Kamis, 26 Juni 2014

Cerpen Bukan Pilihan Yusuf


Bukan Pilihan Yusuf
Oleh: Trisnawati, S.Pd.
Kotawaringin Timur, 27 Mei 2014

Kulirik arloji di dinding kamarku, “Hmmm…baru pukul 05.00 WIB.” Pikirku dalam hati. Aku kembali membalut tubuh dinginku dengan sebuah selimut berwarna merah. Detak jarum jam seirama dengan hentakan jantungku. Normal. Dan semakin membuatku enggan untuk beranjak dari tidurku. Entah kenapa, pagi ini membuatku begitu malas untuk beraktivitas. Kring….kring….nada dari telpon genggam milikku berbunyi, kucari-cari disela kantukku yang masih merasuk. Kulihat sebuah nama muncul dilayarnya VIEN. “Ah…kenapa tak kau biarkan saja aku melanjutkan mimpiku dulu.” Aku menggerutu dalam hati. Dengan terpaksa ku tekan tombol hijau di keypad telepon genggamku. Belum sempat kusambut dengan “hello”. Kudengar sebuah suara sudah mengoyak gendang telingaku di seberang sana.
“ Neng, kamu di mana?? Kamu tidak masuk kuliah hari ini? Kau lupa hari ini kita ada ujian??”
What!!! Ujian????” aku terperanjat, kututup telepon genggam tanpa mengucapkan terima kasih. Kulihat arloji telah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Berarti aku hanya punya waktu 15 menit. Aku menuju kamar mandi dengan tergesa.
Kurapikan rambutku yang masih acak-acakan, sebuah kemeja berkerah kupakai tanpa disetrika terlebih dahulu. Ini benar-benar darurat. Aku berlari ke bagasi, kunyalakan mesin kendaraanku. Lalu aku pun berangkat menuju kampus. Dari kejauhan kulihat lorong-lorong kampus telah sunyi. “Celaka! bisa-bisa aku tak diizinkan masuk untuk mengikuti ujian” pikirku dengan cemas. Kulangkahkan kakiku dengan begitu cepat. Perlahan-lahan kuketuk pintu dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf Pak, saya terlambat.”
Sebuah kata-kata yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, “Silahkan masuk”. Aku hampir melonjak kegirangan, tapi semua mata tertuju padaku, aku duduk di samping Vien.
                   “Ah…” aku bernapas lega. Tiba-tiba Vien menyeletuk di sampingku “ Hehehe…tak biasanya kamu terlambat, ada apa gerangan? Jangan-jangan…kau bermimpi tentangnya lagi” Vien terkekeh. Vien, adalah salah satu sahabat dekatku di kampus, walaupun sudah berusia 21 tahun, dengan perawakannya yang mungil, serta tingkah polahnya yang kekanak-kanakan, benar-benar tak mencerminkan bahwa dia sudah dewasa. Tapi ketika mengenalnya lebih jauh, tak bisa dipungkiri dia adalah sosok yang sangat dewasa. Tak jarang, dia sering memberikan wejangan untukku yang satu tahun lebih tua darinya.
                   Sahabatku yang lain ada Ari, seorang gadis Bali yang lugu, manis, dan sangat perhatian. Bagaimana tidak? Walaupun tingkah polahku sering membuatnya tersinggung, tapi dia tetap My Best Friend  yang selalu ada untukku. Lalu ada Mey, gadis yang selalu memiliki sensasi di kampus, entah apa yang membuatnya begitu sering dibicarakan orang lain, aku tak tahu. Yang aku tahu, Mey adalah gadis baik dan pintar. Satu lagi, sahabat seperjuanganku adalah Ristie. Orang yang selalu bertutur kata lembut bahkan di saat dia marah atau kesal sekali pun. Perawakannya tinggi, mempunyai rambut panjang yang indah. Bahkan, Ristie adalah salah satu gadis modis yang ada di kampus dan di antara sahabat-sahabatku yang lain.
                   Ujian berjalan dengan baik, lagi-lagi aku harus bernapas lega. Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan yang begitu sumpek. Kuhirup udara segar di luar. Tak henti-hentinya. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari samping. “Ikut aku, ya?” pintanya. “Kemana?” aku bertanya penasaran. Dia menarik tanganku dengan cepat tanpa menghiraukan pertanyaanku. “Heiii…ada apa denganmu?” Aku berteriak. “Alahh…ayo lah, aku hanya ingin mentraktirmu, lihat mereka sudah di sana!”. Di sana berdiri Ari, Ristie, Vien, dan Mey. “Hmmmm ternyata kau sedang kaya ya hari ini?” Aku terkekeh sambil kegirangan. Siapakah orang yang menarik lenganku ini? Memang belum kusebutkan siapa dia. Di antara semua pria yang ada di kampus, kurasa, hanya dia pria yang aku kagumi. Matanya teduh, menggambarkan kebaikan hatinya. Senyumnya manis menggambarkan bahwa dia adalah seorang yang tak pernah memperlihatkan permasalahan hidupnya pada orang lain. Dia adalah sahabat priaku satu-satunya Yusuf.
                   Suatu malam, telepon genggamku berdering lagi, kali ini bukan dari Vien, Ari, Mey, atau Risti. Sebuah SMS masuk. Sebuah nama muncul dilayar telepon genggamku. Yusuf. Sekian lama kami bersahabat, Yusuf tak pernah menghubungiku hanya sekadar untuk bergurau, biasanya dia menghubungi pasti ada sesuatu yang sangat penting. Entah kenapa, setiap kali aku mendapat SMS darinya perasaanku terasa berbeda. Jantungku jadi berdegup lebih kencang, dan tanganku terasa dingin seketika. Dan hatiku, ah…sungguh merasa teramat bahagia. Risti sering berkata padaku untuk tidak meneruskan semua ini.
“Tetaplah kamu pada posisimu.” Katanya suatu hari. “Aku tak bisa. Benar- benar tak bisa.” Jawabku lirih. Ari memegang pundakku, “Coba kamu bayangkan jika ini tak berhasil, persahabatan  kita akan berubah”.
“Apa peduli kalian? Hah! Tolong jangan bawa nama persahabatan kita, ini tentang perasaan. Apa kalian tak mengerti sama sekali!” Aku memhentak Risti dan Ari.
“Baik, kalau itu maumu, kami hanyalah sekadar sahabat, temanmu dikala kamu punya masalah. Selebihnya, untuk semua resiko ini kamu yang telah memilihnya.” Ari dan Risti berlalu. Aku terdiam di sudut kampus, lengang, kunikmati kesendirian ini dengan perasaan yang tak menentu. Salahkah aku memiliki rasa ini? Dosakah bila kuakui bahwa Yusuf lah mimpi-mimpiku selama ini. Kenapa cinta tak bisa dimiliki karena nama sebuah persahabatan? Titik air bening mengaliri pipiku, kurasakan pertentangan di antara aku dan sahabat-sahabatku. Dan siang ini, tangisan adalah sahabat yang masih di sisiku.
                   Kala embun masih setia menemani lahirnya pagi, di antara dingin yang menyeruak dalam batinku, di antara hijau cinta yang tumbuh dalam  hatiku. Kulihat Yusuf berjalan pelan tapi pasti ke arahku. “Hai…” dia menyapaku. Kucoba untuk tetap tersenyum seperti biasa, menyembunyikan cinta yang selama ini tak pernah dia tahu. “Hai, pagi sekali kau berangkat.” Aku membalas sapaannya. “Ada apa denganmu, rasa-rasanya bukan nada seperti ini yang kudengar setiap pagi dari suaramu”. Entah bagaimana Yusuf tahu bahwa aku berbeda hari ini. Digapainya perlahan tanganku yang sedikit demi sedikit mulai gemetar. Aku menunduk. Perlahan digapainya daguku dengan lembut sesaat setelah dia mengenggam erat tanganku. “I love you Shira.” Yusuf berkata pelan, kupandangi matanya sangat dalam, dah matanya jauh lebih dalam dari mataku. “Yusuf, aku tak mengerti, sejak kita bersahabat, selalu bersama, kurasa…aku….aku juga mencintaimu”.  Tiba-tiba “Kring…kring” telepon genggamku berbunyi. Aku terperanjat, kusingkap selimut merahku. “Ah, aku bermimpi lagi, ya Tuhan…kenapa harus seperti ini”. Kulihat nama Vien di layar telepon genggamku. Kutekan tombol merah perlahan. Dan aku kembali tenggelam dalam lautan mimpi yang tak pernah surut.
                   “Kring…kring…”telepon genggamku berdering lagi. Kali ini nama Mey yang muncul dilayar teleponku. Aku bertanya-tanya dalam hati “Ada apa? Kenapa mereka meneleponku sepagi ini. Apa ada ujian lagi?”. Tombol hijau pun kutekan. “Iya mey. Ada apa?”.
“Gawat! Cepat ke kampus!” Mey menjawab dengan terburu-buru dan kedengarannya panik. Aku penasaran. Tapi, kucoba merespon dengan santai. “Tunggu…tunggu, Mey. Ada apa?”.
“Pokoknya kamu segera ke kampus. Sekarang!”. Lagi-lagi Mey menekankan bahwa aku harus segera ke sana. Dengan gontai terpaksa aku berdiri dari tempat tidur.
                   Hati-hati sekali kulangkahkan kakiku ketika sampai di pekarangan kampus. Lorong-lorong terlihat sangat ramai. Mungkin banyak jam kuliah yang kosong, sebenarnya hari ini pun aku tak ada jam kuliah, tapi kenapa sahabat-sahabatku sangat ingin aku ke kampus. Hembusan angin pagi yang lembut perlahan menerpa tubuhku, dan menghilang karena kehangatan sinar surya yang tersembul di ufuk timur. Sesosok pria yang begitu kukenal terlihat duduk membelakangiku, jantungku tiba-tiba berlari tak tentu arah. Semakin pelan kulangkahkan kakiku mendekatinya. “Mana Ristie? Mana Ari? Mana Mey? Mana Vien? Di mana mereka yang sejak tadi memintaku untuk datang ke sini?” Kucari mereka dikerumunan, tapi tak ada. Semakin dekat aku dengan sosok pria itu, tiba-tiba mataku tertuju pada tangannya, jemari-jemari halus dengan kuku-kuku yang begitu terawat digenggamnya dengan erat. Jemari itu milik Ve. Gadis tercantik di kampusku. Sejenak aku terhenyak, mematung dan terdiam.
                   Aku berdiri begitu dekat dengan punggung pria itu. Tapi, tanganku tak kuasa untuk menggapainya. Aku mengenalnya, begitu dekat, Yusuf.  Aku merasa sendiri di tengah keriuhan ini. Mimpi-mimpi yang selama ini terbangun runtuh menjadi puing tak berharga. Sungai mengalir lewat pelupuk mataku, bening, dan sendiri. Aku berlari, berlari. Kudengar teriakan Vien memanggil namaku. “Shira,tunggu! Please!”. Tak ada, tak ada artinya panggilan itu bagiku. Bahkan aku tak mengenal namaku sendiri. Aku terhenti ketika sebuah tangan memegang erat lenganku yang lemah. “Shira, I’m sorry, ini kami lakukan karena kami tak ingin kau terluka”. Ristie menatapku penuh penyesalan. “Yah, aku tahu,aku tahu” Aku menjawab lirih dan air mata masih mengalir dengan sangat deras. “Thank you so much, Ris.” Aku memeluk Ristie erat sekali. Lalu Ari, Mey, dan Vien memelukku.
                   Sejak itu, tak ada lagi Yusuf dalam kehidupanku. Yusuf berubah sejak bersama Ve. Tak ada lagi gurauan, tak ada lagi tangan yang selalu menarik lenganku ketika keluar dari ruang kuliah, tak ada lagi perasaan bahagia dengan munculnya nama Yusuf di layar telepon genggamku. Semuanya lenyap. Yusuf bukan lagi Yusuf yang kukenal. Kucari mata sendunya, kucari senyum cerianya yang selalu ada untukku, hanya kekosongan yang dia berikan padaku. Bahkan, persahabatan pun terbang bersama mimpi-mimpiku yang telah terkubur bersama bayangannya. Aku menangis, mereka benar, cintaku tak akan pernah berhasil, dan persahabatanku dan dia...aku benar-benar egois. Seharusnya, sejak lama aku telah menyadari Yusuf tak akan pernah memilihku, bahkan sebagai sahabat pun dia meninggalkanku. Aku tak ingin Yusuf tahu tentang cinta ini, tentang cinta yang terselip di antara sendi-sendi persahabatanku dengannya. Bahkan, hingga saat ini, kuharap Yusuf tak akan pernah tahu.  
The End

  TAMPUI Karya Trisnawati Panggung menunjukkan sebuah siluet. Bayangan pohon-pohon rindang, dan tokoh sedang memakan buah-buahan. Lampu ...