Bukan Pilihan Yusuf
Oleh: Trisnawati, S.Pd.
Kotawaringin Timur, 27 Mei 2014
Kulirik arloji
di dinding kamarku, “Hmmm…baru pukul 05.00 WIB.” Pikirku dalam hati. Aku
kembali membalut tubuh dinginku dengan sebuah selimut berwarna merah. Detak
jarum jam seirama dengan hentakan jantungku. Normal. Dan semakin membuatku
enggan untuk beranjak dari tidurku. Entah kenapa, pagi ini membuatku begitu
malas untuk beraktivitas. Kring….kring….nada dari telpon genggam milikku
berbunyi, kucari-cari disela kantukku yang masih merasuk. Kulihat sebuah nama
muncul dilayarnya VIEN. “Ah…kenapa tak kau biarkan saja aku melanjutkan mimpiku
dulu.” Aku menggerutu dalam hati. Dengan terpaksa ku tekan tombol hijau di keypad telepon genggamku. Belum sempat
kusambut dengan “hello”. Kudengar sebuah suara sudah mengoyak gendang telingaku
di seberang sana.
“ Neng, kamu di mana?? Kamu tidak
masuk kuliah hari ini? Kau lupa hari ini kita ada ujian??”
“What!!! Ujian????” aku terperanjat, kututup telepon genggam tanpa
mengucapkan terima kasih. Kulihat arloji telah menunjukkan pukul 06.45 WIB.
Berarti aku hanya punya waktu 15 menit. Aku menuju kamar mandi dengan tergesa.
Kurapikan
rambutku yang masih acak-acakan, sebuah kemeja berkerah kupakai tanpa disetrika
terlebih dahulu. Ini benar-benar darurat. Aku berlari ke bagasi, kunyalakan
mesin kendaraanku. Lalu aku pun berangkat menuju kampus. Dari kejauhan kulihat
lorong-lorong kampus telah sunyi. “Celaka! bisa-bisa aku tak diizinkan masuk
untuk mengikuti ujian” pikirku dengan cemas. Kulangkahkan kakiku dengan begitu
cepat. Perlahan-lahan kuketuk pintu dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf Pak,
saya terlambat.”
Sebuah kata-kata yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya, “Silahkan masuk”.
Aku hampir melonjak kegirangan, tapi semua mata tertuju padaku, aku duduk
di samping Vien.
“Ah…” aku bernapas lega.
Tiba-tiba Vien menyeletuk di sampingku “ Hehehe…tak biasanya kamu terlambat,
ada apa gerangan? Jangan-jangan…kau bermimpi tentangnya lagi” Vien terkekeh.
Vien, adalah salah satu sahabat dekatku di kampus, walaupun sudah berusia 21
tahun, dengan perawakannya yang mungil, serta tingkah polahnya yang
kekanak-kanakan, benar-benar tak mencerminkan bahwa dia sudah dewasa. Tapi
ketika mengenalnya lebih jauh, tak bisa dipungkiri dia adalah sosok yang sangat
dewasa. Tak jarang, dia sering memberikan wejangan untukku yang satu tahun
lebih tua darinya.
Sahabatku yang lain ada Ari,
seorang gadis Bali yang lugu, manis, dan sangat perhatian. Bagaimana tidak?
Walaupun tingkah polahku sering membuatnya tersinggung, tapi dia tetap My Best Friend yang selalu ada untukku. Lalu ada Mey, gadis
yang selalu memiliki sensasi di kampus, entah apa yang membuatnya begitu sering
dibicarakan orang lain, aku tak tahu. Yang aku tahu, Mey adalah gadis baik dan
pintar. Satu lagi, sahabat seperjuanganku adalah Ristie. Orang yang selalu
bertutur kata lembut bahkan di saat dia marah atau kesal sekali pun.
Perawakannya tinggi, mempunyai rambut panjang yang indah. Bahkan, Ristie adalah
salah satu gadis modis yang ada di kampus dan di antara sahabat-sahabatku yang
lain.
Ujian berjalan dengan baik,
lagi-lagi aku harus bernapas lega. Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan yang
begitu sumpek. Kuhirup udara segar di luar. Tak henti-hentinya. Tiba-tiba
seseorang menarik lenganku dari samping. “Ikut aku, ya?” pintanya. “Kemana?”
aku bertanya penasaran. Dia menarik tanganku dengan cepat tanpa menghiraukan
pertanyaanku. “Heiii…ada apa denganmu?” Aku berteriak. “Alahh…ayo lah, aku
hanya ingin mentraktirmu, lihat mereka sudah di sana!”. Di sana berdiri Ari, Ristie,
Vien, dan Mey. “Hmmmm ternyata kau sedang kaya ya hari ini?” Aku terkekeh
sambil kegirangan. Siapakah orang yang menarik lenganku ini? Memang belum
kusebutkan siapa dia. Di antara semua pria yang ada di kampus, kurasa, hanya dia
pria yang aku kagumi. Matanya teduh, menggambarkan kebaikan hatinya. Senyumnya
manis menggambarkan bahwa dia adalah seorang yang tak pernah memperlihatkan
permasalahan hidupnya pada orang lain. Dia adalah sahabat priaku satu-satunya
Yusuf.
Suatu malam, telepon
genggamku berdering lagi, kali ini bukan dari Vien, Ari, Mey, atau Risti.
Sebuah SMS masuk. Sebuah nama muncul dilayar telepon genggamku. Yusuf. Sekian
lama kami bersahabat, Yusuf tak pernah menghubungiku hanya sekadar untuk
bergurau, biasanya dia menghubungi pasti ada sesuatu yang sangat penting. Entah
kenapa, setiap kali aku mendapat SMS darinya perasaanku terasa berbeda.
Jantungku jadi berdegup lebih kencang, dan tanganku terasa dingin seketika. Dan
hatiku, ah…sungguh merasa teramat bahagia. Risti sering berkata padaku untuk
tidak meneruskan semua ini.
“Tetaplah kamu
pada posisimu.” Katanya suatu hari. “Aku tak bisa. Benar- benar tak bisa.”
Jawabku lirih. Ari memegang pundakku, “Coba kamu bayangkan jika ini tak
berhasil, persahabatan kita akan
berubah”.
“Apa peduli
kalian? Hah! Tolong jangan bawa nama persahabatan kita, ini tentang perasaan.
Apa kalian tak mengerti sama sekali!” Aku memhentak Risti dan Ari.
“Baik, kalau itu
maumu, kami hanyalah sekadar sahabat, temanmu dikala kamu punya masalah.
Selebihnya, untuk semua resiko ini kamu yang telah memilihnya.” Ari dan Risti
berlalu. Aku terdiam di sudut kampus, lengang, kunikmati kesendirian ini dengan
perasaan yang tak menentu. Salahkah aku memiliki rasa ini? Dosakah bila kuakui
bahwa Yusuf lah mimpi-mimpiku selama ini. Kenapa cinta tak bisa dimiliki karena
nama sebuah persahabatan? Titik air bening mengaliri pipiku, kurasakan
pertentangan di antara aku dan sahabat-sahabatku. Dan siang ini, tangisan
adalah sahabat yang masih di sisiku.
Kala embun masih setia menemani lahirnya pagi, di antara dingin yang
menyeruak dalam batinku, di antara hijau cinta yang tumbuh dalam hatiku. Kulihat Yusuf berjalan pelan tapi
pasti ke arahku. “Hai…” dia menyapaku. Kucoba untuk tetap tersenyum seperti
biasa, menyembunyikan cinta yang selama ini tak pernah dia tahu. “Hai, pagi
sekali kau berangkat.” Aku membalas sapaannya. “Ada apa denganmu, rasa-rasanya
bukan nada seperti ini yang kudengar setiap pagi dari suaramu”. Entah bagaimana
Yusuf tahu bahwa aku berbeda hari ini. Digapainya perlahan tanganku yang
sedikit demi sedikit mulai gemetar. Aku menunduk. Perlahan digapainya daguku
dengan lembut sesaat setelah dia mengenggam erat tanganku. “I love you Shira.”
Yusuf berkata pelan, kupandangi matanya sangat dalam, dah matanya jauh lebih
dalam dari mataku. “Yusuf, aku tak mengerti, sejak kita bersahabat, selalu
bersama, kurasa…aku….aku juga mencintaimu”. Tiba-tiba “Kring…kring” telepon genggamku
berbunyi. Aku terperanjat, kusingkap selimut merahku. “Ah, aku bermimpi lagi,
ya Tuhan…kenapa harus seperti ini”. Kulihat nama Vien di layar telepon
genggamku. Kutekan tombol merah perlahan. Dan aku kembali tenggelam dalam
lautan mimpi yang tak pernah surut.
“Kring…kring…”telepon
genggamku berdering lagi. Kali ini nama Mey yang muncul dilayar teleponku. Aku
bertanya-tanya dalam hati “Ada apa? Kenapa mereka meneleponku sepagi ini. Apa
ada ujian lagi?”. Tombol hijau pun kutekan. “Iya mey. Ada apa?”.
“Gawat! Cepat ke
kampus!” Mey menjawab dengan terburu-buru dan kedengarannya panik. Aku
penasaran. Tapi, kucoba merespon dengan santai. “Tunggu…tunggu, Mey. Ada apa?”.
“Pokoknya kamu
segera ke kampus. Sekarang!”. Lagi-lagi Mey menekankan bahwa aku harus segera
ke sana. Dengan gontai terpaksa aku berdiri dari tempat tidur.
Hati-hati sekali kulangkahkan
kakiku ketika sampai di pekarangan kampus. Lorong-lorong terlihat sangat ramai.
Mungkin banyak jam kuliah yang kosong, sebenarnya hari ini pun aku tak ada jam
kuliah, tapi kenapa sahabat-sahabatku sangat ingin aku ke kampus. Hembusan angin
pagi yang lembut perlahan menerpa tubuhku, dan menghilang karena kehangatan
sinar surya yang tersembul di ufuk timur. Sesosok pria yang begitu kukenal
terlihat duduk membelakangiku, jantungku tiba-tiba berlari tak tentu arah.
Semakin pelan kulangkahkan kakiku mendekatinya. “Mana Ristie? Mana Ari? Mana
Mey? Mana Vien? Di mana mereka yang sejak tadi memintaku untuk datang ke sini?”
Kucari mereka dikerumunan, tapi tak ada. Semakin dekat aku dengan sosok pria
itu, tiba-tiba mataku tertuju pada tangannya, jemari-jemari halus dengan
kuku-kuku yang begitu terawat digenggamnya dengan erat. Jemari itu milik Ve.
Gadis tercantik di kampusku. Sejenak aku terhenyak, mematung dan terdiam.
Aku berdiri begitu dekat
dengan punggung pria itu. Tapi, tanganku tak kuasa untuk menggapainya. Aku
mengenalnya, begitu dekat, Yusuf. Aku
merasa sendiri di tengah keriuhan ini. Mimpi-mimpi yang selama ini terbangun
runtuh menjadi puing tak berharga. Sungai mengalir lewat pelupuk mataku,
bening, dan sendiri. Aku berlari, berlari. Kudengar teriakan Vien memanggil
namaku. “Shira,tunggu! Please!”. Tak
ada, tak ada artinya panggilan itu bagiku. Bahkan aku tak mengenal namaku
sendiri. Aku terhenti ketika sebuah tangan memegang erat lenganku yang lemah.
“Shira, I’m sorry, ini kami lakukan
karena kami tak ingin kau terluka”. Ristie menatapku penuh penyesalan. “Yah,
aku tahu,aku tahu” Aku menjawab lirih dan air mata masih mengalir dengan sangat
deras. “Thank you so much, Ris.” Aku
memeluk Ristie erat sekali. Lalu Ari, Mey, dan Vien memelukku.
Sejak itu, tak ada lagi Yusuf
dalam kehidupanku. Yusuf berubah sejak bersama Ve. Tak ada lagi gurauan, tak
ada lagi tangan yang selalu menarik lenganku ketika keluar dari ruang kuliah,
tak ada lagi perasaan bahagia dengan munculnya nama Yusuf di layar telepon
genggamku. Semuanya lenyap. Yusuf bukan lagi Yusuf yang kukenal. Kucari mata
sendunya, kucari senyum cerianya yang selalu ada untukku, hanya kekosongan yang
dia berikan padaku. Bahkan, persahabatan pun terbang bersama mimpi-mimpiku yang
telah terkubur bersama bayangannya. Aku menangis, mereka benar, cintaku tak
akan pernah berhasil, dan persahabatanku dan dia...aku benar-benar egois. Seharusnya,
sejak lama aku telah menyadari Yusuf tak akan pernah memilihku, bahkan sebagai
sahabat pun dia meninggalkanku. Aku tak ingin Yusuf tahu tentang cinta ini,
tentang cinta yang terselip di antara sendi-sendi persahabatanku dengannya. Bahkan,
hingga saat ini, kuharap Yusuf tak akan pernah tahu.
The End