mereka?” Aku bertanya dengan sedikit
membentak pada Mas Bimo.
“Hahaha...kau
ingin tahu pekerjaanku, inilah pekerjaanku, Ros!” Mas Bimo tertawa dengan penuh
kebanggaan. Lalu seorang wanita muda yang masih berusia 17 tahunan menyerahkan
sejumlah uang pada Mas Bimo.
“Terima
kasih, sayang, Hahaha...!” Mas Bimo lagi-lagi tertawa dengan penuh kesenangan.
“Jadi,
jadi...kau selama ini seorang Mucikari, Mas!” Aku benar-benar terkejut, darah
terasa mengalir begitu cepat di dalam tubuhku, gemetar menguasai kekuatanku.
“Kau menafkahi aku dengan uang haram, Mas!”
“Haram...haram,
Ros! Tahu apa kau tentang halal dan haram! Karena kau sudah tahu semuanya, aku
mau kau juga membantuku mengurus semua ini, Ros!” Mas Bimo kembali menarik
lenganku.
“Tidak!
Lepas!lepaskan aku! Aku tidak akan mau Mas. Aku mau kau berhenti!” jawabku
tegas.
“Berhenti!
Kau bilang berhenti! Kau mau makan apa, Ros? Pikir! Pikir dengan otak dungumu
itu! Sial!” Mas Bimo menarik tanganku kembali, mencoba menyeretku keluar dari
tempat itu.
“Tidak!
Lebih baik aku hidup dalam kemiskinan! Aku akan melaporkan perbuatan ilegalmu
ini kepada polisi, Mas!”
Mas Bimo semakin geram, kini ia
bukan lagi Mas Bimo yang kukenal. Ia benar-benar telah menunjukkan siapa
dirinya. Melupakan cinta dan semua kata-katanya ketika memintaku untuk menjadi
istrinya. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh dan wajahku. Mas Bimo lebih
mencintai kemewahan yang ia dapatkan dari uang haram itu. Ia lupa, benar-benar
lupa bahwa aku adalah seorang manusia, tapi Ia memperlakukanku layaknya
binatang. Aku tersadar ketika sudah berada di sebuah rumah sakit. Seorang pria
yang tak kukenal tersenyum padaku. “Mas Bimo, di mana Mas Bimo?” aku bertanya
pada sosok pria itu.
“Hhhhmm,
tenanglah, anda sudah selamat. Untung saya menemukan anda tepat waktu, sebelum
laki-laki itu benar-benar membunuh anda. Oh ya, perkenalkan nama saya Daichi.”
Pria itu mengulurkan tangannya padaku.
“Bagaimana
kau bisa menemukanku?” aku bertanya padanya dengan rasa penasaran. Yang kuingat
hanyalah wajah terakhir Mas Bimo yang begitu marah.
“Ceritanya
panjang.” Daichi menceritakan semuanya. Hanya air mata yang tercurah saat ini,
aku mencintai Mas Bimo, hingga akhirnya aku kembali menanyakan pada hatiku,
masih adakah cinta?
Pertemuanku dengan Daichi terus
berlanjut, semenjak kejadian itu kucari keberadaan Mas Bimo, Ia menghilang.
Daichi, sosok pria yang menolongku malam itu masih setia bersamaku.
Menceritakan tentang hidupnya. Tujuannya datang ke Indonesia, yah, semuanya.
“Ikutlah
denganku, Ros. Kau akan aman bersamaku di Jepang.” Daichi berkata padaku suatu
hari, setelah pencarian terhadap Mas Bimo tak juga membuahkan hasil.
“Tidak,
Daichi. Aku tak bisa pergi bersamamu sampai urusanku dengan Mas Bimo selesai.”
Aku menolak ajakan Daichi.
“Tapi
aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu. Kau kira pertemuan ini adalah sebuah
kesengajaan yang beralasan, tidak, Ros. Aku menemukanmu lebih dari sekedar
rencana Tuhan untuk menyelamatkan nyawamu. Lebih besar dari itu. Yaitu cinta,
ros.” Daichi kembali meyakinkanku. Tapi, aku masih membisu, masih terbayang
perkataan manis Mas Bimo, namun semuanya lebur bersama hilangnya Mas Bimo, jauh
di dasar hatiku, aku masih belum bisa mempercayai Daichi. Seperti aku
mempercayai Mas Bimo yang telah mematahkan sayap kehidupanku untuk kedua
kalinya.
Telepon genggamku berbunyi memecah
keheningan antara aku dan Daichi. Sore itu, pihak kepolisian meminta datang ke
sebuah rumah sakit untuk memastikan seseorang. Aku dan Daichi bergegas pergi
dengan ribuan pertanyaan yang bersarang di benak masing-masing. Tapi, aku masih
bergeming, memikirkan apa yang akan kulihat di rumah sakit. Setiba di sana, aku
ditunjukkan dengan sesosok jenazah yang sepertinya pernah kukenal, kubuka
perlahan penutup jenazah itu, dan...
“Mas
Bimo, ohh...” air mata membanjiri wajahku, entah apa arti tangisan ini, tapi
sosok ini memang Mas Bimo. Bisnis prostitusi ilegalnya terendus oleh
kepolisian. Mas Bimo meninggal karena sebuah kecelakaan dalam pelariannya.
“Semuanya
sudah berakhir, Ros. Tak ada lagi yang menahanmu untuk pergi bersamaku.” Daichi
lagi-lagi memintaku. Apakah ini sebuah kesungguhan?
“Tapi,
Aku, aku....” keraguan masih menghinggapi perasaanku, hingga mematikan rasa di
hatiku.
“Ros,
please. Kau lebih dari sekedar
mengenalku.” Daichi kembali meyakinkanku.
“Daichi,
aku mau kau menungguku, membuktikan setiap jengkal cinta yang selama ini kau
bangun untukku. Jangan ingatkan aku pada Mas Bimo. Ketika cinta,
menghancurkanku pada akhirnya. Menghilangkan kepercayaanku pada cinta yang dulu
kuagungkan.”
Daichi
menatapku sangat dalam, hingga menggetarkan kekosongan jiwaku. “Aku akan
menunggumu, sampai kau berkata ‘iya’, Ros. Selama apa pun itu. Dan tak akan
kubiarkan sayapmu patah kembali. Karena akulah sayap itu.” Daichi menggenggam
tanganku dan tersenyum.
The
End